There'S No Place For Me.

There'S No Place For Me.
Part 10 (17+)



Warning! ada adegan kekerasan!!!


Radit pulang dari kantor bersamaan dengan pulangnya Raena dari kerja. Raena sengaja pulang sore, karena dia sedang Ujian Nasional. Sesampainya di garasi, Radit sengaja menunggu Raena memarkirkan motornya. Dengan tatapan yang tajam, Radit langsung menarik lengan Raena dengan kasar dan menyeretnya untuk. masuk kedalam rumah.


'Bruk!'


Radit mendorong kasar tubuh gadis itu ke lantai sampai terjatuh.


"Pa, apa yang kau..."


Raena yang belum selesai bicara, Radit langsung mencekik leher Raena dengan kencang.


"Gara-gara kau lahir, aku menjadi bertemu si brengsek Burhan itu." ucapnya tajam ke arah Raena.


Raena ingin sekali memberontak, namun Radit semakin kencang mencek*k l*her gadis itu.


"Aku tidak mau tahu, setelah Ujian Nasional ini selesai. Pergilah, bersama ayah kadungmu itu. Karena aku sudah muak melihat wajahmu"


Radit melepaskan cek*kannya dengan kasar. Sontak saja, Raena terbatuk - batuk karena kehabisan udara.


"Radit! apa - apaan kau ini!"


Nyonya Kusuma datang ketika Radit melepaskan cek*kkan dari leher Raena.


"Mama jangan ikut campur, aku hanya memberi pelajaran anak ini." hardik Radit kepada ibunya.


"Bagaimana Mama tidak ikut campur, kalau perilaku kepada anakmu seperti ini, Dit?" marah Nyonya Kusum


"Dia bukan anak Radit, Ma. Dia anaknya Burhan, dan minggu depan dia akan menjemput anak ini pergi dari Rumah." jelas Radit.


Hati Raena bagaikan di tusuk pisau, mendengar ucapan Radit. Ini hal paling menyakitkan baginya, dicekik oleh ayah sendiri karena dia bukan anak kandung. Raena berusaha berdiri, meskipun nafasnya sedikit sesak.


"Maaf, Pa. Kalau selama ini Raena membuat Papa kecewa."


Raena mulai angkat bicara, karena sebetulnya dia lelah diperlakukan seperti ini.


"Raena janji, setelah Raena di jemput oleh orang yang anggap Papa itu ayah kandungku itu. Raena tidak akan kembali lagi, Raena tidak akan menggangu keluarga ini lagi. Raena akan pergi, di hadapan Papa sama Mama dan juga Kak Jean. Agar Papa sama Mama hidup tenang, tidak ada bayang - bayang masa lalu Mama yang menyakitkan. Raena sadar, di rumah ini Raena hanya anak kos yang setiap bulan membayar sewa selama tinggal di sini."


Raena mengucapkan kata panjang lebar, dan membuat Nyonya Kusuma menangis.


"Jangan bilang seperti itu, Rae. Kau masih cucu Oma meskipun orang tuamu tak pernah menganggap kamu ada. Jadi, Oma mohon kau jangan pergi ya nak." Nyonya Kusuma memohon kepada Raena.


"Ma, dia hanya orang asing di sini. Mama jangan membela dia apalagi memanjakan dia. Mama dulu kan, yang menolak dia ketika di dalam kandungan Hana."


Radit berkilah, agar Mamanya sadar apa yang dia perbuat.


"Itu salah satu kesalahan Mama, Radit. Mama terlalu emosi saat itu. Apa jadinya jika Raena itu, benar anak kandung kamu?"


Nyonya Kusuma berusaha membujuk anaknya, agar dia tidak salah paham lagi.


"Dia bukan anak Radit, Ma. Dia anaknya Burhan, Ma."


Radit bersih kukuh bahwa Raena bukan anaknya melainkan anak Burhan.


"Baiklah kalau kau masih bersikeras kalau dia anaknya Burhan. Suatu saat kau jangan pernah, menyesalinya jika Raena sudah pergi bersama Burhan."


Nyonya Kusuma lalu memandang ke arah Raena, dan melangkahkan kakinya kepada cucunya.


"Maafkan Oma, Rae. Oma sudah lelah melihat kamu di kucilkan oleh Radit dan Hana. Oma ijinkan kamu, pergi sejauh mungkin agar kamu tidak terluka lagi."


Nyonya Kusuma meraih tangan Raena, dan membelai wajah cucunya.


"Oma tidak bisa meluluhkan hati Papamu yang keras itu. Oma harap, ketika kau di luar sana nanti. Tunjukan bahwa dirimu bisa di banggakan oleh semua orang."


pesan Nyonya Kusuma dan membuat Raena langsung memeluk sang Oma.


"Terimakasih, Oma. Raena janji akan selalu menghubungi Oma di manapun Raena berada." ucap Raena dengan mata berkaca - kaca.


Sementara Radit, mengendus kesal melihat sang Mama memeluk Raena.


****


Beberapa minggu kemudian....


"Ijazahnya nanti, kata kepala sekolah akan di kirim di mana kau kuliah sekarang. Jangan lupa, makan yang bergizi jangan mie instan terus." ucap Jean membantu Raena memasukkan barang - barang Raena kedalam mobil Burhan.


Sesuai dugaan Raena, orang yang bernama Burhan datang menjemputnya dan memberikan penjelasan masa lalunya tentang dirinya dan sang Mama. Namun untuk lebih lengkapnya, Burhan akan menjelaskan di perjalanan. Karena mereka di buru oleh waktu.


Sean yang melihat sang Kakak tercinta akan pergi menangis histeris, dan ingin ikut Raena. Untung saja, Hana menahan putra bungsunya itu tanpa memandang Burhan sekali pun.


