The Return Of The Artist

The Return Of The Artist
Bab 4



Aku menelfon Kenzo kembali. Sayangnya panggilan itu terus memanggil saja. Akhirnya aku matikan Karena sudah ku coba tiga kali tetap tidak diangkat.


"Ada apa ya?" Aku penasaran. Ini juga pertama kalinya Kenzo menelfon ku beberapa kali. Karna terlanjur penasaran akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya pada ibu. siapa tau ibu tau kan..


"Ibu!!" Aku memanggil ibu. tetapi tidak ada jawaban. Aku memanggilnya kembali, tetap tidak ada jawaban. Aku mencari ibu ke dapur, kamarnya, dan seluruh rumah.


"apa ibu lagi pergi ya? Tiba-tiba hp ku bergetar dan ada notifikasi chat dari ibu. Ibu bilang bahwa, ibu sedang menjenguk seseorang di rumah sakit.


Karna aku sedang dirumah sendirian, mana malam-malam jadi aku pergi ke kamar. Mengunci pintu kamar, mematikan lampunya lalu menyalakan proyektor. Aku menonton Donghua [ semacam film China ]. Besok adalah tanggal merah, jadi aku bisa tidur malam.


...****************...


"Ibu! sebenarnya kita mau kemana sih??" Aku merengek karna pagi-pagi sekali ibu menyuruhku untuk bersiap-siap.


"Bukankah ibu sudah bilang? kita akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Seseorang!"


"ah.. memangnya siapa? padahal aku ingin menikmati tanggal merah!"


"Kita akan menjenguk Kenzo! jadi ayo bersiap-siap!"


Saat itu juga aku terkejut. Kenzo? dirawat di rumah sakit? apakah karna itu telfon ku tidak diangkatnya?


"Apa maksud ibu?! Kenzo dirawat di rumah sakit?"


"Ibu akan menjelaskannya nanti. kau ganti baju dulu ya. ibu akan tunggu dibawah." Setelah ibu keluar dari kamarku. Aku hanya duduk lemas dan melamun. Sebenarnya apa yang terjadi..? apakah Kenzo mengalami kecelakaan? tetapi terakhir kali kita pulang bersama.


Setelah selesai bersiap, aku dan ibu langsung pergi menuju rumah sakit. Setibanya disana, Aku langsung berlari mengikuti ibu untuk pergi ke ruangan tempat Kenzo berada.


Ceklek~


ketika pintu terbuka, ibu langsung menanyakan keadaan Kenzo pada Tante Sarah. Aku hanya menunggu di sebelah ibu. Lalu Seseorang memanggilku....


"Aria?"


terlihat kalau yang memanggilku adalah Kenzo. dengan cepat aku langsung berlari kearahnya.


"Wah.. aku gak nyangka kamu ikut kesini juga. Padahal aku ingi merahasiakan ini darimu hahaha"


Aku menahan tangisku. Aku tak menyangka aku akan melihat seperti ini. perban dimana-mana. hampir seluruh tubuh Kenzo dilapisi oleh perban putih.


"Kenzo, kau baik-baik saja? kenapa kau merahasiakan ini padaku sih"


"Aku akan menduganya. Jika aku memberi tahu dirimu, aku yakin kau akan menangis. Daripada melihatmu menangis lebih baik aku merahasiakannya deh. Maaf ya Aria." Kenzo tersenyum begitu mengatakan itu.


Dokter masuk, dan mengatakan akan melakukan operasi untuk Kenzo. Aku berdiri didepan pintu ruangan milik Kenzo. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini.


"Aria.. Jangan khawatir. ibu yakin Kenzo akan baik-baik saja" ibu menepuk pundak ku agar aku tidak khawatir dengan berlebihan. Karna pikiranku sedang kacau, aku meminta ibu untuk mengizinkan aku jalan-jalan sebentar.


Aku duduk di bangku taman rumah sakit. Sambil menutup mataku pakai tanganku. Aku benar-benar sedih. Ditengah kesedihanku, ada seorang yang memanggilku..


"Aria kah?"


dengan sigap aku langsung menoleh kearahnya. Itu adalah Erik.


"Erik? kenapa kau disini?"


"Ah itu..ibuku dirawat disini. Bagaimana denganmu?"


*oh benar, ibunya Erik kan dirawat di rumah sakit ini. kenapa aku baru sadar.* dalam hatiku. aku hanya termenung dan menundukkan kepalaku.


"Aria. Apakah kau baik-baik saja?" tanya Erik.


Aku ingin menceritakan semuanya padanya. Karna Erik orang yang ku percayai dimasa lalu..


"Erik, kenapa kau mendekati diriku lagi?" aku menanyakan pertanyaan yang sudah lama aku pendam padanya. Keheningan dan suasana yang tiba-tiba menjadi serius. Aku menatap lurus kearah Erik yang hanya diam mematung.


