Time And Past

Time And Past
Demam



...If only I could reject this destiny and then ...


Syahsaa melihat lelaki itu terbaring dengan wajah yang pucat mata yang terpejam ia menyelesuri tekuk wajah nya tersenyum dalam diam, lelaki itu membuka mata lalu tersenyum


"Apakah aku setampan dewa ?, sehingga dirimu tak berkedip melihat ku saat ini"ucap nya tenang.


"Cihh so kepedean gw hanya tak habis pikir seorang Ripan Alexsa yang terbilang es kutub dan cuek ada di hadapan gw dan gak terpikir kan juga bahwa gw adalah kekasih nya," balasnya.


Ripan memeluk gadis itu dan memejam kan mata nya ia merasa kepala nya saat ini berat dan bayangan wajah gadis itu seakan-akan menjadi bayangan dua orang ia memutuskan kan untuk tertidur dengan memeluk Syahsaa,


Syahsaaa tersenyum dengan pipi nya memerah perlakuan lelaki itu membuat jantung nya kembali merasakan maraton.


"Kau sangat bodoh sekali Pan, menerobos hujan membiarkan tubuh mu terserang demam itu sangat membuat ku khawatir" ucap nya pelan.


gadis itu mengompres kan kain ke kening lelaki yabg sedang berbaring lalu menyeliputi seluruh tubuh nya, lalu ia kembali ke bawah untuk membuat kan bubur dan sop untuk menghangatkan tubuh di cuaca seperti ini,ia tak berpikir akan kedatangan lelaki itu yang ia rindukan hati nya senang sekaligus kesal, senang dengan kedatangan lelaki itu kesal karena lelaki itu demam membuat nya merasa cemas melihat wajah yang dingin menjadi pucat ia lebih suka dengan wajah dingin nya dari pada wajah pucat saat ini.


"Derren hubungi kakak mu dan cepat minta dia segera pulang !!" Tegas nya.


Membuat remaja itu bergegas mengetikan nama dan menghubungi orang di sebrang sana,namun tak ada jawaban hanya ada operator yang berbicara membuat Derren khawatir dan sekaligus takut dengan tatapan pria yang sedang menatap nya


"Telpon nya mati yah,mungkin dia sedang di rumah zey" balasnya dengan pelan.


Pria tua itu tersenyum miring,ternyata rencana nya semakin jauh tak pernah terpikir akan secepat ini ia menemukan musuh nya sedikit lagi ia akan menghancurkan sosok itu dan membuat orang yang lelaki itu sayangi hancur dan ia tak perlu mengotori tangan nya untuk membunuh karena lelaki itu dengan senang hati membalas kan dendam nya.


"Aku tau dia dimana,biar kan dia bersenang-senang sebelum semuanya hancur hahahahahhahahhahahahaha suara menggeleng di ruangan itu" tersenyum licik.


Derren yang berada di ruangan itu tidak mengerti apa yang di katakan pria tua itu ia tak peduli namun ia senang sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarga nya karena informasi yang ia dapatkan keluarga nya mempunyai toko bunga dan kakak perempuan nya bersekolah di sekolah yang sama senyuman lelaki itu mengembang mengingat ia akan mencari tahu dan bertemu dengan kakak perempuan nya.


"Ternyata kau sedang bahagia,apa aku salah menebak nya Derren??" balas nya dengan ketus.


Derren terhenti tersenyum dan melihat ke arah seorang pria yang sudah ia anggap sebagai ayah nya,ia mengetahui bahwa pria di hadapan nya bukan ayah kandung itu tak membuat nya masalah besar malahan ia berterimakasih sudah membesar kan nya dan tidak terlantar di jalanan


"Ah,benar ayah aku lupa memberi tahu mu bahwa aku akan bertemu dengan keluarga ku selama ini aku tak menyangka akan bertemu dengan mereka." dengan raut wajah bahagia.


"Benarkah pantas saja kau sebahagia itu aku senang mendengar nya" ucap nya dengan senyuman penuh arti.


