The Truth Of The Mysteries

The Truth Of The Mysteries
Catatan Kaisar Kione



"Mungkin anda tahu, bahwa kaisar Kione adalah penguasa yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia. Dia telah membawakan berbagai hal yang menakjubkan seperti permainan seperti kartu, dan sebagainya. Selain itu kaisar Kione juga memiliki ide-ide yang menakjubkan tentang mesin, sehingga menciptakan berbagai penemuan seperti kapal, senjata api, dan alat komunikasi, dan sebagainya." Jelas Barth kepada Laville.


Laville kemudian mengangguk dan berkata, "Ya, aku tahu tentang itu."


Setelah itu Barth kemudian kembali menjelaskan tentang kaisar Kione kepada Laville. “Kalau begitu, aku akan melanjutkan. Para sejarawan menemukan bahwa selama hidup, kaisar Kione telah menulis sebuah buku yang diduga sebagai buku catatan. Namun tidak ada orang yang benar-benar bisa menerjemahkan buku catatan itu.”


Barth berhenti sejenak, melihat nona Honesty dan The Fake masih terdiam dia kemudian melanjutkan, “Mereka tidak bisa menerjemahkan buku itu karena itu ditulis dengan simbol rumit yang tidak diketahui dari mana asal simbol itu.”


“Banyak yang menganggap itu dibuat oleh kaisar sendiri ataupun bahasa yang lebih kuno dari yang kita tahu. Namun keberadaan buku itu tidak lagi tetap karena dahulu kala, buku itu dirobek dari sampulnya dan disebar sehingga tersebar ke berbagai wilayah.


“Dan tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa tulisan dari buku catatan kaisar itu dapat memberikan kekuatan yang hebat.” Jelas Wisdom kepada The fake dan The Honesty.


Setelah itu Laville mengangguk dan berkata, “ Jadi begitu… Itu cukup menarik.” Dan di sisi lain, Lucia yang mendengar penjelasan The Wisdom kemudian ingin bertanya tentang apa yang telah dia simpan. Lucia kemudian bertanya, “Tuan Wisdom! Apakah menurut anda tulisan itu ditulis bersama dengan orang yang penting baginya?”


Barth, The Wisdom lalu menjawab, “ Entahlah, aku juga tidak tahu.”



Diskusi itu berlangsung selama sepuluh menit di ruangan misterius itu. Setelah itu Laville merasa tenaganya terkuras habis.


Kemudian dia bertepuk tangan sebagai isyarat berakhirnya pertemuan.


Pa! Pa! Pa!... “Baiklah semuanya. Pertemuan akan berakhir di sini.” Ucap Laville untuk menutup pertemuan itu. Setelah itu The Wisdom Berdiri dan sedikit membungkuk, dia kemudian berkata, “Sesuai keinginanmu!”


Setelah itu, The Honesty kemudian meniru yang dilakukan The Wisdom, “Sesuai Keinginanmu!”


Kemudian visi mereka menjadi merah dan kembali ke tempat awal mereka.



Di laut Kabut


Barth Wilson yang berada di ruangannya menatap sekeliling. Dia masih melihat ruang yang sama, tata letak yang sama, dan posisi yang sama.


Setelah itu dia bergumam, “Tempat itu sungguh misterius. Bahkan tidak ada yang sadar apa yang terjadi padaku. Selain itu… Sosok itu, The Fake sangat aneh. Dia bisa berbahasa leon dan berpenampilan seperti orang Leonese, namun dia juga tidak tahu tentang buku catatan Kaisar Kione yang mana Kerajaan Birtish sendiri bersebelahan dengan Kerajaan Leon.”


Barth masih berpikir untuk beberapa menit, karena masih tidak tahu dari mana sosok misterius yang membawanya ke tempat misterius yang dipenuhi kabut kelabu tak berujung itu. Dia kemudian memutuskan untuk mencarinya di dokumen gereja ketika kembali.


“Kurasa lebih baik untuk mencoba mencari tahunya di dokumen gereja Dewa badai.” Gumam Barthez.


Setelah itu Barth keluar ke geladak dan melihat awak kapal yang siap memasuki badai.



Di Synter Kediaman Keluarga Hall


Lucia Evn Hall masih merasa agak tidak enak hati setelah diceramahi oleh The Wisdom. “Cck! Itu tadi benar-benar menyebalkan. Apakah aku benar-benar dianggap tidak sopan? Aku sudah belajar tentang kesopanan sejak kecil karena terlahir sebagai bangsawan.”


Dengan perasaannya yang masih tidak menerima bahwa dia dianggap kurang sopan, pelayannya kemudian datang mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


“Nona Lucia, teman anda sudah datang.” Ucap pelayannya, Senie, kepada Lucia. Setelah itu Lucia langsung kembali bersemangat dan ingin bertanya kepada temannya.


