The Truth Of The Mysteries

The Truth Of The Mysteries
Wawancara



“Masuklah.”


Suara Dunn Stein yang dalam terdengar dari dalam ruangan. Laville kemudian mendorong pintu itu perlahan.


Dia sedikit membungkuk dengan memegang topi di dadanya, “Selamat pagi kapten Dunn Stein.”


Dunn Stein sedang membaca sebuah dokumen sambil menghisap pipa rokok, dia kemudian berkata, “Duduklah.”


Laville kemudian duduk dan bertanya, “Kapten, sebagai anggota sipil Mystery Hand apa tugas yang harus aku lakukan?”


Dunn Stein yang sedang menyesap kopinya kemudian meletakan dokumennya dan berkata, “Baiklah, kau tampaknya begitu bersemangat. Kalau begitu, misi pertamamu adalah pulang dan carilah petunjuk dimana kemungkinan kamu meletakan atau menyembunyikan buku catatan itu.”


Laville agak kebingungan dan bertanya, “Tunggu, apa?” Dunn kemudian mengulanginya lagi, “Kembalilah dan cari petunjuk tentang dimana kemungkinan buku catatan itu berada.”


Laville masih tidak percaya dan mencoba untuk memastikan, “Sungguh? Ini bukan candaan bukan.”


Dunn Stein lalu tersenyum dan berkata, “Tentu saja… Keberadaan buku catatan itu sangatlah penting, lebih penting dari yang bisa kamu bayangkan.”


“Baiklah, aku sedikit paham sekarang. Jadi… Aku benar-benar harus langsung pergi?” Tanya Laville kepada kapten Dunn Stein. Kapten Dunn Stein lalu menjawab, “Tidak juga, kamu bisa tetap di sini selama beberapa saat untuk membiasakan diri dengan The Mystery Hand.”


“Baiklah, terima kasih. Kalau begitu aku akan mengunjungi Claire sebelum pergi.” Ucap Laville. Dunn Stein lalu mengangguk dan berkata, “Baiklah, kamu bisa pergi sekarang.” Ucap Dunn sambil meneliti beberapa dokumen di hadapannya.


Saat itu, Laville berdiri dan membalikan badan, dia kemudian berjalan ke pintu. Saat dia ingin membuka pintu, Dunn memanggilnya, “Oh, tunggu! Aku melupakan sesuatu.”


Lagi? Kapten bisakah anda mengatakan semuanya sekaligus? Kenapa anda terlihat seperti sering melupakan sesuatu?


Laville tersenyum dan kembali ke hadapan Dunn Stein, “Iya kapten.” Dunn Stein kemudian membalik-balik salah satu dokumen dan mengambil sebuah foto dan memperlihatkannya kepada Laville.


Laville kemudian melihat foto itu, Itu adalah seorang pria setengah baya dengan wajah yang terlihat agak pucat. Dia memiliki rambut coklat namun beberapa berwarna putih. Dia menggunakan pakaian yang sering digunakan oleh uskup agung gereja, wajahnya berbentuk agak oval, dan matanya berwarna hijau kusam.


Setelah selesai mengamati, Laville ingin bertanya kepada Kapten Dunn Stein, namun Dunn langsung menjawab sebelum Laville sempat bertanya, “Itu adalah seorang uskup agung Gereja Dewa Misteri, jika kau melihatnya di suatu tempat maka berhati-hatilah dan segera laporkan ke Mystery Hand.”


Laville bingung dan bertanya, “Kenapa aku harus berhati-hati? Bukankah dia anggota gereja seperti kita?”


“Ya, itu benar. Sebelumnya memang seperti itu.” Ucap Dunn Stein, “Sebelumnya?” Laville masih tampak kebingungan.


Setelah itu Dunn menjelaskan kepada Laville, “Ya, dulu dia memang anggota gereja, Namun dua hari yang lalu dia mengkhianati gereja dan mencuri salah satu artefak tertutup yang berbahaya.”


Laville terkejut, dia kemudian bertanya, “Tunggu, apa!? Kenapa dia mengkhianati gereja? Dan juga… Apa yang dimaksud dengan artefak tertutup?”


Dunn kemudian menghela nafas dan menjawab, "Entahlah, kami masih tidak tahu pasti kenapa dia berkhianat. Dan untuk artefak tertutup, itu adalah sebutan dari gereja untuk benda benda yang memiliki kekuatan mistik. Dan kebanyakan dari mereka sangat berbahaya dan memiliki efek samping yang mengerikan jika digunakan."


Laville sedikit mengangguk sebagai tanda bahwa dia sudah paham, namun setelah itu dia kembali bertanya kepada Dunn Stein, "Lalu kapten, artefak seperti apa yang dia curi?"


