
"Wei, kemana saja kau jarang - jarang ke Cafe? Mentang - mentang bos di sini. Jarang datang ke sini." ucap Bagas kepada Raena yang baru datang.
"Biasalah, ada urusan sekolah, Bang." balas Raena mengganti seragam sekolahnya menjadi seragam kerja.
"Kau beneran mau ke Korea? Terus cafe bagaimana?" tanya Bagas.
"Ada Bang Johan yang jagain." jawab Raena.
"Gila, kau menyuruh kulkas frezeer 3 pintu jagain cafe?"
Raena hanya menganggukkan kepalanya, karena hari - hari sebelumnya dia minta Johan yang mengurus cafe milik Raena.
"Apa mau kak Jean yang ngurusin, Bang? Kau tahu sendiri, kalau kesini harus kucing - kucingan dulu sama kakakku itu."
Bagas hanya pasrah, mendengar perkataan Raena karena baginya sama saja antara Johan dan Jean. Sama - sama manusia tanpa senyum.
"Ya, sama Johan aja deh. Dari pada Jean yang ngurus entar anak - anak perempuan bukannya fokus kerja malah asik memandang wajah kakakmu."
"Okey, kalau begitu. Aku mau ngecek karyawan yang lain. Ingat, jangan sampai ember kalau aku owner cafe ini." peringat Raena kepada Bagas.
Cafe milik Raena, sebenarnya di belikan oleh Nyonya Kusuma untuk Raena sendiri secara diam-diam. Karena Nyonya Kusuma sudah lelah, melihat Raena di perlakukan tidak adil oleh Radit maupun Hana. Cafe yang dikelolah oleh Raena sejak SMP kelas 8 semakin ramai pengunjung karena konsep cafe itu seperti kantin di sekolah. Di tambah Raena merekrut Bagas yang notabenenya dulu lulusan S1 tata boga dan hanya jualan kopi keliling alun - alun kota langganan Johan.
Raena sendiri juga, membayar uang sewa ke Hana hasil dari cafenya. Namun Raena selalu bilang, kalau dia kerja part time di cafe yang di dekat taman kota. Gajinya juga lumayan untuk anak SMA ukuran Raena. Sedangkan Jean pernah ke sana dan melihat bagaimana adiknya banting tulang demi penghasilan sendiri.
"Oh, kau kerja di sini? Bukannya kau anak orang kaya, ya?" Suara cibiran yang menghentikan Raena dari aktivitas aktivitasnya.
"Oh, ketua geng pembuat onar di sekolah. rupanya." ucap Raena datar.
"Selamat datang di The Canteen Cafe,"
Raena mengubah ekspresi wajahnya yang datar menjadi ramah namun terkesan dipaksakan.
"Aku kira kau sok jagoan di sekolah, karena kau puanya kuasa. Ternyata, kau hanya biasa di cafe." ucap gadis itu yang tak lain Soraya.
"Memangnya salah, kalau ada anak orang Kaya kerja menjadi pegawai cafe?" tanya Raena santai.
"Itu tidak ada di kamus seorang Soraya," sinisnya membuat Raena terkikik.
"Kau menertawakan aku, pegawai sialan?"
Raena menghentikan tawanya sebentar, dan menatap orang yang selama ini menjadi primadona di sekolah bersamaan dengan Gladis.
"Enggak, aku heran saja. Kenapa ada anak orang Kaya seperti dirimu, membangga-banggakan harta orang tua. Sementara kita, belum tentu akan hidup bergelimang harta seumur hidup." jelas Raena.
"Kau menghinaku, anak haram? Oke, aku akan hukum kau. Agar kau tahu, siapa Soraya sebenarnya." geram Soraya.
Tanpa sadar, Raena merekam itu semua dengan ponsel yang dia pegang.
"Hai, semuanya! Kalian hari ini makan dan minum gratis di cafe ini sepuasnya. Pegawai ini yang akan membayar semuanya, ayo silahkan!" teriak Soraya membuat pengunjung cafe senang.
"Rae, dia kenapa sih? udah gila atau bagaimana? Mentraktir orang tapi yang bayar kau." protes dimas bagian barista.
"Tenang biar aku bayar semua, nanti suruh Kak Angel ke ruanganku." balas Raena sambil mengirimkan video dia rekam kepada seseorang.
"Kek, bukan menghina cucumu. Tapi, cucumu sepertinya membuat ulah lagi di cafeku." ketik Raena lalu di kirim kepada Kakek Soraya.
Kakek Soraya, selain dia Investor terbesar di perusahaan Radit. Beliau juga pendekar pencak silat, di mana Raena menjadi murid beliau sejak kecil. Raena juga pernah menolong Kakek Soraya ketika sedang kecopetan di pasar.
Saat Soraya asik menikmati makanan, tiba-tiba Papa Soraya datang dengan wajah merah padam menahan amarahnya.
"Soraya, pulang!" sentaknya kepada anaknya.
"Papa? Kok Papa di sini?" tanyanya heran.
Papa Soraya tidak banyak bicara, langsung menarik putrinya ke meja kasir untuk membayar kelakuan putrinya itu.
"Maaf, pak. Sudah dibayar semuanya sama seseorang, tapi dia tidak mengaku dia siapa." bohong Angel kepada Papa Soraya itu.
