
"Oh iya, biasanya kamu panggil saya 'Tuan Gerion', kenapa sekarang panggilnya 'Om Rion'? Kamu benar-benar berubah ya."
Ucapan Gerion membuat Verra tertegun sejenak, dirinya tidak boleh melakukan hal-hal yang membuat orang lain curiga bahwa dirinya bukanlah Verra melainkan adalah jiwa asing yang menempati tubuh Verra.
Eh iya! Kan di buku harian Verra yang mengatakan kesepian itu juga memanggilnya Tuan, bukan?! Kenapa aku lupa sih... Nah kan, ceroboh kau Zara! Umpatnya dalam hati namun masih tetap dalam wajah yang tenang.
"Aku tidak ingat apapun, hanya sedikit yang bisa aku ingat tapi semuanya masih blur tidak jelas dan putus-putus. Yang aku ingat adalah sepertinya saat Ayah dan Ibu meninggal dan Om Rion mengelus kepalaku sambil tersenyum masam, hanya itu yang kuingat hari ini." Untuk menutupi sebuah kenyataan besar, Verra harus berbohong. Demi keberlangsungan hidupnya, lagian ini adalah dunia masa depan tahun 2061 masehi yang sebagian besar orang tidak percaya yang namanya hal hal mistis apalagi reinkarnasi.
"Karena hanya om Rion satu-satunya orang yang jelas dalam ingatanku yang baru saja kembali, hanya om saja yang aku percayai. Aku sudah bilang tadi, ditempat itu sangat menyesakkan om." Lanjut Verra. Meskipun mengetahui masa depan, apa yang ia lakukan pasti akan mengubah sedikit masa depan yang 'seharusnya terjadi' dalam novel. Bahkan, begitu dirinya masuk kedalam tubuh Verra itu saja sudah menyebabkan Butterfly Effect. Kecil namun berdampak besar. Perubahan atau tindakan kecil dapat menimbulkan konsekuensi tidak terduga di masa depan.
Gerion menaikkan alisnya sebelah, perubahan yang berbanding berbalik dari yang lama membuat Gerion tidak tau harus senang karena anak sahabatnya itu lebih dewasa (menurut Gerion saja) atau sedih karena tatapan mata gadis itu berubah menjadi kosong seperti tidak punya kehidupan setelah kehilangan ingatannya.
"Bahkan dua tahun yang lalu ketika kita terakhir kali bertemu, kau terang-terangan tidak menyukaiku bahkan enggan bertatapan mata denganku. Nona, aku sebagai sahabat dari Ayahmu merasa bahagia memiliki putri sepertimu."
"Sepertiku? Memangnya apa yang istimewa dariku?"
Gerion menghembuskan napasnya pendek setelah mendengar pertanyaan itu. Anak. Satu kata berjuta makna, untuk dirinya yang sudah belasan tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak. Akan sangat berharga setiap detiknya jika bisa merawat putri dari mendiang sahabatnya. Anak gadis yang cantik dengan manik merah muda indah seperti bunga sakura pada musim semi, namun jika dilihat lebih dalam lagi maka itu akan mirip dengan ruby.
"Anak adalah karunia Tuhan, harta berharga yang dititipi dari tuhan untuk orang tua yang harus dirawat dengan baik. Itu berkah, Nona. Berkah yang sangat besar." Ucapan Gerion terdengar bermakna dalam, Verra tidak ada niatan untuk membalas kata-kata pria yang berprofesi sebagai seorang pengacara tersebut.
Lebih baik diam, jika terus berkata mungkin saja Gerion akan tersinggung karena membahas tentang 'anak'. Apalagi Verra adalah anak SMA berusia 17 tahun, bukankah sangat sangat sangat aneh jika membicarakan hal seperti ini bersamanya. Gerion pasti berpikir bocah ingusan sepertinya bisa apa.
Kembali hening lagi. Mobil Gerion memasuki sebuah kawasan perumahan mewah. Sepanjang mata memandang hanya ada rumah rumah dengan desain yang sama. Beberapa anak anak sedang bermain juga ada ibu-ibu yang tak jauh dari mereka sedang berkumpul dan mengobrol. Kehidupan masih berjalan, menurutnya tidak ada bedanya dengan kehidupannya di dunia nyata.