Dunn lalu menatap Laville dengan mata abu-abunya yang dalam, "Itu adalah sebuah pena bulu berwarna putih dan emas. Artefak tersebut memiliki nomor seri 0-01, dan kamu harus ingat, semakin kecil angka artefak tertutup, maka semakin berbahaya artefak tersebut."


Laville lalu kembali bertanya, "Memangnya, apa kekuatan pena bulu itu sehingga diberi nomor seri 0-01?"


Setelah itu Dunn menjawab dengan nada datar, "Kamu belum memiliki tingkatan yang diperlukan untuk mengetahuinya." Laville kemudian berpikir lagi, "Jadi dalam situasi tertentu aku harus mencapai suatu tingkat untuk mengetahui sesuatu yang ingin aku tahu?" Tanya Laville kepada Dunn.


Dunn mengangguk kemudian menjawab, "Itu benar, namun itu tidak diperlukan jika kamu mengetahuinya secara langsung, kebetulan, atau dari sumber lain."


Laville lalu menjawab, “Baiklah, aku akan mengingatnya dan juga mencari jejaknya saat aku mencari petunjuk tentang buku catatan tahun-tahun kiamat.”


Dunn kemudian mengangguk dan berkata, “Baiklah, kamu bisa pergi sekarang.” Laville lalu menjawab, “Baik kapten. “


Laville berdiri dan berjalan ke arah pintu, setelah dia membuka pintu dia tidak segera keluar. Dia berhenti sejenak di depan pintu, Dunn Stein yang melihat itu lalu bertanya, “Ada apa?”


Laville kemudian menjawab dengan senyum di wajahnya, “Apakah ada hal lain lagi kapten?” Dunn pun menjawab, “Tidak, tidak ada.” Setelah itu Dunn masih melihat Laville berdiri di depan pintu, Dunn sedikit melengkungkan bibirnya dan sedikit tertawa, “Kali ini sungguh tidak ada, kamu benar-benar bisa pergi sekarang.”


Laville pun merasa lega dan kemudian segera pergi setelah memberikan salam, dia kemudian pergi ke ruangan penerimaan tamu.


Laville kemudian bertemu dengan Claire, dia juga bertemu kembali dengan Rick. Laville mengobrol sebentar dengan mereka dan bertanya tentang The Mystery Hand yang belum dia ketahui.


Itu berlangsung sampai pukul sepuluh siang, setelah itu dia berpamitan dengan Claire dan Rick untuk pergi.


Setelah itu, dia melihat seorang pria dengan pakaian santai naik dari lantai bawah. Itu adalah salah satu petugas yang datang ke rumahnya dan orang yang sama yang dia lihat kemarin.


Saat itu Laville dikejutkan dengan Claire yang memanggil pria di depannya, “Hai Lumian, apakah kamu tidak mau menyambut anggota staf baru kita?”


Pria dengan rambut panjang dan pakaian santai itu kemudian menoleh ke arah Claire dan bertanya, “Jadi dia benar-benar bergabung dengan kita?” Claire lalu menjawab, “Tentu saja, memangnya apakah menurutmu dia akan kemari terus-menerus hanya untuk berkunjung?”


Lumian lalu tertawa, dia kemudian menjawab dengan nada puitisnya, ”Kupu-kupu tidak akan pergi ke bunga. Sampai dia merasa bunga itu aman untuknya.”


Laville melihat Claire agak menghela nafas, saat itu Claire berkata, “Lumian, setidaknya jika kamu ingin berbicara dengan puisi, belajarlah membuat puisi yang bagus.”


Beralih ke Laville, Laville merasa sedikit terganggu dengan pengetahuan dari dunia ini.


Setelah itu Claire memperkenalkan Lumian kepada Laville, “Laville ini adalah Lumian, anggota Mystery Hand. Dia seorang beyonder, dia adalah orang yang seperti yang kamu lihat. Dia suka berpenampilan santai dan tidak sopan, suka puisi meskipun dia buruk dalam puisi, dan lagi dia terkadang suka melakukan prank. Berhati-hatilah ketika berbicara dengannya."


Setelah itu Lumian menyela, "Hei, kenapa kau berbicara seperti itu, bukankah itu sedikit berlebihan?" Claire lalu menjawab "Aku tidak berlebihan, aku hanya berbicara fakta."


"Uh… Kata-katamu barusan gak menusuk." Ucap Lumian. Beralih ke LavilleUcap Lumian. Beralih ke Laville, Laville kemudian memperkenalkan dirinya, “Halo Lumian, kita bertemu lagi… Semoga kita bisa menjadi rekan yang baik.”


Lumian lalu memalingkan pandangannya ke arah Laville, dia lalu berkata, “Ya mungkin kita akan menjadi rekan yang cocok suatu hari nanti.” Ucap Lumian dengan senyum di wajahnya sambil berbalik dan berpamitan untuk kembali ke gerbang Chanis.


Ada apa dengan sikapnya itu?


