
...Kau hadir dengan uluran tangan tanpa luka dan aku pun akan melepaskan mu tanpa rasa sakit...
"Menurut mu bagaimana Pan" suara berat itu membuyarkan lamunannya
"Ah yaa itu ide yang bagus dan apa masalah nya sehingga kau ingin membunuh keluarga itu"
lelaki itu memperhatikan sebuah foto nampak seorang gadis kecil tersenyum di foto itu membuat hati nya sakit namun ia tak tahu begitu pula perasaan nya menolak misi ini,ia berpikir senyuman itu tak asing baginya tapi siapa dia?.
"kau nampak ragu-ragu dengan misi ini nak apakah ada yang membebani mu?" tegas seorang lelaki yang muncul di balik pintu
"tidak,tidak ada hanya saja aku tak sembarang orang membunuh bukan" balas nya dengan dingin
Derren yang melihat suasana ruangan nampak serius tak biasanya jika seseorang klien meminta bantuan tak harus mengada kan rapat dadakan, lelaki yang baru saja datang dengn tubuh tegak bak model itu tersenyum ke semua orang diruangan lelaki itu duduk di dekat Ripan menyenggol lengan lelaki itu dengan santai
"Baik kita akan mulai membuat rencana" tegas lelaki tua yang sudah berumur sekitar 50 tahun itu
"Saya akan membayar kalian 3x lipat dari yang saya janji kan di awal pertemuan jika misi ini berhasil namun jika tidak saya akan membayar setengah nya bagaimana" dengan suara berat dan kekehan di akhir kata
"Apakah yang kita bunuh itu seorang bangsawan atau orang penting"
celetuk Reza yang baru saja datang lelaki itu memang terkenal dengan murah hati namun dibalik murah hatinya ia adalah seorang pembunuh sama hal nya dengan Ripan kebanyakan orang akan menyangka Reza adalah hanya pegawai cafe biasa namun ia pun lihai memain kan senjata.
Reza mengambil foto yang tergeletak di meja memperhatikan setiap inci di dalam foto itu
"Kita akan menjalan kan misi ini minggu depan" ucap lelaki yang sedari tadi hanya diam
semua orang menatap nya dengan pandangan yang sulit ditebak namun lelaki yang masih duduk di bangku 11 itu menatap semua mata yang melihatnya
"Tepat di hari valentine,hari kasih sayang kita akan membunuh keluarga itu" dengan tegas dan menatap Ripan yang sedari tadi pikiran nya entah kemana
"Gw setuju ide lu Der"
Reza melempar foto itu dan menatap lelaki tua yang sedari tadi hanya tersenyum jahat Grolio lelaki tua yang sudah menjadi klien nya semejak seminggu yang lalu,meminta membunuh satu keluarga itu tanpa sebab
"Ok,kita ambil hari valentine"
Grolio bangkit dari tempat duduk nya dan melangkah pergi bersama Dody ayah angkat mereka sekaligus ketua mereka
...****************...
Mereka menerawang langit-langit yang tak terpenuhi bintang pada malam ini dengan pikiran masing-masing Reza membenarkan posisi terlentang nya di halaman itu begitu pula dengan Ripan di sebelah nya dan Derren lelaki termuda di antara mereka
"Selama 6tahun gw ngejalani ini dunia gelap di malam hari seorang pegawai cafe di siang hari itu sangat jauh perbedaan dari yang mereka lihat di siang hari" ucap Reza melihat langit yang tak terpenuhi bintang
"Apa lu ada penyesalan? apa lu gak mau keluar dari dunia gelap ini?" dengan wajah tanpa ekspresi ia melihat lelaki yang ia sudah sebut sebagai kakak itu
"hmm, gw bertekad akan membuka kedai kopi gw sendiri setelah misi ini selesai gw mau keluar dari dunia tanpa tujuan hidup gw berpikir suatu hari nanti gw punya keluarga,anak,istri dan bahagia dengan keluarga kecil gw"
dengan kata yang bahagia membuat senyuman lelaki yang sudah berumur 26 tahun itu terlihat sudah merencankan akhir bahagia.
