The Villainess Wants To Die

The Villainess Wants To Die
Ch. 12 – Rumah Sakit



Dikarenakan sebuah alasan pekerjaan Gerion yang sempat tertunda karena sibuk mengurus Verra yang kini tinggal dirumahnya, Gerion tidak bisa menjemput Verra pulang sekolah. Gerion mengirimkan uang ke akun Verra untuk biaya taksi. Pria itu menuliskan kata maaf berulang kali. Verra tentunya hanya bisa menghembuskan napasnya pendek dan menanggapi pesan Gerion dengan 'iya' saja.


Saat Verra akan memesan taksi online untuk mengantarnya pulang, Verra merasa lapar. Perutnya berbunyi keras. Untung saja hanya ada dia saja yang sedang duduk di halte bus. Bus sudah lewat sejak tadi, jam bus selanjutnya itu masih sekitar 3jam kedepan.


"Apa aku lebih baik makan mie cup supermarket saja ya... Memang tidak bisa mengenyangkan, tapi setidaknya untuk mengganjal perut saja." Gumamnya lalu memasukkan kembali ponsel ke saku.


Verra beranjak dari duduknya, sekiranya ada sebuah minimarket di sebelah timur sekolah, juga ada beberapa toko lainnya. Ia berjalan menyusuri jalanan yang terlihat agak sepi, hanya beberapa kendaraan sedang berlalu lalang.


"Ugh...."


Hm? Verra menoleh kearah samping, gang kecil dan gelap, itu adalah sebuah celah antara dinding sekolah setinggi tiga meter dengan dinding sebuah toko. Tidak ada lampu penerangan disana, karena tidak banyak juga orang yang melewatinya. Paling-paling yang melewatinya hanya murid-murid yang bolos berjalan melewati gang yang menghubungkan dengan belakang sekolah.


Terdengar suara rintihan kesakitan, ketika ia menoleh suara itu tak lagi terdengar olehnya. Mungkin hanya perasaanku saja, atau halusinasi.


Verra kembali melangkahkan kaki jenjangnya untuk pergi ke minimarket yang terletak setelah dua toko tempatnya berdiri sekarang. Baru saja satu langkah, Verra mendengar kembali suara samar-samar dari gang kecil sempit gelap itu.


"Sia*an!... Bren*sek...! Para bajin*an itu akan kupastikan membusuk di penjara bawah tanah. Sial...!"


Samar-samar terdengar namun masih agak jelas orang itu mengatakan apa. Orang didalam gang itu sedang mengumpat, menyumpah serapahi seseorang.


Verra tidak takut dengan keadaan seperti ini. Hanya suara-suara tak jelas seperti ini, dirinya dulu bahkan berani menyusuri koridor rumah sakit yang dirumorkan berhantu pada malam hari untuk mencari udara. Baginya, hantu itu ada, namun hantu tidak bisa dilihat begitu saja. Verra merasa, jika ia harus kesana dan melihat siapa yang sedang merintih kesakitan disana itu.


Verra melangkahkan kakinya menuju gang itu, dengan sedikit penerangan dari remang-remang cahaya matahari ia melangkah tanpa takut.


Dia menemukan seseorang, laki-laki yang terlihat terduduk lemas diatas tanah. Verra samar-samar tercium bau darah. Verra mendekat lalu berjongkok disamping laki-laki itu. Menatapnya dengan intens, wajahnya tidak terlihat jelas karena ini kurangnya pencahayaan.


"Hei, apa kau masih hidup?" Verra mengayunkan telapak tangannya didepan wajah laki-laki itu. "Jika masih hidup, setidaknya jawablah. Semoga kau masih hidup, kalau sudah mati aku juga yang repot karena menjadi orang pertama menemukan seorang mayat di gang sempit."


Verra berkata kepada laki-laki didepannya ini. Dirinya tidak terlalu tau bagaimana caranya jika bertemu dengan situasi seperti ini. Apalagi memastikan orang ini masih hidup atau sudah mati, Verra tidak tau bagaimana memastikannya.