Sementara pria paruh baya itu, menatap anaknya dengan tajam.
Sementara Raena baru saja dari dapur, menanyakan ada apa kepada Angel. Namun gadis itu mengangkat bahunya. Karena dia tidak tahu, ada apa tiba-tiba saja ada orang menarik Soraya. Raena melirik jendela sebentar, dan melihat mobil orangtua Soraya melintas keluar dari cafe miliknya.
"Biar dia menyadari kelakuannya," ucap Raena
Kemudian, Raena melanjutkan aktifitasnya membatu karyawan di Cafe miliknya karena semakin sore semaki ramai pengunjung.
***
Tepat pukul 23.30 malam, Raena sudah sampai rumah. Dia memarkirkan motornya di garasi, dan di bantu Mang Asep yang sudah menunggu dari tadi.
"Capek, non?" ucap Mang Asep kepada Raena.
"Iya, Mang. Tadi di cafe rame, jadi badan pegel semua." jawab Raena sambil melepas helmnya.
"Tadi sudah di buatkan minuman jahe madu sama mbok Ija, non. Mungkin sudah di kamar Non Raena. Sama Nyonya Hana, sudah tunggu Non Raena juga. Biasa, kan setiap tanggal 15 bayar uang sewa." kata Mang Asep sambil menggoda Raena.
"Mang Asep bisa aja. Aku masuk dulu ya, Mang." ucap Raena meninggalkan Mang Asep.
Sesampainya di ruang tamu, seperti biasa Raena di sambut tatapan tajam dari Mamanya sendiri.
"Sudah pulang aku?" sambutannya ketus.
"Iya, Ma." ucap Raena singkat.
"Mana, bayar uang sewa bulan ini."
Hana menodongkan telapak tangannya ke arah Raena. Tanpa banyak bicara, Raena memberikan uang senilai 1,5 juta kepada Hana. Karena itu, kesepakatan Hana sepihak selama Raena berada di rumahnya dan Raena juga kerja paruh waktu.
"Ma, mungkin Raena bisa membayar uang sewanya bisa untuk 2 bulan ke depan. Kan, setelah lulusan Raena harus ke Korea untuk melanjutkan kuliah di sana."
Raena mencoba bicara, kepada Hana. Namun sayang, tidak ada kepedulian dari Hana yang sedang mencatatkan uang dari Raena.
"Kamu kalau mau pergi, ya pergi saja. Tidak usah bilang kepada Mama. Memangnya saya peduli denganmu, huh? Kau lahir dan tinggal di sini, sudah saya anggap menumpang di keluarga ini." jelas Hana ketus.
"Mama tidak ada niatan mencegah Raena untuk pergi?" tanya Raena menahan rasa sakitnya.
Hana menatap tajam ke arah Raena, dengan tatapan tidak suka.
"Buat apa saya mencegah kamu pergi, hmm? Ingat satu hal, anak saya hanya dua di keluarga ini Jean Kusuma dan Sean Kusuma. Sementara dirimu, kalau bukan suamiku yang mempertahankan janin di dalam perutku. Mungkin sudah aku gugurkan kau dari dulu."
Kata-kata Hana sangat tajam, dan membuat hati Raena sedikit sesak.
"Kau itu hanya aib di keluarga ini, Rae. Jadi, jangan harap kau mendapatkan perlakuan seperti Jean maupun Sean. Karena tidak ada tempat untukmu di keluarga ini. Paham?" lanjut Hana.
Raena hanya menghela nafasnya berat, dan menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia pergi meninggalkan Hana di ruang tamu.
"Aku tidak akan pernah menganggap dirimu ada, Rae. Tidak akan pernah sama sekali, sampai kapanpun." gumam Hana menatap tubuh Raena meninggalkannya.
Sedangkan Raena, dia meluruhkan badannya ketika sudah masuk di kamarnya. Dia terus memukul - mukul dadanya, agar sesak di hatinya reda.
"Aku mohon, jangan menangis. Aku harus kuat, please jangan menangis." ucap Raena berusaha dia tidak menangis.
Namun berusaha apapun, Raena agar tidak menangis. Pada akhirnya air matanya tetap berlinang tanpa dia suruh. Semakin berlinang, semakin banyak air mata yang jatuh di pelupuk matanya.
"Sekali ini saja aku menangis, tapi selanjutnya jangan menangis lagi ya. Karena aku sudah lelah, bahkan sangat lelah sekali." ucap Raena untuk dirinya sendiri.
Setelah dia merasa sedikit tenang, dia beranjak dari di mana dia duduk. Kemudian, dia berganti pakaiannya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Beberapa saat kemudian, dia memejamkan matanya karena kantuk menjemputnya.
Dalam tidurnya, seperti biasa Raena menangis dalam diam dan tanpa dia sadari sering menangis dengan mata terpejam. Dulu waktu kecil, hanya sang Oma bisa menenangkan hatinya. Namun karena dia sudah besar, dan Radit melarang untuk sering-sering memperhatikan Raena. Akhirnya, Raena pendam sendiri kesedihannya dan tangisnya. Karena di balik Raena yang jagoan, ceria, dan cuek. Sebenarnya hatinya sudah sangat hancur sekali, sejak dia masih kecil. Namun tak pernah dia tunjukkan kepada siapapun.
****
Bersambung....
Jangan lupa like dan komennya, ya.....