"Sudah semuanya?" tanya Burhan kepada Raena.


"Sudah, Om. Tinggal berangkat saja." ucap Raena sedikit datar.


Dengan menghela nafasnya berat, Raena berpamitan kepada Nyonya Kusuma yang sedari tadi hanya menangis karena sedih akhirnya Raena menuruti kemauan Radit. Sementara Tuan Kusuma menatap tajam ke arah sulungnya itu, karena perbuatan kali sungguh sangat kelewatan.


"Hati - hati di sana ya, Nak." hanya itu Nyonya Kusuma katakan karena beliau sudah tidak tahan lagi.


Saat Raena berpamitan kepada Jean, Jean langsung memeluk adilnya dengan erat. Seolah-olah dia tidak ingin melepaskan adiknya yang menyimpan banyak luka.


"Ingat apa kataku, meskipun kita beda Ayah. Kita tetap saudara, kita lahir di rahim yang sama jadi jangan mejadi orang asing di antara saudara, okey." ucap Jean menahan tangisnya.


Raena hanya menganggukkan kepalanya, kepada sang Kakak, dan menatap matanya ke arah Sean yang terus memanggilnya. Namun Raena biasa apa, dia tidak boleh mendekati Sean lagi oleh Hana.


"Titip Sean, kak." hanya itu kata yang yang terucap dari mulut Raena.


Setelah berpamitan, Raena masuk ke dalam mobil Burhan, dan memandang rumah yang penuh kenangan itu. Perlahan-lahan mobil berjalan meninggalkan Rumah itu. Sean yang terlepas dari gendongan Hana, berlari mengejar Mobil Burhan yang semakin menjauh.


"Kak Laena! Sean ikut.. hiks.. hiks.. " teriaknya sambil menangis.


Sean berlari sampai gerbang rumah, dia di tahan oleh Mang Dadang agar tidak ke jalan raya.


"Enggak mau, Sean ikut kak Laen, lepasin!!" berontak bocah.


"Sudah, Den Sean. Sabar, Non Raena pasti kembali. Sekarang, Den Sean masuk lagi ya?" bujuk Mang Dadang.


"Papa sama Mama jahat! Suka pukul - pukul kak Raena... hiks.. hiks..." teriaknya di gendongan Mang Dadang.


Sementara itu, Jean masuk ke dalam Rumah tanpa memperdulikan Hana maupun Radit. Hana melihat perubahan putra sulungnya langsung mengejar Jean. Namun dia kalah cepat, ketika Jean mengunci pintu kamarnya.


"Papa sangat kecewa dengan kamu, Radit. Mulai besok, Papa sama Mama akan pindah di rumah ini. Karena Papa sudah muak, punya anak sangat mengecewakan orangtua." ucap Tuan Kusuma.


"Pa, tidak bisa begitu dong. Rumah ini Radit bangun, agar mama dan Papa bisa menikmati hari tua bersama Radit dan keluarga Radit." Radit menahan Papanya.


"Sayangnya keluarga ini, sudah tidak lengkap lagi. Radit Kusuma..." tekan Tuan Kusuma dan menggandeng tangan istrinya untuk pergi dari hadapan Radit.


***


Selama dalam perjalanan menuju bandara, Raena hanya diam seribu bahasa sambil menatap pemandangan dari jendela mobil.


"Om tahu, kamu pasti kecewa. Namun yang jelas, Om akan mengganggumu seperti anak sendiri."


Burhan mulai angkat bicara, memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Apakah benar, Om Burhan ayah kandungku?" tanya Raena mulai anggkat bicara.


"Om sebenarnya bukan ayah kandungmu. Karena saat sebelum kejadian itu, Om di vonis oleh dokter tidak bisa memiliki keturunan alias mandul. Namun, saat setelah kejadian itu semua orang menyalahkan Om. Karena sudah menghamili Mama kamu, dan kemudian lahirlah kamu di dunia." jelas Burhan kepada Raena.


"Lalu kenapa Om memilih pergi ke Korea dari pada meluruskan kesalahan pahaman ini?"


Burhan tertawa ketika Raena bertanya kepadanya terus.


"Om tidak ada cara lain untuk menjelaskannya, Om sendiri juga sudah tes DNA saat kau masih bayi. Dan ternyata, kau bukan anak Om. Tapi, Papamu bersikeras kalau kamu anak Om."


Hati Raena sedikit lega, mendengar penjelasan Burhan. Karena dia memang bukan anak Burhan tapi benar-benar anak Radit dan Hana. Raena tidak menyangka karena kejadian itu, Radit dan Hana sampai tidak menganggap Raena bukan anak mereka.


"Kalau sampai di sana, kau fokuslah dengan studymu sampai selesai. Oh, iya. Calon istri Om, sekaligus dokter terapi Om juga ingin bertemu denganmu. Karena Om sering cerita soal tentang dirimu kepadanya." lanjut Burhan.


Tak terasa, meraka sampai di bandara. Raena dan Burhan tidak memakai penerbangan biasa. Mereka memakai penerbangan bisnis sehingga mereka cepat naik ke pesawat. Karena semuanya, sudah di urus oleh Burhan sehingga Raena hanya mengiyakan saja.


"Sayang juga di saat seperti ini, Roni sudah berangkat ke Belgia minggu lalu." ucap Raena saat menunggu pesawat berangkat.


Raena hanya menghela nafasnya, ketika peswat perlahan - laham meninggalkan bandara. Tanpa terasa, setitik air mata Raena jatuh. Namun di hapus oleh Raena agar tidak. ketahuan oleh Burhan.


Akan tetapi, Burhan tahu kalau Raena sebenarnya ingin menangis. Namun gadis itu, mampu menahannya agar semua orang tidak khawatir kepadanya.


****


Bersambung...