The Villainess Wants To Die

The Villainess Wants To Die
Ch. 10 – Kembali Sekolah



Evergreen High School, sekolah elit se-nasional yang menjadi latar belakang tempat novel Cinta Untuk Dirinya. Pemeran utama wanita yang terlihat polos dan lugu namun sebenarnya licik. Para pemeran utama pria yang hanya tergila-gila kepada pemeran utama wanita. Male lead, Alden Klaine. Second lead, Theo Friz. Adik kelas ramah, Raven Oliver. Si pemarah, Libra Dietrich.


Ceritanya hanya tertuju kepada kisah cinta yang klise, jikapun ada karakter lain, karakter itu adalah pemeran figuran yang hanya lewat sekilas dan tidak terlalu dibutuhkan atau bahkan sama sekali tidak dibutuhkan dalam main story (cerita utama). Pusatnya adalah protagonis, antagonis, dan keluarga.


*****


Sudah satu minggu Verra berada di rumah Gerion, selama seminggu ini ia dimanjakan oleh Ara. Ara sangat menyayangi Verra selayaknya anak sendiri. Gerion juga membelikan banyak hal yang biasanya disukai oleh remaja, karena pria itu tidak terlalu tau tentang selera Verra. Sedangkan orang yang membuat mereka begitu, dia merasa sangat tidak enak. Merasa merepotkan orang lain. Tamu yang dimanjakan oleh tuan rumah.


Hari ini Verra memutuskan untuk kembali sekolah, dia ingin merasakan bagaimana rasanya sekolah di sekolahan elit di masa depan. Masih adakah siswa yang mencoret-coret mejanya untuk jejaknya?


Verra pergi ke sekolah dengan diantarkan oleh Gerion tentunya.


"Kalau Nona membuat masalah disekolah, langsung saja kabari. Aku akan membereskannya untuk Nona." Ucap Gerion kepada Verra yang baru saja akan turun dari mobil.


"Om sepertinya yakin sekali kalau aku akan membuat masalah." Verra menoleh menatap Gerion. Yang sering membuat masalah itu Verra asli dalam novel, bukan dirinya yang dulunya adalah anak baik-baik ketika disekolah. Zara itu anaknya pendiam dan tidak suka cari masalah.


"Bukankah Nona selalu seperti itu?"


"Hahhhh... Iya iya, nanti kalau aku membuat masalah akan langsung menghubungi Om. Om tenang saja, masalah yang aku buat mungkin tidak sampai membuat anak orang masuk rumah sakit." Balas Verra setengah bercanda, dirinya tidak mungkin menghajar orang, dia kan tidak tau apapun tentang bela diri. Palingan hanya gerakan gerakan dasar yang biasanya dipelajari dari buku olahraga saat masih menjadi Zara dulu.


Verra turun dari mobil hitam itu, sebelum menutup pintu Verra berkata kepada Gerion. "Om bisa panggil aku 'Verra' saja, seperti Tante Ara. Tidak enak didengar kalau Om terus-terusan memanggilku 'Nona'. Aku tidak nyaman."


"Akan aku usahakan, No– eh maksudku Verra."


Verra melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolahan yang megah bak istana ini. Sebisa mungkin dirinya menyembunyikan rasa kagumnya akan apa yang dilihatnya, jujur saja ini terlalu wow untuk Zara. Apalagi melihat para siswa siswi yang tampilannya... Sangat berkilau.


Dia terus berjalan melewati orang-orang yang sepertinya tidak perduli kepadanya atau memang tidak tau dirinya. Ah, dia hanya menghindari kontak mata dengan orang-orang yang menatapnya.


Tentu saja, disekolah ini siapa yang tidak mengenal Verra si gadis jahat yang merundung si lemah. Dalam novelnya tertulis jika Verra tidak memiliki seorangpun teman, bukannya Verra yang tidak mau berteman namun tidak ada yang mau berteman dengannya yang merupakan seorang gadis jahat. Mereka tidak ingin terjerumus dalam masalah yang diperbuat oleh Verra. Tidak bisa dihitung lagi dengan jari berapa kali Verra keluar masuk ruang BK, bahkan guru BK bosan melihat wajah siswi yang selalu membuat masalah.


