There'S No Place For Me.

There'S No Place For Me.
Part 6



Besoknya, Raena sudah di perbolehkan untuk pulang oleh Dokter. Saat itu juga Radit yang di suruh menjemput Raena di rumah sakit atas suruhan Nyonya Kusuma. Radit tidak tahu, apa yang terjadi saat dia tugas di luar kota. Radit hanya tahu, kalau Raena habis menghajar anak Amara.


"Lain kali, sikapmu jangan seperti preman." ucap dingin Radit kepada Raena yang di sebelahnya.


"Apa salah membela diri, Pa?" tanya Raena pelan tanpa menatap Papanya.


Mereka pulang menggunakan mobil Radit, selama di perjalanan mereka saling diam.


"Membela diri apa, huh? Memukuli anak orang sampai hidungnya berdarah?" kesal Radit.


"Raena, Papa mohon. Sekali ini saja, kau jangan membuat masalah. Kasihan Mamamu, terbebani dengan sikap kamu organ seperti preman pasar." lanjut Radit dengan tegas.


"Papa tidak ngerti bagaimana perasaan Raena ketika di ejek anak haram dan anak dari hubungan tidak jelas." ucap Raena pelan.


Radit hanya terdiam, sambil memijat pelipisnya. Dia tidak habis pikir, kenapa gadis ini bicara seperti itu.


"Kau itu dinasehati jangan pernah membantah. Papa tidak mau tahu, setelah lulus sekolah kau cepatlah pindah dari Rumah. Agar Mamamu tidak beban memikirkan anak seperti kamu." ucap Radit tegas.


"Papa dan Mama sabar saja, tahun ini aku ikut ujian nasional bersama Kak Jean."


Radit mengerem mobilnya mendadak, karena terkejut ucapan Raena.


"Jangan bohong kamu, mana ada gadis seperti kamu ikut kelas akselerasi." Radit tidak percaya dengan omongan Raena.


"Apa belum cukup banyak menang Olimpiade akademik dan piala di sebut sebuah barang rongsokan. Tidak membuktikan bahwa putrimu ini, berhasil ikut tes kelas ekselerasi?" ucap Raena datar.


Radit hanya menggelengkan kepalanya, dan melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.


"Baguslah kalau begitu," ucap Radit tanpa bersalah.


Raena hanya menghela nafasnya berat. Karena sebenarnya, dia kecewa respon Radit tidak ada kesedihan sama sekali di wajahnya.


"Sepertinya, kedua orangtuaku senang kalau aku pergi." batin Raena.


***


Sesampainya di Rumah, Raena di sambut oleh Sean yang sedang bermain dengan mbok Ijah di halaman. Bocah baru saja memasuki taman kanak-kanak itu langsung berlari ketika sang kakak kesayangannya keluar dari mobil. Sedangkan mbok Ija, membantu Radit mambawa barang milik Raena.


"Cean pikil Kak Laena pulang ke lumah Bang Loni." ucap Sean dengan nada cadelnya.


Raena yang gemas dengan adiknya, langsung menggendong bocah itu.


"Kata siapa kalau Kak Raena pulang ke Rumah Bang Roni?" tanya Raena sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kata Bang Loni," Sean menjawab dengan polosnya.


Raena hanya bisa mengumpat dalam hati. Karena Roni sudah meracuni pikiran adiknya.


"Bang Roni hanya bercanda, Sean. Buktinya Kak Raena pulang ke Rumah terus gendong Sean."


Sean yang senang langsung memeluk Raena dalam gendongannya.


"Kak Laena jangan cakit lagi, ya. Cean gak suka kalau Laena cakit lagi, bersama kabel-kabel itu. Karena cakit itu tidak keyen." ucap Sean kecil.


"Iya, Kak Raena tidak akan sakit lagi." jawab Raena menepuk punggung Sean.


"Sean, sudah waktunya mandi sayang. Biarkan Kak Raena istirahat dulu." ucap mbok Ija dari belakang.


"Wah, parah. Sean ternyata belum mandi, pantes bau acem dari tadi." goda Raena kepada adiknya.


"Iiih, Cean wangi tahu meskipun belum mandi." rengeknya kepada Sean.


"Sean mandi dulu, ya. Nanti malam main lagi sama Kak Raena." ucap Raena sambil menurunkan Sean.


Raena mengerutkan dahinya, karena tidak mengerti apa yang di maksud adiknya.


"Maksud Sean permainan kartu un*, Non." mbok Ija memberi pengertian kepada Raena.


