
Sesampainya di Negara Korea, Raena di bawa Burhan ke Rumahnya yang tak jauh dari Kota Seoul. Di sana nanti segera mengurus administrasi kuliah dan tempat tinggalnya. Saat sampai di rumah Buhan, mereka di sambut wanita cantik berpakaian dokter.
"Halo, Raena. Perkenalkan, saya Annisa. Dokter terapi sekaligus calon istrinya Burhan." sambutnya ramah kepada Raena.
Raena yang terkejut, menatap ke arah Burhan karena Rarna pikir Annisa orang Korea. Ternyata dia bisa berbahasa Indonesia.
"Jangan khawatir, dia orang persia pernah di Indonesia lama." ucap Burhan kepada Raena.
"Halo, nama saya Raena Kusuma."
Raena membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada Annisa.
"Oke, Raena. Kamarmu berada di lantai 2, kau berbereslah dulu. Setelah itu, kita makan malam di luar. Jangan khawatir, banyak kok restoran halal di sini." ucap Burhan.
"I.. iya, Om." balas Raena mengambil barang - barangnya menuju kamar yang di tuju Burhan.
Setelah Raena pergi, Annisa mengajak Burhan ke taman belakang rumah untuk membicarakan sesuatu.
"Dari tatapan anak itu, sepertinya menyimpan luka Mas?"
Annisa angkat bicara, setelah mereka di taman belakang rumah.
"Bagaimana dia tidak terluka, Nis? Bertahun-tahun, dia tak pernah mendapatkan perhatian kepada orang tuanya. Mereka menyalahkan aku, Nis. Mereka menganggap, anak biologis aku. Sementara kau tahu sendiri, aku masih dalam kemandulan hingga saat ini masih belum ada perubahan," jelas Burhan.
"Kau masih dalam terapi, Mas. Segala sesuatu, pasti akan berhasil. Bagaimana kau aku menjadi Ibunya, Mas? Kita adopsi dia menjadikan anak kita?" saran Annisa.
"Kau tenang saja, Nis. Radit sudah menandatangani hak alih asuh. Raena secara hukum, sudah sah menjadi anakku. Meskipun, aku bukan ayah biologisnya."
Ucapan Burhan, sontak membuat Annisa kagum. Karena Burhan bertindak secara cepat, dan tidak perlu lagi ada kekhawatiran.
"Yang kita sekarang, kita fokus membuat anak itu tersenyum dan bahagia bersama kita. Kebetulan, dia kuliah di sini. Jadi, kita bisa menjadi orang tua buat Raena." lanjut Burhan.
"Baik, Mas. Aku juga menjadi calon ibu yang baik buat dia." balas Annisa.
***
Hari pertama masuk kuliah oun tiba, Raena memasuki kampus untuk mengurus administrasi yang belum terselesaikan. Setelah menyelesaikan administrasi, Raena di antar oleh pihak Dosen menuju kelasnya sebagai mahasiswa baru.
Sesampainya di kelas, banyak anak baru yang menjadi mahasiswa di tambah usia Raena kecil sendiri. Karena usia Raena seharusnya, masih duduk di kelas 2 SMA.
"Hai, aku Hyemi." ucap salah satu anak perempuan duduk di sebelah Raena.
"Aku Raena, salam kenal." ucap Raena dengan bahasa Korea yang lancar.
"Oh, bahasa Korea kamu sangat lancar sekali," kagum Hyemi.
"Iya, karena di Indonesia sering diajarkan berbagai macam bahasa terutama bahasa Korea." balas Raena sedikit gugup.
"Kau tidak usah gugup di sini, kau boleh kok memanggil aku Oennie," ucap Hyemi.
"Uni? Seperti bahasa daerah di negaraku. Kalau memanggil saudara perempuan yang lebih tua Uni,"
Hyemi terkekeh, melihat Raena yang mengatakan soal itu.
"Bukan Uni, Raena. Tapi, Oen..ni... panggilan dari adik perempuan untuk kakak perempuan."
Raena mulai mengerti, dan hanya menganggukkan kepalanya karena mengerti. Semua mahasiswa di kelas Raena, selalu memandang ke arah Raena karena bagi mereka Raena terlalu imut menjadi mahasiswa.
Tanpa Raena sadari, ada salah satu mahasiswa terpesona melihat wajah Raena yang alami Indonesia itu.
"Dia begitu cantik saat tersenyum," ucapnya.
***
Satu mata kuliah sudah usai, kini waktunya Raena berkeliling ke seluruh penjuru kampus sambil memasang earphone di telinganya. Dia berjalan menyusuri, semua koridor kampus sambil menikmati musik yang dia dengar. Sesekali dia menghela nafas, dan melihat langit biru di taman kampus.
"Langitnya bagus, ya?" ucap seseorang datang duduk di sebelah Raena.
"Hah?!"
Raena terkejut, dan memandang orang yang di sebelahnya.
"Kau lupa denganku, Rae?" tanya pria itu kepada Raena.
"Maaf, kakak siapa aku lupa." jawab Raena menggaruk lehernya tidak gatal.
"Kakak Osis yang pernah kamu tendang saat MOS, sekaligus kakak seniormu di pencak silat yang sering kau jadikan sansak hidup."