Kelas 11 C. Sekelas dengan Celine, Theo, dan Libra. Verra pasti akan bertemu dengan para pemeran utama pria hari ini. Lihat saja, ini adalah sebuah ramalan abal-abal dari Zara Amethyst.


Serasa jadi artis. Kepedean jpg.


Baru saja melangkahkan kaki kedalam ruang kelas, Verra sudah disambut dengan sebuah suara yang menghina dirinya.


"Woah, lihat si gadis jahat kembali sekolah, bersiaplah untuk sembunyi jika tidak ingin ditindas olehnya!"


Badan tinggi itu menghalangi Verra untuk melangkah lagi. Dia adalah second lead, Theo Friz. Laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah tampan, lebih tepatnya menyebalkan karena terlihat seperti mengejek. Surai coklat terang dan iris mata berwarna hitam gelap.


Tokoh yang paling sering cekcok dengan Verra. Oke, sekarang aku adalah Verra, aku akan debat sedikit dengan orang menyebalkan ini. Pikirnya saat melihat tampang menyebalkan Theo. Verra menatapnya dengan tatapan kosong wajah datar.


Verra tersenyum miring. "Kau tidak punya kerjaan lain selain menghina dan cekcok dengan orang lain? Ah, kau kan tidak bisa melakukan apa-apa." Ucap Verra merendahkan, eh lebih tepatnya mengejek Theo.


Theo itu mudah marah, dalam sekali pancingan pasti akan langsung dapat amarahnya!


"Hah?! Apa yang kau maksud, gadis jahat?! Tidak cukup ya hanya mendorong Celine ke kolam renang saja?!!!" Bentak Theo. Celine bercerita kepadanya jika dirinya terpeleset ke kolam renang saat berjalan-jalan sore bersama Verra, juga bercerita tentang Verra yang hanya melihatnya saja, Theo menyimpulkan sendiri jika Verra yang mendorong Celine.


"Kenapa tiba-tiba sampai kesitu?" Verra bingung, tadi topiknya apa sekarang topiknya apa.


"Jangan mengelak! Kau waktu itu sengaja mendorong Celine karena iri hati kepadanya bukan?! Kau hanya iri kepada kecantikan dan kepintaran Celine!" Theo sudah menyukai Celine sejak pertama kali bertemu dipanti asuhan, dia tidak rela jika orang yang disukainya disakiti oleh si gadis jahat Verra.


Verra mencebikkan bibir bawahnya, kenapa orang ini menuduhnya iri kepada Celine. Bahkan pemilik tubuh asli memang sejak awal membenci Celine karena dia (Verra dalam novel) cukup peka dengan isi hati Celine, bukan karena iri atau semacamnya. Orang yang satu ini ternyata (cukup) terlalu menyebalkan.


"Kenapa juga aku iri kepada Celine? Aku lebih mencintai diriku sendiri, menyayangi diriku sendiri, menghargai diriku sendiri. Aku tidak punya ruang untuk iri dengan seseorang!" Ucap Verra tegas.


"Hah? Apa? Gadis jahat sepertimu bisa mencintai?" Ujar Theo menghinanya.


Satu kalimat dari Theo membuatnya terpaku, buka karena itu kenyataan atau semacamnya namun karena itu membuatnya tidak suka. Memangnya antagonis tidak boleh mencintai? Antagonis tidak punya hati dan perasaan? Antagonis hanya tau membenci dan membenci orang lain? Antagonis juga manusia! Verra tidak suka gagasan 'Antagonis tidak bisa mencintai'!! Dia marah!


"Hei, kau pikir aku itu robot?" Tekan Verra. Dia menatap Theo dengan tajam, manik merah muda seindah bunga sakura di musim semi itu menunjukkan kobaran api amarah.


