
!! BODOH DIA ADALAH JEVANO HURZY. CEO TERKENAL, TERTAMPAN DAN TERKAYA DI SELURUH DUNIA BEGOO!!!
BISA-BISANYA DIRIMU LOADING DULU!!
Setelah berbincang-bincang dengan direktur, aku dan Dayn kembali ke mobil. Selama diperjalanan aku hanya diam dalam pikiranku. Aku dan tuan Jevano bekerja sama?
Dari yang kudengar, selama ini belum ada yang berhasil menjalin kerjasama yang lama dengan Jevano.. Apa aku bisa..?
"Riana! Apa yang kau pikirkan? Apa kau kepikiran tentang kerjasama yang dibicarakan oleh pak direktur?" Tanya Dayn sambil menyetir mobilnya.
"Iya. Sebelum aku berkerja sama dengannya, aku butuh suatu informasi. Dayn, orang seperti apa tuan Jevano itu?"
"Kalau tidak salah, tuan besar Jevano itu orang yang tegas dan tidak suka basa-basi. Jadi kau harus langsung to the poin aja. Dan juga rumor yang kudengar nama 'Jevano' bukanlah nama aslinya."
"Eh?! Itu bukan nama aslinya?!"
"Entahlah. Tapi dari perkataan orang-orang sih iya."
Aku memikirkan kembali perkataan Dayn. Sepertinya memang benar Jevano bukanlah nama aslinya. Bukankah ini mirip denganku..
...****************...
"Tuan besar. Tuan Goyung dari agensi Art menyetujui untuk menjalin hubungan kerjasama dengan anda"
"Benarkah? Lalu bagaimana?"
"Seniman terkenal bernama Riana Avisha yang akan berkerja sama dengan tuan."
"hoo.. kupikir gadis itu akan menolaknya. Baiklah kau bisa kembali. Kumpulan beberapa informasi tentang gadis seniman bernama Riana Avisha itu."
"Baik!"
Sret..!
"Aria .. i miss you. Aku sudah menjadi CEO terkenal sesuai janjiku... Aku akan mengunjungimu secepatnya.."
...****************...
"Kau kenapa?"
"Ah gak. Hanya tiba-tiba aku merinding.."
"Ingat jangan begadang dan cepat tidur ya.."
"Iya iya!"
Dasar! Padahal dia bukan kakakku kenapa cerewet sekali!
Tapi kenapa tadi aku gemetar ya? Seperti ada yang membicarakan ku.
Ngomong-ngomong aku sudah bikin 4 lukisan. Masih ada 96 lukisan lagi. Jam menunjukkan pukul 21:37. Karna dari tadi aku minum kopi, jadinya aku tidak mengantuk sama sekali.
Drett..Drett!
Handphone ku berbunyi. Ada seorang tak dikenal menelfon ku.
"Halo?"
"Hei Riana! Ini aku Dayn. Kau simpan nomer baruku ini ya!"
Astaga.. Ternyata itu Dayn. Aku hampir panik siapa yang menelfon ku malam-malam begini.
"Ya baiklah. Sejak kapan kau Menganti nomer mu?"
"Baru saja. Aku memberikan nomer lama ku kepada adikku. Jadinya aku harus membeli nomer baru. Ngomong-ngomong kok belum tidur? udh Larut malam ini!"
"Aku hanya mengerjakan tugas yang diberikan oleh direktur Goyung saja kok. Sebentar lagi juga tidur."
"Baiklah, ingat jangan bergadang! Nanti tubuhmu demam lagi!"
"ya ya.."
Aku mematikan telfon dari Dayn. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja, daripada aku kena omel lagi kan..
...****************...
Besok paginya, aku pergi ke perusahaan galery gold. Itu adalah perusahaan yang sangat ku banggakan dan ku sukai. Perusahaan itu hanya berisikan lukisan dan patung-patung dari seniman legendaris dan terkenal.
Hanya seniman yang dikenal dunia saja yang bisa memajang lukisannya disini.
"Pagi Sora!"
"Selamat pagi Ria!"
Dia adalah Sora. Manajer ku selama ini. Dia lebih muda setahun dariku.
Setelah berbincang-bincang dengan Sora, kini pak direktur Goyung tiba. Aku dan Sora mengucapkan selamat pagi. lalu aku baru sadar jika direktur Goyung datang bersama seseorang..
"Oh iya, Riana. Perkenalkan dia adalah tuan besar Jevano Hurzy. Baiklah tuan, berbicaralah dengan santai dengan Riana. Riana, kau jangan merepotkan beliau ya! sampai jumpa!"
