
Saat Laville berbalik dan akan pergi, dia melihat arloji sakunya terlebih dahulu. Sekarang jam dua siang, masih ada empat sampai lima jam sebelum adiknya pulang.
Setelah itu dia langsung pergi keluar dari ruangan, lalu menuruni tangga dan keluar dari perusahaan keamanan Whitethorne.
Laville mencoba berkeliling sebentar untuk melihat-lihat area di sekitar perusahaan Whitethorne. Dia melihat ada banyak hal, dari sebuah restoran kelas rendah sampai restoran kelas menengah.
Dia juga melihat toko jahit, penjual roti dan makanan lain, toko baju, dan tempat latihan menembak. Dan setelah cukup lama berkeliling, Laville baru menyadari bahwa perusahaan keamanan Whitethorne berada di balik katedral Saint Sophia milik Gereja Dewa Misteri.
Setelah cukup berkeliling, Laville menuju toko pakaian namun melewati jalan memutar. Dan saat itu, Laville menemukan sebuah tempat yang bernama Klub Ramalan. Laville lalu mendekat dan mencoba bertanya kepada gadis yang sedang menyapa pejalan kaki dan mengiklankan klub itu.
Setelah Laville tiba di depan tempat klub, wanita itu menyapa Laville, “Halo tuan… Apakah anda tertarik dengan ramalan? Di klub ramalan ini kami menyediakan jasa meramal apa yang anda inginkan.” Saat itu Laville menyela dan bertanya, “Ada apa saja di dalam klub ramalan ini?”
Gadis berusia sekitar dua puluhan tahun itu kemudian menjawab, “Disini anda bisa meminta para peramal untuk meramalkan apa yang anda inginkan, dan jika anda ingin bergabung sebagai peramal maka akan ada kelas hampir setiap hari namun dalam beberapa kondisi akan dilakukan dua hari sekali. Selain itu juga terdapat berbagai ruangan yang dapat anda pilih untuk melakukan ramalan.”
Gadis itu berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan, “Selain itu, jika anda menjadi salah satu peramal, maka anda akan didaftarkan sebagai anggota peramal dan uang yang anda dapatkan dari meramal akan dapat dimiliki oleh anda sepenuhnya.”
Laville agak tertarik namun dia masih memiliki keperluan lain, setelah itu dia mencoba bertanya, “Lalu, berapa biaya yang diperlukan jika ingin bergabung dengan klub?”
Gadis itu kemudian menjawab sambil tersenyum, “Untuk anggota biasa tanpa menjadi seorang peramal di klub, anda harus membayar uang registrasi sebesar satu pound dan delapan soli untuk setiap minggu. Anda akan tetap mendapatkan berbagai pelayanan dari peramal lain dan belajar melalui kelas peramal.”
Satu Pound dan sepuluh Soli? Kurasa itu cukup murah karena kau hanya perlu membayar satu Pound hanya sekali untuk Registrasi saja.
Gadis itu kemudian kembali melanjutkan setelah berhenti sejenak, “Dan untuk bergabung dengan anggota peramal dan melakukan ramalan, anda harus membayar satu pound untuk biaya registrasi dan dua belas soli untuk setiap minggunya.”
Hum! Itu tidak terlalu jauh perbedaannya untuk bergabung sebagai anggota peramal.
Gadis itu kemudian bertanya, “Jadi tuan, apakah anda tertarik untuk bergabung dengan klub kami?” Setelah itu Laville menjawab, “Aku cukup tertarik, namun sayangnya aku masih punya keperluan dengan uangku, jadi aku tidak akan bergabung untuk saat ini.”
Gadis itu kemudian agak kecewa, namun setelah itu Laville kembali berbicara, “Tidak sekarang tapi aku mungkin akan bergabung lain kali.” Setelah itu Laville mencoba bertanya siapa nama gadis itu, “Oh, dan boleh aku tahu siapa namamu?” Gadis itu pun menjawab, “Namaku Rinie.” Jawab Rinie dengan agak memaksakan senyum.