"Jika aku sudah bertemu mereka aku akan mempertemukan mereka dengan mu itu pasti akan membuat ibu ku atau ayah ku senang kau sudah menyelamatkan ku dari kecelakaan itu" balas nya.


Ripan terbangun dengan kepala yang masih pusing ia memegang kepala nya melihat ke sekeliling ia mengingat-ingat sebelum ia tertidur ia memeluk gadis itu,namun dimana gadis itu sekarang ia bergegas turun dari tempat tidur namun suara pintu terbuka memperlihatkan senyuman dan wajah polos itu tengah membawa nampan yang berisi mangkuk dan susu "kau sudah bangun" katanya dengan suara pelan, lelaki itu berjalan lalu menyimpan nampan yang gadis itu bawa lalu memeluk nya dengan erat.


"Kau sudah bangun" tanpa jawaban Ripan mendekati ku dengan wajah yang sulit di artikan ia memeluk ku dengan erat entah masalah apa yang sedang ia alami hanya saja aku merasa ia mempunyai masalah yang samgat berat ia tak biasanya seperti ini dari awal ia kerumah ia terus memeluk ku,seakan pelukan ini adalah pelukan perpisahan sekarang hal lain yang aku ketahui dari diri nya ia begitu rapuh.


"Heyy kau membuat napas ku sesak Rip___"ucapan nya terpotong karena lelaki itu langsung berbicara.


"Gw,sayang sama lu Syaa jangan tinggalin gw dan gw kira lu ninggalin gw"balas nya dengan suara parau.


Syahsaa tersenyum dengan perlakuan lelaki nya yang sedang sakit,lantas ia mengecup hidung lelaki itu sekilas dan tersenyum.


"Gw sangka lu bakal cium gw di sini" tegas nya dengan menunjuk bibir.


"Diih itu mau luu, sini lu harus sarapan biar badan lu fit kembali dan gw gak tega liat lu yang sekarang dengan wajah pucat seperti itu" membawa lelaki itu duduk.


Ripan merasakan kasih sayang yang tak pernah ia rasakan sebelumnya gadis ini benar-benar mengubah segalanya dalam hidup ia tersenyum dan melahap makanan yang Syahsaa berikan menurut ? dulu bukan hal yang baik menurut nya namun sekarang ia hati nya seakan nyaman dengan kata kau harus menurut itu lebih baik.


"Pas hari kelulusan gw berharap senyuman itu terus lu pancarkan ke setiap orang terutama gw,dan buang wajah dingin lu itu gw yakin anak-anak yang lain ingin berteman namun sikap dan tampang lu itu membatasi mereka mengenal lu Pan". ucap nya dengan senyuman.


Ripan tak menjawab ia hanya mengusap pipi gadis itu.


"Eeh lu suka keluar malam ya ? sekarang jangan lagi gw takut hal yang lain terjadi sama lu"tegasnya.


"Gw cowok Syaa,gw bisa jaga diri dan contoh nya apa yang membuat lu khawatir?" balasnya dengan halis terangkat.


"Gw takut pembunuhan itu terjadi pada orang-orang yang gw sayang atau pembegalan sekarang banyak yang terbunuh dengan hal-hal yang aaaah gw gak tau pembunuh yang sangat cerdik!!!" jawabnya dengan suara sendu


Wajah dan tubuh lelaki itu menegang mendengar kata 'pembunuhan' gadis itu sedang membicarakan dirinya dan ia tak sebodoh itu membunuh dirinya sendiri.


"Hey lu gak dengerin omongan gw ya" balasnya cemberut


"Gw dengerin lu kok,dan itu gak bakal mungkin terjadi ke gw Syaa gw jago bela diri ahh ya gw sayang sama lu Syaa" tegasnya dengan suara lembut.


Ripan tak habis pikir dengan kata-kata gadis nya dan ia pun takut jika Syaa mengetahui dirinya seorang pembunuh ia tak siap dengan konsekuensi yang akan ia hadapi setelah gadis nya ketakutan lebih parah nya meninggal kan nya ia tak sanggup dengan semua ini.