
"Aria... Apa kau bermimpi buruk??"
Aku tercengang mendengarnya. Aku memang tahu kalau Kenzo anak yang sangat peka.
"Ya. Mimpi itu terasa nyata" Aku melihat kearah tanganku yang seakan masih bergetar.
"Tidak apa. Aku pernah bilangkan.. Baik di Mimpi atau bukan aku tetap akan melindungi dirimu!" Kenzo memegang tanganku dan mengatakan hal itu dengan ekspresi serius dan tersenyum.
Kau benar! Itu hanyalah mimpi! Jika itu benar, maka aku akan mencegahnya hal itu!
Entah mimpi atau bukan, aku bertekad untuk tidak pergi ke cafe itu tepat dihari ulang tahun Kenzo.
Kenzo yang melihatku sudah kembali normal pun tersenyum. Lalu dia yang awalnya duduk dibawah ku tiba-tiba dia duduk di sampingku.
Aku tidak tahu pertanda apa, tapi bisa diubah kan..
...****************...
Hari ini ibu menyuruhku untuk membeli sebuah cake untuk dimakan bersama. Aku berjalan, dan akhirnya tiba di salah satu Bakery terenak di dekat rumah.
Cling~
Suara lonceng pintu berbunyi. Aku disambut dengan perkataan selamat datang oleh salah satu pegawai disana.
"tolong berikan cake tiramisu dan vanilla ya.."
"baik. Tolong tunggu sebentar"
"Aku akan menunggu di meja dekat jendela sana ya"
"baik."
Aku berjalan menuju meja yang ku maksud. Setelah itu aku melihat hp ku. Tanpa kusadari, cake yang ku pesan telah selesai.
"ini cake anda"
"Ah.. Terimakasih banyak, oh iya maaf tapi apakah uangnya bisa saya serahkan ke anda? saya lagi terburu-buru sekarang."
"Oh tentu."
"Ini.. terimakasih"
Aku pergi begitu mendapatkan cake itu.
...****************...
Sesampainya di rumah aku langsung memberikan cake itu kepada ibu. Karna dirumah ada Tante Sarah dan Kenzo.
"Loh? Aria tidak ikut makan kue?" tanya Tante Sarah padaku yang mau naik ke lantai atas.
"Ah tidak dulu deh Tante. Saya mau beres-beres kamar"
"Mau ku bantu?"
"Gak usah, Makasih"
Aku menolak ajakan bantuan dari Kenzo, setelah itu aku langsung pergi menuju kamarku yang berada dilantai dua.
begitu tiba di kamarku, aku langsung merapikan dan membersihkan semuanya. Aku menyapu hingga bawah bawah kasur.
Akhirnya beres-beres pun selesai. Aku tinggal merapikan lemari yang dimana isinya foto-foto lama. Aku merapikannya dan sesekali melihat foto-foto itu..
"Nostalgia sekali ya..."
Disaat aku membereskan foto-foto itu, ada satu foto yang bikin hatiku menjadi sangat sedih. Foto itu berisikan fotoku dan seorang anak laki-laki kecil yang imut.
Aku merapikan foto-foto yang lain, dan hanya menyisakan foto itu. Setelah selesai aku langsung ke kasur dan melihat foto itu kembali.
"Bukankah foto ini sudah ku sobek waktu di pergi? kenapa bisa disini?" Aku menundukan kepalaku.
Foto itu adalah foto saat aku masih kecil bersama dengan Ayong.
Ayong adalah temanku. Tidak, daripada teman.. mungkin cinta pertamaku. Dia orang yang sangat ceria, Lucu, Ganteng dan sangat baik.
Sebelum aku mengenal Erik dan Kenzo, Yang aku kenal hanyalah Ayong seorang. Aku ingin tau..
Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja diluar negeri sana? Apakah kau makan dengan baik, bertemu dengan teman baik? Apakah pekerjaan disana sangat sulit?
Banyak sekali yang ingin kutanyakan. Ayong pergi saat kami berdua kelas tiga SD. Dia harus pindah keluar negeri karna Ibunya yang memang orang Taiwan asli.
Aku menatap kearah jendela dan melihat kearah langit. Sampai kapanpun aku berharap kami berdua pasti akan dipertemukan kembali..
...****************...
"Oh sudah selesai bersih-bersih nya?" Tanya ibu yang sedang memasak di dapur.
"Loh Kenzo dan Tante Sarah kemana?"
"Mereka sudah pulang. Ngomong-ngomong apa yang kamu bawa Aria?"
