
*gawat! aku gak bawa payung ini!*
Aku mengecek tasku. Siapa tau aku bawa payung ataupun jas hujan. Ternyata tidak sama sekali. Mau tidak mau aku tidak jadi bimbel. Kak Vilo dan Kak Yuna menyuruhku untuk tetap disini sampai hujan berhenti.
Sudah lewat selama tujuh menit. Hujan tetap tidak berhenti. Langit sudah gelap, Aku bingung haru disini atau bagaimana. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaku, Aku menoleh kebelakang..
"Kenzo?!"
Aku terkejut. Kenzo ternyata datang untuk menjemput ku. Dia tahu kalau aku tidak membawa payung dan tidak jadi bimbel.
"Seharusnya kau hubungi aku bodoh!"
"cih! mana aku tau kalau akan hujan deras gini! lagipula darimana kamu tahu kalau aku mampir kesini?"
"Hanya firasat saja. Ayo pulang! keburu langitnya tambah gelap nanti"
Aku mengangguk dan menata barang-barang. Aku dan Kenzo pamit pulang tidak lupa aku bilang terimakasih untuk kak Vilo dan Kak Yuna.
Ditengah derasnya hujan, Momen seperti ini mengingatkanku saat pertama kalinya main hujan-hujanan.
Pemandangan kota dengan derasnya hujan. Membuatku mengingat memori masa lalu...
Sebentar lagi aku kelas dua belas SMA. Aku masih tidak tahu, Jalan kehidupan apa yang akhirnya aku pilih. Walaupun aku yakin aku akan manjadi seniman...
"Aria? Kenapa?"
"itu.. sebentar lagi kan kita kelas tiga SMA kan... Aku masih bingung dengan jalan kehidupanku nantinya."
"Hem.. Bukankah kau sudah menentukannya?"
"iya sih.. Tetapi aku takut tidak bisa menyelesaikan rintangan jalan kehidupan yang ku pilih!"
"Hei.. Jangan takut dengan rintangan apapun! Rintangan itulah yang membuat kita yakin dan bisa! Apa kau sadar Aria? Banyak orang yang terlalu percaya diri bahwa rintangan hidupnya akan mulus dan dia bisa menyelesaikannya tanpa bantuan sama sekali. Tetapi ternyata itu hanyalah omong kosong belaka, Rintangan hidupnya bagaikan permainan monopoli yang selalu berhenti di setiap blok nya dan selalu berputar putar di titik itu-itu aja. Karna merasa terlalu banyak beban dan stres, Akhirnya ia mengakhiri hidupnya di jalan kehidupan yang ia pilih."
Aku tercengang mendengar penjelasan dari Kenzo. Apa yang dikatakan Kenzo dapat menjadi motivasi untukku. Baik dalam Kebahagiaan, Kesenangan, Cinta. Kenzo yang selalu mendukungku dengan berbicara seperti itu, Dapat membuat semangatku membara.
Aku tersenyum pada Kenzo..
"Terimakasih. Kehidupanku adalah milikku sendiri. Anggaplah rintangan seperti bayaran karna telah hidup dikehidupan yang nyaman."
"Benar, Seperti itu! Berjuanglah, Aku akan mendorong mu maju kedepan dari belakang!"
...****************...
Dua tahun pun berlalu. Kini Aku sudah kuliah. Aku masuk jurusan seni dan selalu mendapatkan nilai tertinggi dikelas. Sungguh kehidupan yang menyenangkan..
Kelas yang ku ikuti telah berakhir. Hari ini adalah hari ulang tahun Kenzo. Aku berencana untuk merayakannya disebuah cafe.
"Aria! Nunggu lama kah?"
"gak juga. Ayo!"
Kami berdua berjalan menuju cafe tersebut sambil bercerita cerita. Sesampainya disana, Kami berdua memilih meja yang dimana dekat dengan jendela.
Kami memesan beberapa cake dan tidak lupa minuman kesukaan.
"Happy birthday to Kenzo! Semoga panjang umur ya!"
Aku menyodorkan kado untuk Kenzo.
"Terimakasih Aria! Aku pasti jaga kadonya!"
"hei hei, gak usah kayak gitu."
Kami bersenda gurau dan menikmati perayaan ini. Tetapi, Entah kenapa hatiku sangat cemas dan takut. Seperti aku pernah melihat adegan seperti ini. Seakan-akan.. Tidak seharusnya aku datang kesini!
"Aria.. Hei Aria!"
"Eh? Ada apa?"
"kau melamun lagi. Apa ada masalah?"
"Tidak ada. Ayo buat permohonan Kenzo. Keburu bintang permohonannya pergi."