"Permisi.."


Verra memastikan bahwa dia masih hidup atau sudah mati dengan caranya sendiri. Menempelkan tangannya didada laki-laki itu, dada sebelah kiri tempat jantung berada. Verra tidak merasakan apapun pada telapak tangannya.


"Permisi lagi."


Verra mendekatkan wajahnya ke dada laki-laki itu, lalu menempelkan telinganya di bagian dada kiri. Verra masih bisa mendengarnya. Suara detak jantung yang lemah. Fyuhh... untung saja laki-laki ini masih hidup..


"Hei sia*an, apa yang kau lakukan?! Menjauh dariku!" Laki-laki itu sadar, langsung menyingkirkan Verra darinya dengan mendorong kepala Verra menjauh darinya.


Verra kaget karena tiba-tiba didorong begitu saja, alhasil ia terduduk di atas tanah kotor. Sedikit mengaduh kesakitan karena baru saja bokongnya mencium tanah secara tiba-tiba.


"Itu tidak sopan!" Ucap Verra menahan kesal.


"Siapa yang lebih tidak sopan menempelkan kepalanya di dada orang?" Balasnya sinis.


"Aku hanya memastikan apa kau masih hidup atau sudah mati." Imbuh Verra yang berdiri dari duduknya kemudian menepuk rok belakangnya guna membersihkan debu-debu yang menempel.


Laki-laki itu mendesis. "Gadis bodoh! Kau tidak perlu peduli kepadaku. Seharusnya kau lewat saja dengan berpura-pura tidak melihatku."


"Kenapa memangnya? Kau buronan polisi?" Tanya Verra yang asal-asalan berbicara.


"Kau akan terlibat dalam masalahku."


"Tapi aku tidak mau terlibat dalam masalahmu. Sekarang, bolehkah aku menolongmu? Hati nuraniku tidak bisa diam saja melihatnya." Verra tidak bisa menyangkalnya. Meskipun dulunya dia tidak pernah bergaul dengan orang banyak, tapi dia memiliki hati. Nuraninya terluka.


Verra mengeluarkan ponselnya, dalam gang sempit minim pencahayaan hanya ada pancaran cahaya dari layar ponsel yang membuat wajah Verra terlihat jelas dalam kegelapan.


"Aku sudah bilang, hati nurani ku terluka jika membiarkan orang terluka begitu saja. Aku akan menolongmu." Verra masih fokus dengan ponselnya, dia memesan taksi online untuk membawa laki-laki ini pergi ke rumah sakit.


Hening– Verra sudah mendapatkan driver taksi yang sedang menuju kemari. Bersyukur karena supirnya bukan manusia, AI. Jika manusia pasti supirnya akan bertanya banyak hal tentang laki-laki itu, dan Verra harus berbohong lagi kalau seperti itu.


Dahi Verra mengkerut, sepertinya tadi laki-laki itu terus mengajaknya bertengkar. Titik driver taksi online sudah menunjukkan berhenti di depan gang. "Apa kau masih bisa berdiri? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, taksi online sudah sampai di depan gang."


Tidak ada jawaban.


Verra berjongkok lagi, telapak tangannya mengayun didepan wajah laki-laki itu. Tidak ada respon. "Sial. Kalau mau pingsan lagi setidaknya nanti saja saat sudah sampai mobil. Merepotkan saja." Kesal Verra karena laki-laki itu pingsan. Verra malas jika harus memapah seseorang sampai ke mobil depan gang.


Verra meraih tangan laki-laki itu, dengan sekuat tenaga ia menariknya dan meletakkannya di bahu kecilnya. Tubuh laki-laki itu terangkat dan ditopang oleh Verra. Tangan kanan laki-laki itu merangkul bahu kecil Verra, dan tangan kanan Verra menahan tubuh laki-laki itu dengan memeluk pinggangnya dari belakang. Perlahan bergerak sedikit demi sedikit. Menyebalkan, kenapa laki-laki ini sungguh berat?!


