
Sambil melepas pakaiannya Aru berbicara Sendiri "Aku takut dia marah. mana aku gak tau beginian,entar kalau halim gimana? kan belum nikah,aahhhh..Bagaimana ini💫" dia menghela nafas berat dan cepat-cepat mandi,menghapus semua badannya dan memperlihatkan bekas luka lebamnya.
Kiki menunggu Aru sembari rebahan diranjang Aru "AKU PENGENNNN" ucapnya.
Kiki pusing sendiri dengan keinginannya,dia mencoba bangun dan Membuka laci sembarangan tapi apa yang dia temukan membuatnya terkejut "Are...?!"
"aahhh sudah lah,kalau emang harus tau ya sudah" Aru cepat-cepat menyelesaikan mandinya,memakai handuk baju. tepat sebelum dia keluar terdengar suara ketukan.
Kiki mengetuk pintu kamar mandi.
"Aru..??! lama sekali kamu!" Dia memanggil Aru.
"Ah iya,aku udah selesai kok" Aru berjalan keluar kamar mandi dan masih menggunakan handuk baju.
"Maaf lama. Beb,kamu cari apa?" Aru menatap kiki yang sedang membuka laci.
"Uwahhh...jangan liatttt itu" teriak Aru dengan cepat berjalan ke arah Kiki.
Kiki meliat Aru dengan tatapan tajam "Aru! Ini apa?! Kamu punya waktu 3 menit buat jelasin?!" Kiki mengambil kotak medis yang di sembunyikan di laci Aru yang dia lihat dari tadi.
Aru yang panik di tatap kiki bingung ingin menjelaskan "Em..ano..eemm gimana ya?" Dia memainkan matanya ke sana kemari.
Kiki mendatangi Aru,dia menarik dagu Aru dengan kasar "Tatap mata ku Aru,Jelasin sekarang juga apa itu" Kiki mengangkat kotak medis di depan Aru
"Eemmm..itu..itu..aku bisa jelaskan"
Aru menatap sendu,menahan air mata.
Kiki merasa bersalah karena kasar, dia berjalan menjauh dan kembali duduk ditepian ranjang "Apa kamu belum bisa mempercayaku sepenuhnya? Apa kamu masih ragu sama aku?" Kiki menunduk dan menahan dahinya dengan satu tangan.
"Bukan gitu beb,aku hanya gak berani,aku...aku takut kamu jijik sama aku" mata Aru mulai menangis,mendekati kiki dan membuka bajunya,memperlihatkan tubuh penuh luka lebam di pinggang,perut dan lengannya.
Kiki terkejut melihat tubuh Aru,tangannya mengikuti jejak luka di tubuh Aru "Siapa? Siapa yang melakukan ini ke kamu?! Kapan?! Kenapa kamu diem aja?" Kiki menggeram dia menaikan suaranya.
Aru yang masih menunduk takut hanya bisa menjawab pertanyaan Kiki apa adanya "Ini..karena aku pergi dengan mu kemarin dan beberapa orang berjas hitam menarikku ke gang tertutup terus mereka bilang kalau aku harus menjauhimu dan memukulku seperti ini" Aru yang masih menundukkan kepala takut melihat kiki marah.
Kiki bangkit dan memeluk Aru "Maaf telah menakutimu" Dia mempererat pelukannya
"Kenapa? Kenapa mereka tidak ingin kita bahagia? Apa salah kita?" Kiki menenggelamkan kepalanya diceruk leher Aru,menahan semua emosi yang meluap tidak terkontrol.
'Orang-orang itu.. Akan kubunuh mereka' dalam benak Kiki dengan tatapan dingin yang tertutup
Aru yang merasakan emosi Kiki segera berusaha menenangkannya "Itu wajar kan,kamu seorang anak konglomerat sedangkan aku anak pengusaha biasa,di lihat dari mana pun semua pasti tau. belum lagi sifat ku yang mirip cowok,jadi.." Aru menahan suaranya agar tidak bergetar.
"Maaf aku tidak jujur padamu kiki,aku takut kamu pergi" Aru memeluk Kiki,berharap dia tidak menangis di depan Kiki.
Aru mengangkat kepalanya,melepas pelukannya dari Kiki.
"Babe,janji jangan kasih tau papi dan mami ya? Aku gak mau mereka kawatir!" Aru menatap kiki dengan mata sembab.