Mobil itu berbelok di sebuah rumah bernuansa putih, desainnya memang sama dengan yang lainnya namun biasanya berbeda cat dinding saja. Seorang laki-laki bertopi memakai kaos terlihat berjalan cepat untuk membukakan pagar.
Saat turun dari mobil, rasanya Verra kembali bernapas lagi setelah lama berada di sebuah ruang tertutup. Seperti burung yang kembali mengepakkan sayapnya setelah sekian lama didalam sangkar. Udara musim panas yang sejuk, sebentar lagi musim panas akan berakhir dan berganti menjadi musim gugur.
Hu... Lega sekali rasanya bisa keluar dari tempat menyesakkan itu...
"Ayo masuk, aku kenalkan ulang kepada istriku tercinta yang paling cantik sedunia." Ucap Gerion memuji istrinya sendiri, maklumlah suami bucin akut.
Verra berjalan mengikuti langkah Gerion, melihat kesana-kemari karena ini adalah hal baru baginya. Sejuk suasana disini.
"Verra, selamat datang di rumah kami! Tante sudah menunggumu sejak tadi, loh!" Ucap seorang wanita berparas cantik bermanik coklat cerah yang dipasangkan dengan surai pirang lembut yang panjang tergerai indah. Senyuman tak lepas dari bibirnya.
"Aku pulang, sayang!"
Kehadiran Gerion benar-benar diabaikan oleh sang istri, wanita itu hanya melewati suaminya begitu saja dan menyambut kedatan Verra. Dia adalah Arabella Kafella, istri Gerion yang usianya sudah mencapai 40 tahun.
"Verra ingat tante? Ah, tentunya tidak karena kamu hilang ingatan.. Meskipun tidak hilang ingatan pun, apa kamu ingat tante. Dulu tante juga pernah menuntun kamu waktu masih belajar berjalan loh! Ingat tidak?" Ara berkata banyak dengan antusias dan menggenggam kedua tangan Verra. Bahagia? Tentu saja, gadis yang selalu dianggapnya anak sendiri dan berharap bisa tinggal bersama kini ada didepannya. Meskipun Ara tidak tau berapa lama Verra akan menginap, satu hari juga tidak masalah, jika lebih juga tidak masalah, dia senang malahan.
"Tante Ara, ya?" Verra merasa tidak nyaman dengan wanita didepannya itu yang menatapnya dengan tatapan berbinar. Ia merasa seperti hewan langka yang menjadi tontonan di kebun binatang yang ditatap oleh anak kecil yang polos.
"Wah! Verra sudah ingat siapa aku!"
"Hahaha..." Verra tersenyum canggung mendengar ucapan Ara yang kedengarannya memuji dirinya dengan nada dan tatapan yang antusias, membuatnya merasa tidak nyaman. "Sebenarnya Om Rion sudah menceritakan tentang tante Ara saat tadi di dalam perjalanan ke sini." lanjut Verra dengan senyuman canggungnya.
"Ohh? Benarkah? Kalau begitu mari ikut tante yuk, Tante udah masak buat Verra loh! Masak lumayan banyak sih, khusus buat kamu!"
Ara langsung menyeret Verra ke meja makan tanpa memperdulikan sedikitpun suaminya yang sejak tadi hanya didiamkan saja melihat interaksi dua mahluk bernama perempuan itu. Rasanya seperti cosplay jadi angin deh.
Verra dikejutkan dengan meja makan yang penuh dengan berbagai macam olahan makanan. Sayur, daging, buah, mie, roti, semuanya tersusun rapi diatas meja!
"Tante Ara yang buat ini semua?" Verra sedikit mendongak saat menoleh untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, tubuh Verra pendek.
"Iya~ Khusus untuk Verra tamu spesial di rumah ini~!" Jawab santai Ara.
"Tante hebat masak ya..."
"Iya dong~ Gini-gini pun dulu tante sering banget masak di restoran orang tua tante~ Sebelum restorannya sebesar yang sekarang sih."