Hingga akhirnya Verra berhasil membawa laki-laki itu ke dalam taksi. Verra duduk di sisi lain, sedangkan laki-laki itu dibiarkan menyandar pada jendela sisi lain.


Perlahan ia membuka matanya karena merasa terganggu dengan adanya getaran. Tampaklah manik ungu gelap yang indah. Ekor matanya melirik, yang ia lihat adalah pemandangan kota. Lalu melirik ke sisi lain, melihat seorang gadis bermata merah muda seperti bunga sakura sedang duduk diam sambil melihat keluar.


Dia sungguh-sungguh menyelamatkan ku? Kupikir itu hanya omong kosong saja...


Ia bergerak meskipun luka-luka pada tubuhnya terasa perih begitu bergerak sedikit saja. Kemudian bersandar pada bahu gadis yang menyelamatkannya dan memeluk pinggangnya dengan erat.


Verra kaget tiba-tiba dipeluk begitu saja, apalagi sepertinya laki-laki tadi diam saja kok tiba-tiba memeluknya seperti ini. Tangannya bergerak dengan sendirinya, ia merangkul bahu laki-laki itu. Verra tidak tau harus melakukan apa selain melakukan ini.


"Kamu orang baik..." Laki-laki itu berucap dengan suara kecil dan lembut, tentunya masih bisa di dengar oleh Verra.


Verra diam Orang baik? Dirinya adalah antagonis, antagonis adalah tokoh jahat. "Aku tak sebaik yang kau kira. Ini sisi baikku, sisi burukku lebih buruk daripada ini." Ucap Verra membalas.


"Kalau begitu kenapa kamu menyelamatkanku?"


"Tidak, aku tidak menyelamatkanmu tapi hanya membantumu kali ini saja. Jika kamu mati setelah ini pun aku tidak akan peduli."


"Terima kasih..." Ucap laki-laki itu tulus, sudah berapa lama dirinya tidak merasakan kehangatan seperti ini. Meskipun ucapan Verra terdengar dingin dan tidak peduli, dia tetap merasa hangat dengan perlakuan gadis itu.


"Nama.. namamu siapa?" Laki-laki itu bertanya, agar ia bisa berterimakasih dan membayar hutang budi ini dengan mudah jika mengetahui namanya.


Verra melirik sekilas. Manik merah muda itu bertemu dengan iris ungu gelap selama beberapa detik, wajah tampan laki-laki yang diselamatkannya terdapat beberapa luka gores, menatapnya dengan lemah. Verra mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Verra, panggil saja aku seperti itu." Ujar Verra acuh.


"Nama lengkap, agar aku bisa dengan mudah mencarimu setelah ini. Nama Verra itu sudah pasaran."


Verra berpikir sejenak. Jika ia mengatakan nama lengkapnya, ia bingung harus mengatakan 'Verra Atkinson' atau 'Verra Stevenson'.


"Cari tau saja, Verra pembuat masalah siswa Emerald High School. Kamu akan mengetahuinya." Verra menjawabnya asal.


Dahi laki-laki itu menyerit, kenapa gadis ini begitu aneh? Manik ungu gelap itu melirik ke nametag yang ada di dada Verra. 'Atkinson'. Nama belakang gadis ini adalah Atkinson. Dia akan mengingatnya.


"Terima kasih... Verra..."


Verra tidak merespon ucapan terimakasihnya, mata itu tertuju kepada pemandangan kota di luar jendela.


****


Duh, maaf yaπŸ™πŸ˜” Akhir-akhir ini aku jarang on disini keasikan sama lapak lain sih. Rencananya bakalan aku pindah lapak ke lapak oren, tapi rada rada males. Doain cerita ini bisa tamat. Aku juga ada rencana untuk publish ulang, ga jauh-jauh amat dari cerita ini. Nama karakternya aj sama. Cuma bedanya kalo ini alurnya rada-rada serius, sedangkan yang satunya lebih santai. Tapi masih rencana juga sih... Yws, hanya itu yang mau saya curhatkan. Makasih udah baca cerita dan curhatanku