
Jean terduduk lemas, ketika dokter menyatakan Raena kritis. Dunia Jean seolah runtuh, ketika adik perempuannya yang selalu tegar dan selalu tersenyum di balik lukanya. Kini harus menghadapi antara hidup dan mati.
"Kak Laena.... hiks.. hiks..." suara anak kecil berlari kepadanya sambil menangis.
"Sean," Jean langsung memeluk bocah 5 tahun itu lalu menggendongnya.
"Kak Jean, Kak Laena kok tidur sama kabel - kabel. Hiks...hiks..." ucap Sean ketika melihat Raena dari jendela kaca ruang ICU.
"Kak Raena sedang sakit, Sean. Doakan saja Kak Raena cepat sembuh." Jean mencoba untuk tidak menangis di hadapan adiknya.
"Oh, iya. Sean ke sini bersama siapa?" tanya Jean.
"Sean datang bersamaku, Bang." ucap seseorang baru sampai.
"Roni, Bang Johan?" lirihnya melihat kedua orang itu.
"Jean, kenapa Raena bisa seperti ini? Kau tahu sendiri, kalau adikmu alergi dengan nanas dan udang."
Johan hanya menghela nafasnya, sambil mengusap memandang ke arah jendela kaca.
"Mama yang melakukannya, Bang." jawabnya sendu.
"Tante Hana? Kenapa bisa begitu?" Roni terkejut atas jawaban Jean.
"Mamanya Gladis, Tante Amara. Datang ke rumah karena tidak terima anaknya dihajar oleh Raena. Katanya tante Amara, hidung Gladis sampai berdarah karena tonjokan Raena. Padahal kamu dan aku tahu, Raena tidak sampai menonjok orang sampai berdarah." jelas Jean.
"Hidung cuma bengkok sedikit, Bang. Enggak sampai berdarah apa yang dikatakan Mamanya. Raena juga tonjok dia gak pakai tenaga. Wah, enggak benar anak itu." omel Roni.
"Aku tadi dihubungi sama Oma, kalau Raena masuk Rumah Sakit. Sesampainya di rumahmu, melihat Sean sedang menangis di halaman rumah." ucap Johan.
"Mama ahat, Kak. Kata Mama, bialkan Kak Laena mat*. Jadi, hidupnya tidak ada beban mengulus anak halam. Anak halam apa, cih Kak? Kok Mama kalau omel - omel Kak Laena anak haram?" ucap Sean dengan polosnya.
"Adek, tidak ada di dunia ini namanya anak haram. Yang haram itu, perilaku orangtuanya sudah melakukan dosa." jelas Jean kepada Sean.
"Mama, kau sudah keterlaluan." ucap Jean dalam hati.
***
"Papa tidak habis pikir dengan kelakuan kamu, Hana." ucap Tuan Gunawan kepada putrinya.
"Raena itu anak kamu, kenapa kau memperlakukan seperti itu? Kau mau jadi pembunuh di depan anak-anakmu?!" bentak tuan Gunawan.
Tuan Gunawan dan istrinya awalnya ingin memberi kejutan kepada Raena dan Jean karena kedua cucunya sangat berprestasi. Namun ketika sampai, mereka mendengar Nyonya Kusuma memarahi Hana. Awalnya, Tuan Gunawan tidak terima, jika sang putri di perlakukan seperti itu. Tapi, setelah mendengar penjelasan Nyonya Kusuma. Laki-laki lanjut usia itu geram kepada anaknya.
"Pa, kenapa kau membela gadis itu? Dia bukan cucumu, Pa. Dia aib di keluarga kita," protes Hana tidak terima.
"Tapi dia yang kau lahirkan, Hana!" Tuan Gunawan meninggikan suaranya.
"Hana, Raena itu tidak salah. Dia tidak tahu apa - apa soal masalah masa lalu kamu." tutur Nyonya Gunawan.
"Dia salah, Ma. Dia salah lahir di dunia ini. Dia salah karena bukan anaknya Mas Radit, Ma. Dia anak baj*ngan tengik itu, Ma." ucap Hana membela diri.