"iya iya. Aku hanya berharap semoga kita bisa selalu bersama dan dirimu bisa bahagia bersama orang lain"
Aku sangat terkejut mendengar permohonan Kenzo!
"Apa maksudmu? bahagia bersama orang lain?"
"iya. Kita sudah dewasa. Di umur segini lah orang-orang sudah punya seseorang. Aku tidak terlalu peduli akan dunia percintaan, Karna itu aku ingin melihatmu yang bahagia bersama dengan orang yang kau suka"
"HAHHAHA MANA ADA ANEH!"
Bahagia bersama orang lain. Kata-kata itu sedikit menusuk ya.. Padahal orang yang ku sukai adalah kamu.
Aku dan Kenzo mengobrol panjang lebar sambil tersenyum dan tertawa. Tetapi itu tidak berlangsung lama..
'KYAAAA!!!
'TOLONGG
'CEPAT PERGI DARI SINI!'
Semuanya pada berlarian kesana-kemari. Aku panik, dan berfikir apa yang terjadi! Ditengah paniknya orang-orang, Kepalaku tiba-tiba pusing dan terjatuh.
Bruk!
"Aria?! kau baik-baik saja?!"
"ukh! Aku..Aku baik-baik saja"
*Aku yakin sekali! Semua ini sangat familiar! aku sudah pernah melihat seperti ini sebelumnya!*
Saat kepalaku tengah pusing, Kenzo menarik tubuhku kedalam pelukannya..
Aku sempat terkejut, Tetapi aku sadar akan sesuatu ketika melihat ekspresi miliknya..
"Kenzo?" Aku menoleh kearah samping, Ternyata ada seorang pembunuh bayaran yang hendak membunuhku..
"khukhukhu! Hebat juga ya, Kau bisa menghindar!" tertawanya.
"Siapa kau hah?! beraninya!"
"Kau tak perlu tau siapa aku. Aku hanya menginginkan gadis milikmu itu!" Menunjuk ke arahku.
"Jangan mimpi!"
Kenzo berdiri dan menghajar orang itu. Pertarungan hebat yang sepertinya aku pernah melihat.. Aku melihat dengan serius tanpa berkedip, Kenzo yang sedang bertarung dengan orang-orang itu.
Lalu memori tentang mimpi itu pun muncul. Aku teringat jelas akan mimpiku berapa tahun Lalu, Dan sekarang aku mengingatnya!
Aku membalikkan badanku,
"Ini adalah hari nya! Hari dimana aku akan mati karna melindungi Kenzo!" gumanku
Tanpa basa-basi lagi, Aku langsung beranjak berlari menuju Kenzo. Disaat orang itu menyodorkan pistolnya ke arah Kenzo, Aku langsung melindunginya dengan tubuh belakangku.
Jleb!
Rasa sakit yang sangat luar biasa. Aku bisa merasakan darah yang tak henti keluar... Apakah sudah saatnya aku pergi? Apakah kehidupanku hanya seperti ini? Padahal masih ada mimpi yang ingin ku raih..
Bruk!
"ARIA!"
Aku terjatuh lemas di pelukan Kenzo. Kenzo yang menatapku sambil menangis sungguh hal yang tak ingin kulihat.
Kenzo menggendongku dan langsung membawaku ke rumah sakit. Selama di perjalanan Kenzo tak henti meneteskan air matanya. Aku ingin mengatakan bahwa aku tak apa-apa, Tetapi suara itu tak keluar karna lemahnya tenagaku.
Akhirnya tiba di rumah sakit. Para dokter membawaku keruangan ICU dan langsung melakukan operasi. Disisi lain, Orang tua kami datang. Terutama ibu yang terlihat panik.
Dua jam berlalu.. Dokter kini keluar dari ruangan operasi. Mereka langsung menanyakan keadaan Aria.
"Begini, Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Aria. Namun sepertinya Tuhan lebih menyayanginya. Aria tak dapat diselamatkan."
Penjelasan dokter tersebut membuat mereka semua terkejut dan sedih. Kenzo tak dapat menahan tangisnya. Aku tak percaya akan melakukan hal ini, Tetapi demi kebahagiaan. Maka harus dilakukan.
Acara pemakaman untukku pun dilaksanakan.
Ibu yang menangis di depan pemakamanku, Kenzo yang terlihat pucat Dan tak menyangka kepergian diriku.
...****************...
Haloo gusyy...
Coba tebak Aria beneran mati tidak?
Yang mau tau jawabannya, Nantikan di episode selanjutnya..
Jangan lupa like ya!