
Setelah sekitar tiga puluh menit, Laville akhirnya sampai di rumah profesor Alden. Rumah profesor Alden berada di dekat perbatasan Brough Utara dengan Brough Selatan.
Setelah sampai di depan rumahnya, Laville mengetuk pintu rumahnya.
Tok! Tok! Tok!
Selang beberapa waktu, terdengar suara langkah kaki dari dalam, kemudian pegangan pintu itu berputar dan pintu terbuka. Dia melihat sosok yang tidak asing, seseorang dengan kulit coklat yang agak gelap, setelan jas bergaya tahun 1200 an dan mengenakan topi top tinggi, dan terdapat tahi lalat kecil di leher bagian kirinya, itu adalah Professor Alden.
“Oh, Laville, itu kamu. Masuklah!” Ucap professor Alden menyuruh Laville masuk. Biasanya Laville yang asli memanggilnya dengan sebutan ‘Pak Alden’.
“Baiklah.” Jawab Laville singkat, dia kemudian masuk ke dalam. Di sana pak Alden menawarkan teh kepada Laville, “Apakah kamu ingin teh?”
Laville kemudian menjawab dengan sopan, “Tidak-tidak perlu repot-repot.”. Setelah itu pak Alden mengambil dokumen hasil penilaian wawancara sebelumnya. Pak Alden kemudian menyerahkannya kepada Laville.
“Laville, ini hasil wawancara mu. Wawancara mu memang agak sedikit kurang, namun kami menemukan tempat kerja untukmu jika kamu belum menemukan pekerjaan.” Ucap Pak Alden sambil menyerahkan dokumen itu.
Setelah itu Laville berterima kasih kepada professor Alden, “Baiklah, terima kasih professor, namun kebetulan sekali aku baru saja mendapatkan sebuah pekerjaan dengan gaji yang lumayan besari.”
Pak Alden kemudian tersenyum dan tertawa, “Benarkah? Dengan kemampuanmu yang memiliki banyak kekurangan itu? Yah, tapi itu bagus untukmu bisa menemukan pekerjaan yang cocok. Jujur saja, sebelumnya aku agak meragukan mu apakah kamu akan mendapatkan pekerjaan yang layak atau tidak.”
Meskipun pak Alden berbicara seperti itu, dengan kalimat yang terlihat seperti menyindir atau merendahkan, namun sebenarnya dia bermaksud baik.
Dia seringkali membantu anak didiknya saat mengalami sebuah masalah. Pada dasarnya dia begitu baik hati.
Laville kemudian tersenyum dan membalas kata-kata itu, “Jujur saja pak, sebelumnya aku juga ragu apakah aku akan mendapatkan pekerjaan yang layak atau tidak.”
Mendengar itu pak Alden tersenyum, “Sepertinya sekarang kamu benar-benar sudah menjadi pria yang sudah dewasa Laville, aku cukup bangga padamu.”
Setelah itu pak Alden menyuruh Laville untuk mengikutinya, “Baiklah Laville, kalau begitu ikut aku sebentar!”, Laville merasa bingung, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pak Alden.
Laville kemudian mengikuti pak Alden, dia dibawa ke ruang kerja milik pak Alden, “Laville, bukankah kamu kemarin menginginkan dokumen sejarah dari zaman ketiga?”, Laville kemudian mengangguk dan menjawab, “Iya, itu benar.”
Pak Alden tersenyum lalu duduk dan mengambil dokumen di laci mejanya, “Ini dia yang kamu inginkan, aku sudah memastikan kecocokan dari dokumen itu, kau bisa membawanya pulang dan mempelajarinya meskipun itu masih belum lengkap.”
Mendengar itu Laville merasa senang, selain menerima informasi tentang sejarah dunia ini, dia mungkin bisa menemukan sesuatu untuk membuatnya kembali ke bumi.
Dia kemudian berterima kasih kepada pak Alden, “Baiklah, terimakasih atas bantuannya.”, Pak Alden mengangguk dan menjawab, “Tidak masalah.”
Laville berencana melihat sedikit dokumen itu, namun pandangannya teralihkan oleh dua kertas kuningan di meja milik pak Alden. Lalu dia mengambilnya dan mencoba bertanya, “Permisi pak, kertas apa itu?”
Pak Alden lalu menjawab, “Itu adalah buku catatan yang dibuat oleh Kaisar Kione.”, Laville terkejut, dia tidak percaya bisa langsung menemui salah satu dari pecahan buku kaisar setelah dia mengetahui tentang catatan itu satu hari sebelumnya.