"Jaga mulutmu, Hana. Walaupun bagaimana juga dia tetap anakmu. Mama sudah menerimanya, Hana." Nyonya Gunawan mencoba memberi pengertian.
"Kalian bisa menerimanya, aku malah tidak sudi menerima anak itu." ucapnya sinis.
Hana memang sempat menangis, melihat Raena di bawa ke rumah sakit karena kejang - kejang. Namun egonya, yang membuat dia tidak lukuh. Sedangkan Tuan Gunawan, tidak habis pikir dengan prilaku anaknya.
***
Raena sudah sudah siuman dari pingsannya, dan bisa melewati masa kritisnya. Kini di bangkar rumah sakit, Raena sedang mengerjakan tugas, dan catatan sekolah dari Roni. Sesekali, dia juga belajar untuk persiapan UNAS yang kurang beberapa bulan.
"Bagaiman kalau kau tinggal di rumahku sampai unas selasai?" tawar Roni kepada Raena.
"Iya, aku di sana Kak Jean dan Sean akan ikut juga. Apalagi Sean, dia tidak mau lepas dariku." jawab Raena sambil membaca buku pelajarannya.
"Kalau Sean ikut tidak masalah, biar di rumah ada hiburan. Kalau Bang Jean ikut juga, itu yang repot. Soalnya manusia setengah kulkas 12 pintu itu. Bawaannya serius terus."
Raena tersenyum mendengarkan ucapan Roni. Sesekali Raena menghela nafas sambil menatap ke arah jendela luar rumah sakit.
"Sebentar lagi, tolong bersabar sedikit. Setelah itu, kau bisa jauh dari Mamamu biar wanita itu tenang." ucap Raena dalam hati.
"Rae, kau melamun?" tanya Roni menyadarkan Raena.
"Ah, enggak. Hanya melihat pemandangan di luar sana." tunjuk Raena.
"Tunggu dirimu pulih dulu, baru keluar jalan - jalan di luar." ucap Roni.
***
Sementara itu di sekolah, Jean menatap gadis penyebab Raena masuk Rumah Sakit. Dia kira setelah di hajar oleh adiknya gadis ini menyadari kesalahannya. Namun ternyata, pintar manipulatif dia.
"Puas kau telah membuat adikku masuk rumah sakit?" tanya Jean dingin.
"Kak Jean apa - apaan, sih. Justru yang menderita itu aku, bukan adikmu itu." Gladis tidak terima.
"Kau tahu, nenek lampir. Gara-gara aduanmu kepada Mamamu dengan cerita tidak jelas. Raena masuk rumah sakit, itu dari aduan Mamamu ke Mamaku sampai adikku di hukum. Andai Raena tega, tidak hanya hidung opelasmu yang bengkok. Tapi, double eyes mu bisa saja di robek sama dia." ucap Jean tajam.
"Itu hukuman paling pantas buat orang yang telah merebut posisiku, Kak." ucap Gladis tidak terima.
"Merebut posisimu bagaimana? Kau saja yang bodoh dan tidak bersyukur. Masih untung kau masih masuk lima besar di sekolah." ucap Jean tepat mengenai perasaan Gladis.
"Kak Jean kenapa kau bilang begitu, sih?" emosi Gladis.
"Dari dulu, Raena selalu merebut apa yang seharusnya aku miliki. Aku tak terima Raena yang puja - puja sementara aku tidak." lanjutnya.
"Itu namanya iri, Gladis. Kenapa orang tidak pernah memujamu, itu karena kamu sombong. Selalu menghalalkan semua cara agar kau selalu di atas. Ingat, Gladis. Kakekku adalah investor terbesar di perusahaan Papamu. Kalau sampai kakekku tahu masalah ini. Tidak hanya perusahaan Papamu yang hancur. Tapi, butik Mamamu juga hancur. Bagaimana? Seru bukan?" Jean berbicara panjang lebar sambil menyeringai.
"Kak Jean jahat!" teriak Gladis berlari meninggalkan Jean.
Jean hanya tersenyum sinis, melihat Gladis meninggalkannya.
"Salah sendiri, siapa suruh menganggu adikku." ucapnya senang.
***
Bersambung....
Jangan lupa like, share, komen, vote, sama bintangnya, ya.
terimakasih.