The Truth Of The Mysteries

The Truth Of The Mysteries
Persiapan Gathering



Tiga puluh menit berlalu, Laville sampai di rumahnya. Saat ini sudah jam setengah empat sore. masih ada dua jam sebelum Violet dan Lian pulang.


Dia segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu ruangannya. Setelah memastikan sekitarnya aman, Laville mengambil air terlebih dahulu karena haus. Setelah itu dia kembali ke kamarnya.


Dia kemudian berdiri lalu berjalan tiga langkah berlawanan arah jarum jam namun tidak dalam bentuk segitiga, kemudian dia membaca mantra, “Tuhan yang menciptakan alam semesta dan isinya. Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Tuhan yang maha pengasih. Tolong berikan rahmat mu, hamba mu ingin bantuanmu untuk menjadi lebih baik.”


Setelah itu Laville mengambil empat langkah lagi berlawanan jarum jam sehingga seperti gerakan berputar.


Lalu Laville merasa seperti rohnya diangkat. Saat itu juga dia melihat pemandangan seperti air laut kemudian terus naik hingga melihat lautan dari kabut. Dalam proses itu, Laville mendengar suara menjengkelkan dan keras yang membuat siapapun yang mendengarnya akan menjadi gila dan hancur.


Dalam sekejap suara itu kembali menghilang, visinya yang sebelumnya kabur menjadi jelas. Dia masih melihat pemandangan yang sama, itu adalah sebuah ruangan yang terlihat seperti tanpa ujung.


Tempat itu dipenuhi oleh kabut berwarna hitam dan sisi lain berwarna putih keabu-abuan. Masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum pertemuan yang dijanjikan. Laville kemudian pergi ke kursi kehormatan berpunggung tinggi yang terbuat dari batu dan perunggu.


Di belakang kursi yang dia tempati, sekarang terdapat sebuah simbol aneh yang sebelumnya dia tidak menyadarinya.


Itu adalah simbol mata dengan garis-garis melengkung ke dua arah, atas dan bawah. Itu memberinya perasaan bahwa garis-garis itu melambangkan misteri dan kebenaran di salah satunya.


Mata itu memiliki murid dengan simbol yang agak mirip seperti simbol Integral dalam Matematika. Lambang itu juga memberikannya perasaan ketidaktahuan, dan rumit.


Laville lalu duduk di kursi itu dengan kepala yang merasa pusing setelah melihat lambang yang ada pada kursi kehormatannya.


Dia kemudian melihat titik merah tua ilusi, dia kemudian mencoba menyentuhnya. Kemudian dia melihat proyeksi dari titik cahaya merah tersebut. Dia melihat dirinya sendiri di dalam kamar sedang berdiri seperti saat dia melakukan ritual.


“Tunggu, itu adalah aku? Jadi selama gathering berlangsung aku akan tetap berdiri seperti itu… Itu artinya jika aku terlalu lama di sini dengan mengabaikan energi yang digunakan untuk masuk ke dalam tempat ini maka tubuhku juga akan tetap mengalami kelelahan.” Ucap laville menganalisa apa yang terjadi pada dirinya selama berada di ruangan ini.


Laville kemudian melihat kursi yang lain, dia juga melihat kursi lain, kemudian dia melihat dua kursi yang sebelumnya ditempati oleh The Wisdom dan The Honesty sebelumnya juga memiliki titik cahaya.


Cahaya itu tiba-tiba mendekat, Laville kemudian mencoba menyentuhnya namun tidak menampilkan proyeksi seperti sebelumnya.


Karena tidak terjadi reaksi apapun, Laville beralih mengamati area yang lain. Dia kemudian melihat ke atas, setelah itu dia melihat kubah besar yang seperti disinari oleh cahaya yang sangat terang.


“Bukankah ruangan ini tampak terlalu besar untuk manusia? Ini lebih mirip seperti tempat untuk raksasa pada zaman kuno.” Ucap laville setelah melihat betapa luasnya ruangan ini.