Setelah itu Laville memberi salam lalu pergi. Dia kemudian berjalan menuju toko pakaian yang berada di sisi kiri jalan.
Toko itu di cat dengan warna coklat dan krem, Laville membuka pintu toko tersebut. Saat dia membukanya, bel lonceng di atas pintu itu berbunyi dan pemilik toko pun langsung datang dan menyambut pelanggannya.
Pemilik toko itu adalah seorang wanita paruh baya yang sudah menikah, usianya tampak sudah lebih dari tiga puluh lima tahun. Wanita itu menyambut Laville dengan ramah dan penuh dengan senyuman.
“Selamat sore tuan, apa yang anda cari?” Tanya wanita itu kepada Laville, Laville lalu menjawab, “Aku ingin membeli satu set pakaian yang bagus.”
Wanita itu kemudian mengajak Laville ke sudut kiri toko dan memperlihatkan pakaian-pakaian dengan bahan yang sangat bagus.
“Tuan, ini salah satu dari cukup banyak setelan pakaian kami yang sangat bagus, anda bisa mencobanya.” Ucap wanita itu, Laville pun mencobanya dan mengetahui bahan yang digunakan, itu adalah sutra. Setelah itu Laville bertanya, “Berapa harganya?”
Wanita itu kemudian menjawab, “Total semuanya adalah tiga pound tujuh belas soli.” Laville pun terkejut. Dia kemudian bertanya kepada pemilik toko, “Maaf, apakah anda memiliki yang sedikit lebih murah?”
Pemilik toko itu masih mempertahankan senyumnya, pemilik toko itu kemudian berkata, “Baiklah, tolong tunggu sebentar.”
Setelah mencoba beberapa ukuran pakaian, Laville akhirnya memutuskan yang ingin di beli. Jas itu terbuat dari semi wol namun tidak terlalu panas, satu set itu termasuk rompi dan celana.
Laville pun kemudian pergi membayar belanjaannya.
“Total semuanya dua pound dan empat belas soli.” Ucap pemilik toko itu. Laville kemudian mengambil uang di sakunya namun saat itu dia melihat sebuah tongkat. dia kemudian menunjuk dan bertanya, “Nyonya! Berapa harga tongkat yang satu ini?”
Wanita pemilik toko itu kemudian menjawab, “Itu enam soli, kayu yang digunakan sangat kokoh dan pegangannya terbuat dari lapisan perak asli.” Ucap wanita itu.
Itu sepertinya harga yang cukup masuk akal.
“Baiklah, aku juga akan mengambil ini, Ucap Laville. Wanita itu kemudian berkata, “Kalau begitu semuanya dua pound dan delapan belas soli. Aku akan memberimu diskon dua soli karena kamu masih muda dan baik, kamu juga adalah pelanggan ke limaku hari ini, tokoku agak sepi minggu ini. Jadi aku akan memberimu diskon.”
Laville terkejut, namun dia merasa senang setelahnya dan mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko. Dia sangat berterima kasih meski hanya potongan dua soli, tapi itu bisa ditabung oleh Laville.
Setelah itu dia langsung berpamitan dan pergi kembali ke rumah.
Dia berjalan dengan agak cepat karena Lian juga akan pulang malam ini. Dia tidak ingin telat menyambut kakaknya yang pulang dari lembur kerja.
…
Setelah hampir dua jam berjalan, Laville akhirnya tiba di rumahnya. Dia tidak langsung melakukan hal lain, tapi dia menyimpan pakaian yang baru saja dia beli di lemarinya dan mengganti pakaiannya.
Setelah itu dia bersantai berbaring di ranjang karena lelah. Setelah lima belas menit, dia merasa bosan.
Haah… Ini membosankan.
Disini tidak ada cukup hiburan. Hanya ada sedikit permainan dan olahraga yang dibawa oleh kaisar Kione Benaporte.
