
Keesokan harinya, di sekolah Roni berjingkrak senang karena Raena tahun ini ikut Ujian Nasional juga seperti dia. Namun sayangnya, setelah kelulusan mereka harus berpisah karena Roni maupun Raena di terima Universitas yang berbeda.
"Mamamu tahu kalau kau ikutan Ujian Nasional tahun ini?" tanya Roni.
"Mamaku mana tahu soal ini, piala kemarin disebut rongsokan oleh dia." balas Raena.
Mereka saat ini sedang berada di kantin, karena beberapa kelas ada jam kosong. Guru mereka sedang ada rapat, dan memperbolehkan mereka ke kantin.
"Bang Jean tahu, kalau kau ikut ujian nasional tahun ini?" tanya Roni lagi.
"Dia tahu dari Bang Dimas, padahal aku tidak akan berbicara sampai hari Unas tiba." jawab Raena kesal.
"Kau berikan apa para guru sampai meloloskan dirimu ikut Unas tahun ini?" pertanyaan sarkas dari Gladis teman sekelas mereka yang tidak terima Raena lolos ikut Unas tahun ini.
Sebenarnya, Gladis juga mengikuti tes yang sama dengan Raena. Tapi, memang dasarnya otak Gladis yang kurang mampu bersaing dengan Raena. Akhirnya dia tidak di loloskan oleh para guru. Saat Olimpiade kemarin, dia memaksa ikut serta dalam ajang perlombay itu. Namun sayang, skor penilaian Gladis dan Raena sangat jauh. Sehingga Gladis tidak lolos, dan Raena tetap lanjut ke babak final.
Gladis itu sebenarnya baik, namun karena dia selalu di manjakan oleh kedua orangtuanya. Dia tumbuh menjadi gadis yang menjadi egois, san segala sesuatu hatus menjadi miliknya.
"Mulutmu itu minta di lakban ya, dis. Jelas - jelas Raena lolos dengan otaknya, bukan dirimu yang menggunakan kekuasan orangtua." kesal Roni.
"Ya, tidak bisa begitu dong. Seharusnya, yang ikut UNAS tahun ini aku. Bukan anak tidak je..." ucapan Gladis terhenti ketika Raena meninju hidung mancung hasil oplas milik Gladia.
"Sekali lagi kau menyebutku anak tak jelas. Tidak hanya hidungmu yang bengkong. Tapi jahitan double matamu itu aku robek." ancam Raena kesal.
"Mapus kau, nenek lampir. Makanya jangan sekali-kali berurusan dengan Raena. " ucap para murid laki-laki melihat Raena menghajar gadis paling sombong di kelas.
"Arrrggghhh...! Mama, hidungku rusak." Gladis berlari sambil menangis karena merasakan sakit dan hidungnya yang baru dia operasi plastik sedikit bengkong.
Semua siswa hanya bisa menahan tertawanya pelan. Ketika melihat Gladis berlati, karena malu hasil operasinya berantakan. Sedangkan Roni mengajak Raena high five, karena sudah menaklukkan pembully di kelas.
Jean yang melihat adiknya itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena lagi - lagi adiknya lepas kontrol. Dia tidak tahu nasib Raena nanti saat pulang sekolah. Karena yang Raena hajar itu anak salah satu teman sosialita Mamanya.
"Semoga kau tidak kena tamparan lagi dari Mama, Rae. Gladis juga begitu, salah sendiri mencari gara - gara dengan Raena." ucap Jean dalam hati.
"Adikmu berani juga sama si Gladis. Padahal, selama ini tiada yang berani melawan adik kelas yang sombongnya minta ampun." ucap Marko teman sekelas Jean.
"Adikku tidak akan menghajar seseorang, jika tidak ada yang mencari gara-gara dengan dia." jawab santai Jean.
"Apa kau tidak takut, nanti di rumah dia dapat tamparan lagi dari Mamamu?" khawatir Marko.
"Itu yang aku takutkan, Marko. Asal Gladis tidak mengadu dan tidak memutar balikan fakta kepada Mamanya. Raena masih aman dari Mamaku. Tapi, kalau sudah mengadu. Jangan harap, Raena aman dari Mamaku." jelas Jean.
"Sebenarnya, ada masalah apa sih. Mamamu sampai benci sekali dengan adikmu. Padahal dia yang melahirkan adikmu ke dunia?" tanya lagi Marko.
"Kalau itu, aku tidak mau menjawab. Karena kata Oma ada kesalah pahaman saat Raena dalam kandungan. Itu yang membuat Mamaku maupun Papa tidak pernah memperdulikan Raena sejak lahir." jelas Jean.
"Kau coba saja selidiki setelah lulus sekolah, Jean. Siapa tahu, ada rahasia di balik bencinya Mamamu kepada adikmu." saran Marko kepada Jean.
"Akan aku usahakan, Marko. Aku juga kasihan sama dia bertahun-tahun di kecewakan oleh orangtuanya sendiri." ucap Jean melanjutkan menikmati Bakso kesukaannya.