"Tunggu -"
Dasar! Kenapa Sora juga ikut pergi sih! Ngomong-ngomong apa yang harus ku lakukan sekarang ya..
Eh? Wajahnya terlihat familiar deh..
"Jadi nona Riana, apa kita bisa ganti tempat-"
"Kenzo..?"
!! Bagaimana gadis ini ..
"Ah..Maaf. Maksud saya bagaimana jika kita pergi ke restoran enak dekat sini.."
Astaga Aria! Kau bodoh sekali! Bagaimana kau bisa mengatakan nama Kenzo di depan tuan Jevano sih!! Mana lumayan keras lagi! Ah.. Malunya!!
...****************...
Setibanya di restoran, kami langsung mengobrol tentang kerja sama ini. Membahas beberapa hal dan sebagainya. Aku sedikit menyadarinya, bahwa Jevano ini sedikit se frekuensi denganku. Tipe yang tidak suka basa-basi membuatku lebih mudah memahami tentang proyek yang akan ku kerjakan.
"Baiklah. Penjelasan milikmu lumayan menarik. Karna kita berdua akan menjadi partner, maka anda bisa tanda tangan kontraknya." Jevano menyodorkan surat kepada Riana.
Aku mengambil dan membacanya terlebih dahulu setelah itu menandatangani kontrak itu. Setelah selesai menandatanganinya, aku menyerahkannya kembali.
"Ngomong-ngomong, kudengar kita berdua seumuran. Bagaimana jika kita saling berbicara dengan santai Riana?"
"Ah.. Baiklah. Mohon bantuannya Tua- maksudku Jevano."
Setelah perkenalan singkat itu, kami lanjut mengobrol kembali. Hingga sore pun tiba..
Aku menunggu taksi didepan restoran tadi.
"Mana ini? Kok belum datang-datang sih?" Aku mengomel karna taksi yang ku pesan belum datang dari tadi.
Tit~Tit
Aku mendengar suara klakson mobil berbunyi. Aku menoleh dan ternyata itu mobil milik Jevano.
"Riana? Kamu belum pulang?" Tanyanya sambil menurunkan kaca mobil.
"Ah itu..Aku memesan taksi. Tetapi belum datang juga. Kau akan pulang Jevano?"
"Ya. Naiklah. Aku akan mengantarmu."
Aku kaget. Antara mau dan tidak. Ah, bodoh amat.. Aku ingin pulang lebih cepat!
Aku mengangguk dan membuka pintu mobilnya. Aku duduk di kursi depan. Setelah aku naik, Jevano langsung berangkat.
Selama perjalanan aku hanya menantap ke arah luar. Pikiran dan perasaanku campur aduk. Sudah berapa lama aku mengobrol lama seperti ini dengan orang lain.
Beberapa menit kemudian aku meminta agar Jevano menurunkan ku di depan supermarket saja. Bisa gawat jika seseorang mengetahui lokasi tempat tinggal ku!
"Kau yakin turun disini?" Tanya Jevano.
"Rumahku ada di sekitar sini. Terimakasih atas tumpangan nya Jevano."
Mobil milik Jevano makin lama semakin menjauh.. Aku segera pergi ke Apartemen.
Ceklek~
Aku tinggal di apartemen yang lumayan mewah. Hanya ini Satu-satunya Rumahku sekarang. Tapi aku sangat kesepian dengan ruangan sebesar ini..
Drit~Drit
"Halo?"
"Kau sudah sampai rumah kan?"
Ah rupanya Jevano yang menelfon. Ada angin apa nih dia telfon duluan..
"Bukankah kau yang mengantarkan ku tadi Jevano?"
"Yah, itu memang benar.."
Terkadang Jevano itu orang yang sulit ditebak. Kadang dia sok dingin, cerewet dan kadang dia perhatian. Jika dia terus bersikap seperti ini aku akan terus merasakan deja vu..
"Riana, apa besok kau ada waktu?"
"Huh? Karna besok tanggal merah, seharusnya aku akan dirumah. Kenapa?"
"Ayo kita ketemuan. Aku ingin memberikan sesuatu"
Hah?! Seorang Jevano mengajak ketemuan?! Diluar prediksi ini maaa!!
"Boleh. Aku akan menemuimu di restoran yang tadi pagi kita kesana."
"Baiklah, selamat malam Riana"
"ha ha ha.. Selamat malam juga"
Bruk~
Aku menidurkan diriku di ranjang. Aku berbohong jika aku besok ada waktu, tapi jika aku menolaknya maka tidak akan ada kesempatan lagi. Jadi, Dayn MAAFKAN AKU!..