The Return Of The Artist

The Return Of The Artist
Bab 5



"Aria! pagi!"


"hei, apakah kau tidak kepagian ini?"


"sesekali berangkat pagi tidak apalah"


"tunggu sebentar, aku akan merapikan buku pelajaran dulu"


Hari ini aku akan berangkat sekolah bersama Kenzo. kami memutuskan untuk tidak menyembunyikan bahwa kami memang mengenal. Selama ini banyak hal yang terjadi, tetapi sedikit ku nikmati.


"Kenzo! ayo pergi!


Sesampainya disana, Seperti biasanya. Kenzo dikerumuni.


"Kenzo! kamu kenapa tidak masuk?"


"kami semua menghawatirkan dirimu!"


"benar-benar!"


Aku melihat wajah Kenzo yang ingin pergi. Aku memutuskan untuk membantunya.


"maaf. Tapi bisakah kalian minggir sebentar? Kenzo baru saja sembuh. Jika kalian bergerombol seperti ini maka luka Kenzo bisa saja terbuka lagi." Aku berdiri didepan Kenzo. Semuanya bengong begitu aku berbicara seperti itu.


Lalu aku menarik Kenzo untuk kembali ke tempat duduknya. Setelah itu aku juga kembali ke tempat dudukku. Guru datang. Aku menyimak pelajaran dengan serius tidak lupa untuk mencatat hal-hal yang mungkin akan keluar di ujian nanti.


Bel istirahat pun berbunyi, Kenzo mengajakku makan bersama di taman belakang sekolah dan aku pun mengangguk.


...****************...


"Apa tanganmu baik-baik?"


"tenang aja. ini gak separah banyanganmu kok"


"tapi tetap aja, kau kan temanku Kenzo!"


"iya deh"


Aku kesal karna Kenzo tidak mau mendengarkan perkataan ku, tapi apa boleh buat. Kami sudah selesai makan, lalu kembyke kelas. Aku lihat Erik di dalam perpustakaan sambil membaca buku. Karna kelasku melewati perpustakaan. Aku menyuruh Kenzo untuk kembali ke kelas terlebih dahulu. Aku masuk kedalam perpustakaan dan langsung menuju ke meja milik Erik.


"Hai" Aku menyapa Erik yang tengah membaca buku. Lalu Erik menoleh ke arahku.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan Aria?"


"apa maksudmu? bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?"


"Aria, seperti yang kau katakan. Kita bukanlah siapa-siapa lagi. Sekarang kita hanyalah orang asing."


Aku mengepalkan tanganku begitu mendengar jawaban darinya. Apa yang dikatakannya adalah suatu kebenaran. Kita bukanlah siapa-siapa lagi. Tidak ada hak untuk bersama lagi..


"ya. Kau benar. Maaf sudah menganggu dirimu Erik." Aku pergi begitu mengatakan itu. Sangat sakit bahwa aku harus menjalankan kehidupan seperti ini, Tetapi mau gimana lagi..


...****************...


Setelah selesai sekolah aku dan Kenzo pergi ke ArtSky. Kak Vilo dan Kak Yuna mengajar beberapa teknik dalam melukis agar lukisan kita lebih halus. Aku menseriusi pelajaran yang telah diajarkan. Aku telah menemukan hal untuk masa depanku.


"WAH! Kenzo ini lukisan yang luar biasa sekali!"


"hehehe terimakasih kak Vilo!"


"lihat ini Yuna! sudah kuduga Kenzo maupun Aria, Mereka cepat sekali memahami materi ini! padahal yang lainnya buruh waktu!"


Aku melihat kearah Kenzo. Ku akui bahwa Kenzo memang memiliki bakat seni yang sangat luar biasa sekali. Tapi sayangnya Kenzo tidak mau menjadi seorang seniman melainkan dia ingin menjadi CEO terkenal. Sejujurnya dia lebih cocok jika menjadi seorang seniman daripada menjadi CEO, Tapi yah bagaimana lagi.. Kita kan tidak bisa mengatur kehidupan orang lain kan.


...****************...


Malam pun tiba. Kini aku sudah berada di rumah. Kenzo juga mampir kesini.


"Hei Kenzo, kau bilang ingin menjadi CEO kan. Kenapa kau ingin sekali menjadi itu?" tanyaku pada Kenzo sambil minum teh.


"Kau sendiri? kenapa ingin menjadi seniman?"