***
Apa yang di takutkan Jean, akhirnya terjadi juga. Saat Raena pulang sekolah, bukan hanya tamparan yang di dapat Raena dari Mamanya. Namun juga saat makan, Hana memasak makanan mengandung serba udang. Hana tidak tahu, kalau Raena punya alergi udang sama seperti Radit. Namun hari ini, Radit tidak ada di rumah karena ada urusan di luar kota.
"Kau tidak menghargai Mamamu masak?" tanya Hana dingin ketika Raena hanya terdiam melihat semua makanan yang tersaji di hadapannya.
"Enggak, Ma. Tapi," ucapan Raena terhenti karena tatapan tajam Hana membuat Raena takut.
"Baiklah, Ma. Raena akan makan," ucap Raena pasrah mengambil 1 udang goreng di piringnya.
"Kenapa hanya satu, nih. Ada capjay, nih perkedel udang juga. Sana makan..." Hana menambahkan Capjay dan perkedel di piring Raena.
Saat Raena tersedak ketika makan, bukanya di berikan air putih oleh Hana. Malah justru, Hana memberikan Jus Nanas kepada Raena. Raena tentu saja terkejut, karena Nanas juga dia alergi tenggorokannya terasa terbakar ketika mengkonsumsi makanan maupun miman olahan nanas.
"Kenapa di lihat saja, cepat diminum jusnya." ucap Hana dingin.
Anggap saja hari ini, Hana kerasukan setana. Karena sejak Raena pulang sekolah, hingga makan malam. Hana tiada henti seperti ingin menghabisi putrinya.
Setelah Jus itu di minum, Raena kembali melanjutkan makanan dengan matanya berkaca - kaca. Karena dadanya mulai sesak dan tenggorokannya mulai terasa terbakar.
Setelah makanan habis semua, tanpa sisa makanan sedikitpun. Raena di larang beranjak dari kursinya sebelum Hana selesai makan.
"M...ma, dada Raena sakit." Raena mencoba bicara karena tenggorokannya sakit membuat dia sakit mengeluarkan suara.
Hana seolah tuli mendengar lirihan anaknya, dia malah justru melanjutkan makan malamnya.
"Ma, tenggorokan Raena juga panas. Hiks... hiks.. " ucap Raena mulai terisak karena sudah tidak tahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Alah, kau jangan banyak alasan. Diam di situ, tunggu mama selesai makan." ucap Hana.
"Hana, cukup! Dia mulai kesakitan, kau tidak lihat wajahnya sudah mulai pucat?!" hardik Nyonya Kusuma.
"Mama, tetap di situ. Dia hanya akting ke sakitan, sudahlah." ucap Hana santai seolah tidak bersalah.
"Ma, Raena sudah kesakitan dari tadi. Dia sama seperti Papa, Ma. Alergi buah Nanas dan udang," bujuk Jean kepada Mamanya.
"Jean, kau jangan ikut-ikuan membela dia. Dia ini hanya akting, masak bisa menghajar anak orang. Tapi tidak bisa melawan kondisinya sendiri." jawab Hana melirik tajam. ke arah Raena.
Tanpa Hana sadari, Raena mulai kejang - kejang dan detak jantungnya bergetar hebat. Sontak saja Nyonya Kusuma beranjak dari duduknya, dan berlari ke arah Raena.
"Raena, tetap buka matamu nak. Ayo ikut omah ke Rumah sakit." ucap Nyonya Kusuma berusaha membuat Raena tetap sadar.
"Rae... rae..nah, su.. dah... tidak... kku...at, Oma." ucap Raena mencoba berbicara, dan masih menangis karena sekujur tubuhnya sakit semua.
"Raena anak kuat, kamu pasti bisa. Ayo, berdiri ikut Oma ke rumah sakit." Nyonya Kusuma mencoba membimbing Raena.
Namun sayang, beberapa menit saaat Raena akan berdiri. Raena sudah tidak sadarkan diri, dan membuat Jean langsung mengangkat tubuh adiknya.
"Kali ini, Jean benar-benar kecewa sama Mama." ucap Jean tajam sambil membawa tubuh Raena keluar dari Rumah.
"Mang Dadang, siapkan mobil! kita segera ke rumah sakit segera." teriak Jean sambil mengankat tubuh Raena.
Setelah mobil siap, Jean meletakkan tubuh Raena di dalam mobil jog belakang besama Nyonya Kusuma. Sementara Jean, ikut di jog depan bersama sang sopir.
Tanpa banyak bicara, Mang Dadang menjalankan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.
"Oalah, den. Itu ibu kandung apa ibu tiri kok segitunya sama non Rae." ucap Mang Dadang kesal sambil menyetir mobilnya.
"Tidak tahu, mang. Cuma gara-gara Raena menghajar anaknya teman Mama. Mama menghukumnya kayak gini," ucap Jaena kesal.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di Rumah Sakit. Raena langsung di bawa ke UGD untuk mendapatkan pertolongan cepat. Jean mengurus administrasinya, sedangkan Nyonya Kusuma menunggu di ruang tunggu sambil berdoa untuk keselamatan cucunya.
"Kau sungguh keterlaluan, Hana. Anak itu hanya membela dirinya, kenapa kau menghukumnya dengan keji?" umpat Nyonya Kusuma dalam hati.
****
Bersambung...
jangan lupa, like, share komennya guys...