
Sesampainya di Sekolah, Raena bertemu dengan geng penguasa sekolah. Dan jangan lupa, ada Soraya si ratu sekolah sedang menatap tajam ke arah Raena yang sedang jalan bersama dengan Roni.
"Aish, kenapa pagi-pagi harus bertemu dengan mereka." ucap Roni kesal.
"Salah sendiri punya muka tampan. Sekali-kali itu mukamu, ganti warna hitam kecoklatan jangan putih kayak Idol Kpop." ucap Raena kepada Roni.
"Wah, kau memang saudaraku paling benar kalau bicara. Kalau bukan saudara persusuan, sudah aku seret kau ke KUA." ucap Roni kesal kepada Raena.
Saat mereka mendekati geng itu, Soraya menghentikan langkah mereka.
"Kau sepertinya lupa omonganku, Raena." sinis Soraya kepada Raena.
"Selagi omongan yang tidak penting dan enggak masuk akal. Aku tidak akan menuruti kemauanmu," balas Raena.
"Soraya, kau mengatakan apa lagi kepada Raena?" Roni mulai angkat bicara.
"Menjauhi pangeranku," Soraya bergelayut manja di lengan Roni.
"Aku kan sudah berkali-kali bilang, Roni itu saudaraku. Sama seperti Kak Jean, dia malah kakak kandungku." ucap Raena kesal dan melirik Tifani gadis yang menyukai Jean.
"Oh, ya? Sayangnya, aku tidak percaya tuh." cibir Soraya.
Ingin rasanya Raena menghajar Soraya. Namun lagi - lagi, Roni dan Jean selalu menahannya agar tidak berkelahi. Karena yang dihadapi adalah anak kepala sekolah dan salah satu cucu Investor di Perusahaan Radit. Sekali saja Raena berbuat ulah, apalagi dengan Soraya. Kakeknya yang akan bertindak memperingati Radit, dan Raena terkena hukuman dari Hana jika mendengar itu semu.
"Soraya,sayangnya aku tidak suka dengamu. Aku punya incaran lain, dan itu bukan Raena." ucapan halus Roni berhasil mengenai hati Soraya.
"Rae, ayo kita ke kelas." ucap Roni dingin sambil merangkul pundak sahabatnya.
Tanpa mereka sadari, dari arah kejauhan. Jean juga mendengar dan memperhatikan mereka. Sesekali matanya menatap tajam ke arah Tifani, dan gadis itu mengetahuinya.
"Aduh, Soraya. Jean ternyata ada di sana dan melihat aksi kita. Bagaimana, nih?" panik Tifani kepada Soraya.
"Ya, bagus dong. Jean akan suka dengan kamu." balas Siska salah satu anak geng Soraya yang paling oon di antara mereka.
"Justru sebaliknya, Siska. Jean itu sayang sekali sama adiknya itu." ucap Tifani.
"Apa sih yang di banggakan anak haram itu? Banyak banget bodyguardnya." kesal Soraya.
"Sekali lagi kau mengatakan adikku anak haram. Jangan harap, kakekmu tahu kelakuamu seperti ini di sekolah." ucap Jean dingin sambil merekam video dengan ponselnya.
"Tidak masalah, asal kau jangan pernah muncul di hadapanku dan mengganggu Raena. Bagaimana?" usul Jean.
"Ta.. tapi Jean, aku suka masa kamu. Masak suruh menjauh, sih." gugup Tifani.
"Sayangnya aku tidak suka kepadamu," ucap Jean melangkahkan kakinya meninggalkan Tifani dan gengnya.
"Soraya, bagaimana ini. Sudah aku bilang, kan. Kau jangan cari gara-gara sama Raena. Lihat, kau di tolak mentah-mentah sama Roni. Akun juga di tolak sama, Jean." kesal Tifani.
"Aish, semua gara-gara Raena." tuduh Soraya.
Sementara Siska dan kedua temannya, hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah tahu mereka tidak suka kalian berdua, masih saja maksa." celetuk Anya pelan.
"Anya, diam kau!" sentak Soraya.
***
Di kelas 11 IPS 1, Raena tidak duduk sebangku dengan Roni. Karena Raena punya teman sebangku sendiri, dan kebetulan temannya itu teman satu lokasi tempat Raena bekerja.
"Rae, aku dengar kau habis berantem dengan Soraya end the geng, ya?" cerosos Nila kepada Raena.
"Ya, seperti biasanya lah." jawab Raena singkat.
"Ih, kenapa anak itu tidak berhenti mencari gara-gara sama kamu?" gemes Nila.
"Ya, anak kayak gitu kapan berhentinya. Aku saja sudah bosan setiap hari bertemu dengan dia." ucap Raena.
Sesaat kemudian, guru mereka datang dan pelajaran pun di mulai. Nila sebenarnya ingin banyak tanya kepada Raena. Namun dia ingat, prinsip Raena kalau pelajaran jangan mengajaknya berbicara.
*****
Bersambung....
jangan lupa like komennya, ya....