Theo sadar Verra terpancing amarah, pikirannya mulai lagi. "Kenapa? Kau marah hanya karena dikatakan 'gadis jahat'? Memangnya bagian mana yang membuatmu marah, semuanya kan adalah kenyataan." Theo memang sudah keterlaluan, ini penghinaan namanya.


"Apa? Kenapa diam saja? Biasanya kau akan langsung membentak melawan, tidak biasanya kau diam seperti ini." Theo melihat Verra mengepalkan tangannya, terlihat jelas jika gadis jahat itu sedang menahan gejolak amarahnya yang membuncah itu.


"Ah, apakah kecelakaan itu membuat kepalamu terbentur? Katanya kau hilang ingatan, benarkah kau hilang ingatan." Theo memasukkan kedua tangannya di saku celananya, condong sedikit kedepan untuk melihat wajah Verra yang sedang menahan amarah. Ekspresi itu entah kenapa membuatnya merasa terhibur.


Verra menghembuskan napasnya perlahan, mengatur gejolak dalam dirinya. Ingat kata Gerion, kalau membuat masalah langsung hubungi dirinya dan Gerion akan mengurusnya untuk Verra. Meskipun ini akan merepotkan Gerion juga membuatnya merasa bersalah (karena menyusahkan Gerion), ia ingin melakukannya karena Theo duluan yang memulai pertengkaran pada pagi ini.


Verra mulai menurunkan tasnya, perlahan namun pasti mengambil tas yang berisi buku-buku pelajaran yang sejak tadi berada di punggung kecilnya. Dengan tangan kanan, Verra mencangking bagian tali khusus yang biasanya ada diatas tas. Tatapannya berkobar amarah yang membuncah. Ketika ia marah, maka ia akan melakukan hal-hal yang tak terduga. Ini adalah masalah.


"Ha? Diam saja? Kenapa kau tidak mati saja sana, kau tau, ketika kau kecelakaan aku berharap kau mati saja. Atau.. koma saja selama bertahun-tahun."


Oke, apa yang Theo ucapkan itu sudah sangat keterlaluan.


Verra akan memukul kepala Theo dengan tasnya. Dan... apa yang akan ia lakukan langsung terhenti begitu Celine datang melerai keduanya.


"Stop! Kalian jangan bertengkar pagi pagi seperti ini!" Celine yang baru saja datang langsung berlari dan berdiri diantara keduanya, dia merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi, wajahnya menghadap kearah Theo.


"Theo, sudah aku bilang jangan bertengkar lagi dengan Verra! Verra itu sedang sakit!" Ucap Celine kepada Theo, dia harus bersikap baik di depan orang lain meskipun dalam pikirannya berbanding terbalik.


"Terus kenapa? Kan dia yang sakit, bukan aku. Lagian semuanya itu cocok untuk si gadis jahat, mana ada gadis jahat yang bisa mencintai." Tukas Theo menghindari tatapan Celine, dia melipat kedua tangannya didepan dada dan membuat wajah angkuh. Dalam novel aslinya, dia berperan sebagai teman masa kecil yang tsundere.


Verra bisa mendapatkan akal sehatnya kembali, sesaat ia dikendalikan oleh amarah. Dia adalah penulisnya, tokoh favoritnya adalah Verra, dia tidak terima jika Verra dikatakan tidak bisa mencintai. Meskipun begitu... Ada beberapa alasan untuknya menciptakan karakter 'Verra si Gadis Jahat'. Pikirannya sudah kembali normal lagi sekarang.


Verra tersenyum misterius ketika melihat Celine yang membelakanginya sedang berdebat kecil dengan Theo. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekatkan mulutnya kearah telinga Celine. Membisikkan sesuatu disana.


"Bukankah kamu juga mengharapkan hal yang sama dengan pikiran Theo? Berharap aku mati atau koma selama bertahun-tahun lamanya? Oh, tentu saja, karena dengan itu kehidupan sekolah dan percintaanmu akan lancar." Hembusan napas hangat Verra menyapu daun telinga Celine. Bisikan Verra mampu membuat Celine terdiam membatu ditempat.


