There'S No Place For Me.

There'S No Place For Me.
Part 1



17 Tahun kemudian...


"Kak Jean, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu." ucap seorang gadis 17 tahun di hadapan foto kakaknya.


"Kak Jean, tahu enggak. Seperti biasa, aku juga ulang tahun lho." ucapnya sambil menunjukkan kue ulang tahun kecil dan hanya satu lilin.


Gadis 17 tahun itu bernama Raena Kusuma, dan dia sedang merayakan ulang tahun sweet seventeen sendirian di kamarnya. Karena sudah menjadi kebiasaan, gadis itu setelah pulang sekolah maupun pulang kerja paruh waktunya selalu berada di kamarnya yang berada di lantai 2.


Gadis itu memang di suruh Hana, langsung masuk ke kamarnya. Meskipun, di lantai bawah sedang melakukan pesta ulang tahun Jean. Sementara sang adik yaitu Sean, dia masih baru berusia 4 tahun. Jadi, tidak ada yang menemaninya saat sendiri.


Kebiasaan Raena saat ulang tahunnya adalah hanya bisa melihat kegembiraan keluarganya dari lantai 2. Karena Hana, selalu melarang Raena untuk turun buat berkumpul. Saat mengikuti pesta kolega Papanya, Raena harus memakai masker. Karena Hana, paling tidak suka ada Raena di sekitarnya.


'Drrrtt...drrrtt...'


suara getar ponselnya mengagetkan lamunan Raena setelah meniup lilin.


"Halo, assalamu'alaikum. Bunda Dinda..." ucap Raena saat mengangkat telpon dari Dinda.


"Waalaikumsalam, putriku yang cantik. Selamat ulang tahun, anakku." ucap Dinda halus.


Sontak saja membuat Raena, berlinang air matanya. Karena hanya Dinda lah, gadis itu mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu.


"Terimakasih, Bunda. Raena jadi kangen, deh." balas Raena dengan menyembunyikan sedihnya.


"Eh, anak cantik. Bunda juga kangen sama kamu, nak. Bunda pengen memeluk kamu, setiap mau berangkat sekolah. Tapi, kamu tahu sendiri Bunda dapat mandat dari Oma kamu mengurus butiknya di Berlin. Kebetulan Ayah juga, dipindahkan tugas di sini juga." jelas Dinda kepada anak persusuannya itu.


"Di sana, kan ada Abang Johan dan Roni." lanjut Dinda.


"Bang Johan kalau ke rumahku sibuk sama Kak Jean, Bund. Roni juga akhir - akhir ini, sibuk dengan gebetannya. Aku sering di tinggal sendiri kalau di sekolah." adu Raena dan membuat Dinda terkekeh.


"Lalu Sean bagaimana, Nak?" tanya Dinda lagi.


"Sean sedang di jaga sama Mama, Bund. Jadi aku jarang bisa main dengan Sean." jelas Raena.


Dinda menjadi pendengar yang baik, ketika Raena butuh sandaran. Karena dia tahu, Hana tidak akan pernah memberikan gadis itu untuk bersandar kepadanya.


Dinda masih teringat jelas, ketika Dinda masih menggendong Roni yang masih balita. Dia melihat Hana, dengan kasarnya menyeret Raena yang masih seusia Roni ke arah kolam. Dia melihat, Hana sedang menghukum Raena di dalam kolam renang karena telah menumpahkan Jus Jeruknya di pakaian Hana.


"Ya, ampun. Hana, anak sekecil itu memang keseimbangan motoriknya masih belum seimbang. Kau jangan menghukumnya seperti itu. Kasihan dia, Hana." ucap Dinda kepada Hana.


"Mbak Dinda diam saja, okey. Biarkan aku menghukum anak haram ini. Mbak Dinda jangan ikut campur," ucap Hana tanpa memperdulikan ucapan Dinda.


Sejak saat itu, Dinda berusaha melindungi Raena dari kelakuan Hana yang sedang mengalami baby blues dan trauma. Dinda pernah membicarakan kelakuan Hana kepada Radit. Namun pria yang tak lain Bos suaminya itu, tidak memperdulikan dan seolah membenarkan kelakuan istrinya.


***


Keesokan harinya, Raena sudah siap dengan seragam sekolahnya turun untuk sarapan bersama keluarga. Sesekali Raena masih memandang dekor, bekas pesta ulang tahun Jean yang ke 18 tahun.


