
Sebagai anak yang berbakti, seorang anak harus menurut apa kata orang tua. Namun bagaimana dengan anak yang begitu penurut dan berbakti. Tapi orang tua tidak pernah memandangnya justru malah membanggakan anak yang lain.
Itulah yang terjadi oleh Raena Kusuma. Dia pulang dengan membawa pulang 2 piala Olimpiade Internasional Matematika dan Sains masing-masing juara 1 mengalahkan sekolah internasional yang lain membanggakan Sekolah dan Negara.
Tapi, sesampainya di rumah. Justru Hana dan Radit, membanggakan Jean yang juara Taekwondo Nasional. Padahal bulan kemarin, Raena juga begitu juara Nasional pencak silat. Namun Hana tak pernah meliriknya sedetikpun.
"Wah, hebat sekali anak Mama ini juara Taekwondo Nasional." puji Hana kepada Jean.
Jean merasa risih, langsung angkat bicara kepada sang ibu.
"Lebih hebatan Raena, Ma. Dia juara 1 tingkat internasional dalam Olimpiade. Bahkan Raena mendapatkan dua piala sekaligus, Ma." ucap Jean.
"Ah, jangan urusin adik kamu itu. Paling cuma Olimpiade bohongan. Ingat, Jean. Dia hanya menumpang di sini, buat apa dibanggakan." ucap Hana.
Raena yang baru saja datang, hanya bisa tertunduk lesu mendengar ucapan ibunya.
"Ma, aku juga butuh di banggakan seperti Kak Jean." lirih Raena ketika masuk rumah.
"Oh, kau sudah pulang. Bagus lah, kalau kau tahu jalan pulang." sambut Hana dengan nada mengejek.
Memang benar, Hana tadi ke sekolahnya untuk menjemput Jean bukan menjemput Raena. Saat Raena ingin ikut, Hana menyuruhnya naik angkot atau naik bus. Dan itu membuat hati Raena sangat terluka. Di tambah Roni tidak bisa pulang bersamanya karena ada latihan basket.
"Iya, Ma. Dan tadi, aku tadi dapat ini dari guru." ucap Raena menunjukkan pialanya kepada sang Mama dan Papanya.
"Simpan saja rongsokan kamu itu, Mama tidak ingin melihatnya." ucap Hana tampa melihat apa yang di bawa Raena.
"Rongsokan, Ma?" Raena terkejut
"Mama!" sentak Jean kepada Mamanya.
"Jean turunkan suaramu kepada Mamamu." suara tegas Radit.
"Dan kamu Raena, cepat ke kamar kamu sana." suara Radit begitu datar ke arah Raena.
"Iya, Pa." ucap Raena lesu dan berjalan meninggal meninggalkan keluarganya.
"Aish, anak itu kenapa setiap hari membuat keributan saja. Lama-lama darahku menjadi naik gara-gara anak itu." kesal Hana.
"Papa dan Mama itu, seharusnya hargai jernih payah Raena. Dia pulang malam terus karena ikut Olimpiade Internasional, Ma, Pa. Dia ingin membanggakan Mama sama Papa. Tapi, apa yang dia dapat? Mama sama Papa tak pernah menganggapnya ada." kesal Jean kepada kedua orang tuanya.
"Kau jangan pernah membela anak itu, Jean. Dia bukan siapa-siapa di Rumah ini. Ingat itu..." ucap Hana.
"Bukan siapa-siapa? Dia lahir dari rahim Mama juga, kan? Walaupun bagaimana statusnya dia adikku, Ma." Jean beranjak dari duduknya dan menyusul Raena karena kamar mereka bersebelahan.
"Dasar kurang ajar, gara-gara dia Jean membentak." geram Hana.
"Mas, kau jangan diam saja. Usir gadis itu di rumah kita, Mas." ucap Hana kesal.
"Hana, tunggulah sebentar lagi. Anak itu masih SMA, Hana. Nanti ketika dia lulus SMA, baru kita usir dari rumah ini." jawab Radit.
"Siapa yang akan kau usir, Radi?" tanya Nyonya Kusuma.
"Ma, Radit mohon. Untuk kali ini saja, Mama jangan ikut campur rumah tangga Radit." jawab Radit kepada ibunya.
"Kalau ingin mengusir Raena, dit? Kau lupa, Mama sama Papamu sudah menerima dia sebagai cucu di keluarga Kusuma." ujar Nyonya Kusuma.
"Ma, kalau dia berada di sini terus. Lama-lama mental Hana yang tertekan." Radit mencoba menjelaskan semuanya kepada Nyonya Kusuma.