Derren yang sedari tadi hanya mendengar kan kakak-kakak nya mendesah dan bangkit dari posisi nya
"Dimana ibu kita" derren yang menatap kakak-kakak dengan tatapan sendu
Reza bergerak ke arah Derren duduk di samping nya dengan senyuman palsu
" Kita tak punya ibu dan kita bukan anak kandung ayah doddy"
ucapnya dengan memegang bahu remaja yang baru saja menginjak umur 18 tahun itu
"Sudah ku duga lelaki itu bukan ayah asli dan mengapa kalian tidak mencari keluarga kalian apa kalian senang membunuh orang tanpa dosa" balas nya dengan emosi
Ripan yang mendengar ucapan Derren membuat lelaki itu menatap tajam ke arah lawan bicara nya mungkin baru kali ini Derren terlibat dengan misi pembunuhan tapi tak seharusnya ia berlaku seolah-olah ia adalah korban yang akan tersakiti
"Setelah membunuh kita akan mendapatkan apa yang kita mau tanpa keluarga kita sudah bahagia dengan uang bukan, jangan seolah-olah lu punya keluarga bahagia Der dunia kita beda dengan apa yang lu lihat di luaran sana"
entah kenapa Ripan emosi dengan kata-kata Derren
Derren berdiri dari duduk nya menatap Reza dan Ripan bergantian membuang napas nya kasar mata yang berkaca-kaca derren pergi meninggal kan mereka,membuat Reza dan Ripan menatap bergantian
"Ciihh bocah ingusan" balas Ripan dengan membuang muka ke sembarang arah
Reza tertawa melihat Ripan dan duduk di sebelah nya
"Dulu kau juga seperti Derren menangis setelah membunuh anak kucing yang menggigit lengan mu lalu kau berlari ke arah gw dengan membawa bangkai kucing itu menangisi kucing itu seharian,tak mau makan kau mengurung diri di kamar" ucap nya dengan suara terkekeh
"namun setelah kepergian gw dari rumah ini lu banyak berubah bukan lagi bocah lelaki yang cengeng penuh senyuman,lelaki tua itu banyak mengubah lu seperti yang dia mau"
"dan kenapa lu kembali kesini" suara Ripan yang mulai melembut menatap Reza dengan tatapan lembut bukan tanpa ekspresi
"ini yang gw lihat saat pertama lu masuk ke rumah ini dengan senyuman deretan gigi kecil itu hah, gw harus nya bawa lu saat itu pergi dari dunia yang tak seharus nya lu tekuni" meremas tangan nya dengan kuat
"apa yang membuat lu datang kesini lagi" ucap Ripan dengan penasaran
"Ayah,ya ayah menyuruh gw mendampingi misi ini entah apa yang ia rencanakan lu harus nya menolak misi ini Pan" dengan suara was-was ia melirik lelaki yang sudah ia anggap adik nya
"Maksud lu?" dengan wajah penasaran
"lelaki tua itu tidak sebodoh yang lu kira Pan,dia mengetahui gerak gerik anak asuh nya dia tidak menyia-nyiakan mengeluarkan puluhan juta untuk menutupi dunia kita bukan,gw pergi dari rumah ini bukan tanpa alasan" Reza berdiri dengan senyuman ke arah lelaki yang menatap nya tanpa ekspresi
"Ayah tau lu deket sama seorang gadis dan gw juga gak tau misi ini apakah sama seperti dulu yang pernah gw alami atau lelaki tua itu sedang merencanakan kehancuran yang lebih besar"
Reza menatap kosong ke arah pintu yang sudah sedari tadi terbuka menampakan lelaki tua itu dengan senyuman miring,Ripan mengikuti arah pandangan sang kakak melihat ke arah belakang dia juga melihat lelaki tua itu yangs sering ia sebut dengan kata ayah
...****************...
Gadis itu terbangun dengan suara deringan handphone ia membuka mata nya mengambil handphone lalu mengangkat siapa yang menelpon di pagi hari tanpa melihat layar handphone
"heh bodoh cepet bangun"
jelas dan tajam suara di sebrang sana membuat syahsaa benar-benar membuka mata nya dan terduduk di kasur membulat kan mata melihat siapa yang menelpon nya di pagi hari
"hehh mau apa lu pagi-pagi buta telpon gw dengan kata-kata makian lu yang bodoh" dengan wajah kesal dan melihat jam dinding yang menunjukan pukul 4:30
"gw tunggu lu di perempatan sekarang jangan sampai gw tinggalin lu" dengan suara nyaris dingin penuh penekanan
"lu mau ambil jaket ?" sembari berdiri dan melihat jaket yang di gantung di pintu
"jadi lu gak niat lagi liat sunrise"
Syahsaa berpikir dan ia menepuk jidat nya bukan nya ini hari sabtu batin nya
"bukan nya ini hari sabtu? harus nya sekolah kan"
dengan bodoh ia kembali duduk di samping tempat tidur dan melihat kalender yang tergeletak di meja belajarnya
"lu gak kiat grup ya dasar bodoh,gw juga tau hari ini hari Sabtu yaudah jika lu mau ke sekolah gw matiin telpon nya jika lu berubah pikiran gw tunggu 10 menit disini"
telpon terputus sepihak membuat gadis itu mendengus dan melihat kalender sekali lagi ia menggaruknya kepala nya yang tak gatal
"hah apa maksudnya sekolah,grup"
ia membuka grup sekolah dan ternyata hari ini hari libur membuat ia berguman ooooo
ia lagi-lagi menepuk jidat nya dan bergeges mengganti pakaian dengan setelan olahraga lalu ia pergi menemui lelaki itu.