Setelah itu dia mencoba melihat dirinya sendiri. Dia masih memakai pakaian seperti yang dia kenakan di dunia nyata. Dia juga masih terlihat membawa barang-barang dari dunia nyata.


Kemudian Laville mencoba mengambil arloji sakunya, kemudian dia melihat arloji itu masih berfungsi namun dia merasakan bahwa arloji itu bukanlah sebuah benda asli, itu seperti proyeksi yang bisa dirasakan seperti benda nyata.


Saat ini masih jam empat kurang lima belas menit. Aku masih punya cukup banyak waktu.


Setelah itu Laville mencoba menelusuri are sekitar. Dia kemudian terus berjalan memutari meja yang digunakan Laville. Setelah merasa masih jauh untuk mencapai ujung, Laville berjalan lurus membelakangi kursi kehormatan.


Dia terus berjalan sekitar lima menit, setelah merasa sudah cukup lama mencari. Laville berniat untuk kembali dan memulai gathering.


Namun saat dia berbalik, dia merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Dia merasa kepalanya seperti ingin meledak.


Laville kemudian memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil berteriak. Dia kemudian terjatuh dan berbaring memegang kepalanya yang terasa sakit. Saat itu tubuhnya seperti mendidih, tubuhnya memanas namun tiba-tiba kembali dingin dan berlanjut menjadi sangat dingin seperti es.


Disisi lain, kabut di ruang misterius ikut mendidih dan kemudian berputar, warna kabut menyatu menjadi abu-abu yang lebih gelap.


Beralih ke Laville yang masih merasakan sakit seperti otaknya dicincang oleh banyak pisau. Laville merasa ingin menghancurkan kepalanya.


Namun saat itu juga, rasa sakit itu diiringi oleh gambaran yang terlihat seperti sebuah ingatan yang terlupakan.


Dia melihat sebuah sosok dengan jubah hitam dan putih perak di bagian dalamnya. Sosok itu membawa buku dengan sampul hitam, namun seluruh wajahnya tertutup.


Lalu Laville melihat mulut sosok itu bergerak. Dia kemudian mendengar beberapa kalimat.


Kalimat itu diucapkan dengan nada yang terdengar mendominasi dan kejam.


Kalimat itu berbunyi :


Ramuan Beyonders, Philosopher.


Bahan utama, dua otak gurita Serlov.


Bahan tambahan, minyak zaitun, jus jeruk, air murni, lima daun mint.


Masukan kertas mantra kedalamnya. Mantra yang dibutuhkan adalah…


Laville tidak bisa mendengar mantra itu. namun dia melihat sebuah halaman dengan simbol-simbol aneh yang tidak dia ketahui dan ditulis seperti sebuah kalimat.


Lalu tanpa sadar, rasa sakit yang dialami Laville sudah berhenti. Laville masih setengah sadar dan linglung.


Dia masih melamun beberapa saat. Setelah pikirannya kembali, dia langsung melihat sekelilingnya.


Kabut abu-abu gelap berputar dan terus berputar, namun kabut itu kembali seperti semula dengan sendirinya.


Ruangan ini kembali dipenuhi dengan kabut yang terbagi menjadi bagian gelap dan terang. Setelah kesadarannya benar-benar kembali, dia mencoba untuk berdiri, namun tubuhnya terasa begitu lemas hingga membuatnya sulit berdiri.


Laville berusaha dengan keras untuk bangun namun dia tetap tidak bisa melakukannya, “Sialan! Apa itu tadi? Apa itu sebenarnya? Siapa orang itu? Apakah dia yang membawaku kemari?”


“Setidaknya untuk sekarang, aku ingin bisa berdiri. Tapi bagaimana…”


Setelah itu tiba-tiba sebuah tongkat kayu kokoh bertatahkan perak seperti yang di beli Laville sebelumnya muncul di hadapannya.