Dia kemudian bertanya, “Bolehkah aku melihatnya?”, Lalu pak Alden mengizinkannya dengan ekspresi acuh, “Tidak masalah.”
Laville kemudian langsung bergegas mengambilnya, setelah itu dia berniat membacanya, namun itu tidak sesuai harapannya, catatan itu ditulis dengan huruf Cina.
Tunggu, bukankah ini huruf China?
Sial, itu sama saja aku tidak akan bisa membacanya!
Laville mendetakkan giginya, namun tanpa dia duga, tiba-tiba huruf-huruf itu terlihat berputar menjadi teks yang bisa dia pahami.
Laville pun terkejut tidak percaya, dia kemudian memandang pak Alden yang juga ikut memandangi catatan itu, namun pak alden tampak tidak melihat keanehan apapun.
Setelah melihat itu, Laville bergumam dalam hati.
Apa yang terjadi, sekarang aku bisa membacanya?
Bagaimana itu mungkin, apakah ini juga efek dari transmigrasi?
Semua ini terlalu aneh untuk disebut kebetulan, apakah ada sosok yang membuatku bertransmigrasi?
Dewa? Iblis?
Laville membuang pikiran itu sejenak, dia kemudian langsung membacanya dengan cepat dan terburu-buru.
Di buku itu tertulis catatan kaisar kione yang berbunyi:
Tanggal 20 April
Aku menyesal sebelumnya tidak memilih jalur urutan milik Seer, Marauder, Mystery Prayer, ataupun Apprentice.
Jika aku memilih salah satu dari itu, mungkin aku bisa menemukan rahasia dari transmigrasi ku. Namun itu tidak ada gunanya sekarang, aku hanya bisa mencari tahu dengan kekuatanku sendiri.
Aku berharap jika ada transmigrator lain dan membaca ini lalu memilih salah satu dari jalur itu.
Dan isi seterusnya berisikan penyesalan Kaisar karena tidak memilih Urutan beyonder yang tepat. Dan untuk di lembar kedua, itu hanya berisikan tentang kegiatan yang dilakukan kaisar seperti berburu, berkuda, dan merayakan sebuah pesta.
Jadi apakah kaisar menemukan sesuatu bahwa salah satu dari urutan itu dapat membantu untuk mencari tahu sebab transmigrasi kami?
…
Laville tenggelam dalam pikirannya, setelah itu pak Alden memanggilnya, “Itu sangat rumit bukan? Aku yakin kamu bahkan tidak akan memahami satu simbol pun. Bahkan ilmuwan yang terkenal pun belum tentu bisa mengartikannya. Hanya beberapa orang dari gereja yang mungkin bisa.”
Mendengar ucapan pak Alden, Laville kemudian memaksakan senyum dan menjawab, “Iya, anda benar. Aku bahkan tidak bisa mengerti satu simbol pun. Itu sangat rumit, tapi terlihat hebat!”, Seru Laville kepada pak Alden.
Maaf pak, tapi sebenarnya aku bisa membacanya secara kebetulan.
Kurasa itu berkah untukku…
Laville kemudian meletakkan kertas itu kembali, dia kemudian berencana untuk pergi. Setelah berbincang beberapa menit, Laville langsung berpamitan lalu kembali ke apartemennya.
…
Laville telah sampai di apartemennya, setelah itu dia langsung masuk ke kamarnya dan berbaring.
Baiklah, sekarang aku memiliki kesempatan untuk menjadi beyonders. Namun itu juga membuatku semakin cemas.
Hal-hal terjadi secara aneh di sekelilingku, aku khawatir jika aku akan berakhir terbunuh beberapa waktu setelah menjadi beyonders. Entah itu dari kebetulan yang sering terjadi, tempat misterius di atas lautan kabut, ataupun mimpi yang aneh.
Tapi mengabaikan hal-hal itu, selain aku bisa mencukupi kebutuhan Violet dan Lian, aku mungkin juga bisa mendapatkan sesuatu yang berguna agar aku bisa kembali lagi ke bumi.
Tapi jika aku menjadi beyonders, jalur mana yang harus ku pilih? Kaisar menyarankan salah satu urutan antara Seer, Apprentice, Marauder, dan Mystery Prayer. Dan kau mendapat semua rekomendasi selain Mystery Prayer.
Jika aku teliti, Seer berarti pelihat, apa maksud dari pelihat itu sendiri? Lalu Apprentice, Magang? Marauder, Perampok?
