
Selama beberapa hari ini Zara yang kini telah memutuskan untuk menjadi Verra–kita panggil juga dia Verra– terus tersenyum palsu membalas setiap perhatian palsu keluarga ini. Rasanya melelahkan, namun agak menyenangkan juga membohongi orang yang membohongi Verra.
"Anu... Aku ingin pulang, aku tidak suka suasana rumah sakit yang bau obat-obatan." Verra berkata kepada kakeknya, Xendra Atkinson.
"Memangnya tidak apa apa? Bagaimana kalau kondisimu memburuk suatu saat?" Tanya Tuan Xendra yang menatap cucunya dengan khawatir yang dibuat-buat.
Bukankah kau sama saja dengan mendoakanku kondisiku memburuk? Memuakkan. Verra sedikit melirik dengan ekor matanya, sayang sekali dalam novel yang diciptakan oleh tangannya sendiri menceritakan secara rinci tentang keluarga Atkinson.
"Tidak apa apa, aku ingin segera melakukan aktivasi daripada diam saja dirumah sakit." Verra tersenyum lagi.
"Baiklah. Apa kamu sudah ingat kami?" Tanya Tuan Xendra hati-hati karena tidak ingin Verra itu tau siapa dalang di balik kecelakaan yang dialami Verra dua minggu yang lalu. Ya, Tuan Xendra lah yang menjadi dalang dibalik kecelakaan itu, ia berharap Verra mati dengan tragis.
"Tidak, aku masih tidak ingat apapun." Verra mengalihkan pandangannya kearah jendela, diluar sana langit biru membentang di atas dengan matahari yang menyinari bumi.
Sebenarnya Verra sedang berbohong. Perlahan-lahan namun pasti, ingatan ingatan pemilik tubuh asli bersatu dengan dirinya. Ingatan yang menyatu itu tidak urut dari masa kecilnya sampai masa kini, namun acak. Baru sedikit saja yang dirinya tau tentang Verra, yaitu jika Verra memiliki sebuah kotak kecil di lemari antara tumpukan baju dibagian paling bawah yang berisikan buku-buku harian Verra yang sudah penuh. Dirinya berencana untuk membacanya, siapa tau mendapat informasi tentang pemilik tubuh asli.
"Jangan dipaksakan jika memang tidak ingat, perlahan-lahan saja." Tangan tuan Xendra mengusap puncak kepala Verra sebentar, lalu berjalan keluar untuk menemui dokter membicarakan tentang kepulangan Verra dari rumah sakit.
...*************...
Manik merah muda berkilau seindah bunga sakura pada musim semi itu menerawang keluar jendela mobil. Mengamati setiap toko, gedung pencakar langit atau bangunan yang dilewatinya. Sambil menopang dagunya, Verra menikmati pemandangan luar biasa yang hanya pernah di deskripsikan dalam novel buatannya.
Papan reklame besar dipinggir jalan itu memang seperti papan reklame biasa di kehidupan sebelumnya, namun iklan itu bisa bergerak bahkan membentuk sebuah hologram 3 dimensi. Lihatlah polisi di depan sana, jika itu manusia adalah hal yang tidak mungkin, karena di lehernya ada sebuah lingkaran kecil yang memendarkan sebuah cahaya biru, menandakan bahwa polisi itu adalah AI. Artificial Intelligence, singkatnya adalah AI, kecerdasan buatan berbentuk mirip dengan manusia. AI humanoid otonom yang menggantikan pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh manusia. Dunia novel dengan latar belakang 2061 memang berbeda. Dunia serba teknologi.
Tuan Xendra yang duduk di samping pengemudi melirik Verra dari spion yang memantulkan bayangan apa yang sedang Verra lakukan. Laki-laki tua itu terheran-heran. Kenapa gadis yang biasanya ribut crigis dan suka membuat masalah itu duduk dengan tenang di kursi penumpang dibelakang sana. Tatapan mata yang ditunjukkan Verra juga berbeda. Kosong, namun tersirat sedikit kekaguman dengan apa yang tertangkap penglihatannya.
Kenapa anak itu? Apakah dia kehilangan ingatan sampai tidak familiar dengan semua ini. Seharusnya, meskipun ingatannya hilang tubuh dan nalurinya akan bereaksi sendiri. Batin Tuan Xendra.
Verra tenggelam dalam pikirannya. Sekilas dirinya mendengar suara lembut yang memanggilnya dengan nama kehidupannya sebelum bunuh diri dan akhirnya masuk ke dalam sebuah novel romantis. 'Zara'. Akan tetapi, hanya ada dirinya, Tuan Xendra, dan seorang supir tua yang ada di dalam mobil itu. Sedangkan suara yang didengarnya adalah suara perempuan, mungkinkah hanya halusinasinya saja setelah bangun dari koma.
