
Sepertinya aku sedang menjerumuskan diri kedalam sebuah ketidaknyamanan. Batin Verra.
Berjalan berdua beriringan dibawah langit sore. Verra berkeliling mansion ditemani Celine atas permintaannya sendiri. Keduanya berjalan disekitar taman. Hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan antara keduanya.
Verra biasa saja sambil mengamati pemandangan disekitarnya, tempat yang akan menjadi titik awal menjadi antagonis. Mansion ini adalah titik awalnya.
Sedangkan Celine terdiam memalingkan wajahnya dari Verra. Detak jantungnya sejak tadi berpacu dengan cepat, seolah sebuah bahaya sedang menempel padanya dan siap melukainya kapan saja. Bukan. Bersama dengan Verra itu membuatnya sesak. Celine berkeringat dingin. Sesekali manik hijau zamrud Celine melirik Verra yang sedang mengamati hal-hal disekitarnya. Perasaan takut namun juga hangat. Dia Verra namun tak seperti Verra. Jika dia adalah Verra, pasti dia sudah menghina dan mendorong Celine. Sedangkan Verra disampingnya ini hanya diam saja, anteng tak membuat masalah apapun. Bahkan berkata hal buruk saja tidak.
"Hei." Panggil Verra.
"Ya?!" Celine kaget karena tiba-tiba saja dipanggil oleh Verra.
"Bisakah kau membawaku ke tempat lain? Hanya melihat bunga bunga itu sangat membosankan." Verra bosan. Sesuatu yang memanjakan mata seperti pemandangan indah bukanlah seleranya. Seleranya adalah... Em, entahlah! Zara tidak punya selera!
"Bisakah kau menceritakan tentang diriku? Apa saja, terserah apa yang akan kau katakan tentangku. Mungkin teman, kebiasaan, hobi, atau semacamnya." Ucap Verra yang menatap Celine dengan tatapan tak bermakna. Saatnya bermain-main sebentar. Memang benar jika protagonis wanita asli dalam novel bukanlah protagonis pada umumnya yang punya kepribadian lembut dan baik. Celine itu agak buruk. Agak buruk bukan berarti buruk, yaaaa.
Celine tersenyum. "Duh, ini akan menjadi cerita yang panjang. Bagaimana jika kita duduk di sana saja?" Telunjuk Celine menunjuk kearah sebuah tempat teduh di dekat kolam renang. Ada sebuah meja bundar kecil yang di tengah-tengahnya ada vas kecil dan dua kursi saling berhadapan.
Verra mengangguk sebagai jawaban. Verra hanya ingin tau, apakah Celine akan berbohong dengan melebih-lebihkan kebohongannya atau berbohong dengan mengatakan kebalikan dari sikap Verra asli dalam novel kepadanya. Hanya penasaran saja.
Mereka duduk disana dengan ditemani oleh secangkir teh hitam dan beberapa camilan manis. Verra sama sekali tak menyentuh hidangan yang dibawakan pelayan atas perintah Celine didepannya itu. Bukannya tidak mau, namun memang tidak suka makanan manis. Zara lebih suka makanan pedas dan asin.
"He? Kenapa tidak dimakan? Kamu kan suka makanan manis." Celine bertanya karena melihat Verra hanya diam tak menyentuh sedikitpun hidangan itu.
"Entahlah, aku sedang tak berselera memakan apapun." Jawab asal Verra. Verra menatap Celine lalu berkata, "Bisakah kita mulai cerita tentang diriku sekarang? Aku ingin ingin segera ingat tentang diriku sendiri. Rasanya agak asing hidup tanpa ingatan."
"Baiklah." Celine tersenyum.
Gadis berusia 17 tahun dengan manik hijau zamrud itu mulai bercerita.