"Mama tidak setuju kalau Raena di usir dari rumah ini. Kalau sampai dia keluar dari Rumah ini, kalian siap - siap melihat mayat Mama di kubur." ancam Nyonya Kusuma.
"Bagaimanapun juga Mama tetap tidak setuju, Radit. Kalau Raena pergi, Mama juga ikut Raena pergi." kekeh Nyonya Kusuma.
Radit maupun Hana tidak bisa berbuat apa-apa, karena Nyonya Kusuma sangat menyayangi Raena. Sejak Raena lahir, Nyonya Kusuma sudah tidak mempermasalahkan siapa ayah biologis gadis itu lagi. Karena setelah melakukan tea DNA dan wajah Raena seperti mendiang putri kandungnya yang meninggal saat seusia Raena.
"Radit, kau tak pernah melihat wajah sendunya seperti mendiang Rihana adikmu?" batin Nyonya Kusuma.
Sementara itu, di kamar Raena. Gadis itu tiada henti memandang semua piala miliknya dengan wajah sendu.
"Maaf, kalian disebut barang rongsokan lagi oleh ibuku. Jadi kalian aku simpan di sini saja, ya." ucap Raena meletakan semua piala miliknya di lemari.
Sesaat kemudian, Raena terduduk di kursi meja belajar membuka laptop miliknya.
"Apakah aku memang harus pergi meninggalkan Mama dan Papa?" lirihnya.
Raena membuka laptopnya, dan melihat pesan email dari pihak sekolah. Kalau Raena bisa mengikuti ujian nasional tahun ini bersama Jean lewat jalur akselerasi. Raena juga sudah mengikuti tes masuk ujian perguruan tinggi, dan dia lolos di Universitas tujuan Jean dan lolos di Universitas luar Negeri. Sementara Jean sendiri, dia tidak lolos Universitas tujuannya malah lolos di Universitas Negeri.
"Ah, benar - benar aku harus pergi dari rumah ini. Karena tidak ada tempat untukku di sini." ujar Raena menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Mungkin sebagian anak perempuan akan menangis ketika melihat sang ibu pilih kasih. Namun tidak bagi Raena, karena Raena beranggapan buat apa menangis gara-gara orang yang tidak mau memperdulikan kita.
Sedangkan di kamar Jean, anak itu meninju meja belajarnya karena dia tidak lolos di Universitas yang dia tuju. Malah dia lolos di Universitas Negeri yang ada di Jakarta. Saat dia mengecek Universitas di luar Negeri, dia malah lolos di Universitas yang kurang terkenal di negara itu.
"Aish, aku kurang belajar atau bagaimana? kenapa aku tidak lolos di dua Universitas tujuanku?" ucapnya kesal.
"Ah, semoga Unas nanti. Nilaiku memuaskan, tak apa tidak lolos di Universitas tujuan." ucapnya pasrah.
Sesaat kemudian, dia memandang ke arah balkon kamarnya, terlihat ada bayang Raena yang sedang duduk di kursi balkon kamar gadis itu.
"Kau tidak istirahat, Rae?" tanya Jean kepada adiknya dan menyusul duduk di sebelah adiknya.
"Bagaimana aku istirahat jika mendapatkan ejekan seperti itu?" jawab Raena santai.
"Biasanya adik cewek akan menangis, kalau ada yang membuat terluka hatinya." balas Jean kepada Raena.
"Air mataku sudah habis, Kak. Justru ucapan tajam Mama, sekarang menjadi dongengku sebelum tidur." jawab Raena tanpa beban.
"Apa sesakit itu hatimu, sampai kau tak bisa menangis?" tanya Jean menatap adiknya dengan sendu.
"Mungkin saja, Kak. Mau sakit hati ke Mama bagaimana? Kalau aku diami dia semakin menjadi. Mau minta perlindungan ke Papa, ternyata sama saja dengan Mama." ujar Raena dan mendapatkan kekehan dari Jaen.
"Ternyata adikku bisa cerewet juga," Jean menjadi gemas melihat Raena.
"Mending cerewet, dari pada jadi kulkas terus kayak Kak Jean." ejek Raena.
"Hei, aku bukan kulkas. Hanya malas bicara saja, dasar nakal." Jaean mengacak rambut Raena.
"Ah, kak Jean. Rambutku baru aku sisir, jangan di berantakin." rengek Raena.
Jean senang membuat Raena merengek manja kepadanya. Karena itu satu-satunya Jean untuk menghibur sang adik ketika gundah dan sedih. Karena Raena jarang, mengungkapkan isi hatinya kepada siapapun. Termasuk Oma mereka, yang juga berusaha memberikan Raena kasih sayang yang tidak di dapat dari kedua orangtuanya.
...****************...
Bersambung...
jangan lupa, like komenya, guys....