
Setelah selesai makan, mereka merasa kenyang. Lian duduk di ruang tamu dan membaca koran.
Dan saat itu juga, Lian bertanya kepada Laville, “Laville! Dari mana kamu belajar memasak seperti itu?”
Laville pun menjawab, “Aku juga mempelajarinya dari koki rumah Welech saat aku berkunjung kesana.
“Begitukah… Mungkin jika Welech masih hidup, kau bisa belajar lagi saat di sana.” Ucap Lian. Laville lalu membalas, “Itu belum tentu.”
“Bukankah ini kali kedua mu memasak?” Tanya lian, Laville lalu menjawab, “Iya, memangnya ada apa?” Lian lalu melanjutkan, “Itu sangat hebat, kau bahkan bisa memasak masakan seperti itu yang sangat enak hanya dalam kali kedua memasak. Sepertinya kau berbakat dalam memasak.”
Laville lalu menjawab, “Mungkin saja. Akan bagus jika aku memang berbakat.”
Setelah itu, semua melakukan kegiatan masing masing dan mulai tidur saat jam sudah menunjukan ke arah jam sepuluh malam.
Beralih ke Laville, dia sedang memikirkan bagaimana cara menjadi beyonder namun juga mempertimbangkan apakah dia harus menjadi beyonder atau tidak.
Dia ingin segera kembali ke bumi, dia tidak ingin berpisah dengan teknologi, dan banyak makanan enak yang tersedia dan dapat dia makan. Dia juga tidak akan merasakan lapar dan makan makanan hambar seperti saat ini.
Namun di sisi lain dia ragu, bagaimana jika walaupun dia dapat berhasil kembali ke bumi tapi dia tidak berada di garis waktunya entah itu di masa sebelum atau sesudah Zhoui Farren bertransmigrasi.
Dia berharap bisa menemukan sesuatu dari kaisar Kione Benaporte yang merupakan senior transmigrasinya.
…
Setelah setengah menit memikirkan cara memecahkan masalahnya, Laville merasa lelah dan mengantuk. Tubuhnya lelah karena berjalan lebih dari empat kilometer jauhnya selama hampir dua jam.
Hanya dalam sekejap Laville kemudian tertidur di ranjangnya.
…
Klang! Klang! Klang!
Lonceng katedral berbunyi dan membangunkan Laville, Laville kemudian mangun dan mengalihkan pandangannya ke jendela dengan korden setengah tertutup.
Dia melihat langit berwarna biru agak keunguan. Dia kemudian membuka arlojinya dan melihat bahwa itu menunjuk pukul empat pagi. Dia juga melihat Violet yang datang dari luar, kelihatannya dia baru saja dari kamar mandi.
Dan saat itu juga, Lian bangun dan menyapa Laville dan Violet. “Selamat pagi Laville… Violet…”
Laville dan Violet pun menjawab hampir bersamaan, “Selamat pagi juga.”
Setelah itu mereka bergantian untuk pergi ke kamar mandi. Setelah semua selesai membersihkan diri, Laville, Violet, dan Lian bersama di ruang makan.
Saat itu Lian sedang membaca koran, dan Violet sedang merapikan barang bawaannya sebelum duduk.
Setelah itu Laville bertanya, “Jadi… Kali ini siapa yang akan memasak?” Lian dan Violet menatap Laville dan berkata, “Tentu saja kamu!”
Laville lalu bertanya, “Tunggu, kenapa harus aku?” Lian pun menjawab Laville, “Tentu saja kamu yang akan memasak. Masakanmu itu enak, dan juga kau baru saja mencalonkan dirimu.”
“Tunggu! Sejak kapan aku mencalonkan diriku untuk memasak?” Sela Laville, Lian lalu menjawab sambil tersenyum, “Saat kamu bertanya siapa yang akan memasak.”
Laville lalu tertegun dan berkata, “Lian, kamu memang sedikit mirip dengan baboon berambut keriting.” Lian lalu kehilangan senyumnya, namun dia kembali tersenyum dan berkata, “Tidak…! Aku hanya punya rambut di bagian kepalaku dan beberapa daerah lain. Aku tidak ditutupi rambut!.”
Laville lalu menghembuskan nafas dan bertanya, “Haah, Baiklah… Jadi bahan apa yang harus ku gunakan untuk memasak?” Violet kemudian menjawab, “Gunakan saja yang masih ada selain daging, kita masak daging itu untuk makan malam.”
Saat itu Lian seperti mengingat sesuatu dan bertanya, “Tunggu, bukankah kita masih memiliki sedikit sisa dari masakan tadi malam?”
Violet lalu menjawab pertanyaan Lian, “Apakah kamu tidak ingat atau hanya bercanda?” Lian lalu menjawab, “Hm…? Kurasa aku memang tidak ingat. Memangnya kenapa?”