"Kamu adalah Verra Atkinson, Verra adalah kesayangan semua orang di mansion! Ingatkah? Dulu waktu kecil kita sering bermain bersama. Setiap berangkat dan pulang sekolah, kita selalu bersama menggunakan mobil yang sama! Hubungan kita juga sangat baik. Verra punya kebiasaan yaitu mendengarkan musik dari earphone saat jam pelajaran. Kita sekelas loh! Kalau disekolah kamu kadang-kadang bertengkar dengan Theo. Theo adalah temanku sebelum diadopsi dari panti asuhan, sampai sekarang juga masih berteman. Kamu sangat tidak menyukai Alden karena menurutmu dia adalah laki-laki sok dingin yang suka tebar pesona. Oh iya, Verra juga sering mengobrol dengan Raven adik kelas yang ramah dan hangat. Oh iya, Verra juga kadang-kadang berbicara kepada Libra yang pemarah itu karena memiliki hobi yang sama, membaca novel ringan."
Celine menceritakannya dengan penuh senyuman.
Ah, bangsat. Kebohongan yang sangat memuakkan, rasanya aku ingin menyiramnya dengan teh. Ya, semua yang Celine katakan adalah sebuah kebohongan semata.
Koreksi dari novel aslinya. Sejak pertama kali Verra dan Celine saling bertemu, keduanya tidak pernah akrab sama sekali. Berangkat pulang sekolah memang menggunakan mobil yang sama, namun tak jarang Verra meninggalkan Celine sendirian. Sudah jelas kan, hubungan keduanya sangat tidak baik. Verra dalam novel sering merundung Celine. Verra tidak suka musik, Verra lebih suka mendengarkan alunan piano secara langsung bukan dari rekaman suara atau video.
Ah, tanpa sadar Celine sejak tadi hanya membicarakan tentang para pemeran utama pria. Yah itu wajar saja, karena akhir akhir ini pasti kehidupan sekolah Celine hanya dipenuhi oleh para pemeran utama pria. Tentunya untuk seorang antagonis yang selalu berbuat jahat kepada protagonis, antagonis akan dibenci sampai ke tulang tulang oleh para pemeran utama pria. Verra tidak suka membaca buku! Membaca novel itu adalah kebiasaan Zara ketika menemani Zayn yang tertidur.
"Kalau begitu, apa aku punya teman atau sahabat dekat?" Verra bertanya setelah Celine berhenti untuk menjeda kalimatnya.
Celine terdiam. Dari pelipisnya bercucuran keringat dingin. Tidak dirinya sangka sangka jika Verra akan menanyakan hal-hal seperti ini.
"Sahabat? Kita itu sahabat, Verra!" Jawab Celine sambil tersenyum lebar.
Sahabat ya... Hahaha, mulutnya ingin ku gampar menggunakan kursi. Kebohongan lagi kebohongan lagi. Apakah jangan jangan dirinya hidup di isekai adalah sebuah kebohongan?
"Benarkah? Apakah aku punya teman lainnya? Perempuan, mungkin. Sejak tadi kamu hanya menyebutkan nama nama laki-laki." Tanya Verra yang masih ingin mengetes sampai mana kebohongan Celine akan berlanjut.
Deg!
Celine tidak tau bagaimana menjawabnya. Ah, Verra tidak mempunyai teman satupun disekolah.
"Ah.. Itu,, Verra tidak terlalu suka bergaul dengan gadis gadis di kelas... Karena... Verra tidak suka mereka yang adalah anak orang kaya yang manja dan berdandan setiap saat..." Jawab Celine terbata-bata. Kenapa kita tidak boleh berbohong? Karena pasti akan ada kebohongan kebohongan kecil lain yang terucapkan oleh kita untuk menutupi sebuah kebohongan.
Verra tersenyum setipis kertas untuk membalas setiap kebohongan kebohongan yang keluar. Dirinya tidak akan membalas semua itu, karena tujuannya adalah untuk mati dan secepatnya mati menurut alur novel asli. Tidak ada gunanya juga untuk melawan mereka semua. Karena mereka ada banyak dan memiliki koneksi luas, sedangkan ia hanyalah seorang tokoh antagonis yang tidak memiliki siapapun sebagai pendukungnya, hanya mengandalkan ijin Tuhan untuk bernapas Verra akan terus bernapas.