Akan lebih bagus jika sebelumnya dia membawa lebih banyak permainan dari bumi ke sini.
Yah tapi aku tidak bisa berharap banyak, lagipula aku hanyalah transmigrator yang terlambat.
…
Itu adalah Violet dan di belakangnya adalah kakaknya, Lian. Laville agak bingung, bagaimana kakaknya sudah kembali pada sore hari.
Laville kemudian berkata, “Selamat datang kembali.” Mereka berdua lalu menatap Laville, setelah itu Violet bertanya, “Laville, apakah kamu tidak pergi wawancara?”
Laville lalu menjawab, “Apa maksudmu? Wawancaraku masih besok.” “Begitukah. Aku mengira kau akan wawancara karena kau bahkan tidak tidur dan memikirkan suatu hal tadi malam.” Ucap Violet.
“Tidak, tentu saja tidak. Ngomong-ngomong aku tadi pergi, setelah beberapa polisi menanyaiku tentang Welech dan Nayla.” Ucap Laville kepada Violet, setelah itu Violet pun bertanya dengan khawatir, “Sahabatmu? Welech dan Nayla yang itu? Memangnya apa yang terjadi dengan mereka?”
Setelah itu Laville dengan ekspresi yang sedih menjawab, “Mereka berdua telah meninggal dunia.” Lian dan Violet pun terkejut, Violet lantas bertanya, “Astaga… Bagaimana itu bisa terjadi?”
Laville kemudian sedikit menjelaskan, “Polisi bilang kemungkinan besar mereka dibunuh oleh seseorang yang memiliki dendam terhadap mereka dan dibunuh saat di rumah Welech. Namun sayangnya tidak ada jejak pembunuh yang tertinggal, dan rumah sewaan Welech saat itu penuh dengan darah.”
“Itu terdengar seperti sebuah kisah horor.” Ucap Violet, kemudian Lian juga ikut bertanya, “Apakah sebelumnya mereka menyinggung seseorang? Atau mereka pernah melakukan sesuatu yang membuat mereka dibenci sebelumnya?”
Laville kemudian menjawab, “Tidak, itu tidak mungkin. Karena mereka sangat baik dan berteman dan memiliki hubungan yang baik bahkan dengan hampir satu universitas, jadi tidak mungkin karena itu.”
Tentu saja aku tidak bisa bilang bahwa itu terjadi karena buku mistisme kuno. Lagipula ini juga menyangkut tentang beyonders
Kemudian Violet dan Lian meletakkan tangan kanannya di dada bagian kiri dan mengucapkan, “Semoga Dewa memberkati mereka. Semoga mereka tenang di sisi Dewa.”
Laville pun hanya melihat, dia tidak berencana mengikutinya kecuali benar benar diperlukan, dan sebagai gantinya dia kemudian menghembuskan nafasnya dengan ekspresi sedih, “Iya kuharap mereka tenang di sana.”
Setelah itu mereka kemudian saling bergiliran untuk membersihkan diri mereka, termasuk Laville.
Setelah semua selesai membersihkan diri, mereka semua duduk di ruang makan dang mengobrol ringan.
Sampai suatu saat, Lian berkata, “Laville, kenapa sepertinya kamu sangat berbeda dengan biasanya?” Setelah itu Violet berkata, “Iya sejak kemarin Laville memang agak berbeda dari biasanya. Tapi dia masih Laville yang sama.”
Laville kemudian menjawab sambil agak mencela, “Aku memang tidak terlalu berbakat, tapi setidaknya aku tidak sebodoh Baboon berambut keriting.”
Lian kemudian tertawa dan menjawab, “Ya.., Memang benar. Setidaknya kau tidak mirip seperti Baboon berambut keriting atau aku akan curiga apakah kau adikku atau baboon yang mirip denganmu dan tidak punya rambut sama sekali.”
