
Keluarga Atkinson adalah keluarga besar, sehingga ada yang namanya pembagian keluarga. Ada keluarga utama yang tentunya bermarga Atkinson, dan keluarga bagian yang beberapa tidak menggunakan marga Atkinson. Hingga kini Keluarga Atkinson termasuk jajaran keluarga ternama dan terkaya di negara ini. Diatas langit masih ada langit. Tentunya masih ada beberapa keluarga lain yang berada diatas keluarga besar Atkinson.
Biasanya keluarga besar Atkinson akan mengadakan pertemuan keluarga setiap tahunnya, saat musim gugur tiba.
Dalam novel 'Cinta Untuk Dirinya' Verra adalah keluarga bagian yang berhasil masuk ke keluarga utama. Dengan polosnya Verra masuk dan menganggap topeng topeng kepalsuan itu tulus. Tujuan Verra masuk kedalam keluarga utama hanyalah karena mereka menginginkan perusahaan ayah Verra. Berkembang pesat selama beberapa tahun belakangan ini bahkan EV Company yang didirikan oleh Stevan Stevenson–ayah Verra– daripada ATKINS GROUP yang sudah di wariskan selama beberapa generasi.
Itulah alasannya kenapa mereka menginginkan sesuatu yang akan menjadi milik Verra Stevenson.
Tapi...
Sampai akhir cerita 'Cinta Untuk Dirinya' EV Company tidak terjatuh ke tangan mereka. Kenapa? Karena memang hanya milik Verra Stevenson seorang, jika pemiliknya mati maka akan menjadi milik sahabat ayah Verra. Usaha mereka selama bertahun-tahun hanya berakhir dengan kematian Verra tanpa mendapatkan apapun.
**********
Zayn duduk di kursi rodanya berhadapan dengan Zara yang bersebrangan dengannya, meja bundar kecil itu tidak ada apapun selain debu. "Kak, apakah ini betulan novel genre romantis?" Tanyanya.
Zara hanya menggedikkan bahunya. "Romantis, tapi karena aku suka genre Drama jadinya ya seperti ini." Jawab Zara.
Zara membuatkan sebuah novel romantis untuk dibacakan kepada Zayn, tetapi karena kesukaan Zara adalah Drama makanya novel yang dibuatnya lebih banyak drama daripada unsur romantis. Zara bukanlah perempuan penikmat romantis uwuwuw, tapi dia adalah penikmat drama salah paham jahat baik sana sini. Itu membuatnya senang. Dadanya berdetak cepat ketika membaca bagian konflik, apalagi puncak konflik, Zara semakin senang. Itulah caranya membahagiakan dirinya sendiri tanpa memerlukan kedua orang tua angkatnya.
"Kalau ini adalah genre drama kenapa judulnya 'Cinta Untuk Dirinya'? Tidak cocok loh, Kak Za." Ucap Zayn sedikit mengkritik novel yang dibuat selama tiga bulan oleh Zara khusus untuk dibacakan kepada Zayn.
Zara menjawab, "Aku tidak pandai membuat judul, lagipula Cinta Untuk Dirinya bukan hanya tertuju pada Celine saja. Verra... Antagonis yang dikelilingi oleh orang-orang yang membencinya, dia juga berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang seharusnya."
"He??? Kakak membela antagonis? Kenapa?" Zayn bertanya karena menurutnya antagonis memang patut dibenci.
Zara hanya menggedikkan bahunya. "Aku tidak bisa membenci karakter yang aku ciptakan sendiri, sudah seperti anakku sendiri tau! Alasannya... Aku juga tak tau."
"Kenapa?" Tanya Zayn lagi.
Zara melirik kearah Zayn sejenak kemudian kembali fokus kepada ponselnya yang layarnya sudah ada beberapa retakan. "Karena aku sudah membenci orang lain, kebencian itu terus tertuju kepadanya meskipun aku tidak mau. Kebencianku hanya untuk dia, tidak bisa untuk orang lain."
"Eh? Siapa itu?" Zayn penasaran, tak biasanya kakak perempuannya ini membenci orang seperti ini.
'Itu kamu, Zayn.'
Manik yang terbungkus oleh kelopak mata itu perlahan mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk. Dia menatap langit langit putih, lampu tidak dimatikan karena tidak suka tidur dalam kegelapan, Verra terbangun pagi pagi buta karena mimpinya tadi malam.