"Benarkah?" Kata Verra yang seakan ragu dengan apa yang Celine ucapkan.
"Tentu saja." Celine memulai lagi. Bibir merah muda muda itu melengkung membentuk sebuah senyuman yang menawan, namun itu adalah barang palsu.
Celine berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk berada tepat didepan Verra. Entah kenapa Celine melakukan itu. Dibawah langit sore yang berwarna jingga, didekat kolam renang dan angin sepoi-sepoi menghembus diantara keduanya.
Manik hijau zamrud milik Celine bertatapan langsung dengan manik merah muda seindah ruby milik Verra. Hanya beberapa detik mereka saling memandang. Atas kemauannya sendiri, tubuh Verra reflek bergerak karena merasa tidak nyaman bertatapan dengan Celine. Memang sejak dirinya masih menjadi Zara dirinya tidak bisa menatap mata seseorang dalam waktu lama, bukan karena merasa takut hanya saja Zara hanyalah seorang pengecut yang lebih suka melarikan diri daripada melawan.
Verra melirik kebawah. Sesuatu tertangkap oleh matanya ketika menundukkan wajahnya kearah bawah. "Ada ulat bulu." Ucapnya tanpa sadar ketika melihat seekor serangga kecil yang bergerak perlahan di dekat kaki Celine.
"Ah?!!! Mana! Dimana?!!" Celine jelas sekali jika dirinya takut dengan serangga. Reflek saja Celine berjalan mundur ke belakang menuju ke pinggiran kolam renang. Celine tersandung entah karena apa dan jatuh kedalam kolam renang.
Verra tidak terlalu peduli dengan suara suara air yang terbuat oleh Celine serta permintaan tolong Celine, tatapannya masih tertuju kepada ulat bulu yang bergerak perlahan di bawah sana. Kakinya tergerak, kemudian menginjak ulat bulu itu, sebanyak dua belas kali. Alasannya ya karena...
"Ver... tolong verr!!" Ucap Celine yang tidak bisa berenang tapi ada di dalam kolam renang sedalam sekitar 1,5 meter.
Mengingat kejadian barusan menunjukkan bahwa Celine takut dengan serangga kecil, itu membuatnya teringat pada Zayn yang juga takut dengan serangga.
Musim panas, sudah waktunya untuk kembali berangkat sekolah setelah liburan musim panas. Jika orang lain itu liburan, maka Zara berbeda. Zara menghabiskan waktu dengan menemani Zayn yang sudah dua bulan ini kembali berada di rumah sakit. Karena permintaan Zayn, Zara terpaksa mendorong kursi roda Zayn dan keduanya berada di taman rumah sakit sekarang.
Zayn yang duduk di kursi roda bertanya kepada Zara, "Kak, sekolah itu seperti apa rasanya?"
Zara sekarang sudah kelas 3 SMA, sudah memasuki semester keduanya yang waktunya sibuk dengan persiapan ujian. "Tidak ada bedanya dengan homeschooling. Aku tidak tau suasana ruang kelas yang tentram itu rasanya bagaimana, kelasku mayoritas diisi oleh siswa bermasalah dan selalu berisik sepanjang jam pelajaran." Jawab Zara jujur asalkan Zayn tidak bertanya sesuatu yang menurutnya merepotkan.
"Zayn, kamu tahu––" Ketika Zara berbicara Zayn tiba-tiba saja memotongnya dengan suara gemetar ketakutan. "Kak Zara... Di sana ada ulat bulu..."
Zara mengikuti arah tatapan mata Zayn. Zara mengerutkan kedua alisnya melihat seekor ulat bulu hijau kecil sedang bergerak lambat 30 cm dari kursi roda Zayn. Ia lalu berjalan maju dan kemudian menginjak ulat bulu itu dengan kakinya, sebanyak dua belas kali.