Laville menjadi terdiam setelah melihat itu, “... Apakah aku bisa menciptakan sesuatu yang aku butuhkan dengan pikiranmu di tempat ini, ataukah tempat ini memberi sesuatu yang mungkin aku butuhkan? Apakah ruangan ini sebenarnya hidup?”


Setelah terdiam beberapa saat, Laville kemudian mengambil tongkat tersebut. Dengan susah payah, dia berhasil berdiri, dia kemudian pergi ke kursi kehormatan berpunggung tinggi.”


Setelah duduk, dia kemudian bersantai sejenak. Kemudian dia kembali mencoba melihat titik cahaya merah milik The Wisdom dan The Honesty.


Kali ini berbeda seperti sebelumnya, kali ini dia bisa melihat proyeksi dari titik cahaya itu. Namun adegan yang diproyeksikan tampak kabur dan kurang jelas. Dia melihat lautan luas dan geladak kapal dari proyeksi bintang The Wisdom, sedangkan untuk The Honesty, dia melihat sosok gadis kecil yang bermain dengan kucing-kucingnya.


Setelah melihat itu, Laville kemudian ingin mencoba sesuatu. Dia kemudian menyentuh cahaya bintang merah kecil tiga kali.


Lalu dia melihat kembali proyeksi milik mereka.



Di Laut Kabut, Barthez sedang berada di geladak kapal, dia mengamati badai yang akan segera tiba.


Saat ini Barthez Wilson sebagai kapten kapal dan sekaligus anggota dari gereja dewa laut sedang dalam sebuah misi.


Misi Barth adalah mengawasi pergerakan para bajak laut yang mencurigakan. Tentu saja sebagai anggota dewa laut, penyamaran yang paling bagus adalah dengan menjadi bajak laut juga.


Saat ini Barth memanggil wakil pertama, Barth menanyakan tentang persediaan dan kondisi kapal. “Cleric!”


Cleric kemudian segera datang setelah mendengarnya, “Iya kapten, ada apa?” Barth kemudian bertanya, “Bagaimana persedian kita di kapal saat ini?”


Cleric kemudian menjawab, “Persediaan kita saat ini masih cukup banyak, namun untuk berjaga-jaga sebaiknya kita bisa pergi ke pulau untuk menambah pasokan. Mungkin kita harus pergi ke Kepulauan Roasted.”


“Begitukah? Kalau begitu bagaimana dengan kondisi kapal dan anggota saat ini?” Tanya Barth.


Cleric kemudian menjawab, “Semua ada dalam kondisi yang sangat baik.” Setelah mendengar itu Barth kemudian berkata, “Kalau begitu kita bisa pergi ke Kepulauan Roasted setelah badai.”


Tiba-tiba visi Barthez menjadi merah dan dia melihat sebuah tempat mirip istana raksasa yang terlihat seperti tempat tinggal raksasa. Dia juga melihat kursi kehormatan dan sosok Kepalsuan yang dia temui sebelumnya.


Visinya kemudian pulih secara tiba-tiba, Barth kemudian menyuruh Cleric untuk mempersiapkan kapal untuk badai. “Cleric, batu persiapan kapal untuk badai. Aku akan pergi ke ruanganku sebentar.!” Cleric kemudian menjawab, “Baik kapten!”


Lalu Barth pergi sambil bergumam, “Sepertinya itu sinyal untuk pertemuan.”



Di sebuah vila keluarga Hall, Lucia sedang bermain dengan ketiga kucingnya.


Lucia sedang asik bermain dengan kucing-kucingnya. Di sisi lain di luar pintu kamar Lucia, pelayannya Mela mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


“Nona Lucia, Count Hall dan Nyonya Hall menyuruh saya untuk membantu anda mempersiapkan anda untuk pesta malam nanti.” Lucia kemudian menoleh ke arah pintu dan menjawab, “Tidak bisakah aku menggunakan Gaun yang telah dibuatkan oleh Nyonya Guinevere saja?”