"Terahir kali waktu aku di bully sampai menginap di RS,mami dan papi hampir menuntut sekolah. aku tidak mau terjadi masalah lain" Aru menunduk,memakai kembali handuknya.
Kiki yang merasa tidak rela ingin membela Aru "Tapi bae,mereka udah keterlaluan" dengan menahan emosi dia mengepalkan tangan
"Setidaknya mereka harus merasakan pembalasan yang setimpal karna telah berani menyentuh hal paling berharga milikku"
Aru berusaha mencairkan suasana dan membuat Kiki tenang "Hahaha..terima kasih babe,kamu terbaik. aku gak tau kalau kamu perhatian ma aku..hehehe"
Kiki menatap tajam Aru "Dan kamu,jangan pernah diam menyembunyikan hal seperti ini dariku lagi. kamu mengerti?" Ucap Kiki kepada Aru.
Aru mengangguk "Baik,Aku gak akan sembunyikan lagi kok Beb tenang aja"
Aru berjalan ke arah laci dan mengambil barang yang tadi di lihat oleh kiki.
'maaf Beb,aku gak bisa jujur,aku gak mau kamu bertengkar dengan kluargamu karena aku' di dalam fikir Aru.
Dengan senyum sejuta watt Aru menunjukan kotak perakakas medisnya "Kamu tau ini apa Beb?" Dia memberikan barang yang ada di laci tadi kepada Kiki.
Kiki mendekati,menerima kotak medisnya "Aku akan mendengarkan semua penjelasanmu. Jadi apa ini?"
Aru membuka kotak itu,terdiri dari 3 tingkat,ber isis alat macup,pisau kecil dan sejenisnya yang biasa untuk perlengkapan cosplay,serta silikon dan cat "Ini alat mecup buat cosplay,aku mau mengubahmu dan mendandannimu ala cosplay..hehehehe" Aru mulai menjahili Kiki.
Kiki melihat kejahilan Aru "Heeee,,, masa? Kamu gak dandan udah cantik kok bae" ~chup kecuhangan mendarat di pipi Aru.
"Gombal...hahaha" Aru tertawa mendengar perkataan Kiki,tiba-tiba dia merasa tidak enak pada badannya "owww..kepalaku!"
Kiki mendengar lengkuhan Aru segera panik "kenapa bae?"
"Tidak apa-apa beb?" Jawab Aru sembari menahan kepalanya.
Kiki pergi mengambil pakean buat Aru "Pakai ini,kamu akan sakit jika memakai handuk" memakaikan kepada Aru.
"Terima kasih Beb" segera Aru memakainya 'Ah,badanku tiba-tiba sakit semua. apa karena kelamaan mandi ya?'
'Lebih baik aku ambil obat dulu deh sebelum sakit' Aru berjalan kearah pintu kamar,badannya sedikit tergoyang karena menahan pusingnya.
Kiki yang melihat Aru hampir jatu segera mendekapnya "Kamu baik-baik aja bae?"
Tanggannya mengusap dahi Aru "Kamu demam bae, maaf aku keterlaluan tadi"
"Ya sesikit pusing,mungkin masuk angin aja babe" Aru memegang tangan Kiki untuk membantunya menahan tubuhnya "Gak apa Beb,aku yang salah,kan aku udah janji sama kamu..hehehe" Aru senyum seribu watt berharap Kiki tidak menyalahkan dirinya.
Kiki segera mengakat Aru ala bridalstyle dan menidurkannya diranjang,menyelimutinya "Aku ambilkan obat dulu. Kamu tunggu sebentar oke" dia mengngecup dahi Aru lalu turun untuk mengambil obat.
"Uwah,babeee" Aru yang terkejut segera berpegang erat di leher Kiki "Ah tunggu Beb. Yah udah kluar!"
'cepet banget keluarnya,udah kaya kakashi aja' dalam benak Aru.
Setelah beberapa saat Kiki belu kembali,Aru menyusulnya turun sembari meraba dinding "Beb...kamu di mana?"
Kiki mendengar suara Aru segera mematikan teleponnya "Aku di dapur bae"
"Kamu sedang telefon ya?maaf" Aru memandang bersalah ke arah Kiki
Kiki berjalan mendekati Aru "tidak apa,aku sudah selesai. Minum obat dulu ya sayang" Kiki menyerahkan obat dan segelas air kepada Aru sembari mengantarnya duduk.