"Kak Nana, cini makan sama Cean." suara cadel yang menyambut Raena saat sampai di ruang makan.


"Pagi, pa, ma." sapa Raena kepada kedua orangtuanya namun tidak ada respon.


"Rae, ini roti bakar kesukaanmu. Bagaimana? Apa masih kurang gosong?" Jean mencairkan suasana.


Raena melihat roti bakar kesukaannya, langsung matanya berbinar. Di tambah lagi, susu coklat hangat ditambah es batu membuat perutnya semakin meronta - ronta minta diisi.


"Sempurna, terimakasih. Kak Jean..." ucapnya sambil tersenyum.


"Sungguh cetakan Radit yang sangat sempurna." gumam Nyonya Kusuma.


"Jean, nanti kau berangkat dengan Papa ya? Papa dengar dari Mang Jajak, motor kamu rusak." ucap Radit kepada anak sulungnya.


"Pa, yang rusak itu motor Raena. Jean yang meminjamnya. Karena motor Jean bannya bocor, lalu kita bertukar motor saat pulang sekolah." jelas Jean.


"Oh, begitu. Tapi, tetap saja kan kamu berangkat dengan Papa. Biar sekalian berangkatnya," ucap Hana tanpa memperdulikan Raena yang ingin bicara.


Memang benar, dua hari sebelum ulang tahu mereka. Jaen sempat bertukar motor dengan Raena, karena ban motornya bocor. Namun, saat di perjalanan malah motor Raena yang rusak gara - gara di tendang seseorang. Untungnya Radit tidak terluka, tapi motor Raena yang sedikit ringsek karena menabrak trotoar.


"Oma sudah menghubungi Roni untuk jemput kamu, Rae. Jadi, kau tidak perlu naik bus." ucap Nyonya Kusuma kepada Raena.


"Iya, Oma. Terimakasih," balas Raena halus.


Hana yang melihat Raena dengan mertuanya, hanya menghela nafasnya kasar. Karena dia tidak suka, Raena berinteraksi dengan orang-orang sekeliling Hana. Bagi Hana, Raena itu anak haram dan tidak cocok mendapatkan perlakuan baik dari orang-orang sekitarnya. Ini sekian kalinya Hana, melihat Nyonya Kusuma bersikap baik kepada Raena. Padahal, saat Hana mengandung Raena. Beliau lah orang pertama, yang menyuruh Hana bercerai dengan Radit.


"Ma, jangan pernah memanjakan anak itu. Bisa - bisa dia menjadi besar kepala kalau ada yang mempedulikannya." ucap Hana hati-hati.


"Hana, mama tidak memanjakan Raena. Mama hanya kasihan dengan putrimu." ucap Nyonya Hana tegas.


Raena yang mulai melihat perdebatan ibu dan neneknya. Langsung beranjak dari kursinya, dan berpamitan untuk berangkat sekolah.


"Pa, Raena pamit berangkat sekolah." Raena meraih tangan Radit untuk salim.


"Hmmm," hanya itu balasan Radit.


Kemudian Raena, akan berpamitan dengan Hana. Malah di tepis tangannya oleh Hana.


"Aku tidak sudi tanganku kau pegang.” decih Hana.


Raena yang memahaminya, hanya bisa menhela nafasnya berat. Kemudian, dia berpamitan dengan sang Nenek.


" Belajarlah yang rajin, ya. Semoga bisa ikut Olimpiade lagi," ucap Nyonya Kusuma menyalimi cucunya.


"Amin, Oma." ucap Raena sambi tersenyum.


"Kak, aku berangkat dulu. Sampai bertemu di sekolah, ya. Assalamu'alaikum... " pamitnya kepada Jean.


Sesaat kemudian, Raena keluar rumah dan di sana ada Roni yang siap dengan motor sportnya.


"Tumben mau, di suruh jemput sama Oma." Raena memakai helm yang di berikan oleh Roni.


"Ya, dari pada uang jajanku di potong sama Bunda dan Oma. Mendingan jemput adekku tersayang ini." ucap Roni mencubit pipi Raena.


"Eh, sakit. Memangnya pipiku kue mochi?" tepis Raena.


Tanpa banyak omongan lagi, Raena naik di boncengan Roni. Kemudian Roni tancap gas meninggalka rumah keluarga Kusuma.


***


Bersambung...


jangan lupa komenya....