Pelayannya, Mela pun menjawab, “Tentu saja tidak, anda tahu sendiri bukan. Pesta ini bukan pesta biasa, melainkan acara pesta yang akan dihadiri oleh para bangsawan dari keluarga Baron sampai keluarga Duke.”


“Yah, kau benar juga. Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan memberi makan Nini, Rui, dan Sie terlebih dahulu.” Jawab Lucia kepada pelanyannya. Pelayan itu pun menjawab, “Baiklah Nona, tapi tolong cepatlah, Count Hall dan Nyonya Hall sedang menunggumu.”


“Baiklah.” Jawab Lucia singkat…


Setelah beberapa menit, Lucia pergi memilih baju yang juga telah dipilihkan oleh pelayannya. Pelayan itu kemudian memakaikan gaun berwarna hijau dan putih dengan sedikit warna emas.


Lucia kemudian bertanya kepada pelayannya, “Mela, menurutmu bagaimana dengan gaun ini. Ku rasa ini terlihat sangat bagus.”


Pelayannya mela pun menjawab, “Iya nona, itu terlihat sangat anggun dan menawan ketika anda memakainya.” Lucia kemudian berkata, “Kalau begitu aku akan memakai gaun ini saja untuk pesta nanti.”


Lucia kemudian langsung pergi ke kedua orang tuanya.


Di ruangan Count Hall, Lucia kemudian mengetuk pintu. Setelah Count Hall menyuruhnya masuk, Lucia kemudian memberikan salam, dia sedikit membungkuk dan mengangkat gaunnya, seperti halnya yang sering dilakukan oleh para bangsawan.


Count Hall dan istrinya melihat putri mereka, Lucia yang tampak cantik dengan gaunnya tersenyum bahagia melihat putri mereka.


“Oh putriku… Lucia kecilku sekarang sudah tumbuh dewasa dan semakin cantik. Matamu yang seperti berlian membuatmu terlihat lebih cantik dan anggun.” Ucap Count Hall setelah melihat Lucia.


Lucia kemudian menjawab, “Ayolah ayah, jangan panggil aku kecil lagi. Aku sudah hampir dewasa.” Nyonya Hall kemudian berkata, “Baiklah putriku yang cantik. Jadi bagaimana menurutmu tentang pesta nanti?”


Lucia kemudian menjawab, “Jujur saja, aku tidak terlalu menyukainya. Aku sedang ingin fokus belajar melukis dan membaca novel-novel hebat lain.” Setelah mendengar itu, Count Hall lalu berkata, “Meski begitu, kamu harus tetap menghadirinya karena ini adalah pesta dengan para bangsawan dari kerajaan Leon. Kamu harus terbiasa, karena kamu akan sering mengikuti suatu hari nanti.”


“Baiklah ayah…” Jawab Lucia agak kecewa. Namun di tengah pembicaraan mereka, Lucia tiba-tiba melihat sebuah tempat raksasa dan luas dan tinggi seperti istana kuno tempat tinggal raksasa. Dia juga melihat sosok The Fake yang sebelumnya membawanya ke tempat misterius.


Setelah visinya pulih, Lucia kemudian pergi dengan terburu buru, “Ayah! Ibu! Aku ingin pergi ke kamar untuk menyelesaikan lukisanku. Aku juga ingin merapikan ketiga kucingku!” Count Hall pun menyetujui permintaan putrinya. “Baiklah, kamu bisa pergi ke kamarmu, berhati hatilah, jangan berlari agar kamu tidak terjatuh.”


Lucia lalu menjawab dengan nada yang agak jengkel, “Bukankah aku sudah bilang aku bukan anak kecil lagi.” Count dan istrinya tersenyum dan tertawa mendengarnya dan membiarkan Lucia kembali ke kamarnya.