Beberapa saat kemudian, mobil mewah berwarna hitam itu berhenti di sebuah mansion mewah bernuansa abad pertengahan. Verra keluar dan menatap bangunan megah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang.
"Verra, ayo masuk ke rumah." Tuan Xendra dengan lembut menepuk pundak Verra.
Rumah? Aku tidak punya rumah, tuan. Ini adalah rumahmu, bukan rumahku. Bagi seorang 'Zara' rumah adalah tempat untuk pulang dan penuh dengan kehangatan keluarga. Sedangkan mansion mewah ini adalah sebuah tempat tinggal dihuni oleh orang-orang bermuka dua yang siap menusuk dirinya dari belakang. Bukan rumah. 'Zara' maupun 'Verra' tidak punya rumah.
Baru saja masuk, Verra sudah disuguhi dengan pemandangan para pelayan yang berbaris menyambut kedatangan dirinya serta Tuan Xendra. Verra tertegun sejenak melihat pemandangan ini, namun melanjutkan lagi langkah kakinya. Jelas sekali, mulai dari pemilik sampai para pekerja di mansion ini tidak menyukainya, bahkan beberapa orang membencinya.
"Verra! Selamat datang kembali ke rumah. Bibi sudah masakkan makanan kesukaanmu lho~" Tampak seorang wanita paruh baya mendatanginya. Pakaian rumahan yang terlihat sedikit mewah, lalu perhiasan perhiasan berupa emas dan berlian menghiasi tubuh kurus itu, rambut hitamnya di gelung pendek. Dia adalah istri dari anak pertama tuan Xendra, namanya Nita Elvira.
Ah, dia teryata... Orang yang paling sering menghasut pemilik tubuh agar berdandan menor dan dipandang buruk oleh semua orang. Verra hanya membalasnya dengan senyuman tipis, setipis kertas.
"Bibi... Aku tidak ingin makan apapun, aku ingin langsung istirahat saja." Ucapan Verra hanya untuk menghindari situasi dimana dirinya harus berhadapan dengan manusia bermuka dua dalam waktu lama. Ia tidak tahan dengan itu.
"Eh? Haruskah Bibi bawakan makanan ke kamarmu?" Ucap Nita dengan raut khawatir, padahal di dalam hatinya Nita mengumpat dan menyumpah serapahi Verra.
Verra diantarkan ke kamarnya oleh seorang pelayan. Dirinya hanya bisa memperlihatkan tatapan kosong yang tersirat sedikit kekaguman. Rumahnya di kehidupan lalu memang besar, namun tak semewah ini. Juga, pelayan yang menunjukkan jalan itu tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan oleh nona muda-nya, karena ini adalah pekerjaannya. Dia AI. Meskipun di setiap rumah di negara ini memiliki AI untuk melakukan pekerjaan rumah, namun jumlah dibatasi oleh pemerintah, 3-5 AI setiap rumah. Itu juga pajaknya sangat mahal, orang biasa hanya memakai 1 AI di rumahnya.
Verra berpapasan dengan laki-laki yang pertama kali ia lihat setelah masuk ke dunia novel. Dia adalah sepupunya, anak dari Nita. Hanya orang itu saja yang menunjukkan rasa ketidaksukaannya kepada Verra secara terang-terangan, tidak seperti penghuni lain yang menggunakan topeng. Namanya Geon Atkinson. Dalam novel aslinya, Geon hanya pemeran tambahan yang lewat sekilas saja.
"Ponsel lamamu yang rusak karena kecelakaan sudah diperbaiki, ada dikamarmu. Aku juga sudah membelikanmu ponsel baru jika kau tidak mau memakai yang lama. Aku disuruh kakek." Hanya itu saja yang dikatakan Geon ketika berpapasan, lalu masing-masing melanjutkan jalan mereka. Geon terus berjalan tapi sekilas ia melirik ke belakang melihat punggung Verra yang menjauh. Di sisi lain Verra hanya mendengarkannya saja tanpa merespon. Hanya pemeran tambahan lewat, tidak usah dipedulikan.
Sesampainya di depan kamarnya yang terletak di lantai 3 mansion ini, pelayan AI itu pamit dengan menundukkan kepalanya. Verra menyentuh kenop pintu yang terasa dingin. Bisa-bisanya pintu sebuah kamar adalah pintu elektronik yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari yang terdaftar.