Celine membatu. Bukan karena bisikkan Verra yang terdengar mengancam, namun ia kaget bagaimana bisa Verra mengetahui isi hatinya? Padahal dia sudah berjuang setengah mati menyembunyikan perasaannya, namun bisa diketahui oleh Verra begitu saja? Celine kaget.


Sontak saja Celine langsung berbalik badan, begitu berbalik dirinya disuguhi dengan senyuman penuh misteri dari seorang Verra. Manik merah muda seindah bunga sakura itu tidak menunjukkan jejak keramahan, hanya kemisteriusan saja yang tersisa.


"Verra–" Sebelum menyelesaikan perkataannya, itu sudah lebih dulu terpotong. Sebuah tangan menarik lengan Celine dan membawa bermata hijau itu kedalam dekapannya.


Verra dan Theo ikutan menoleh setelah Celine ditarik seseorang.


Ah, ternyata dia... Verra tersenyum didalam hatinya. Pemeran utama pria dalam novel Cinta Untuk Dirinya, Alden Klaine. Sosok yang nantinya akan menikahi Celine begitu salah paham diantara keduanya, kesalahpahaman yang disengaja oleh antagonis, selesai setelah beberapa tahun berpisah.


"Bukankah kau seharusnya masih koma? Kenapa orang koma ada di sekolah? Kembalilah ke rumah sakit, ini bukan tempat penampungan gadis jahat yang sedang koma." Ucap angkuh Alden. Iris topaz dipasangkan dengan surai abu-abu gelap, itulah Alden Klaine.


"A-Alden!! Jangan berbicara seperti itu kepada Verra! Bagaimanapun Verra juga keluarga." Celine dengan wajah (sok) polosnya yang masih dalam dekapan Alden mendongak untuk melihat wajah dingin Alden.


Alden menundukkan wajahnya untuk menatap Celine. Seketika ia menjadi lembut menatap Celine. Ah, itu sudah biasa terjadi kok, dalam novel aslinya. "Kamu terlalu baik, Celine. Dia adalah gadis jahat yang tidak perlu dikasihan. Dia juga sudah mencelakaimu dengan mendorongmu ke kolam renang, aku tidak bisa memaafkan hal itu!" Balas Alden.


"Benar apa kata tukang tebar pesona itu. Kamunya saja yang terlalu baik kepada Verra." Timpal Theo yang menyetujui perkataan Alden (yang merupakan rivalnya).


"Tapi, aku terjatuh ke kolam renang karena terpeleset! Bukan karena didorong Verra!" Celine membenarkan.


"Tetap saja!" Tukas Alden.


Huh...Verra menghembuskan napasnya pendek, dia menunduk sebentar kemudian kembali mengangkat wajahnya. Menatap orang-orang yang hanya 'tokoh' dalam novel dengan senyumannya.


"Aku adalah antagonis, aku tidak perlu rasa kasihan kalian. Aku tidak se-menyedihkan itu sampai-sampai dikasihani oleh kalian, karena aku sudah sangat puas dengan kehidupanku yang seperti ini."


Semuanya mendengarkan apa yang Verra ucapkan, termasuk para penonton yang menyaksikan drama pada pagi hari ini. Senyuman dan tatapan yang berbeda dari biasanya. Entah kenapa semua orang baru menyadari kecantikan natural Verra dengan make up tipis. Kecantikan ini mengalahkan kecantikan Celine!


Verra memilih duduk di bangkunya yang terletak di barisan kedua dari belakang dekat jendela. Dan disana ia berselancar didunianya sendiri, fokus dengan ponselnya.


\=×\=×\=×\=×\=


Cek IG author. Ya.. nggak ada apa-apa sih, cuma promo sama postingan gabut aja... Ya.. siapa tau tertarik buat follow, entar aku follback. Klo cuma mau liat-liat aja jg gpp, bukan akun privat juga kok_^


@kuriyama.mirai_098