Ahahahaha... Mantab. Sahut Verra dalam hati.
"Semua masakan kamu itu makanan kesukaanku, sayang." Tutur Gerion yang (merasa) dikacangi oleh istrinya sendiri.
"Tapi tante tidak tau makanan kesukaan Verra, yasudah tante masak aja yang biasa disukain orang-orang." Tambah Ara dengan senyumannya. "Makanan kesukaan Verra apa? Kalau nggak ada yang Verra suka, tante bakal masakin lagi!"
"Duduk~ Duduk~ Yuk makan sama-sama." Ara menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Verra duduk.
Mau tak mau Verra harus duduk di kursi yang telah ditarik oleh Ara, tentunya dengan paksaan halus Ara. Ara duduk di sebelahnya sedang mengambilkan nasi untuk Verra, kemudian meletakkan piring berisi nasi itu didepan Verra. Ara juga mengambilkan nasi untuk Gerion.
"Makasih sayang." Ucap Gerion yang merasa senang setelah sejak tadi dikacangi.
"Iya, suamiku sayang." Balas Ara dengan senyumannya.
Kehangatan keluarga, itulah yang selalu Zara impikan namun sampai matipun tidak pernah merasakannya. Bagaimana rasanya keluarga utuh? Ia tidak tau. Sekarang rasanya seperti menjadi bagian keluarga, bersama Ara dan Gerion. Kehidupannya seakan kanvas yang diberi warna oleh kuas, membentuk sesuatu yang indah diatasnya, semuanya semakin lebih hidup dan berwarna.
Makan bersama berlangsung dengan tentram, Ara maupun Gerion berlomba-lomba untuk memberikan makanan di piring Verra. Bahagia, hangat, meluap-luap. Itu yang Verra rasakan didalam hati kecilnya.
Setelah makan selesai Ara menyeret Verra untuk berganti baju dengan baju yang telah dibelinya tadi. Lagi-lagi Verra merasa tidak enak. Dirinya adalah tamu, kenapa perlakuannya sangat spesial seperti ini. Gerion hanya tersenyum dan melihat semuanya dari balik kacamatanya, seakan-akan melihat sesuatu yang diinginkannya.
"Bagaimana dengan yang ini? Oh, atau yang ini saja! Atau warnanya lebih bagus yang ini?" Ara terus memasangkan didepan badan satu persatu baju yang dibelinya untuk Verra.
Ugh... Semakin merasa tidak enak. Merasa merepotkan orang lain, hatinya merasa sangat tidak enak.
"Oh, yang ini cocok untukmu. Warnanya kontras dengan warna kulitmu! Coba pakai!" Ara memberikan sebuah dress tanpa lengan kepada Verra. Dengan tatapan berharap, itu berhasil membuat Verra terpaksa melakukannya.
Beberapa saat kemudian setelah Verra berganti bajunya. Tatapan kagum dari Ara terus menghujaninya. Sangat cantik!
Jujur saja ketika ia bercermin melihat pantulan dirinya sendiri, merasa kagum dengan kecantikan seorang antagonis. Manik berwarna merah muda yang indah serta rambut hitam panjang terlihat berkilau dibawah cahaya. Pemilik tubuh asli memang sangat cantik, membuat ia merasa seperti benalu yang hidup dengan menumpang pada tumbuhan lain. Ini bukan tubuhnya, belum mendapatkan ijin dari pemilik tubuh asli makanya tak sering berpikir bahwa dia itu mencuri tubuh orang lain.
"Wah! Verra cantik sekali!" Puji Ara.
Ya, terimakasih. Aku tau bahwa Verra itu sangat cantik, setiap tokoh dalam novel ini itu cantik dan tampan. Tidak ada hasil cacat. Gumam Verra dalam hati.
"Kalau begitu sekarang kita lihat kamar yang telah tante siapkan untuk Verra!"
Ara lagi-lagi menyeret Verra, sedangkan yang diseret hanya pasrah dengan apa yang dilakukan wanita 40 tahun itu. Ingin memberontak sedikit karena dirinya merasa tidak nyaman, tapi itu hanya akan membuatnya semakin merasa tidak enak karena tidak sopan.
