
Sejak dulu aku hidup dengan menuruti segala kemauan orang tua angkatku.
Aku berpikir mereka mengadopsiku untuk disayangi, ternyata aku salah. Mereka hanya menjadikanku umpan kehamilan, katanya kalau pasutri tidak kunjung di beri momong maka harus mengadopsi satu anak untuk pancingan umpan kehamilan. Mitos seperti itu ada yang percaya? Ada, keluarga angkatku.
Namaku Zara Amethyst.
Tak lama setelah mereka mengadopsiku, mereka dikaruniai kehamilan oleh Sang Maha Kuasa. Adikku, Zayn Amethyst, terlahir dengan kondisi lemah. Karena itu mereka selalu memerintahku untuk menjadi teman Zayn yang usianya 6 tahun dibawahku, sedangkan mereka mengurus urusan masing-masing.
Aku dilarang memiliki teman. Melakukan kesalahan sedikit saja maka aku akan kedinginan di gudang belakang dan kelaparan sepanjang malam. Jika aku tidak patuh maka aku akan dipukul menggunakan tongkat golf. Aku harus menurut kata mereka jika ingin tetap berada disini.
Jujur saja... Aku merindukan kepala yayasan panti asuhan, beliau sangat baik dan perhatian. Aku tak pernah bertemu lagi dengannya sejak keluar dari panti.
Usiaku 20 tahun, aku tidak melanjutkan pendidikan karena mereka menyuruhku untuk standby bersama Zayn. Zayn itu laki-laki, namun suka dibacakan cerita romantis. Seleranya memang benar-benar berbeda dari yang lain.
Terkadang aku membenci adikku, namun dia tidak membenciku. Rasanya setiap melihatnya tertidur pulas, aku ingin mencekik leher itu. Tapi... seperti inilah tugasku. Menjaga adik yang membuatku terkekang dibawah kedua orang tua angkatku.
Aku membuatkannya sebuah novel romantis tentang drama cinta remaja khas anak sekolahan yang berlatar belakang di masa depan. Cinta Untuk Dirinya. Aku membacakannya berulang kali karena Zayn yang memintanya.
Dia bilang kepadaku... "Kakak, aku akan sembuh dan aku akan jalan jalan keliling dunia bersama kakak!"
Adik yang polos. Aku membencinya, namun aku tidak bisa menunjukkan rasa benci ini terus terang kepadanya atau siapa saja. Cukup aku dan Tuhan saja yang tau jika aku membencimu. Aku tau kamu tidak bersalah, namun egoku memaksaku untuk membencimu yang lemah. Andai saja kau sehat, maka aku akan bebas dari segala kenangan mereka, bahkan mungkin aku bisa saja keluar dari rumah yang setiap harinya hanya memberikanku kenangan buruk.
Saat Zayn berusia 17 tahun, Zayn menghembuskan napas terakhirnya. Pada hari kematian Zayn juga aku ditendang keluar dari rumah itu tanpa membawa sepeser uangpun, bahkan pakaian saja tidak. Aku keluar dengan tangan kosong.
Menyebalkan sekali bukan. Memangnya apa artinya aku didunia ini? Aku tidak punya tempat untuk kembali, jika kembali ke panti asuhan aku rasa itu sudah terlambat. Sudah lebih dari 15 tahun aku tidak pernah melihat lagi wajah kepala yayasan, jikapun aku kembali beliau sudah dipastikan tidak mengenaliku. Selama bertahun-tahun aku pergi dari panti dan tidak pernah memberi kabar atau menjenguk, aku akan dicap perempuan tak tau diri jika menampakkan wajah didepan kepala yayasan.
Aku bahkan tidak memiliki kenalan... Sekarang aku hanyalah Zara yang tidak memiliki apapun...
Bunuh diri sajalah
Diatas gedung terbengkalai yang sudah diberhentikan pengerjaannya. Rintikan air hujan yang dingin mengguyur seluruh tubuhku, petir bersaut sautan menggelegar di langit malam yang gelap. Lihatlah cahaya lampu-lampu kota yang begitu indah ini, bukankah sangat mendukungku untuk melakukan bunuh diri?
Dibawah sana barang barang kontruksi yang berserakan, lalu sekarang posisiku berada di atas gedung 15 lantai. Jangan tanya bagaimana aku bisa naik kesini, tentunya menggunakan tangga dan berjalan sendiri dalam kegelapan tanpa bantuan alat penerangan, beberapa kali aku duduk di tangga karena lelah. Dipikir tidak lelah apa menaiki anak tangga satu persatu sampai lantai 15? Setelah sampai di puncak gedung pun aku terduduk sambil selonjoran dibawah hujan, rasanya seperti kakiku mau patah.
Tinggi sekali... Entahlah, tidak ada rasa ragu untuk mengakhiri hidup ini. Jika ada kehidupan selanjutnya, tolong satu saja orang yang menyayangiku sepenuh hati dan berduka ketika aku mati. Jika tidak ada, neraka ataupun surga aku siap.
Kakiku sudah melangkah kebelakang, lalu kakiku yang satunya mengikuti. Terbang, rasanya seperti terbang dibawah hujan. Langit hitam yang terus mengambarkan petir menjadi saksi berakhirnya Zara Amethyst diusia 23 tahun.