Raena langsung melebarkan matanya, ketika pria di sebelahnya mengingatkan akan hal yang pernah dulu dia lakukan.
"Bang Fariz," ucap Raena.
"Meskipun otak jenius, kau lelet juga kalau ingat orang." ejek Fariz.
"Bang Farid ngapain di sini?" tanya Raena.
"Ah, kenapa kebetulan sekali hari ini?"
Raena kesal karena semuanya, serba kebetulan di kampus ini.
"Aku dari tadi mengikuti kamu, karena aku dengar ada mahasiswi di kampus ini usianya masih kecil. Setelah akun selidiki ternyata, mahasiswinya kamu. Kalau itu, aku tidak heran karena kamu jenius, dan sering lompat kelas." jelas Fariz.
"Oh, iya. Kau di sini tinggal dengan siapa?" tanya Fariz mengalihkan topik.
"Sama Om Burhan, temannya Papa. Kau tahu sendiri, masalah keluargaku terlalu rumit. Sampai aku di serahkan oleh Om Burhan." jelas Raena.
"Burhan Hadiningrat, bukan?"
Raena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Dia kau tahu, Tiara Wedding Organizer Corp yang mendunia itu?"
"Tahu, dulu mama pernah kerja di sana sebelum menikah dengan Papa." jawab Raena.
"Burhan Hadiningrat itu, yang punya perusahaan itu. Bukan hanya itu, Perusahaan desain interior, perusahaan Photography dia yang punya. Cuma yang di Korea sini, perusahaan bidang Photography dan art." jelas Fariz
Raena tidak menyangka, orang yang dia bersama sekarang orang yang berpengaruh. Karena di rumah, dia seperti orang kantoran biasa. Dan sekarang, dia mencoba menjadi Ayah yang baik untuk Raena.
"Jadi, orang tuamu masih dalam pendirian kalau kamu bukan anak mereka?"
"Bahkan, Om Burhan sampai babak belur pun. Papaku masih menganggap aku bukan anaknya. Melainkan anak Om Burhan."
"Memang orang tua kamu sudah benar-benar gila. Trauma boleh, tapi bodoh jangan." kesal Fariz.
"Sudahlah, Kak. Sudah waktunya aku pisah dengan mereka. Dari pada di sana aku merasakan kecewa dan sakit mending pergi yang jauh." ujar Raena.
Sesaat kemudian, Raena melihat jam tangan digital miliknya.
"Kak, sepertinya aku harus ke kelas lagi. Kapan - kapan kita bicara lagi lain waktu," Raena beranjak dari duduknya.
"Iya, aku juga ada kegiatan lain di jurusanku." balas Fariz.
Kemudian, Raena berpamitan kepada Fariz dan belari menuju kelas yang di tuju. Fariz yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Karena dia tidak menyangka bertemu jagoan sekolah di sini.
"Di balik gaya casual anak itu, ternyata manis juga." ucapnya melihat tubuh Raena semakin menjauh.
"Andaikan aku bisa menjadi sandaran hatinya," ucapnya sambil meninggalkan taman kamus.
***
Sementara itu di Indonesia, Jean semakin menatap tajam kepada Radit dan Hana. Meskipun menunggu masuk kuliah, Jean tidak serta merta menganggur di rumah. Dia kali ini, sering mengantar jemput Sean sekolah. Di tambah Sean sudah mulai masuk Sekolah Dasar.
"Kau kenapa menatap kami berdua seperti itu?" tanya Radit kepada anaknya.
"Sean cepat selesaikan sarapanmu, kakak tunggu di depan." ucap Jean tanpa memperdulikan pertanyaan Radit.
"Jean, tunggu. Apa salah Mama dan Papa sama kamu, huh?" tahan Radit.
"Papa sama Mama memiliki kesalahan yang sungguh luar biasa. Selain menyerahkan Raena kepada Om Burhan. Dengan teganya, Papa menandatangani surat pengalihan hak asuh kepada Om Burhan. Papa sama Mama, sudah tidak punya hati kepada Raena." jelas Jean.
"Dan Papa, saking bencinya kepada Raena. Kenapa kau memutuskan menutup semua akses jika Raena ingin menghubungi keluarga kita." lanjutnya.
"Memang dia bukan keluarga kita, Jean. Dia bukan adik kamu, dia anak si brengsek itu." jawab Radit.
"Tapi aku dan Raena satu rahim, Pa. Apa Papa lupa, bagaimana pun status Raena dia tetap adikku!" Jean meninggikan suaranya.
Hana yang mendengar pertengkaran ayah dan anak, langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.
"to :xxx
Gara-gara kau, anak dan suamiku bertengkar pagi- pagi
Mulai saa ini, aku mohon kepadamu
Jangan ganggu keluargaku lagi
Jauhi kedua anakku, dan jangan menghubungi Jean lagi.
Paham?"
Ketik Hana dan mengirim pesan itu.
Sementara yang menerima pesan dari Hana, hanya bisa menghela nafasnya berat. Dia menyimpan ponsel lamanya di laci, dan mengganti ponsel yang baru saja di belikan oleh Burhan.
"Semoga aku bisa menahan rinduku kepada kalian," ucap gadis itu yang tak lain adalah Raena.
Bersambung....