"Aku juga begitu Aria. Mungkin kau melihatku sebagai orang yang berbakat dalam seni juga, tetapi aku melakukan itu hanya untuk hobi. Aku lebih menyukai yang namanya bisnis. Aku ingin masuk dalam dunia perbisnisan daripada seni. Karna itu aku ingin menjadi CEO agar tidak ada yang bisa berani dengan ibu."


Aku terkejut mendengar penjelasan Kenzo. Aku baru tahu jika Kenzo ahli dalam bisnis.


"kalau begitu.. Jika kau sudah menjadi CEO jangan lupakan aku ya.. menjadi CEO kan berat sekali. Mana kerjaannya padat lagi" Aku mengatakan hal itu sambil tersenyum kepada Kenzo.


Kenzo membalas senyumku dan mengatakan


"Mana mungkin aku melupakan sahabatku. Kau bebas keluar masuk perusahaan ku nanti. Asalkan jangan ganggu aja"


"Yee...aku gak seperti kamu ya. Lagian nanti aku juga sibuk tau"


Sebuah mimpi yang mungkin saja terwujud. Walaupun aku tidak akan tau seperti apa nanti kita di masa depan, Aku hanya berharap agar hubungan kita tidak putus.


Sebuah malam yang panjang. Aku terlihat tertidur dengan sangat nyenyak. Tiba-tiba aku bermimpi seperti mimpi yang nyata..


Di mimpi itu, terlihat bahwa aku dan Kenzo sudah kuliah. Hari itu tepat dihari ulang tahun Kenzo, kami berdua memutuskan untuk merayakannya disebut cafe kecil yang sering kami datangi.


Disaat kami sedang merayakan di sebuah cafe, tiba-tiba para pelanggan disana berlarian dan teriak-teriak sangat kencang. Lalu Kenzo melihat bayangan orang berbaju hitam dibelakang ku. Dengan cepat Kenzo langsung menarik ku kedalam pelukannya.


Ternyata orang itu adalah pembunuh bayaran. Dia hampir saja membunuhku mengunakan alat tajamnya itu. Untungnya aku bisa selamat berkat Kenzo, walaupun bahuku tergores.


Pembunuh itu dan Kenzo bertarung hebat. Ake melihat darah yang tak berhenti mengalir dari tangan Kenzo. Dengan cepat aku langsung menghentikan pertengkaran itu.


Tetapi keadaan malah berbalik.. Aku terbunuh begitu menjauhkan Kenzo dari pembunuhan itu.


Pembunuh itu langsung berlari begitu Kenzo marah besar.


Hari dimana seharusnya menjadi kesenangan malah menjadi penderitaan yang tak akan hilang...


Aku terbangun dengan terengah-engah. Aku mengambil air minum dan langsung minum. Jantungku terus berdetak dengan kencang. Sungguh ini pertama kalinya aku memimpikan sesuatu seperti itu. Kematian? Apakah aku akan mati di hari ulang tahun Kenzo??


Kepalaku dipenuhi dengan kata kematian. Aku menatap kearah jendela. Bulan dengan sinar terangnya. Aku menunduk dengan masih tak percaya..


...****************...


Pagi pun tiba. Hari ini sekolah ditiadakan. Aku melamun seharian ini. bahkan Kenzo yang bersamaku pun heran.


"Hei Aria! kau baik-baik saja?!" Kenzo yang menguncang tubuhku.


"Ah..Maaf. kenapa?"


"kau yakin tidak apa-apa?"


"iya."


"Aria kau aneh deh hari ini? Bukankah aku pernah bilang, jika ada masalah ceritakan. Jangan dipendam sendirian gitu"


Aku terdiam sejenak. Aku tidak tau apakah bisa menceritakan mimpiku pada Kenzo...


"Kenzo. Apa kau pernah bermimpi tentang kematian?"


"ya? Hem.. tentu pernah."


"benarkah?? lalu kamu bagaimana?"


"mimpi hanyalah mimpi. mungkin ada beberapa mimpi yang akan menjadi sebuah kenyataan. Tetapi ada juga yang tidak. Kita tidak perlu khawatir akan hal itu."


"Apakah mimpi bisa dirubah?"


"heh apa maksudmu? Mimpi bukanlah takdir. Tidak ada yang tau bisa dirubah atau tidak. Tetapi berusahalah saja." smirik Kenzo.


Aku terdiam kembali.. mengingat bagaimana mimpiku malam itu. Apa yang dikatakan Kenzo adalah benar!


"Aria... Apa kau bermimpi buruk??"


...****************...