Sakit... Sakit sekali... namun semua rasa sakit itu menghilang begitu saja setelah jiwa terpisah dari tubuh.
...****************...
Erm... Tubuhku sama sekali tidak merasakan sakit apapun, bukankah suatu keajaiban jika aku bisa mati tanpa merasakan sakit. Tapi, rasa sakit yang telah aku rasakan ketika mendarat diantara barang barang kontruksi itu sangat nyata. Tidak mungkin jika itu adalah khayalanku belaka. Semuanya adalah nyata. Kematian Zayn, ditendang dari rumah, bunuh diri dibawah hujan, rasa sakit bunuh diri... Apakah aku selamat?
Aku mengangkat tanganku, menatap punggung tanganku yang terdapat sebuah selang infus.
Sejak kapan ya tanganku sekecil ini, kulitku juga sepertinya agak kecoklatan bukan putih bersih seperti ini. Sisa sisa cat kuku pada kukuku? Aku tidak pernah sekalipun menggunakan cat kuku, aku lebih suka natural.
Apa mungkin saja...
"Ah... a... a..." Benar saja, ketika aku mencoba mendengarkan suaraku sendiri ternyata suaraku telah berbeda. Suaranya halus dan lembut, apakah bunuh diri bisa menyebabkan suara berubah?
Beberapa saat kemudian seorang pria dengan setelan jas lengkap baru saja masuk, mata kami bertemu. Aku tidak mengenal siapa dia, terlihat sekali dalam kilatan matanya bahwa dia tidak ingin bertemu denganku. Apakah dia penyelamatku?
"Verra? Aku akan panggilkan dokter." Pria itu keluar lagi setelah menyebutkan nama 'Verra', apakah orang itu dengan seenaknya sendiri mengganti namaku? Namaku Zara, bukan Verra!
Beberapa menit kemudian pria itu datang lagi bersama seorang dokter dan seorang perawat wanita. Mereka pasti datang untuk mengecek keadaanku, aku baik baik saja, tidak ada yang sakit, tubuhku rasanya lemas saja.
"Nona Verra, apakah anda merasa tidak nyaman atau sakit di suatu tempat?"
Dokter itu bertanya kepadaku, tidak ada yang sakit jadi aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban 'tidak'.
Dokter mengajukan beberapa pertanyaan tentang apa yang aku rasakan, tentunya aku hanya menjawab dengan gelengan atau anggukan kepala dengan sedikit kata. Haruskah aku melakukan yang biasanya pemeran utama wanita dalam novel transmigrasi pada umumnya? Terbangun di tubuh lain dan mengatakan hilang ingatan. Tidak ada cara lain selain aku mengetahui kenapa namaku berubah menjadi 'Verra' selain membohongi mereka.
Dokter mengatakan jika aku baik baik saja, aku memang baik baik saja sejak bangun. Aku lemas karena baru saja bangun dari koma selama dua minggu. Aku bisa pulang setelah beberapa hari.
"Verra, syukurlah kau baik baik saja. Menyebalkan sekali setiap hari aku harus datang kemari dan melihatmu berbaring. Jika bukan karena kakek, maka aku tidak akan datang." Pria itu berucap dengan menatapku, tatapannya dingin dan penuh dengan ketidaksukaan. Kalau tidak suka, kenapa tidak ditolak saja? Anak penurut yang bodoh, itu adalah pria yang berdiri didekat nakas aku berbaring.
Baiklah, aku akan memulai kebohonganku sekarang. Malaikat, catatlah dosaku ini sebanyak yang kau mau.
"Tinggal tolak saja jika kau tidak mau, kau seperti ini malah seperti seorang anak penurut yang bodoh." Aku tidak peduli apapun resiko yang aku tanggung karena berbohong. Aku yakin, setelah ini akan ada kebohongan kebohongan kecil yang terucap untuk kebohongan yang aku tutupi.
Pria itu malah menatapku dengan tajam, apakah ada yang salah dengan perkataanku? "Ck!! Kau seperti tidak mengetahui sifat kakek, apa kau orang luar yang menyamar?"
"Memangnya kamu siapa? Kenapa kamu memanggilku Verra, apakah itu namaku? Aku hanya mengatakan pendapatku saja, apakah aku salah?" Kebohonganku dimulai, aku akan terus berbohong kepada siapapun. Jangan percaya padaku, orang sepertiku memangnya pantas dihargai?
Pria itu menatapku dengan bingung, bahkan dokter dan perawat tadi belum pergi dari ruangan ini juga ikut terkejut. Normal? Itu sangat normal untuk mereka yang jadi korban kebohonganku.
"Apa yang kau katakan? Kau adalah Verra Atkinson. Kamu menumpang hidup kepada keluarga kami, padahal kau bukan anggota keluarga." Pria itu berkata sambil bersedekap melipat kedua tangannya didepan dada, wajahnya angkuh sekali sampai sampai membuatku ingin memukulnya menggunakan kursi.
Sebentar... Verra Atkinson? Menumpang hidup di keluarganya? Apa yang dia katakan? Nama itu... Bukankah itu nama antagonis dalam novel yang aku buatkan untuk Zayn?! Jika sekarang aku adalah Verra... maka aku akan mati lagi ditangan pameran utama laki-laki.
Mati...
Bukankah itu bagus?