
Ujian Nasional pun tiba, semua siswa konsentrasi mengerjakan soal termasuk Roni, Raena, dan Jean. Entah kenapa, saat Ujian Nasional akan berlangsung. Gladis tiba-tiba datang dan menduduki kursi paling depan untuk mengikuti ujian nasional tahun ini.
"Siapa lagi dibayar buat meloloskan mak lampir satu itu," keluh Roni saat akan masuk kelas.
"Jangan-jangan beasiswanya Farah, yang dia ambil. Soalnya, pas ujian nasional kurang 3 hari Farah memilih balik ke kelas dan di gantikan Mak lampir itu," ucap Farhan.
"Sudah aku duga pasti gadis itu berbagai cara supaya dia bisa ikut." ujar Raena.
"Ya, kita lihat saja nanti. Kan beasiswanya Farah ke Autrali, dan dia akan kuliah di sana. Jadi, kau bebas di Korea."
Roni merangkul pundak Raena agar sahabatnya itu tenang, dan tidak gelisah soal Gladis.
Sementara Jean, mengendus kesal ketika Gladis menjelek - jelekkan adiknya di depannya.
"Di rumahmu enggak ada kaca, ya?" tanya Dimas.
"Ada kok, Kak. Kenapa aku cantik, ya?"
Gladis menunjukan body bak seperti model, dan mengedipkan mata sebelah.
"Cantik, sih. Sayangnya, matamu dan hidungmu oplas. Kena tonjokan sedikit saha langsung bengkok."
Gladis langsung membolakan matanya, karena perkataan sarkas dari Dimas. Kalau boleh jujur, Dimas seperti The Agus salah satu rapper di Korea karena terkenal kata savagenya.
"Kenapa? Tidak terima? Hello, Gladis. Kami semua tahu, kamu itu merebut beasiswa salah satu siswa kelas 11. Meskipun kau tutupi, percuma karena di sekolah ini banyak CCTV berjalan. Kau juga mengancam Farah, kan? Mentang - mentang ayah Farah OB di kantor Papamu."
Lagi - lagi Jean mendengar ucapan kasar dari temannya itu. Dia hanya tersenyum simpul, karena Gladis ada lawan di ruangannya. Mungkin, jika Raena di ruangan sama dengan dia. Bisa-bisa Gladis kena hajar lagi di tangan adiknya.
***
Setelah ujian hari pertama selesai, Raena rencananya akan ke Cafe bersama Roni. Tapi Jean menahannya, karena dia ingin membicarakan sesuatu kepada adiknya itu.
"Aku dengar dari Oma, akhir - akhir ini sering berdebat dengan Papa sama Mama." ucap Jean tanpa basa - basi.
"Bukan berdebat, Kak. Tapi, Mama ingin mengusirku dari rumah. Sementara Papa, ingin aku kuliah lebih jauh dari jangkauannya." jelas Raena malas.
"Kau tidak bilang ke mereka kalau kau diterima kuliah beasiswa di Korea?"
Raena hanya menggelengkan kepalanya, karena sempat membahas beasiswanya. Kedua orangtuanya hanya menjawab karena itu akal - akalan Raena sendiri. Karena menurut mereka, mana mungkin Raena sepintar itu.
"Kau seharusnya bilang, dong. Agar mereka tidak mendesak kamu terus."
Jean kesal kepada adiknya satu ini, karena dia di suruh bilang ke orang tua. Malah tidak bilang, justru berdebat dengan orang tua setiap pulang kerja.
"Bagaimana aku bilang ke mereka, kalau setiap hari perkataanku di potong terus sama mereka." Raena mencoba membela dirinya.
"Ya, bagaimanapun mereka harus tahu Rae."
Raena memutar bola matanya malas, andai Jean tahu kalau mereka tidak seayah.
"Tunggu saja kalau pengumuman ujian selesai." jawab Raena selesai.
"Pengumuman kelulusan nanti, kau sudah harus di sana kan?"
Raena menghela nafasnya ketika kakak mencercahnya.
"Iya, aku seharusnya di sana. Tapi, mending aku tidak usah membicarakan ini kepada mereka. Nanti, mereka akan tahu sendiri soal ini." balas Raena sedikit sendu.
"Apa sesakit itu, sampai kau tak bicara kepada mereka?" lanjut Jean.
"Aku tidak sesakit itu, Kak. Hanya kecewa saja dengan mereka." jelas Raena.
"Ya, sudah kalau itu maumu. Kakak tidak memaksamu untuk bercerita." ucap Jean.
***
Sesampainya di rumah, Jean melihat Sean sedang menggambar di ruang keluarga dengan di temani sang Mama. Sesekali, Jean melihat apa yang di gambar oleh adik bungsunya itu.