Semua yang di meja makan tertawa, dan terus bercanda sampai bulan merah naik. Saat itu sudah jam delapan malam, dan mereka semua juga merasa lapar.
Setelah itu Laville menawarkan diri untuk memasak, "Bagaimana jika aku yang memasak hari ini? Aku akan membuatkan makanan yang enak karena hari ini Lian baru saja pulang."
Violet tampak bersemangat dan sambil mengangguk berkata, "Um, aku setuju. Tapi masakan apa yang akan kamu buat?." Setelah itu Laville bertanya, apakah aku boleh menggunakan setengah daging yang tersisa?"
Violet pun mengangguk, "Tentu." Sedangkan Lian agak tidak yakin, "Hai Laville, aku tidak tahu kamu bisa memasak. Dan kenapa Violet terlihat sangat bersemangat?”
Ketika itu juga, Violet menjawab, “Tentu saja aku bersemangat. Kemarin Laville membuat masakan dan itu sangat lezat, aku bahkan sampai ingin makan lagi-dan lagi.”
“Benarkah?” Ucap Lian, Violet pun mengangguk. Setelah itu Laville bangun dari tempat duduknya dan mengambil alat masak.
Laville mengambil penggorengan dan dan menuangkan sedikit minyak zaitun memasak daging setengah matang. Lalu dia menyiapkan bumbu-bumbu dan setelah daging menjadi setengah matang, Laville mengangkat daging itu dan menyiapkan alat lain.
Setelah itu Laville memasak bumbu dan menuangkan air yang tidak terlalu banyak. Setelah itu dia memasukan daging lalu sedikit sayuran.
Ketika itu, Laville bertanya kepada Lian, “Lian! Bagaimana jika kita minum Bir Jahe malam ini untuk makan malam?” Lian tersenyum dan berkata, “Itu ide bagus.”
Daging itu dimasak sampai matang, setelah matang Laville mengangkatnya dan meletakkannya di tengah meja.
Setelah itu, semua bersiap untuk menyantap makanan di meja. Lian mengambil bir jahe dan menuangkannya ke gelas, Laville juga mengambil segelas bir jahe.
Violet juga ingin mencoba bir jahe, namun Laville dan Lian tidak memperbolehkannya.
“Hei, kenapa aku juga tidak boleh minum bir jahe itu.” Ucap Violet. Lian tertawa lalu berkata, “Ini belum waktunya untukmu untuk mencoba yang seperti ini.”
Violet merasa agak emosi, dan saat itu juga Laville membuatkannya jus jeruk dan menyerahkannya kepada Violet.
“Gadis sepertimu sebaiknya minum jus saja seperti gadis pada umumnya.” Ucap Laville dengan sedikit tertawa sambil menyerahkan jus ke hadapan violet. Setelah itu mereka semua mulai makan malam.
Violet awalnya merasa marah, namun itu berakhir saat dia menyantap makanan lezat yang dibuat oleh Laville.
Laville juga menyantap makanannya, daging itu terasa kenyal, rasanya sedikit asam dan manis yang pas untuk lidah, itu tidak terlalu pedas ataupun manis, rasanya benar-benar lezat dan ringan.
Daging itu agak berair ketika dikunyah, dan sedikit kuah dari masakan itu juga sangat terasa dan menyegarkan, daging dan kuahnya membuat Laville dan kedua saudaranya hampir tidak ingin berhenti.
Wau… Aku tidak menyangka akan seenak ini… Ataukah karena sejak kemarin aku masih lapar dan hanya makan roti?
Setelah itu Lian mengajak Laville bersulang bir jahe. “Laville! Bagaimana jika kita bersulang?” Laville lalu menjawab, “Apakah kamu pikir ini pesta dengan bir sungguhan? Baiklah ayo bersulang.” Ucap Laville sambil tertawa dan sedikit mengejek.
Bir jahe itu terasa panas di tenggorokan, namun itu menghangatkan tubuh dan menambah rasa kepuasan terhadap makanan yang lezat.