"Wah... sudah lama sekali ya.. Apa kabar ayong disana?"
"Benar. Apakah ibu punya nomernya?"
"Sayang sekali ibu tidak punya. Jika ibu punya ibu akan memberikannya padamu juga!"
"Ok"
Aku kembali ke kamar, Lalu memasang foto itu didekat foto aku bersama Kenzo. Dua orang yang sangat berharga bagiku.
Setelah aku memasangnya, Tiba-tiba Kenzo masuk ke kamarku..
"Aria?"
"!! Hei ketuk pintu dulu dongg , kan kaget jadinya"
"Hahha maaf maaf. Kau sedang apa? berisik sekali deh"
"Bukankah kau sudah pulang? kenapa kesini lagi?"
"Gabut aja. Hem.. foto siapa?"
Kenzo berdiri disebelah ku lalu ia juga melihatnya.
"Foto seseorang yang mungkin akan ku rindukan selamanya."
"Oh ya? siapa memang?"
"Dia namanya Ayong. Kurasa sifatnya tidak jauh beda dengan dirimu yang ceria. Tapi sayangnya dia harus pergi ke luar negeri karna Ibunya."
"Jangan sedih. Nanti dia juga bakal balik toh"
"Kau benar-benar mirip dengan ibuku deh"
Aku menjelaskan pada Kenzo bahwa kita berpisah dari kelas tiga SD. Ibu juga pernah berkata bahwa kami akan bertemu kembali. Tetapi itu hanyalah omong kosong belaka.
...****************...
Malam telah tiba. Aku rebahan dan menonton Tv. Sesekali aku melihat hp ku.
Disaat aku membersihkan memori handphone ku, aku tak sengaja menemukan aplikasi chat yang sudah lama sekali tak aku gunakan ataupun aku buka lagi.
Aplikasi chat itu adalah Chaline. Mirip seperti Telegram ataupun aplikasi chat lainnya. Tapi sayangnya sudah tidak beroperasi lagi deh.
Aku membuka Chaline tersebut. Aku menemukan chat dengan teman-teman lama.
"Pliss ini sudah lama sekali!"
Aku membaca chat lama dengan teman-temanku. Aku tertawa, terkadang memikirkan kembali bahwa masa laluku tidak terlalu buruk.
Lalu aku menemukan chat ku dengan Ayong. Aku lihat chat itu kembali. Terakhir kalinya kita chat adalah tahun 20**. Sudah delapan tahun lamanya. Aku membaca chat tersebut dari awal. Aku ingin menangis karna terlalu rindu.
...****************...
"Aria! Pagi!"
"Oh Kenzo. Pagi"
"Ada apa? tumben gak bersemangat?"
"Aku ada bimbel hari ini tau. Aku males banget.."
"ya udah. Gak usah bimbel. Gitu aja ribet"
Aku kesel dengan perkataan Kenzo. Apa yang dia katakan juga gak salah, tapi salah. AH GAK TAU DEH!
Akhirnya aku menyelesaikan pekerjaan hari ini. Karena para guru ada rapat jadi para murid disuruh untuk pulang cepat. Kenzo pergi untuk nongkrong bersama teman-temannya. Dia mau mengajakku ikut bersama, tetapi aku tolak. Ya kali aku ikut nongkrong bersama mereka..
Karna bimbel dimulai tepat pukul 15:00, masih ada banyak waktu sampai waktu bimbel tiba. Aku berjalan-jalan di sekitaran perkotaan. Hari ini ibu tidak ada dirumah juga, jadi aku bebas pergi kemanapun asalkan berhati-hati.
Karna terlalu bosan, Akhirnya aku pergi ke ArtSky.
"Kak Vilo?"
"loh? Aria?!"
Aku mendekati kak Vilo dan berbincang-bincang. Kak Vilo sangat terkejut bahwa aku datang jam segini. Biasanya kan aku datang sore-sore.
Aku duduk di bangku yang selalu aku tempati. Kak Vilo bertanya tumben aku tidak bersama Kenzo hari ini, aku menjawab kalau Kenzo lagi nongkrong bersama teman-temannya.
Kak Yuna menyuruhku untuk ikut melukis bersama, sayangnya aku tolak. Karenakan aku hanya mampir disini sampai waktu bimbel tiba.
Lalu tiba-tiba huja turun dengan sangat derasnya..
Aku bingung harus bagaimana!
*gawat! aku gak bawa payung ini!*