"Ternyata hanya mimpi saja." Gumam Verra yang menutupi kedua matanya dengan pergelangan tangannya.
Memuakkan rasanya. Bagaimana dirinya bisa merasakan kehilangan setelah orang yang paling dibencinya meninggal? Tidak... dirinya hanya bingung saja. Hatinya tidak mengijinkannya untuk membenci Zayn adiknya yang sakit sakitan, tetapi egonya yang terlalu besar terus memaksanya membenci Zayn yang tidak bersalah. Bolehkah rasa benci ini terus membelenggunya bahkan setelah objek yang menjadi sasaran kebenciannya telah tiada? Ah, ia bingung sekali.
**********
"Sudah lama sekali rasanya kita tidak bertemu, Tuan Atkinson." Ucap seorang pria berjas dan berkacamata dengan senyuman profesional.
"Ya.. Dua tahun, delapan musim. Saya tidak suka basa-basi, apa tujuan anda datang kemari, Pengacara Gerion Miller?" Ucap Tuan Xendra tenang dan wajah dingin, keduanya duduk di ruang tamu.
"Ah.." Senyum profesional pria yang dipanggil Pengacara Gerion Miller itu luntur.
Pria itu adalah seorang pengacara kondang yang dikenal dengan nama Raja Persidangan, nama itu tercipta karena kehebatannya. Gerion Miller, 41 tahun. Pengacara yang sekali sewa bayarannya sangat mahal, setiap sidang selalu dimenangkan olehnya. Dia adalah sahabat dekat Stevan Stevenson. Dia... Selalu melindungi Verra dari belakang tanpa diketahui siapapun. Wasiat sahabatnya menuliskan bahwa Verra harus hidup baik, Gerion hanya menjalankan tugasnya.
"Tentunya tujuan saya kesini hanyalah untuk menemui nona Verra Stevenson, untuk membawanya keluar dari sini." Ucap Gerion serius.
"Maksud saya, saya membawa nona keluar dari sini karena itu juga tertulis dalam wasiat Tuan Stevan. Beliau menuliskan bahwa jika terjadi sesuatu kepada Nona Verra, untuk sementara Nona akan tinggal bersama saya, tenang saja saya pasti akan menjaganya dengan baik." Gerion tersenyum misterius, tugasnya harus tuntas dan ingin segera pergi dari sini. "Tentunya itu atas keinginan Nona Verra sendiri, apakah mau pergi sementara bersama saya atau tetap tinggal disini."
Keduanya saling melemparkan tatapan tajam. Tujuannya mereka sama, hanya Verra. Tuan Xendra menginginkan EV Company jatuh ke tangannya dengan memanfaatkan pewaris utama. Sedangkan Gerion, melakukan tugasnya sekaligus ingin melindungi anak dari sahabatnya dari keluarga bermuka dua itu.
"Tidak bisa!" Tegas Tuan Xendra dengan nada tinggi. Sejak dulu pria tua ini tidak suka jika ada orang yang mengambil sesuatu miliknya seenaknya saja.
Tatapan Gerion menajam, rahangnya mengeras mendengarnya. "Kenapa tidak bisa? Perjanjian kita tertulis jika sampai terjadi sesuatu dengan Nona Verra maka saya akan membawanya pergi. Dan, Nona Verra baru saja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan koma dan amnesia. Itu sudah sangat parah, Tuan Xendra Atkinson!"
Ada perjanjian hitam diatas putih antara Gerion dan Tuan Xendra. Bertuliskan tentang Verra. Hanya beberapa. Salah satunya adalah Gerion akan membawa Verra keluar dari sini jika sesuatu terjadi kepada Verra. Dan kecelakaan ini... Sesuatu yang hebat terjadi pada Verra.
"Tetap saja tidak bi––"
"Kebetulan nona Verra ada disini, bagaimana jika mendengarkan pendapatnya." Ucap Gerion dengan senyuman miring setelah memotong ucapan Tuan Xendra sesaat setelah melihat Verra sedang menuruni tangga.
Verra yang berniat keluar kamar untuk sarapan setelah dirinya mandi merasa bingung sebab kenapa ada tamu yang tiba-tiba saja menyebut namanya sekarang. Verra terhenti di anak tangga dan menatap dua orang pria yang menatapnya.
Ada apa? Aku ketinggalan berita terkini? Pikirnya yang alisnya terangkat sebelah.
"Nona Verra, kami butuh pendapatmu. Bisakah anda mendekat kemari?" Pinta Gerion dengan senyuman profesional.