Syahsaa berlari dengan napas yang tak teratur melihat ke sekeliling tak ada lelaki itu hanya ada lampu-lampu jalan yang masih menyala mengingat ini masih jam tidur ia merasa dibohongi ketika ia akan berbalik tubuh nya menabrak seseorang ia melihat ke atas lelaki itu begitu pun lelaki itu yang sedang melihat nya dengan tatapan dingin
"waah ternyata lu pendek juga ya" cibir nya dengan senyuman miring
Aroma parfum nya baru tercium membuat syahsaa mundur dan melipat tangan di dada dengan kesal
"ini masih larut nyaris semua orang di perumahan ini belum ada yang terbangun dan lu mau nyari gara-gara sama gw di pagi buta ini membuat semua orang terbangun hah" cerocos nya dengan memutar bola mata
lelaki itu terkekeh tanpa mempedulikan gadis itu yang masih berdiri ia berjalan ke belakang mengambil motor nya
"ayo naik kita bakal ketinggalan sunrise jika lu masih mau ngomel-ngomel"
dengan kesal Syahsaa menuruti perintah Ripan
"lu gak mau meluk gw" ucap nya dengan senyuman
"ngapain gw meluk lu buruan jalan" dengan menepuk punggung lelaki itu
Tiba-tiba saja Ripan menggas motor nya tanpa melihat gadis itu dan sontak saja gadis itu memeluk pinggang nya dengan erat,membuat lelaki itu tersenyum dibalik helm nya
selama perjalanan syahsaa menikmati angin pagi yang menebus wajah nya rambut yang ia kuncir kuda membuat angin leluasa menerpa leher nya Ripan maupun syahsaa tak mencari obrolan selama perjalanan.
setelah beberapa menit perjalanan syahsaa Ripan memberhentikan motor nya, gadis itu turun tersenyum ke arah bukit yang kemaren sore ia datangi berjalan meninggal kan lelaki itu berlari dengan semangat disusul dengan Ripan yang tersenyum
"haaaaaaaaa"
sesampai nya di bukit itu syahsaa berteriak kegirangan dengan napas yang tak teratur
begitu pun dengan Ripan yang tersenyum ke arah gadis itu.
sementara mentari itu muncul perlahan nampak malu-malu mulai menampakan cahaya nya yang akan menyinari alam ini
"waaaah liat liat wawww"
dengan suara gembira seperti anak tk yang sedang mendapatkan hadiah syahsaa duduk di bebatuan dan melihat ke arah muncul nya mentari pagi
"Indah kan" balas lelaki itu dengan mengikuti gadis itu duduk
Tanpa henti senyuman itu terus ia pancar kan
"makasih ya Pan,lu udah ngajak gw kesini" dengan senyuman ketara bahagia ia melihat lelaki di samping nya
"Syaa" dengan suara parau lelaki itu menghembuskan napas nya dengan rasa gugup
"hmm"
satu kata dengan senyuman yang masih terukir di wajah gadis itu
"gw gak tau ini benar atau salah tapi hati gw ngerasa ini yang harus gw ucapkan gw suka sama lu aaaahhh ini kata-kata terpanjang yang pernah gw lontarkan bodoh" menggaruk dan membuang muka ke arah lain
Syahsaa kaget dengan kata-kata Ripan namun di balik rasa kaget ia merasakan bahagia senang ah entahlah ia pun merasakan hal yang sama
"lupain ajalah kata-kata gw " dengan wajah kesal ia berdiri
"kenapa ?" dengan wajah polos dan sedih
"lagian gw gau jawaban lu gak mungkin juga lu bakal nerima gw dahlah" menggibas kan tangan nya
"gw juga suka sama lu pan"
Membuat mata lelaki itu melotot dan tersenyum terukir di bibir nya ia memeluk gadis di depan nya dan mengecuk kepala gadis itu.
...Syahsaa Alena Nabila...
Gadis pertama yang membuat hati gw merasakan ada nya cinta, detak jantung tak normal dibuat nya tingkah aneh yang membuat gw tertawa lepas,gadis pertama yang ingin gw lindungi gadis pertama yang membentak dan berani melawan dia Syahsaa Alena Nabila entah ini salah atau benar hati ini terasa hangat bersama nya.