"Emm..terima kasih Beb,maaf membuatmu repot. hehe..." Aru tersenyum dengan wajah pucatnya
"hahh..badan ku sakit semua gara-gara luka ini" Aru bergumam dan berjalan ke kamar
"gak papa bae, gak penting kok" kiki senyum ke arah Aru "Sekarang kamu tidur dulu ya!" kiki mengantar Aru ke kamar "Cepat sembuh ya sayang" ~chup Kiki mengecup dahi Aru dan membaringkannya.
Aru berbaring di tempat tidur dan menggenggam tangan Kiki "Beb,kamu gak marah kan? Maaf kalau aku gak nepatin janji?" Ucapnya merasa bersalah.
Kiki ikut berbaring disamping Aru "Gak,aku gak mungkin marah. Soal janji, itu semua bisa diatur" Dia memeluk Aru dan membelai kepalanya "Sekarang kamu tidur ya"
"Kamu gak akan kasih tau mami dan papi kan Beb? aku gak mau mereka cemas" Aru memeluk Kiki lalu bersembunyi di dadanya.
Kiki masih setia Mengusap mepala kepala Aru "Gak,aku gak akan kasih tau mereka. Tenang aja" dia mengecup puncak kepala Aru.
'badan Kiki emang thebest banget,hangat dan nyaman' fikir Aru
"Kalau aku sudah sehat kamu boleh ngapain aja sebagain permintaan maaf ku padamu,selain itu kamu juga bisa meng......" Pad saat Aru berbicara suaranya semakin lama semakin rendah dan menghilang.
'mataku berat dan badanku dingin' fikir Aru yang masih memeluk Kiki
Kiki yang merasa kalau Aru tiba-tiba diam dia memanggilnya "Bae? Bae?!" Dia yakin kalau Aru sudah tertidur,dia mencoba memeriksa tubuh Aru yang sedari tadi bergetar "Sial"
Kiki yang terkejut segera menelepon seseorang "Rey, panggil dokter kerumah Aru sekarang juga?" Pintanya kepada seseorang yang ada di telefon. segera dokter datang dan memeriksa Aru,dokter menjelaskan kalau Aru mengalami demam karena kedinginan dan trauma karena luka di tubuhnya. dokter memberinya suntikan dan obat,lalu pamit.
mendengar penjelasan dokter tadi Kiki mulai kesal,Rey menghampiri Kiki dan menepuk pundaknya.
"Rey, jangan tanya apapun. Kumpulkan angota lainnya. Kita berburu malam ini" belum sampai dia berkata Kiki sudah memutuskan dan dia hanya bisa menuruti.
kiki menghampiri aru "Bae,aku pergi sebentar ya" dia mengecup kening Aru dan menyelimutinya. segera Kiki dan Rey meninggalkan rumah aru.
...Jam 03.45 (Prov Aru)...
Di dalam tidur,aku bermimpi saat aku awal mengenal Kiki.
bermain di taman,mengerjai Kiki dengan kostum loli uwu dan di marahi mami papi gara-gara mengacaukan rumah kalau aku berpacaran dengan Kiki.
Tiba-tiba sampai pada mimpi aku di tarik seseorang sata di kampus mereka semua memukul,menginjak,dan menghinaku. Mimpi itu berlanjut sampai aku pulang dari toko buku setelah jalan-jalan dengan kiki dan orang-orang berjas hitam datang membekapku,menarik di suatu gang sempit dan mulai memukulku,menginjakku sembari berkata 'jangan pernah kau mendekati tuan muda lagi,dasar j***ng' aku masih berjuang menahan pukulan dari meraka agar tidak mengenai wajahku.
"Aahhhh....ah..hah..hah..mimpi,ini mimpi,hanya mimpi" badanku bergetar,keringat mengucur keluar,aku duduk dan menutupi tubuhku dengan selimut sambil terus memangil nama mami papi dan Kiki.
"Ini hanya mimpi,tidak nyata..hiks...Mami..hiks..Papi..hiks Kiki...hiks..hiks..kalian di mana,aku takut hiks..! " ku peluk kakiku dan bersembunyi di dalam selimut.
.
.
.
.
.
Woa selesai,selesai..panjang juga ya hahaha😅
Oky masih sama kaya kemarin jangan lupa ninggalin jejak,jangan jejak astral 🙃
Maaf kalau banyak typo" berterbangan..hohoho 🙃
Oky jumpa di part 7🤗 bye 👋..