Zayn lega setelah melihat kakak perempuan yang selalu ada untuknya sudah menginjak ketakutannya. Tapi melihat kaki itu menginjak ulat berkali kali membuatnya terheran-heran dengan apa yang dilakukan oleh Zara. "Berapa kali kakak menginjak ulat bulu itu? Kenapa harus sebanyak itu?"
"Dua belas kali. Tidak ada alasan khusus, hanya seperti jam yang memiliki 12 angka didalamnya." Jawab Zara asal-asalan. Baginya itu adalah kebiasaan, jujur saja dirinya juga takut ulat bulu.
Zayn menatap Zara dengan tatapan kagum berbinar. "Kakak hebat. Kakak pemberani!" Ucapnya.
Verra berjalan mendekat kearah kolam, mungkin sudah semenit Celine berada disana karena tidak bisa berenang. Verra tidak ingin menolongnya. Dirinya juga tidak bisa berenang dan sekarang tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"CELINE!" Pekik Geon yang tiba-tiba saja datang entah darimana. Pria itu langsung berlari dan menceburkan diri untuk menyelamatkan Celine.
Mendengar suara pekikan Geon, beberapa pekerja di mansion datang menghampiri, juga ada Tuan Xendra, Nita, dan Zion Atkinson–suami Nita juga anak Tuan Xendra sekaligus CEO dari ATKINS GROUP yang sekarang.
Selang beberapa detik akhirnya Celine sudah berada di pinggiran kolam renang dengan tubuh basah kuyup dan jelas terlihat kedinginan.
"Sayang, kamu nggak apa apa?" Nita mendekati Celine dan langsung memberikan handuk kepada putri angkatnya itu.
"Celine... nggak apa-apa, ma.." Jawab Celine terbata-bata karena merasa kedinginan.
Semuanya terfokus kepada Celine, mengabaikan kehadiran Verra yang sejak tadi hanya melihatnya. Dan, semua orang meninggalkannya sendirian. Mereka membawa masuk Celine yang kedinginan. Seakan akan Verra adalah hantu tak terlihat, melihat namun tak nampak. Kasih sayang hanya tertuju kepada Celine seorang, sedangkan kebencian hanya untuk Verra saja. Apakah ini adil? Tidak, namun ini lebih baik.
"Hei, kau gila ya?" Tidak, ternyata Verra tidak sendirian. Masih ada Geon yang juga basah kuyup berada tak jauh darinya. "Ada orang minta tolong di depan mata dan kau hanya diam saja? Otakmu ada dimana?" Ucapan Geon terdengar seperti orang marah, namun juga tersisa sedikit, sangat sangat sedikit kelembutan terasa.
Verra melirik sejenak, kemudian menghembuskan napasnya kasar. Tak ia sangka jika ada orang yang menanyakan hal ini kepadanya. Dipikir dirinya akan terus menjadi hantu. "Jika aku ikut masuk untuk menyelamatkan Celine, maka itu hanya akan menambah beban masalah. Aku tidak bisa berenang, jika memaksa masuk bukankah itu sama saja menjerumuskan diri sendiri kedalam masalah." Jawab dingin Verra.
Geon terdiam, betul juga apa yang Verra katakan. Tapi setelahnya Geon berkata, "Setidaknya kau mencari bantuan, bukan hanya diam saja dan melihat. Itu bukan tonton, Verra Stevenson!"
Tunggu dulu!!! Verra Stevenson? Siapa lagi itu?
Verra menatap Geon dengan bingung untuk beberapa saat, namun dirinya baru saja teringat bahwa Verra Atkinson bukanlah keluarga utama. Hanya keluarga bagian, bahkan jika dilihat dari silsilah keluarga maka hubungan keluarga Verra dan keluarga utama Atkinson adalah sangat jauh. Bahkan tidak ada keterikatan hubungan darah. Marga juga berbeda. Hanya saja setelah dibawa ke dalam keluarga utama Atkinson, marganya juga ikut berubah.
