The Villainess Wants To Die

The Villainess Wants To Die
Ch. 11 – Pengagum Rahasia



Verra melalui jam-jam pelajaran sendirian, lebih tepatnya dia sendirian karena sama sekali tidak ada orang yang mau mengobrol dengannya bahkan sekedar menyapa sepatah katapun tidak ada. Sudah sampai pada jamnya istirahat kedua, biasanya diwaktu ini para murid lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kelas, mungkin bermain HP atau yang lainnnya. Disekolah ini tidak ada larangan memainkan ponsel di lingkungan sekolah, asal tidak saat jam pelajaran saja.


Karena kelas terlalu ramai, berbagai suara dengan nada dan topik yang berbeda bercampur menjadi satu, terlalu berisik disini. Verra memutuskan untuk pergi mencari tempat untuk menyendiri jauh dari kebisingan seperti ini.


Dia hanya berjalan dengan santai tanpa memperdulikan semua orang yang disekitarnya, melewati orang-orang sedangkan otaknya berpikir dimana kira-kira tempat yang sepi saat jam istirahat seperti ini.


Sampai Verra menemukan taman belakang yang sepi. Ada sebuah pohon besar rindang di tengah-tengahnya, lalu disekitarnya hanyalah rumput hias dan beberapa tanaman bunga berwarna-warni. Verra memilih duduk di bawah pohon dengan saputangan sebagai alas. Ia menyenderkan punggungnya ke batang pohon yang kokoh. Menikmati semilir angin sejuk siang hari.


Tentunya jika hanya ini saja pasti akan membosankan, Verra kembali fokus kepada ponselnya lagi. Dirinya hanya mencari informasi tentang latar belakang dunia ini juga pengetahuan pengetahuan dasar tentang dunia masa depan tahun 2061 ini. Dirinya tidak menuliskan rinci segalanya tentang dunia ini.


Negara bekas monarki (kerajaan) yang baru saja di bubarkan belum lama ini. Bahkan belum sampai 50 tahun monarki dibubarkan, baru 30 tahun. Raja terakhir menjelaskan bahwa bubarnya sistem monarki di negara ini adalah karena sudah tak tahan lagi dengan para petinggi negara yang dengan seenaknya menyalahgunakan kekuasaan, korupsi pajak, dan kelakuan buruk lainnya.


Pada tahun 2031-2038 terjadi perombakan besar-besaran tentang hukum negara ini setelah monarki dibubarkan. Hukum lama telah diganti dengan hukum baru. Dunia sempat gempar karena masalah pembubaran monarki negara besar didunia, tidak ada berita apapun tentang rencana Raja membubarkan monarki, tiba-tiba saja dibubarkan. Selama beberapa tahun, negara ini sedikit kacau, namun perlahan kembali membaik bahkan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.


Setelah dibubarkan pun keluarga kerajaan serta bangsawan bangsawan tinggi juga masih dihormati, hanya saja status mereka (para mantan bangsawan) hanyalah rakyat biasa seperti kebanyakan orang. Negara ini juga sekarang dipimpin oleh seorang presiden, mantan Grand Duke (Adipati Agung) Archer dari wilayah selatan. Tentunya hasil voting seluruh rakyat, bukan dari tunjuk Raja.


Ibu kota negara ini, kota Poli. Kota besar yang menjadi pusat negara.


^^^[A/N : Nama kotanya itu hanya fiksi semata, tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. Bila pun ada, hanya kesamaan yang tidak disengaja. Saya ambil dari bahasa Yunani Πόλη (Póli) yang artinya Kota.]^^^


Verra menggulirnya dengan perlahan dan meresapi setiap kata yang telah ditulis. Dia mengerti tentang sistem dinegara ini. Ternyata di masa depan yang sudah canggih teknologi juga banyak orang yang masih melakukan hal-hal kotor seperti korupsi seperti itu.


Aku menuliskan bekas monarki karena dulu saat aku masih menjadi Zara, sistem monarki di negara tempat aku tinggal masih berjalan. Aku hanya terinspirasi saja dari sana. Ya... Sepertinya––Eh? Apa?


Verra kaget saat membaca sebuah nama terselip di paragraf berita itu. "Raja ke–19, George De Almer La Shaquille." Itu... itu adalah nama Raja yang memerintah di negara tempat Zara hidup, di dunia nyata, bukan dunia novel.


Sesaat kemudian ia kembali sadar dari kagetnya. "Oh iya, kan aku yang nulis nama rajanya sesuai nama raja di kehidupan dunia nyata. Aku tidak terlalu pandai dalam mencari nama tokoh, bahkan nama nama para pemeran dalam novel adalah nama nama yang pasaran. Aku juga mengambil refrensi nama dari game otome yang pernah aku mainkan sekali." Gumamnya sendiri.