Itu benar-benar menyebalkan, itu membuatku ingin memukulnya setidaknya sekali saja.


Sebaiknya aku pergi untuk wawancara dan mencari jejak dari buku catatan itu.


Ucap Laville dalam hati.



Setelah keluar dari kantor keamanan Whitethorne Laville menyusuri jalan yang sering dia lewati baik dari Iron Cross Street, Cooper Cross Street, South Street, West Street, dan North Street.


Setelah lama mencari, Laville masih tidak bisa mengingat apapun tentang buku catatan itu.


Ini aneh, bagaimana bisa aku sama sekali tidak ingat tentang buku catatan itu. Aku bahkan tidak ingat bagaimana rupa dari buku catatan itu.


Mungkinkah ini kekuatan dari buku catatan itu, salah satu kekuatannya sebagai artefak tertutup yang berbahaya?


Sudah lama aku mencari petunjuk, namun aku tetap saja tidak bisa mengingat apapun.


Setelah itu Laville merogoh sakunya, dia mengambil arloji sakunya yang berwarna perak.Setelah itu dia melihat itu sudah jam dua siang. Laville lalu bergegas ke Universitas Vhey.


Aku harus bergegas untuk berjaga-jaga agar dapat masuk ke tempat misterius itu.



Setelah beberapa menit, Laville tiba di universitasnya, dia kemudian pergi ke ruang dosen untuk wawancara. Laville lalu mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Kemudian suara terdengar dari dalam, “Silahkan masuk!” Laville kemudian mendorong pintu itu perlahan.


Setelah membuka pintu, Laville melihat professor pembimbingnya yaitu Professor Alden Cohen. Dia memiliki tubuh yang cukup tinggi, tingginya hampir 180cm.


Kulitnya berwarna coklat gelap, rambutnya panjang dan disisir ke belakang. Dia juga memiliki tahi lalat di bawah telinga kanannya.


Selain professor Alden, Laville juga melihat sang kepala sekolah. Sang kepala sekolah adalah seorang profesor berusia lima puluhan tahun, rambutnya putih dan tubuhnya agak besar. Professor itu bernama Abyas Cloren.


Sang kepala sekolah itu kemudian menyambut Laville, “Oh, Laville itu kamu. Masuklah!”


Laville kemudian melepas topinya dan menempatkannya di dadanya dan sedikit membungkuk, dia juga tersenyum dan berkata, “Selamat sore profesor Abyas dan profesor Alden.”


Mereka kemudian mengangguk, dan kemudian professor Alden bertanya, “Laville, apakah kamu telah mendengar kabar tentang kedua sahabatmu, Welech dan Nayla?”


Setelah mendengar itu, senyuman Laville agak runtuh namun dia masih mempertahankan senyumannya. Dia kemudian menjawab, “Iya.”


Setelah itu profesor Alden berkata, “Jadi kamu sudah tahu. Aku turut berduka atas kepergian mereka. Mereka adalah teman terbaik yang kamu miliki. Namun yang terjadi kepada mereka adalah sebuah tragedi yang mengerikan dan menyedihkan.” Ucap profesor Alden dengan nada simpati.


Setelah mendengar pembicaraan itu, Kepala sekolah kemudian bertanya, “Memangnya apa yang terjadi dengan mereka berdua?”


Laville langsung menjawab sesaat setelah sang kepala sekolah bertanya, “Mereka telah meninggal dunia di rumah Welech, polisi mengatakan bahwa itu kemungkinan adalah pembunuhan dengan sebuah trik. Mereka juga tidak menemukan petunjuk yang berguna.”


“Begitukah… Sayang sekali. Padahal mereka adalah anak-anak yang hebat. Semoga mereka tenang di sisi Dewa Misteri.” Ucap Kepala sekolah dengan meletakkan tangan kanan di dada kirinya dan melihat ke atas.


Karena tidak mau dicurigai Laville juga menirukan mereka, “Semoga mereka tenang di sana.”


Setelah itu, profesor Quintin menawarkan teh kepada Laville, “Apakah kamu ingin Teh?” Laville lalu menjawab. “Tidak-Tidak perlu. Terima kasih atas tawaran anda.”


Kemudian mereka bertanya, “Jadi apakah kamu ingin langsung wawancara?” Laville kemudian menjawab, “Bisakah?” Profesor Quintin Pun menjawab, “Tentu.”


Setelah itu, Laville melakukan wawancaranya, itu tidak terlalu lancar karena dia bukan Laville yang asli.


Setelah selesai, mereka memberitahu Laville untuk menunggu keputusan. Agak sulit memutuskan dimana Laville dapat bekerja.


Mereka menyuruh Laville untuk menunggu dua minggu lagi di hari yang sama untuk keputusan yang akan diberikan. Laville pun mengiyakannya, setelah itu Laville berpamitan dan pergi dari universitas.


Setelah itu dia langsung pulang ke rumah…