There'S No Place For Me.

There'S No Place For Me.
Part 7



Malam harinya, Raena mutuskan untuk makan bersama dengan para pembantu daripada satu meja dengan Hana. Sementara Jean yang ingin ikut Raena, ditahan oleh Hana agar tidak ikut.


"Tempat itu cocok untuk anak seperti dia," ucap Hana kepada Jean.


"Lebih baik Jean makan di kamar, daripada makan satu meja dengan Mama." Jean mengambil piring, dan mengambil makanannya kemudian pergi menuju kamarnya.


Sementara Nyonya Kusuma, tanpa banyak bicara. Wanita lanjut usil itu, menyusul Raena makan dengan para pembantu.


"Aduh, Nyonya sepuh. Kok ikutan makan di sini?" tanya Inem.


"Aku tidak mau, cucuku ini merasa sendirian, Nem." ucap Kususma sambil duduk di sebelah Raena.


"Tapi Oma, nanti Mama marah kepadaku kalau Oma ikutan makan di sini."


Raena khawatir dengan Omanya yang sudah duduk di sebelahnya.


"Maaf, ya Nya. Apa tidak apa-apa makan dengan sayur asem sama tempe goreng?" tanya Mbok Ija ragu.


"Enggak masalah, Mbok. Sudah lama saya gak makan makanan Desa. Mas Kusuma sibuk terus sama kerjaannya." ucap Nyonya Kusuma sambil mengambil nasi.


"Memangnya Opa kapan pulang, Oma?" tanya Raena sambil mengambil tempe dan sambel orek yang baru saja dia buat.


"Mungkin pas kalian Ujian Nasional, Opamu pulang." jawab Nyonya Kusuma


Mereka menghentikan bicaranya, dan memulai makan malam bersama. Nyonya Kusuma tersenyum, ketika saat makan Raena mengusili Mang Dadang dengan mengambil tempe di piringnya.


"Lha, Non Raena jangan begitu. Mang Dadang juga pengen tahu rasanya tempe racikan Inem." ucap Mang Dadang.


"Sudahlah, Mang. Tempenya masih banyak, tuh." Mbok Ija melerai supir dan majikannya.


Sementara, di Ruang makan hanya ada Hana dan Radit. Karena Sean ikut Jean, makan malam di kamar Jean.


"Sepi juga kalau enggak ada ana-anak, mas." ucap Hana lesu.


"Kau sendiri, kan ya g bilang kalau kau tidak suka Raena di sini? Ini pertama kali lho, Han. Kau terang - terangan mengusir anak itu." ucap Radit membuat Hana terdiam.


"Aku kan hanya mengusir Raena, Mas. Bukan Mama dan Jaen."


Hana terus mengelak, dan Radit dengan sabar memberi pengertian.


"Kau mengusir gadis itu, sama saja kau mengusir Mama dan Jean, Hana. Sudahlah, sabarlah sebentar lagi." ujarnya.


"Sabar sampai kapan, Mas. Melihat wajahnya saja membuat aku teringat kejadian itu." kesal Hana.


"Sabarlah setelah mereka menyelesaikan Unas. Gadis itu akan pergi dari kita." tegas Radit.


"Mas, kalau misalkan kita beritahu Jean bagaimana? Agar Jean jauhi gadis itu, Mas. Aku capek melihat Jean membela gadis itu setiap hari, Mas." kata Hana kepada suaminya.


"Hana, kau jangan gehabah dulu. Kalau kau memberi tahu Jean. Dia akan kecewa dengan kita, kalau Raena anak hasil pemerkosaan si brengsek itu. Ayolah, kau jangan seperti ini," bujuk Radit kepada istrinya.


"Tapi, Mas. Aku tidak kuat dengan semua ini, kejadian itu selalu menghantuiku selama ini." ucap Hana menahan air matanya.


"Carilah waktu yang tepat, agar Jean bisa menerima ini semua." putus Radit.


Tanpa mereka sadari, Raena yang baru saja akan mencuci piring mendengar pembicaraan kedua orangtuanya balik tembok antara ruang makan dan dapur.


"Sudah aku duga, kenapa Mama seperti ini kepadaku." lirihnya dan melanjutkan tujuannya.


***


Setelah mendengar orang tuanya, Raena terduduk termenung di teras belakang rumah. Sesekali, dia menghapus air matanya dengan kasar. Agar tidak terus menerus mengalir.


"Kalau belum tidur, Rae?" tanya Nyonya Kusuma menemui Raena yang masih terduduk di teras Rumah.


"Aku pikir, karena aku sangat nakal Mama dan Papa tidak memperdulikan aku. Ternyata aku memang anak haram, kan Oma?" ucap Raena miris.


"Siapa yang bilang seperti itu, Rae?" Nyonya Kusuma terkejut.


"Aku tadi tak sengaja mendengar pembicaraan Mama dan Papa di ruang makan, Oma." jawab Raena memandang ke arah Nyonya Kusuma.


"Benar, kan Oma. Aku sebenarnya bukan cucumu? Aku bukan anak Radit Kusuma, kan?"