"Sudah kuduga. Kau masih mengingat diriku kan?" sebuah jawaban yang tidak kuharap kan. Entah kenapa daun-daun bertebaran, Angin yang sejuk berhembus kencang.. keheningan beberapa menit setelah Erik menjawab pertanyaanku.. Aku membuka mulutku dan mengatakan..


"bagaimana bisa aku melupakan seorang yang begitu berharga bagiku dulu... Seorang yang selalu ada bersamaku baik suka maupun duka. Tetapi orang itu pergi tanpa kabar, ataupun pemberitahuan apapun. Aku menunggunya.. tetapi tak kunjung datang."


Erik kembali mematung. Lalu ia mengatakan..


Aku membalikkan badanku. Dan menatap tajam Erik.


"MAAF?! HANYA ITU SAJA?! APA KAU TAU, BETAPA STRESNYA AKU BEGITU TAU KAU PERGI TANPA MEMBERITAHUKAN APA-APA PADAKU! AKU HAMPIR MENGIRA HUBUNGANKU DENGANMU HANYALAH IMAJINASI DIRIKU SAJA!" Aku membentak Erik dengan keras. Bukan ini yang ku inginkan, yang kuinginkan hanyalah aku bisa merasakan cinta yang benar-benar tulus bukan dipermainkan.


Aku berdiri didepannya dengan terengah-engah. Tidak ada jawaban darinya. Tiba-tiba ibu berlari ke arahku sambil berteriak memanggil namaku..


"Aria! kenzo-" ibu terkejut bahwa ada Erik juga disana. Sebelum aku berlari ke arah ibu, aku berbisik pada Erik..


"Jika ada yang kau katakan, katakanlah hal itu di sekolah besok. Dan jangan berharap apapun padaku kembali..Erik!" setelah mengatakan hal itu aku pergi ke arah ibu, ibu mengatakan bahwa Kenzo sudah selesai menjalani operasinya. Dengan cepat aku langsung berlari menuju ruangan milik Kenzo.


Erik berdiri, dan hendak pergi. Tetapi ternyata didepannya ada ibu Aria.


"Erik?"


"Ah selamat siang bibi. Maaf saya permisi dulu"


...****************...


"Kenzo!!"


"Ah Aria! maaf sudah membuatmu kha-"


Aku langsung memelukku erat Kenzo. aku menahan tangisku di bahu Kenzo. Lalu, sepertinya Kenzo tau bagaimana perasaanku hari ini, jadi dia menepuk pundaku dan memelukku.. Kenzo mengatakan..


"Aria..Aku disini. Aku akan selalu bersamamu dan melindungi dirimu. Jadi ceritakan kalau ada yang membebani mu. Seorang sahabat pasti akan sedih jika sahabatnya bersedih."


Perkataan itu berhasil membuat tangisku pecah. Aku menangis di pelukan dan pangkuan Kenzo. Sekarang aku sudah memiliki seseorang disini. Aku tak akan sendirian lagi seperti dulu.. Aku juga akan menjaga Kenzo, seperti ia menjagaku..


...****************...


"Sudah puas nangisnya?" Kenzo yang sambil mengusap air mataku.


"Hahah sudah. Ngomong-ngomong apa kau sudah makan? jika belum, aku akan meminta ibu untuk membelikan makanan"


"Tenang saja aku sudah makan kok. Bukankah ini pertama kalinya aku melihat Aria Astrania menangis seperti itu.." smirik kenzo~


Aku langsung mengalihkan pandangan karna malu. Ini juga pertama kalinya aku menangis didepan orang lain!


"HEI BERHENTI MENGGODAKU!"


"HAHAHAHA"


Aku tersenyum melihat Kenzo yang tertawa lepas..


"Kapan pulang?"


"nanti malam. Besok sekolah bareng ya.."


"ya kan setiap hari juga bareng gitu loh.."


"ya gak salah sih.."


...****************...


"Terimakasih Rachel, Aku akan membalas semuanya untuk hal ini"


"ah. aku tak melakukan apa-apa kok. Jaga baik-baik anakmu itu ya"


"ya pasti dong. Oh iya, Aria. Tante sangat berterimakasih untukmu loh. Kedepannya tolong jaga Kenzo ya!"


"tentu Tante."


Aku dan ibu berpamitan pada Tante Sarah. Sebenarnya aku ingin pulang malam, bertepatan dengan Kenzo pulang kerumahnya juga. Tetapi ibu bilang bahwa hari ini bakal ada tamu dari luar kota datang kerumah.


Aku menatap ke arah jendela mobil, melihat gedung-gedung tinggi, mobil maupun motor. Lalu pikiranku menuju ke Erik.


*Apa aku keterlaluan tadi ya..*