Time And Past

Time And Past
Demam



...Staying away from you is like killing myself...


Ripan memejam kan mata nya pikirannya kacau ia merasa takut untuk menjalani misi ini ia merasa akan ada hak buruk yang terjadi namun ia pun tak mau membatalkan misi ini jika ia menyerah hidup akan semakin kacau hanya ada satu pilihan ya satu pilihan gumam nya.


Lelaki itu beranjak dari tempat duduk nya menatap gadis kecil yang tengah tersenyum mengusap kepala nya lalu mencium pipi nya gadis itu tertawa oleh perlakuan nya


"Tunggu lah hujan reda !" ucapnya.


"Aku harus bertemu dengan seseorang ku rasa ia adalah obat untuk saat ini" balasnya.


"Apakah kau sedang jatuh cinta Ripan ?Ah, itu tertera di wajah mu,ku harap kau bisa memperkenalkan nya dengan ku jangan sungkan untuk mampir kemari aku sudah menganggap mu atau Derren mau pun Reza sebagai keponakan ku dan aku berdoa semoga hal baik menyertai mu" tegasnya.


"Terimakasih atas kebaikan mu,ku harap begitu hal baik yaa hal baik boleh kah hari valentine aku kemari ?" balas nya dengan senyuman


"Ya,dengan senang hati aku akan menyambut mu ajak lah Derren bersama mu aku akan membuat kan kue cake atau kita makan BBQ aku akan menyiap kan semuanya"


Ripan tersenyum mendengar antusias Luna Andreas ya dia yang pernah mengurus nya waktu kecil dan ia pun yang mengetahui rahasia Dody namun semejak Ripan bergabung untuk menjadi pembunuh Luna berhenti bekerja ia beralasan jika suami nya ingin ia tetap dirumah,namun Ripan tahu jika ada sesuatu yang memaksa nya berhenti bekerja,


Ripan berlari ke arah hujan lalu ia menghidup kan motor nya dan pergi dari halaman rumah minimalis namun terkesan mewah untuk kalangan orang biasa jika di banding kan dengan rumah-rumah di sebelah nya.


Lelaki itu melawan deras nya hujan yang membasahi seluruh tubuh nya ia tak peduli dengan hujan saat ini yang ia pikirkan hanya gadis itu gadis yang ia rindukan gadis yang membuat hati nya damai dan merasakan hal baru dalam hidup nya.


Apa yang sedang ia lakukan di cuaca seperti ini,ah tentu saja ia akan tidur aku benci hujan


batin nya sedemikian,gengsi yang ia punyai tak mampu membuat hati nya goyah untuk menghubungi terlebih dahulu namun ia merasa rindu pada sosok lelaki itu


"Aaah bener kata Chelsea bisa-bisa nya gw jatuh cinta sama es kutub dia gak bakal ngehubungi gw lebih dulu arrrggghhh".


Dengan prustasi ia berjalan menuruni anak tangga dan melihat bayangan seseorang di depan rumah nya membuat gadis itu ketakutan lalu berjalan pelan ke dapur membawa wajan ia akan memukul siapa pun itu hati nya yang ketakutan namun ia tak bisa lari dengan cuaca seperti ini diluar,jika nyawa nya terancam ia akan memaksa kan lari menerobos hujan.


Ripan berdiri di depan rumah gadis nya ia merasa malu dan apa yang harus ia katakan jika kedua orang tua gadis itu berada di rumah apakah ia akan mengatakan aku merindukan anak perempuan mu bodoh


ia hanya mundar mandir di depan rumah itu apa ia akan kembali kerumah dan menelpon gadis itu mungkin itu juga hal baik ya aku akan menelpon nya guman nya namun saat ia akan pergi pintu terbuka dan seseorang memukul wajan ke arah nya.


"Awww, hey hentikan Syaaa ini....inii gw Ripan!!"katanya.


Gadis itu berhenti memukul dan melihat lelaki itu dengan wajah panik lalu tersenyum kuda ke arah lelaki itu lagi-lagi ia merasa bersalah untuk ke dua kali nya kepada kekasihnya


"Ripan nga...ngaaapain lu kesini" cemasnya


Raut muka gadis itu khawatir bercampur senang,senang karena lelaki yang ia rindukan ada di depan mata khawatir karena ia terluka oleh nya dan ia menerobos hujan yang deras bukan hanya dingin namun lelaki ini bodoh yang di pikirkan Syahsaaa saat ini.


Lelaki itu tersenyum tak peduli dengan tatapan gadis nya ia berjalan mendekat lalu memeluk gadis itu dengan erat ia merasa bahwa dunia nya saat ini tak terarah hanya gadis ini terang dalam hidup nya Ripantak kuasa menahan air mata yang entah kenapa hati nya begitu sedih


"Hey....hey tenang lah" ucapnya.


mengusap lelaki itu dengan lembut lalu membawa Ripan masuk dan duduk di sofa melihat wajah dingin namun saat ini wajah dingin itu tak terlihat hanya ada wajah kesedihan Syahsaa memegang erat tangan lelaki itu dan menampilkan senyum


namun langkah nya terhenti oleh Ripan yang memegang tangan nya


"Jangan ninggalin gw syaa,gw gak sanggup kalo lo pergi dari hidup gw maafin gw syaa"balas nya


Syahsaaa tak mengerti apa yang di katakan lelaki itu ia khawatir lelaki itu sakit saat ini dan darah yang sedikit mengalir di samping bibi nya karen ulah kebodohan yang ia lakukan,ia tersenyum lalu mengusap tangan lelaki itu lalu ia pergi ke kamar nya dengan membawa baju lalu memberikan pada kekasih nya dan menyuruh Ripan pergi ke kamar tamu untuk mengganti baju


Setelah Ripan mengganti baju nya Syahsaa menyodorkan teh hangat yang diterima baik oleh lelaki itu


"Ciihhh,,,,, dasar bodoh!!!" ucapnya.


"Kau yang bodoh memukul kekasih mu sendiri" belanya dengan dingin


"Kau yang bodoh hanya manusia bodoh yang menerobos hujan deras dan itu lu"


nunjuk ke arah wajah lelaki itu lalu tangan itu mengusap rambut yang menghalangi kening Ripan dan menempel kan telapak tangan nya


"Lihatlah kau demam" balas nya dengan panik


Ripan tersenyum dengan wajah gemas kekasih nya ia mengusap kepala gadis itu


"Apa lu khawatir sama gw syaa?" katanya.


"Tentu saja apa kita perlu ke rumah sakit? ah itu tak mungkin diluar masih hujan gw bakal ambil obat tunggu di sini"


dengan panik Syahsaa berlari ke dapur membawa air untuk mengompres Ripan dan mencari obat yang tersedia di rumah nya


"Untung aja mamah selalu nyediain obat"


kata nya dengan geges membawa obat itu ke ruang tamu. namun lelaki itu tak ada di sana ia melihat ke arah luar motor nya masih terjaga di sana


kemana Ripan


gumam nya ia mendengar suara pintu yang terbuka lalu ia pergi ke lantai atas melihat pintu kamar nya yang terbuka berjalan mendekati kamar nya ia melihat sosok itu tengah berbaring di sana


"Ap...aaa yang lu lakuin disini?" ucapnya dengan polos.


"Menurut lu gw lagi apa?" balasnya.


"Tiduran"


"Tentu saja gw lagi tidur,gw lelah syaa" tegasnya.


...****NEXT BESOK**** YA GUYS °\=°...