Dia kemudian menjawab, “Baiklah, tunggu sebentar. Biarkan mereka masuk ke ruangan yang biasa ku gunakan!” Pelayannya, Senie kemudian menjawab, “Baik nona.”



Di Calses Apartemen Laville,


Laville yang baru saja kembali dari tempat misterius itu merasa kelelahan. “Masuk ke tempat itu dan melaksanakan pertemuan benar benar melelahkan.”


Setelah itu Laville berbaring dan melihat arloji sakunya. Jan itu menunjukan pukul setengah lima lebih sepuluh menit. Waktu di luar dan di tempat misterius itu benar-benar dapat terhubung.


Empat puluh menit? Jadi… Pertemuan itu berlangsung selama sekitar tiga puluh menit? Dan sepuluh menit aku menjelajahinya?


Laville mencatat kejadian itu di kepalanya. Dia lalu memutuskan untuk tidur sebentar sampai kedua saudaranya pulang.



Dentang! Dentang!


Lonceng Katedral berbunyi, itu menandakan bahwa hari akan berganti gelap.


Laville kemudian bangun karena suara lonceng yang bergema. Setelah itu dia melihat arloji sakunya, itu jam lima lebih lima puluh menit.


Sudah sore… Kenapa Violet belum pulang ke rumah? Bukankah seharusnya dia pulang paling lambat jam setengah enam?


Laville merasa keheranan, dia memikirkan kemungkinan yang terjadi. Mengingat kejadian yang dialami oleh pemilik asli tubuh ini dan temannya, Laville merasa khawatir dengan keselamatan adiknya.


Namun di tengah-tengah pemikiran itu, suara Violet kemudian terdengar dari luar … Violet kemudian masuk dan melihat kakaknya, Laville sedang berdiri memandang area pintu.


Setelah itu Violet kemudian bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan?" Setelah itu Laville menghembuskan nafas dan menjawab, "Tidak-Tidak ada. Kenapa kamu baru pulang sekarang?"


Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Violet agak bingung, "Apakah kamu tidak ingat? Aku memiliki tugas berkelompok dengan Venica dan Hanna juga…" Ucap Violet kepada Laville.


Laville kemudian sedikit memiringkan kepalanya dan menjawab, "Oh, benarkah!? Aku tidak ingat."


Tanggu! Ini terasa agak aneh… Bagaimana aku tidak memiliki ingatan tentang itu.


Tidak, mungkin memang sebelumnya pemilik asli tubuh ini tidak mendengarkan…


Setelah melihat kakaknya yang sedang berpikir, pandangan Violet teralihkan oleh pakaian yang dikenakan kakaknya.


Violet kemudian bertanya dengan heran, "Laville, mengapa kamu memakai pakaian itu?"


Laville kemudian berhenti berpikir dan menjawab, "Ini? Aku sebenarnya mendapatkan penawaran kerja kemarin, jadi aku menerimanya."


Violet kemudian bertanya lagi, "Lalu dari mana tongkat itu, apakah kamu membelinya?" Tanya Violet curiga.


Laville kemudian tersenyum dan berkata, "Tolong rahasiakan ini dari Lian oke? Aku mendapatkan uang muka sebesar gaji ku selama seminggu setelah aku menandatangani perjanjian."


Violet kemudian bertanya dengan heran, "Memangnya berapa yang kamu dapat?" Setelah itu Laville menjawab dengan suara rendah, "Tiga Pound."


Ah tunggu, jika aku memberi tahu Violet tentang gajiku maka…


Aku juga harus bersikap seperti seseorang yang memiliki pendapatan Tiga Pound juga…


Itu akan menjadi masalah lain, aku agak ceroboh.


Violet terkejut, "Apa? Sungguh!?" Laville kemudian mengangguk dengan bersungguh-sungguh, "Tentu saja." Violet kemudian kembali curiga, dia kemudian bertanya, "Kamu tidak melakukan pekerjaan yang ilegal kan?"


Laville kemudian menjawab dengan serius, "Tentu saja tidak. Aku masih bekerja dengan perusahaan yang masih berhubungan dengan pemerintah." Violet terkejut, "Jadi sekarang kamu menjadi pegawai negeri?" Mendengar pertanyaan itu, Laville sedikit berpikir kemudian menjawab, "Entahlah, tapi kurasa tidak. Aku juga tidak yakin." Ucap Laville sambil mengalihkan pandangannya ke Violet.


"Begitu… Yap, tapi itu bagus karena kamu bisa menemukan pekerjaan untukmu sendiri." Ucap Violet memuji Laville. Laville kemudian menyuruh Violet untuk segera membersihkan diri, "Kalau begitu, masuklah dan bersihkan dirimu. Aku akan membuat makan malam."


Violet kemudian mencoba mengkonfirmasi, "Kamu akan benar-benar memasak hari ini?" Laville kemudian mengangguk dan berkata, "Iya." Violet kemudian bertanya sekali lagi, " Sungguh?"