Begitu masuk, Verra disuguhkan dengan ruangan berukuran 5×5 bernuansa biru langit. Ada banyak boneka di kamar ini, mulai dari ukuran besar sampai ukuran kecil. Sebuah kamar mandi yang terletak di pojok, lalu sebuah ruangan kecil yang isinya adalah pakaian Verra. Ada sebuah meja belajar di dekat ranjang, diatasnya hanya ada beberapa buku, sebuah laptop dan headset, alat tulis, dan kabel charge. Lalu tak jauh dari itu juga ada sebuah meja rias yang berisi make-up dan berbagai alat rias. Ranjang besar dengan sprei biru bermotif bunga bunga yang rapi. Juga, ada satu sofa panjang, dua sofa singel, dan sebuah meja berbahan kaca yang diatasnya ada sebuah vas bunga kecil tanpa bunga.
Wah, kamarnya rapi dan sejuk sekali. Aku pikir akan berwarna pink yang membuat mata sakit, ternyata damai seperti ini. Pikir Verra yang mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan.
Verra melangkahkan kakinya ke ruangan yang berisi pakaian pakaian pemilik tubuh asli. Ia membuka salah satu lemari, mengandalkan insting keberuntungannya tangan putih itu mencari sebuah kotak yang berisi tumpukkan buku buku harian pemilik tubuh asli yang sudah penuh.
Akhirnyaa Verra mendapatkannya. Sebuah kotak seukuran kotak sepatu berwarna hitam berhasil berada ditangannya. Verra mendudukkan pantatnya dilantai yang dingin, membaca satu persatu lembaran halaman buku harian itu.
Sekitar 1 jam kemudian...
Apakah antagonis yang membuat rencana licik memisahkan pemeran utama pria dan pemeran utama wanita itu sebodoh ini? Sebentar... Bodohnya sampai ke ubun-ubun, atau dianya saja yang super duper polos?
Isi buku harian itu adalah keseharian pemilik tubuh asli. Dituliskan secara singkat namun mencerminkan semua kehidupannya. Kata demi kata yang dirangkai sedemikian rupa menghasilkan sebuah kalimat yang membentuk tulisan. Tulisan bodoh.
Dia ini hanya dibodohi, dimanfaatkan, dan dibenci. Rasanya aku ingin memukulnya dan menyadarkan kebodohan yang sudah mendarah daging ini.
Setelah puas mengumpat sana sini tentang kebodohan Verra yang asli, ia hanya bisa berpikir sambil menatap langit-langit ruangan kecil ini.
Verra adalah anak yang kehilangan orang tua di usia 4tahun, gadis ini haus akan kasih sayang dan perhatian. Dia sampai begitu naifnya mempercayai setiap kebohongan dan kepalsuan orang-orang disekitarnya. Tidak punya teman, dimusuhi oleh orang orang di sekolah, dan hanya dimanfaatkan oleh keluarganya. Verra yang menyedihkan. Apakah tidak ada yang menyayanginya dengan tulus?
Verra tanpa membereskan buku buku itu langsung bangkit dan berjalan menuju balkon kamar ini. Ia berdiri sambil memegang pagar balkon. Angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya, helaian surai hitam panjang itu bergerak karena hembusan angin yang memainkannya. Verra menatap langit biru yang cerah, matahari seakan menyambutnya dengan cahayanya yang hangat. Tatapannya mengalih kebawah.
Lantai tiga... ini cukup tinggi juga. Verra mulai berjinjit dan mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Aku ingin mati. Tidak ada yang menyayangiku di dunia ini." Itu adalah kalimat yang terbesit dikepalanya waktu ia akan melompat dari atas gedung berlantai 15 di kehidupan lalu. Itu adalah sebuah pil kenyataan pahit yang harus mau tak mau ditelan tanpa air olehnya.
Kali ini, kalimat itu kembali terbesit di kepalanya ketika melihat rerumputan rapi dibawah sana.
Tapi, aku tidak akan mati jika hanya melompat dari sini. Paling paling hanya patah tulang saja. Cih, itu hanya membuat tubuh sakit saja. Verra kembali menegakkan tubuhnya dan menurunkan tungkai kaki yang sempat terangkat tadi karena berjinjit.
"Lebih baik aku mengikuti alur sebenarnya daripada mengubahnya... Hanya itu satu-satunya cara untuk mati." Monolognya sambil menopang dagu. Meskipun mengikuti alur itu lebih menyakitkan, namun tidak ada jalan lain selain itu. Lagipun dirinya tidak ada niatan mengakhiri hidupnya untuk yang kedua kalinya.
Jika sekarang usia Verra 17 tahun, maka sekitar 5-6 tahun lagi dia akan mati. Bertahanlah selama itu, Zara...