Verra melanjutkan membaca, tapi artikel yang dibacanya sudah habis. Dia akan mencari artikel lain saja nanti sepulang sekolah, karena sebentar lagi sudah akan waktunya jam istirahat berakhir.


Verra mendongakkan wajahnya, menatap langit biru yang membentang amat luasnya diatasnya. Tak hanya sekali dua kali saja dirinya berpikir bahwa ini bukanlah dunia dalam novel, melainkan dunia aslinya di masa depan. Jika saja ini bukanlah dunia novel tapi dunia aslinya, ia tidak akan lagi berpikir meninggalkan mereka yang melindungi Verra segenap hati begitu saja. Zara pasti berusaha untuk menyelamatkannya apapun resiko dan caranya.


Hah... Verra mendesah pelan, menghembuskan napasnya dengan cepat. Apa gunanya berpikir sampai sejauh itu? Dia malas.


"Hai, Verra. Sudah lebih dari satu bulan aku tidak melihatmu, sekarang aku tenang setelah melihat wajahmu. Rinduku telah terobati." Suara seorang laki-laki yang lembut tapi juga tercampur nada berbahaya.


Sontak saja Verra langsung menoleh kesamping melihat siapa pemilik suara itu. Begitu menoleh, ia disuguhi dengan seorang laki-laki berseragam sekolah berdiri tak jauh darinya. Dia tersenyum, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Insting Verra mengatakan, dia adalah orang berbahaya tapi juga seorang yang penting dalam kehidupan Verra.


"Siapa kau?" Tanya Verra tanpa basa-basi dan memasang mode waspada kepadanya.


"Sudah aku duga rumor kamu hilang ingatan itu benar. Aku harap kau segera mengingatku. Bisakah aku menjadi orang pertama yang kau ingat setelah kehilangan ingatanmu?" Laki-laki itu berlutut dengan satu kaki, senyumannya tidak pudar. Tatapannya dan mata Verra saling bertemu.


Laki-laki itu memandangnya dengan tatapan na*su, bukan na*su sek*ual, tapi sebuah na*su yang lain dan hanya bisa dipuaskan dengan sebuah cara.


"Sayang sekali pertama kali yang aku ingat adalah acara pemakaman orang tuaku. Memangnya kau ada dalam hidupku? Aku merasa asing denganmu." Tukas Verra penuh penekanan. Artinya, memangnya siapa dia dalam hidupnya, apakah penting? Tentu saja baginya itu tidak penting.


"Yah, sayang sekali. Kenapa kamu lebih waspada daripada dulu? Apakah sebegitunya kau tidak mengenalku? Meskipun ingatanmu hilang, kau tetap saja sama." Dia tersenyum kepada Verra, senyuman yang membuat Verra selalu waspada.


Laki-laki itu tertawa ringan, kemudian membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Verra. "Namaku Evan Smith, dari kelas sebelah."


"Aku tak menyangka, meskipun hilang ingatan juga kamu datang kesini setiap jam istirahat kedua." Evan yang memiliki iris coklat cerah dipadukan dengan rambut yang berwarna coklat karamel. Dia terkekeh sejenak.


Evan Smith? Dia... Anak pemilik sekolah yang merupakan penggemar rahasia Verra! Aku tidak menyangka dia lebih berani mendekat seperti ini, padahal dalam novelnya jelas tertulis dia hanya melihat tokoh antagonis dari jauh. Bahkan jarang berbicara. Pikir Verra begitu mendengar nama Evan.


Evan Smith adalah si pengagum rahasia yang akan mati karena bunuh diri, tapi sebenarnya ini bukan kasus bunuh diri melainkan kasus pembunuhan. Tidak mungkin Evan bunuh diri, karena selama Verra masih hidup maka dirinya akan tetap hidup. Bagi Evan, Verra adalah nyawanya. Namun, seakan kepolisian sengaja menutup-nutupi masalah ini. Pihak keluarga Evan juga tidak merespon apapun tentang kematian Evan. Dan kasus ini semakin lama semakin menghilang seiring berjalannya waktu.


"Mari mulai dari awal lagi." Ucap Evan.


Verra tersenyum tipis setipis kertas, bukan senyuman tapi hampir mengarah ke sebuah seringai mengerikan. Dia beranjak dari duduknya, kemudian menepuk nepuk pantatnya untuk menghilangkan kotoran yang siapa tau menempel di roknya. Verra menghadap ke Evan.


Posisi ini... Seperti seorang kesatria yang sedang memberikan sumpah hormat kepada Ratu. Evan yang berlutut dengan satu kaki, dan Verra yang berdiri menghadapnya.