Nyonya Kusuma langsung memeluk Raena, wanita lanjut usia tahu Raena tak akan menangis soal ini. Namun mata gadis itu, menyiratkan rasa luka dan kecewa yang mendalam


"Semuanya tidak bener, Rae. Kau memang cucu Oma, anaknya Radit Kusuma." Nyonya Kusuma mencoba menenangkan cucunya.


"Aku tahu, Oma hanya menghibur. Terimakasih Oma mau menerimaku sebagai cucumu. Tapi, Oma tidak perlu mengasihani ku." ucap Raena.


Nyonya Kusuma langsung terisak mendengar ucapan Raena. Dia tidak terima kalau, Raena beranggapan bukan anaknya Radit. Ingin Nyonya Kusuma mengatakan, kalau Raena adalah benar-benar anak kandung Radit. Namun dia tidak ada keberanian itu, karena Radit sudah terlanjur benci kepada Raena sejak lahir.


***


"Jean, apa benar Raena masuk pagi?" tanya Nyonya Kusuma khawatir karena melihat wajah Raena ketika berpamitan sedikit sembab.


"Iya,Omah. Anak akselerasi masuk lebih pagi daripada anak kelas 12 biasanya." jelas Jean meneruskan sarapannya.


"Baguslah agar aku tidak terus - terusan melihat wajah anak itu setiap hari." ujar Hana senang.


"Dan Mama akan lebih senang, kalau Raena akan pergi setelah pengumuman kelulusan, bukan?" Jean bicara bernada dinginnya kepada Hana.


"Jean, stop. Lanjutkan sarapanmu,"


Suara datar Radit membuat Jean menghentikan sarapannya.


"Aku sudah kenyang, aku lupa ada janjian dengan Dimas." bohong Jeang mengambil tas dan kunci motornya.


"Dan satu lagi, buat Mama. Jean sebenarnya, benci dengan Mama memperlakukan Raena seperti itu." ucap Jean berjalan keluar Rumah.


'Brak!'


"Gara-gara anak itu, anakku menjadi membenciku."


Hana kesal sambil menggebrak meja makan, Nyonya Kusuma yang mengetahui situasi yang tidak mengenakan. Mengajak Sean untuk berangkat sekolah bersamanya.


"Oma, Mama kok jadi selem, ya?" tanya Sean


"Mama kamu mungkin sedang capek, Sean. Berangkat sekolah sama nenek, ya?" ucap Nyonya Kusuma dan mendapat anggukan oleh Sean.


***


Saat jam istirahat tiba, Jean menemui Raena yang sedang membaca buku pelajarannya di taman belakang sekolah bersama dengan Roni. Karena sebentar lagi, mereka ada ulangan dadakan.


"Rae," panggil Jean.


Raena yang asik membaca buku, mendongakkan kepalanya.


"Kak Jean? Ada apa?" tanya Raena.


Jean duduk di sebelah Raena dan memberi isyarat untuk Roni agar meninggalkan mereka berdua.


"Rae, aku mau ke kantin dulu." pamit Roni kepada Raena.


"Iya, aku titip minuman kaleng buat nanti di kelas,"


Roni hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat untuk mengiyakan.


"Rae, setelah lulus sekolah nanti. Kau kuliah di mana?"


Jean langsung to the point kepada adiknya.


"Aku diterima Korean University, Kak." jawab Raena lesu.


"Kau diterima kampus incaranku?"


Raena hanya menganggukkan kepalanya kepada Jean.


"Wah, kau hebat juga kau. Aku kira kau akan kuliah di sini bersamaku."


Raena hanya tertawa miris, mendengar perkataan Jean.


"Aku sebenarnya ingin tetap di sini, Kak. Tapi, demi Mama aku lebih baik pergi saja dari Rumah. Daripada telinga panas terus mendengar Mama mencaci-maki diriku setiap hari." jelas Raena.


"Akhirnya, anak seperti dirimu bisa lelah juga atas kelakuan Mama." canda Jean kepada adiknya.


"Iya, aku lelah kak. Sangat lelah sekali, dan rasanya ingin meninggalkan dunia ini." ucap Raena sendu.


"Kalau lelah, kakak beloh mengijinkan kamu pergi. Tapi, ingat kalau lelah itu mereda. Kau pulanglah ke rumah."


Jean memberi dukungan kepada adiknya itu, dan Raena hanya tersenyum sekilas.


"Entah bagaimana jadinya, jika tahu kita hanya beda ayah kak. Apakah kau masih menjadi tempat aku bersandar seperti ini." batin Raena memandang ke arah Jean.


"Ya Allah, janga biarkan pancaran mata adikku redup lagi. Aku tahu, dia sangat terluka dan lelah. Tapi, jangan Engkau redupan lagi harapannya." uacap Jean dalam hati.


Tak terasa di taman itu, angin begitu sejuk berembus. Membuat kedua saudara itu, saling mencurahkan pemikiran mereka masing-masing. Meskipun terlihat, membuat banyak wanita yang mengidolakan Jean sangat cemburu.


****


Bersambung...


jangan lupa like, dan komen...