Verra tidak peduli, kaki itu melangkah mendekat dan berdiri di dekat Gerion. Tetap masih dengan tatapan bingung kenapa tiba-tiba dipanggil, Verra hanya bisa menatap Tuan Xendra dan Gerion secara bergantian.
Verra di persilahkan duduk. Inginnya sih tidak duduk tapi tubuhnya bergerak sendiri.
"Nona Verra, mungkin anda tidak ingat dengan saya karena ingatan anda hilang, saya Gerion Miller. Pengacara yang menangani wasiat mendiang ayah anda sekaligus sahabat dekat ayah anda, loh! Saya senang jika Nona mengingat pria 41 tahun ini." Gerion tetap dengan senyuman profesional memperkenalkan dirinya kepada Verra.
Verra berpikir. Ternyata orang ini, Gerion Miller adalah orang yang melindungi Verra dari belakang tanpa sepengetahuan siapapun. Namun karena terus menerus dilakukan makanya menimbulkan kecurigaan dari pihak musuh–yang tak lain adalah keluarga utama Atkinson–dan malah berakhir kematian. Banyak tokoh mati dalam novel ini, novel cacat ini.
Verra kecil yang baru berusia 4 tahun menatap orang-orang yang datang untuk melayat. Tidak ada kesedihan tersirat, hanya ada kebingungan seorang anak kecil. Verra terlalu polos untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Kenapa semua orang memakai pakaian hitam? Itulah yang ada dipikirannya.
"Om Rion, om Rion!" Verra menarik ujung baju Gerion dengan tangan kecilnya. Gerion menoleh ke bawah melihat Verra, terlihat sekali jika wajahnya sangat sedih. "Kok tamunya pakai baju hitam hitam, sih? Ayah dan Ibu mana, kok nggak ada?" Tanyanya.
Gerion berjongkok, dengan senyuman kecut tangan pria itu mengusap kepala gadis kecil didepannya ini. Masih terlalu kecil dan tidak mengerti apapun.
"Om Rion, Ayah sama Ibu mana? Ayah udah janji mau bawain oleh-oleh buat Verra loh, ibu juga." Tanya polos Verra lagi.
Setitik ingatan Verra telah bersatu dengan pikirannya. Perlahan kepingan puzzle ingatan kembali kepada tubuh aslinya meskipun jiwanya sudah berbeda. Ingatan inilah yang membantunya hidup dalam dunia novel sebagai seorang tokoh antagonis.
"Om Rion ya..." Tanpa sadar Verra bergumam, dan itu cukup untuk bisa didengar oleh seorang Gerion yang memiliki indra pendengaran tajam.
"Saya senang Nona bisa mengingat saya!" Ucap Gerion senang.
"Ya, aku baru baru mengingat sedikit. Ada rasa tidak asing saat bertemu, spontan mulutku mengucapkannya."
Gerion tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Verra. Sungguh, pria berkacamata itu merasa ada perubahan dari diri Verra. Biasanya ketika dirinya datang untuk sebuah urusan dan bertemu dengan Verra, maka anak sahabatnya itu akan memalingkan wajah dan menghindari tatapan langsung. Terlihat jelas jika wajahnya tersirat sebuah ketidaknyamanan. Gerion tidak memaksa jika Verra tak ingin bertemu dengannya. Namun kali ini dengan sendirinya Verra menatap langsung, tatapan yang tersirat kekosongan dan tidak punya alasan untuk hidup. Berubah. Verra telah berubah dimata Gerion.
"Nona, kedatangan saya kesini adalah dengan tujuan untuk membawa nona pergi dari sini. Wasiat tuan Stevan menuliskan bawa saya yang akan merawat anda jika telah terjadi sesuatu kepada anda dan kecelakaan yang terjadi pada anda itu bukan lagi disebut 'terjadi sesuatu', tentunya itu dengan persetujuan nona. Apakah nona ingin tinggal atau pergi bersama saya?" Gerion menjelaskan panjang lebar untuk menyakinkan Verra agar ikut bersamanya. Merasa Verra telah berubah, Gerion yakin bahwa gadis ini akan lebih memilih untuk ikut bersamanya daripada tinggal disini bersama dengan para manusia manusia bermuka dua ini.
Verra terdiam untuk sesaat, kemudian menjawabnya. "Aku ingin ikut Om Rion, karena hanya om Rion saja yang aku ingat. Itu juga wasiat ayah, aku... mau."