Tangan Ara menyentuh kenop pintu selama beberapa detik, setelah sidik jari terdeteksi pintu itu baru terbuka. Ara masuk terlebih dahulu lalu diikuti oleh Verra yang berjalan dibelakangnya.
Kamar tidur biasa yang tidak ada barang-barang spesial, dinding dicat putih gading, ranjang besar dengan seprei berwarna hijau muda dan bergambar rerumputan, sebuah lemari baju besar, meja belajar, sebuah sofa panjang dan satu sofa single serta mejanya juga, hanya itu saja. Kamar ini memang sedikit lebih kecil daripada kamar lamanya di mansion Atkinson, sepi tapi juga akan hidup jika ditempati.
"Maaf ya masih kosong begini, tante tidak tahu apa yang Verra sukai. Kalau mau, nanti malam atau besok kita berbelanja untuk Verra. Barang-barang seperti boneka atau pernak-pernik lain untuk mengisi kamar ini, Verra mau?" Ucapan Ara terdengar sangat tulus dengan senyuman manisnya.
Gerion dan Ara sudah melakukan banyak hal yang membuatnya merasa merepotkan orang lain, Verra sangat berterimakasih tentang semua ini. Bagaimana dirinya membalas semua kebaikan yang telah mereka lakukan untuknya? Ah, bukan untuknya namun untuk pemilik tubuh asli.
"Ini sepertinya sudah cukup kok, tante. Kayaknya aku ngerepotin banget ya?" Tutur Verra.
"Tidak kok, tidak repot! Justru tante senang ada Verra di rumah ini, tante jadinya punya temen ngobrol deh kalau om lagi kerja." Ara tulus ingin Verra tinggal disini. Anak. Ara ingin momongan, setiap hari selalu saja memikirkan tentang itu, dengan adanya Verra mungkin saja Ara tak lagi berpikir hal-hal negatif kenapa dirinya dan suaminya belum dikaruniai anak.
Verra tersenyum, entahlah harus membalas apa. Mungkin saja ia bisa membalas dengan doa untuk Ara dan Gerion. Semoga mereka segera dikaruniai momongan.
Eh?
Verra melihat asap hitam tipis mengepul diudara terbawa oleh arus angin. Seperti kebakaran. Jika bakar-bakar daun, asapnya tidak sehitam itu.
"Ada yang bakar bakar ya?" Tanya Verra sambil menunjuk apa yang dilihatnya, sesuatu yang ada diluar sana.
"Lihat yuk." Ara tidak panik sama sekali, padahal Verra mengira ada yang kebakaran diluar sana.
Keduanya berjalan menuju balkon. Saat melihat apa yang ada diluar sana, Verra terkejut bukan main. Gerion berdiri tak jauh dari kobaran api yang melahap sesuatu barang disebut tong besar. Benda kotak yang mirip dengan sebuah koper. Lalu kemudian Gerion melemparkan sebuah tas kecil di kobaran api tersebut. Itu membuatnya semakin kaget! Itukan tas yang isinya benda benda penting Verra, buku harian, beberapa make-up, ponsel, dan dompet. Didalam dompet itu juga ada kartu pelajar dan kartu identitasnya. Jika dibakar, artinya Verra meski buat lagi kartu itu. Duh, agak ribet tau bikinnya.
"Om! KENAPA BARANG-BARANG AKU DIBAKAR?! DI TAS ITU ADA BARANG-BARANG PENTING VERRA!!" Pekik Verra dari balkon lantai dua.
"Itu buat kebaikan Verra juga kok." Bukan Gerion yang menjawab, Gerion bahkan tidak menoleh sama sekali, yang menjawabnya adalah Ara.
"Maksudnya apa?!"
"Om Rion pernah bilang ke kamu kan? Atkinson itu berbahaya, mereka selalu mengawasi Verra setiap detiknya."
Apa? Mendengar jawaban Ara itu membuat Verra mematung ditempat. Bukan itu jawaban yang ia inginkan, tapi kenapa jawabannya malah tidak masuk akal. Apa alasannya?