Apakah maksudnya Aku akan berbakat dalam merampok, Bekerja, atau Mengamati atau Meramal?
…
Laville terus berpikir dengan keras untuk membuat keputusan yang tepat dan matang. Dia tidak ingin keputusan yang dia ambil sia sia seperti yang diucapkan oleh kaisar.
Namun setelah itu Laville teringat suatu hal.
Tunggu, bagaimana dengan ramuan itu?
Aku ingat kemarin sebelum pertemuan, ada semacam ingatan atau adegan yang disuntikan ke kepalaku.
Apakah Ramuan itu berbahaya? Kalau tidak salah, nama ramuan itu adalah, Philosopher, seorang Filsuf!
Jika aku teliti lebih jauh, sepertinya ramuan ini memiliki nama yang lebih masuk akal dan tidak berbahaya. Namun itu tidak berarti tidak berbahaya, seperti Spectator yang dibeli miss Honesty contohnya.
Ramuan itu terdengar keren dan hebat, namun itu masihlah kekuatan beyonder, ditambah itu cukup langka. Langka artinya memiliki suatu masalah yang sulit terlihat.
Mungkin itu juga berlaku bagi Ramuan Philosopher.
…
Tapi, bahkan jika aku ingin mencoba ramuan Philosopher, aku tidak mengingat semua formula ramuan itu.
Tunggu, akankah aku mengingat ramuan itu kembali jika aku masuk ke tempat misterius itu?
Laville memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi ketika dia memasuki tempat itu. Setelah membulatkan tekadnya, Laville memutuskan untuk mencobanya.
Kurasa aku akan bertaruh untuk itu…
Setelah itu Laville kembali berdiri dan berjalan berputar arah jarum jam. Setelah itu dia merasakan perasaan jatuh dan tenggelam dan juga perasaan diseret. Dia kembali mendengar suara bising yang sangat mengganggu.
Setelah itu, dia pun berada di tempat misterius itu, dia melihat atap kubah yang terlihat seperti sebuah kastil atau istana. Dia juga melihat pilar-pilar raksasa yang menyangga kastil ini agar tetap berdiri tegak.
Dia juga melihat Kabut abu-abu yang terbagi menjadi dua warna berputar mengelilinginya.
Dia masih tidak bisa merasakan ataupun mengingat apapun, dan saat itu juga dia mengerutkan alisnya.
Apakah ini juga tidak berhasil? Atau haruskah aku memberi sebuah dorongan?
Laville kemudian mencoba mengulangi kata ‘Ramuan Philosopher’ berulang kali di kepalanya. Setelah sembilan kali dia mengucapkan kata itu, dia tiba-tiba merasa sakit di kepalanya.
Aghk!
Laville merasa kesakitan seolah otaknya sedang di tusuk, di iris, dan di cincang. Lalu kemudian dia kembali mendengar suara dari dalam kepalanya.
Ramuan baru, Philosopher.
Bahan ramuan: Otak Gurita Serlof, 7 buah jahe, 100ml Jus Nanas, 2Oml Minyak Ikan, 20ml Minyak Zaitun, 200ml Air Murni.
Tuhan yang maha esa, Engkau adalah penguasa seluruh semesta dan isinya. Engkau adalah sang maha pencipta dan maha kuat. Engkau yang menciptakan seluruh makhluk, Engkau adalah sang pemberi dan yang mengambil.
…
Gah!
Laville kembali tersadar dan terkejut dengan apa yang dia dengar dari dalam kepalanya.
Ap-Apa itu tadi? Apakah itu mantra yang sebelumnya tidak dapat aku dengar?
Tapi mantra itu… Bukankah itu mirip dengan mantra Peningkatan Kemampuan?
Berbagai pemikiran muncul di benaknya, dia begitu penasaran tentang mantra itu, namun dia tidak bisa berpikir jernih dengan rasa sakit di kepalanya.
Setelah itu dia memutuskan untuk kembali ke dunia nyata dan mencatat ramuan itu sebelum dia melupakannya.
Setelah kembali, dengan rasa sakit di kepalanya, Laville segera pergi ke mejanya dan mengambil sebuah kertas kuningan tua serta pulpen tinta.
Setelah itu dia segera mencatat semua yang baru saja dia dapatkan, namun dia memisahkan mantra itu ke kertas lain.
Setelah selesai, Laville langsung mendesah lega. Dia merasa lelah karena telah berjalan lama untuk mencari jejak buku catatan tahun kiamat dan pergi ke rumah pak Alden. Karena itu, Laville mencoba untuk tidur siang.
…