Tetap dalam posisi kaget, tenang... tenang... Verra berusaha mengatur wajahnya agar terus menatap Geon dengan bingung. Jika tiba-tiba berubah bisa saja menjadi masalah. Tetaplah menjadi gadis amnesia.
"Sudahlah, lupakan. Kembali ke topik awal, bukankah kau bisa mencari bantuan untuk menolong Celine?" Geon memilih mengalihkan pembicaraan dan memulai pembicaraan dengan topik lain.
"Tidak bisa. Jika kau tanya kenapa maka akan aku jawab aku tidak tau. Ketika melihat Celine hampir tenggelam, tubuh dan pikiranku tidak merespon apapun. Semuanya terasa kosong. Tubuhku tidak mendukung untuk menolong, didorong oleh pikiranku yang terbang kemana-mana. Bilang saja jika aku adalah manusia tak berperasaan, maka aku akan menjadi manusia tak berperasaan." Ucap Verra panjang lebar.
Verra tidak mengerti satu hal, kenapa dirinya bisa berbicara seperti ini kepada Geon yang notabenenya adalah orang yang tertulis menunjukkan rasa ketidaksukaannya kepada Verra asli dalam novel? Hanya saja... Entah kenapa dirinya merasa nyaman, aman berada di dekat Geon.
"Sepertinya kamu sudah gila, jika ada waktu aku akan membawamu ke psikiater." Ucap Geon dengan tatapan malas lalu berbalik pergi.
"Hei, namamu Geon Atkinson, benar kan?" Pertanyaan Verra sukses membuat Geon berhenti dan berbalik lagi menatap Verra.
"Kita bertemu tadi minggu lalu dan tadi siang, kau melupakanku begitu saja?"
"Aku bahkan tidak ingat sandi e-mail ku."
"Panggil aku Kakak, aku lebih tua darimu."
"Kak Geon? Seperti itu? Memangnya berapa jarak usia kita?"
"Usiaku sekarang 23 tahun, baru saja naik satu angka beberapa hari yang lalu. Sekarang kuliah jurusan IT semester akhir."
"Lalu setelah aku sadar dari koma, kenapa kau memakai setelan jas lengkap, kan masih kuliah." Tanya Verra penasaran.
"Sedang latihan menjadi pewaris yang baik." Jawab Geon yang memang waktu itu kebetulan bersama dengan ayahnya menemui klien.
"Apa aku sudah seperti antagonis?" Tanya Verra lagi.
"Apa? Antagonis? Kau pikir ini novel ya, ada protagonis antagonis?" Geon menautkan kedua alisnya bingung.
"Sudah? Ada yang mau kamu tanyakan lagi?"
Verra menggeleng cepat. "Tidak ada, kau silahkan pergi boleh."
Verra kembali duduk ditempat dirinya tadi mengobrol dengan Celine setelah Geon pergi meninggalkannya sendirian.
Manik merah muda indah seperti ruby, namun juga bersamaan indah mirip bunga sakura musim semi, itu menatap langit sore yang berwarna jingga.
Ngomong-ngomong... Dia itu AI atau manusia ya?
Verra mengetahui jika ada sepasang mata hitam mengawasinya sejak duduk bersama Celine dari kejauhan. Pelayan mansion. Hanya diam saja tak berkedip menatap keduanya seolah olah tengah mengawasi pergerakan keduanya. Verra tidak tau apakah itu AI atau manusia, AI adalah teknologi masa depan yang dibuat sangat mirip dengan manusia. Bahkan sekarang ini sedang mengembangkan AI yang memiliki perasaan. Konyol bukan?
Geon ya... Biarkan saja deh, dia akan mati pada waktunya.
Verra tidak peduli. Sekitar satu tahun dari sekarang, Geon akan mengalami kecelakaan yang amat parah sampai jasadnya tidak dikenali lagi. Dia mati karena kebakaran gedung sebuah mall akibat serangan tero*is.