"Kak Jean, cudah pulang. Hoyeee... " seru Sean kepada sang Kakak.
"Kak Laena mana, Kak?" tanyanya sedikit sedih.
Jean menjongkokkan dirinya agar tingginya sejajar dengan Sean.
"Kak Raena, kan masih kerja. Masak Sean lupa punya kakak yang sudah kerja." Jean memberi pengertian kepada adiknya.
"Sean kila, kak Laena jadi pergi. Nanti, kalau kak Leana pergi siapa yang membelikan banana milk untuk Sean."
"Sean, kak Raena tidak akan pergi. Kak Raena akan ke Korea buat sekolah." jelas Jean.
Hana yang mendengar percakapan kedua anaknya, hanya mengendus kesal. Karena anak bungsunya, lebih dekat dengan Raena dari pada Jean.
"Kan, ada kak Jean sayang. Meskipun kak Raena tidak ada, Sean bisa bermain dengan Kak Jean." ucap Hana menimpali anaknya walau kesal.
"Jean, kau ganti baju dulu sana. Setelah itu, makan siang bersama." pintanya kepada anak sulungnya.
"Iya, Ma." ucap Jean lesu.
Sebenarnya laki-laki itu malas berhadapan dengan Mamanya. Namun dia tidak mau, emosinya meledak di depan Sean.
***
Sementara itu, di kantor Kusuma grup. Radit kedatangan Burhan untuk mengajak kerja sama. Sebenarnya Radit ingin sekali, menghajar laki-laki bejat itu. Namun ini masih di jam kerja dia harus profesional.
"Radit, boleh saya bicara sebentar?"
Burhan menahan Radit setelah meeting selesai. Radit menatap tajam ke arah Burhan, menyuruh asistennya keluar dulu dari ruang meeting meninggalkan mereka berdua. Setelah semua dari ruang meeting, tanpa banyak bicara Radit melayangkan bogeman mentah ke arah mantan sahabatnya itu.
"Kemana saja kau, brengsek!"
'Bug'
"Kau tahu, selama 17 tahun Hana dan aku mengasuh anakmu!"
Radit terus menghajar Burhan bertubi-tubi, tanpa mendengar penjelasan Burhan.
"Anak itu, hasil kebejatanmu kepada istriku silahkan kau ambil. Aku sudah muak melihatnya" ucap Radit emosi.
"Dia bukan putriku, dit. Tapi, dia memang putrimu kandungmu. Aku..."
Belum selesai Burhan menjelaskan, Radit memberikan bogeman mentah lagi.
"Dia anak dari hasil bejatmu, brengsek. Dia bukan putriku, keparat!" teriak Radit emosi.
"Aku tidak mau tahu, minggu depan dia selesai ujian. Bawalah dia pergi bersamamu. Aku tidak mau Hana teringat traumanya lagi. Dan aku tidak mau, ada aib di keluargaku." putusnya kepada Burhan.
"Kau hanya salah paham, dit. Gadis itu memang benar putrimu. Aku akui saat itu mabuk, aku kira Hana itu mantan tunanganku karena rumah kalian bersebelahan. Aku melakukannya, tanpa sadar karena pengaruh alkohol, dit."
Burhan mencoba menjelaskannya, namun Radit tidak memperdulikan.
"Tapi, kenapa harus Hana huh. Kau tahu sejak saat itu, Hana berkali-kali bingin melakukan bunuh diri, di tambah dia hamil anakmu, Burhan." protes Radit.
"Maafkan aku yang telah menghancurkan istrimu. Tapi, harus kau tahu aku mabuk karena vonis dokter karena tidak bisa memiliki anak. Sementara tunanganku, mengetahuinya langsung membatalkan pertunangan kami."
Radit tidak percaya, karena baginya Burhan hanya mengada - ada.
"Kau pikir, aku percaya penjelasanmu. Kau sudah menghancurkan mental istriku dan menghasilkan anak. Sekarang kau tidak mengakui dia anak? Hebat sekali sulung hadiningrat ini." cibir Radit.
"Aku tidak mau alasan apapun, minggu depan setelah ujian nasional mereka. Bawa putrimu pergi dari hadapanku, agar keluargaku bis tenang tanpa gadis itu." ucap Radit meninggalkan Burhan.
"Kau akan menyesal, jika kau menyuruhku mengambil anakmu. Aku janji, aku akan membawa anakmu pergi jauh dari pandanganmu. Namun suatu saat nanti, kau jangan pernah mengambilnya lagi." ucap Burhan kepada Radit yang sudah pergi meninggalkannya.
****
Bersambung....