Violet lalu berkata dengan suara yang sedikit tinggi, “Sungguh?” Lian pun menjawab “Iya, sungguh. Memangnya ada apa?”
Violet kemudian menghela nafas dan menyentuh dahinya, “Huuuft….”
Laville kemudian tertawa sambil menggelengkan kepalanya, “Lian, sepertinya kamu sudah menjadi tua. Kau bahkan tidak mengingat apa yang kamu lakukan tadi malam.”
Lian terkejut dan sedikit kebingungan, dia kemudian bertanya, “Tadi malam? Memangnya ada apa dengan tadi malam. Bukankah kita hanya makan daging dan minum bir jahe?”
Laville lalu tertawa dan menjawab, “Ya… Itu memang benar. Kita makan daging sambil minum bir jahe. Namun kamu menghabiskan sisa daging yang tersisa dengan alasan bahwa kamu kelaparan karena hampir tidak makan selama lembur kerja. Kau bahkan mengabaikan ucapan Violet…”
“Benarkah?” Ucap Lian, dia lalu melanjutkan, “Aku tidak mengingatnya, apakah kalian mencoba membohongiku? Mungkinkah yang sebenarnya menghabiskannya adalah kamu atau kalian berdua?”
“Hei… Apa maksudmu, tentu saja kau yang menghabiskannya. Apakah ingatanmu menjadi seperti baboon berambut keriting sekarang.” Ucap Laville, Lian lalu menjawab, “Hei… Jangan terus mengejekku oke. Ingatanku itu cukup bagus, hanya saja mungkin tadi malam aku benar benar kelelahan sehingga membuatku tidak mengingatnya.”
Laville lalu menjawab dengan tawa kecil, “Baiklah-baiklah… Aku akan memasak saja kalau begitu…”
Cklak!
Bushh!
Laville menyalakan kompor gas dan meletakan teko. Dia merebus air untuk minum. Setelah selesai, Violet mengambilnya dan membuatkan tiga cangkir teh Bermuld. Itu adalah teh murah yang hanya diminum sendiri dan tidak cocok untuk tamu.
teh yang biasa digunakan untuk menjamu tamu umumnya adalah Southville yang masih dibilang terjangkau namun memiliki aroma yang harum dan rasa yang cukup baik.
Hanya keluarga kelas menengah yang dapat membeli teh Southville untuk menjamu tamu dan digunakan sendiri.
Dan untuk Keluarga kelas atas mereka sering kali menjamu dengan teh yang lebih mahal dan berkualitas. Laville yang asli sendiri juga belum pernah merasakan yang lebih mahal dari teh Southville.
Di samping itu, Laville sedang memotong dan menghaluskan beberapa bumbu, lalu dia memasukan bumbu itu ke dalam panci sampai warnanya sedikit berubah. Lalu dia memasukan air dan sayur sayuran lain.
…
Setelah menunggu sekitar setengah jam, Laville selesai memasak dan meletakkannya di tengah meja.
Saat itu baru jam tujuh pagi, mereka semua lalu menyantap makanan mereka. Laville membuat semacam sup dengan dua macam sayuran dan dua buah kentang.
Sup itu terasa nikmat, rasa gurih yang pas dan aroma harum yang tidak menyengat namun membuat siapapun yang menciumnya pasti merasa lapar dan meneteskan air liur.
Laville dan kedua saudaranya menghabiskan makanannya hanya dalam beberapa menit, setelah itu mereka meminum teh mereka.
Ketika itu, Violet langsung menghabiskan secangkir tehnya dan ingin segera berangkat. Lalu Lian memanggil Violet, “Violet! Apakah kamu tidak ingin berangkat bersamaku saja?”
Violet pun menjawab, “Tidak… Aku sudah berjanji akan berangkat dengan sahabatku.” Ucap Violet dengan nada datar, Laville lalu bertanya, “Venica dan Hanna?”
Violet lalu mengalihkan pandangannya ke Laville, “Iya… Bagaimana kamu tahu?” Laville lalu menjawab, “Hanya tebakanku saja.”. “Begitukah” Ucap Violet singkat.
Lalu Violet berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Beralih ke Lian, dia sedang duduk sambil membaca koran. Dalam suatu waktu dia akan menyesap secangkir teh nya, dan di sisi lain, Laville sedang menyiapkan pakaian yang akan dia gunakan untuk berangkat bekerja di perusahaan keamanan Whitethorne.
Setelah itu Laville mendengar suara kakaknya memanggilnya, “Hai Laville, aku akan berangkat sekarang, jika kamu ingin pergi untuk wawancara pastikan semua sudah aman terlebih dahulu dan jangan lupa kunci pintunya.”
Laville lalu menjawab Lian dengan nada yang agak keras, “Baiklah, tenang saja. Dan berhati-hatilah di jalan. Akhir-akhir ini ada banyak sekali perampok yang berkeliaran di sekitar sini.”