"Memangnya kau seberapa berharganya dalam hidupku? Walaupun kau tidak ada, bumi akan terus berputar, angin akan terus berhembus, air akan tetap mengalir, waktu akan bergulir, musim juga akan terus berganti." Senyuman dingin yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap siapapun, Verra tidak terlalu ingin hidup. Tujuannya hanya satu, yaitu mati. Mati dengan rasa sakit atau mati tanpa rasa sakit, Verra tak peduli yang mana.


"Memang, mungkin aku tidak berharga dalam hidupmu, tapi kau berharga dalam hidupku." Evan berdiri. Dia yang sedikit lebih tinggi dari Verra menatap gadis didepannya ini.


"Evan Smith... Memangnya apa hubungan kita? Tidak ada kan? Kau, aku sama sekali tidak peduli kepadamu." Verra berjalan setelah berbalik badan, dia tidak mau terlarut dalam orang yang akan mati di masa yang akan mendatang, bisa-bisa dirinya tidak rela.


"Kita hanya sebatas teman satu sekolah yang saling mengenal, itu saja."


"Teman? Memangnya aku punya teman sepertimu? Aku tidak butuh yang namanya teman." Verra tersenyum jahat. Bukan karena dia memang tidak ingin berteman, namun dalam novel aslinya Verra memang tak sesekali pernah berkata bahwa dirinya tidak butuh teman. Seperti ini... Apakah dia sudah memerankan Verra dengan baik?


"Tidak apa jika kamu tidak ingin bertemu denganku. Tapi..." Evan menjeda ucapannya sejenak, kemudian kembali melanjutkannya setelah tersenyum lebar. "Verra, tolong tampar aku sekuat mungkin! Sekali ini saja!"


"Hah? Apa?" Verra sempat terdiam beberapa saat setelah mendengar permintaan Evan. Menamparnya sekeras mungkin? Bukankah itu sama saja dengan kekerasan di lingkungan sekolah. Tapi ya, walaupun Verra melakukan kekerasan pasti tidak akan yang melapor kepada guru, karena reputasinya sebagai gadis jahat sudah membuat orang-orang terbiasa dengan sikap buruknya.


"Tampar aku, dengan begitu aku puas!" Lagi-lagi senyuman lebar, ditambah dengan rona merah muda bersemburat di pipinya, matanya menyipit membentuk sebuah lengkungan, juga kedua tangannya yang dikepalkan didepan dada. Dia seperti anak kecil yang sedang berharap dengan senyuman.


"Masokis?" Gumam Verra tanpa sadar. Masokis adalah salah satu gangguan perilaku seksual yang masuk dalam subkategori gangguan parafilik. Parafilia adalah perilaku atau dorongan seksual yang tidak normal, ditandai dengan fantasi dan dorongan seksual yang intens yang terus menerus. Seseorang dengan perilaku seksual masokis adalah seseorang yang mendapatkan kepuasan dari berfantasi atau terlibat dalam aktivitas seksual yang menyakitkan, seperti dipukul, diikat, atau dibuat menderita.


"Kau gila! Lebih baik kau pergi ke psikiater saja untuk mendapatkan terapi! Masokis mu itu bisa berbahaya!" Verra tak tau lagi harus berkata seperti apa, dia hanya bisa berkata dengan membentaknya saja. Kemudian meninggalkannya dengan langkah cepat.


Evan memandang punggung Verra yang semakin menjauh, saat gadis itu sudah berbelok untuk kembali ke kelas dan tak lagi terlihat di pandangannya, senyum Evan perlahan meluntur. Menjadi sebuah ekspresi dingin tanpa keramahan.


Evan teringat saat pertama kali dirinya melihat Verra, saat hari pertama sekolah di Evergreen High School.


Hari itu adalah musim semi yang indah, kelopak bunga sakura berterbangan ditiup angin. Evan yang tanpa sengaja melihat seorang gadis sedang menatap sinis seseorang tak jauh dari gadis itu. Senyuman sinis jahat yang menawan, rambut hitam panjang yang indah, serta didukung dengan wajah cantik. Evan terpesona kepadanya. Dia Verra yang sedang menatap sinis Celine. Evan ingin ditampar olehnya, oleh gadis yang berhasil membuatnya terpesona.


Evan semasa kecil adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Setiap hari harus menahan sakit yang diberikan ibunya sebagai pelampiasan ayahnya yang membawa istri baru. Lalu menelan pil pahit kenyataan bahwa dirinya adalah anak yang tidak diinginkan, juga kecaman dari ayahnya dan istri barunya.


"Jika saja kamu memenuhi hasratku sekali saja... Aku berjanji, aku tidak akan mengganggumu lagi."