"Oh, gitu. Maaf, mbok. Kadang aku masih belum paham apa yang di katakan Sean." Raena menggaruk kepalanya tidak gatal.


Setelah mbok Ija, membawa Sean. Raena melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti, ketika berpapasan dengan Hana.


Raena menundukkan kepalanya, sementara Hana memalingkan wajahnya tak suka kepada Raena. Sehingga Ibu dan anak itu, bertemu seperti orang asing. Raena menghela nafasnya sedikit berat, kemudian dia melanjutkan langkanya menuju Rumah.


Sesampainya di kamar, Raena langsung membaringkan tubuhnya, dan memejamkan matanya. Tampa sadar, dalam pejaman matanya air matanya mengalir menganak sungai. Namun, tiada suara isak tangis dari gadis itu. Hanya suara Raena yang berkali-kali menghela nafasnya agar dia selalu rileks, dan menghadapi beban itu dengan santai.


***


Keesokan paginya, Raena mulai masuk sekolah. Raena tidak ikut berangkat bersama dengan Jean. Karen motornya sudah diperbaiki oleh Jean di bengkel langganannya. Sejujurnya Jean sedikit khawatir, karena Raena kemarin baru saja pulang dari rumah sakit. Namun Jean juga sadar, percuma memperingati adiknya itu. Karena Raena juga keras kepala jika dinasehati.


Sesampainya di sekolah, Raena memarkirkan motor sport warna birunya di parkiran. Di tambah Roni menyambutnya dengan berkacak pinggang menatap Raena dengan kesal.


"Kenapa kau pagi seperti emak - emak mau marah?" tanya Raena.


"Siapa yang nyuruh kau berangkat sendiri pakai motor?" cerocos Roni.


"Enggak ada," Raena menggelengkan kepalanya sambil meletakkan helmnya di lemari tempat penitipan helm.


"Terus kenapa berangkat pakai motor?"


"Ya, karena motorku abis diperbaiki kak Jean. Makanya aku pakai berangkat sekolah." jawab Raena santai.


'Pletak'


Roni menyentil kening Raena, saking kesalnya laki-laki itu kepada saudara persusuannya.


"Ron, sakit tahu." Raena mengelus keningnya.


"Hukuman biar kau tidak keras kepala lagi," ucapnya kesal.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju kelas khusus mereka. Karena sebentar lagi, mereka ikut Ujian Nasional bersama anak kelas 12 yang lain. Sementara kelas mereka yang dulu, terpaksa mereka berdua tinggalkan meskipun berat.


Semua teman - teman Raena dan Roni juga sedih melihat mereka pindah kelas ke kelas khusus. Karena di kelas itu, tidak hanya siswa kelas 11 saja yang ikut unas tahun ini tapi ada dari kelas 10 yang ikut kelas akselerasi. Raena dan Roni saja kaget melihat adik kelas menjadi teman satu kelas di kelas khusus.


***


Di Kota lain, seorang pria paruh baya sedang menatap foto yang di kirimkan oleh anak buahnya. Di dalam diamnya, dia merasa bersalah kepada anak gadis di dalam foto ini. Karena kesalahannya di masa lalu, gadis itu yang tidak tahu apa - apa masa lalu orang tuanya. Malah menjadi korban, ketidak kepeduliannya kedua orangtuanya sekaligus sahabatnya sendiri.


"Maafkan Ayah, nak. Karena kesalahan Ayah, kau menjadi korban sejak lahir." ucapnya lirih.


"Maaf, tuan. Menurut informasi yang saya dapat, gadis itu bukan anak tuan. Melainkan anak Tuan Radit sendiri," ucap seorang asisten berjas biru.


"Aku sudah tahu soal itu, Jaka. Karena aku sendiri, memang tidak bisa memiliki keturunan seumur hidupku. Biarkan dia menjadi anakku, jika Radit dan Hana tak mau mengakui gadis itu sebagai anaknya." ucap Pria itu.


"Apakah anda akan meluruskan kesalahan pahaman ini, tuan?" tanyanya lagi.


"Aku akan kesana, dan menjelaskan semuanya. Aku tahu, mungkin Hana masih trauma jika melihatku." ujar pria itu yang tak lain adalah Burhan.


Kesalahannya sungguh sangat fatal, mengakibatkan Raena menjadi korbannya. Dia ingin meluluskan semuanya, sebelum dia berangkat ke luar negeri, dan menetap di sana.


****


Bersambung...


jangan lupa like komen, serta bintangnya. hehehe..