Lian lalu menjawab sambil mencela diri, “Itu tidak akan, lagipula aku bahkan tidak punya sesuatu yang berharga.”
Laville sedikit tertawa dan berkata, “Aku hanya mengingatkan.”. “Baiklah.” Jawab Lian singkat lalu pergi ke perusahaannya.
Setelah itu Laville langsung mengenakan pakaian barunya. Dia memakai kemeja linen berwarna putih, rompi hitam agak kecoklatan dari ayahnya yang sudah meninggal, dan jas hitam dengan dua kancing.
Laville mengambil arloji sakunya dan melihat waktu.
Sekarang jam setengah delapan lebih sedikit. Apakah aku harus berangkat sekarang?
Tapi… Mystery Hand memiliki jam kerja yang dimulai pukul sembilan pagi…
Kurasa tidak masalah, bukankah setidaknya harusnya anggota sipil lain seperti Claire, atau mungkin juga yang lain.
…
Baiklah, kalau begitu aku akan pergi saja.
Laville lalu merapikan ruang apartemennya, mengunci pintu dan segera menunggu di samping jalan.
Setelah beberapa saat, secara kebetulan dia bertemu dengan pekerja sebelumnya. Kemudian sopir kereta itu bertanya kepada Laville, “Tuan! Apakah kamu membutuhkan angkutan?”
Laville pun menjawab, “Iya.” Laville berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Ke Zoutern Street.”
“Tiga tiga seperempat pence. Aku akan menghitungnya sebagai tiga setengah pence.” Ucap pengemudi kereta itu.
Diskon lagi? Sepertinya aku sangat beruntung.
Rasanya keberuntunganku lebih sering muncul di sini daripada saat aku masih di bumi.
Tapi keberuntungan yang terus menerus itu biasanya akan membawakan sesuatu yang menakutkan. Itu membuatku agak khawatir…
Laville kemudian menyerahkan uang logam dari sakunya ke salah satu pekerja yang bertugas dalam pembayaran.
Setelah itu, Laville Naik ke gerbong tingkat rendah. Dia masih melihat hal yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya.
Suasana di dalam gerbong sangat sepi, hanya ada lima orang termasuk Laville kali ini.
Laville sedang tidak mengantuk, jadi dia hanya melihat keluar jendela dan melihat jalur yang ia lewati.
Setelah beberapa menit, Laville sampai di tujuan. Dia turun dari gerbong dan langsung pergi ke perusahaan keamanan Whitethorne. Setelah itu dia masuk dan bertemu dengan Claire dan satu orang lagi.
Itu seorang pria dengan tubuh yang lumayan besar namun tidak gemuk, rambutnya berwarna coklat dan memiliki mata biru keabu-abuan.
Laville mengetuk pintu itu sebelum masuk.
Tok! Tok! Tok!
“Silahkan masuk.” Ucap Claire. Laville lalu masuk dan memberikan hormat, selamat pagi Claire. Claire menatap Laville lalu menjawab, “Selamat pagi juga.”
Claire lalu memperkenalkan sosok pria yang mengobrol dengannya di depannya.
“Hai Laville, ini Rick. Anggota sipil lainnya. Dan Rick, Ini Laville. Anggota sipil baru yang akan bekerja dengan kita mulai hari ini.” Ucap Claire.
Rick kemudian berdiri dan berjabat tangan dengan Laville, dia juga memberikan hormat kepada Laville.
“Hai, saya Rick, senang berkenalan dengan anda.” Ucap Rick, ;Laville lalu menjawab, “Senang juga berkenalan denganmu.”
Pria itu, Rick tampak seperti seorang yang humoris dan selalu bersemangat, namun dia juga sangat sopan.
Pada saat itu juga Claire lalu berkata, “Laville, apakah kamu mencari kapten?”
Mendengar itu Laville lalu bertanya, “Kapten sudah datang.” Claire pun menjawab, “Tentu saja, kapten selalu datang awal, terkadang kapten juga sering lembur. Lagipula kapten hanya perlu tidur dua jam sehari.”
Laville terkejut dan kebingungan, dia kemudian bertanya, “Kenapa kapten hanya tidur dua jam sehari?” Claire pun menjawab, “Apakah kamu tidak tahu? Kapten memiliki jalur beyonder sleepless dari gereja Dewi malam hari.”
Laville kemudian mengangguk dan kemudian berkata, “Jadi begitu. Kalau begitu aku akan menemui kapten lebih dulu.” Setelah berbicara sebentar, Laville kemudian pergi ke ruangan kapten.
…
Tok! Tok! Tok!
Dari dalam ruangan itu tiba-tiba terdengar sebuah suara yang dalam, “Masuklah.”