Laville tertawa dan berkata, "Tentu saja sungguhan." Violet tampak senang dan bersemangat, "Aku ingin segera mencicipi makanan lezat apa lagi yang akan kamu buat, itu pasti tidak kalah lezat dari sebelumnya."


Laville agak kehilangan kata-kata, "Ku rasa itu belum tentu…"



Setelah beberapa waktu,Violet dan Laville sudah selesai membersihkan diri. Kemudian mereka mendengar suara ketukan pintu.


Tok! Tok! Tok!


Violet kemudian membukakan pintunya, dia melihat sosok pria yang cukup mirip dengan Laville. Sosok itu adalah kakaknya, 'Lian'.


“Aku pulang…” Suara Lian terdengar sampai ke dapur. Setelah itu Violet dan Laville menjawab bergiliran. “Selamat kembali Lian.” Violet kemudian menyuruh Lian untuk segera mandi, “Lain, cepat bersihkan dirimu dan bersiap untuk makan.”


“Kenapa tidak nanti saja, aku masih merasa lelah.” Ucap Lian dengan nada lemas yang di buat-buat. Violet kemudian berkata, “Tidak-tidak, kamu harus segera mandi, Laville sedang menyiapkan makan malam.”


Lian agak terkejut, dia kemudian bertanya kepada Violet, “Lian memasak lagi? Apakah itu makanan yang sama seperti kemarin?” Violet kemudian menjawab dengan agak ragu, “Entahlah, tapi dia bilang akan memasak masakan yang berbeda.”


“Sungguh? Aku ingin tahu apa yang akan dia buat.” Ucap Lian dengan penasaran. Violet kemudian menjawab, “Kalau begitu cepatlah bersihkan dirimu.” Lian pun menjawab sambil menghela nafas, “Baiklah, aku akan pergi ke kamar mandi setelah ini.”



Di dapur, Laville menyiapkan panci penggorengan, dia memanaskan minyak dengan api kecil. Sambil menunggu penggorengan cukup panas, Laville memotong sisa daging sebelumnya.


Dia memotongnya agak kecil, setelah itu kemudian memasukkan daging itu ke penggorengan. Dia kemudian memotong rempah-rempah, dan mencincang beberapa bumbu. Dia kemudian mengambil panci, dia memasukan minyak zaitun kemudian memasukkan bumbu yang sebelumnya. Setelah itu dia beralih mengangkat daging yang setengah matang.


Daging setengah matang itu kemudian dimasukkan ke panci berisikan kuah yang dimasak sebelumnya. Setelah itu Laville menunggu hingga matang.


Setelah matang, Laville kemudian memindahkan panci itu ke atas meja.


"Baiklah, Violet, Lian. Ayo segera bersiap untuk makan malam." Ucap Laville memanggil kedua saudaranya.


"Sudah selesai? Itu cukup cepat… Apa yang kamu buat kali ini?" Tanya Lian kepada Laville. Laville kemudian menjawab, "Kamu juga akan mengetahuinya nanti."


"Jujur saja Laville. Sepertinya akhir-akhir ini kamu cukup menyebalkan." Ucap Lian kepada Laville sambil tersenyum.


"Itu wajar saja bukan, apalagi ketika ada maksud tertentu, benar bukan Violet?" Jawab Laville. Violet kemudian tersenyum dan sedikit tertawa, "Iya, lumayan benar."


Lian kemudian memiringkan kepalanya dan mengerutkan keningnya, dia lalu berkata, " Apa yang terjadi? Apakah kalian merencanakan sesuatu kepadaku?"


Violet lalu menjawab, "Tidak-Tentu saja tidak." Meski mengatakan itu, Violet tetap tidak dapat menahan keinginannya untuk tertawa.


Lian lalu bertanya tentang yang direncanakan oleh kedua adiknya ini. "Hai, ayolah, apa yang sebenarnya kalian rencanakan. Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu, lagipula kalian bahkan tidak bisa menahan tawa kalian."


Laville tertawa dan kemudian membalas, "Sungguh tidak ada apapun. Kami hanya teringat sesuatu yang kami bicarakan sebelum kamu sampai di rumah."


"Sungguh? Aku tidak percaya." Ucap Lian dengan tatapan curiga. Laville lalu mengajak semuanya untuk makan malam. "Baiklah, kita sudahi saja di sini. Mari kita bersiap untuk makan malam."


"Baiklah, aku akan menyiapkan minuman nya." Jawab Violet singkat.


Setelah itu mereka mengambil makanan nya masing-masing. Daging yang digoreng setengah matang kemudian dimasak dalam kuah terasa empuk, kuah yang dicampuri dengan saus juga terasa enak. Kombinasi pedas manis dan sedikit gurih membuat seseorang ingin terus memakannya.


Dikombinasikan dengan teh hangat membuatnya menjadi lebih nikmat dan membuat tenggorokan tetap basah dan nyaman.


Hmm… Makanan kali ini juga cukup Lezat…


Mungkinkah aku memang berbakat dalam memasak?