The Return Of The Artist

The Return Of The Artist
Bab 11



"Yah terus siapa lagi.."


Aku tahu ini ide ku tapi ini GILA! AKH! Bukan terkenal karena lukisan nya tapi nanti terkenal karena semua orang pasti bertanya-tanya apa hubungannya kita berdua DAN ALHASIL JADI SALAH PAHAM!


Brak!


"Jangan! Yang ada malah salah paham tau!"


Jevano hanya diam dan tak peduli. Bagaimana dia bisa diam begitu?! bukankah ini bisa menurunkan sahamnya!


"Riana, apa kau yakin itu pikiran orang-orang nanti? Bagaimana jika ternyata orang-orang memiliki pikiran yang jauh berbeda dengan mu?"


Deg!


Ya, itu bisa jadi. Kita juga tak tahu dengan gaya pikiran orang-orang.. Hah.. Baiklah coba saja.


"Baiklah. Aku akan melukis nya. Kau dan Aku. Jika nanti tanggapan orang berbeda dengan yang kau katakan jangan salahkan aku.."


Jevano setuju. Kita berdua pergi ke sebuah studio foto. Kita kan tidak punya foto berdua, bagaimana mau lukis kan..


Kira-kira pose lukisan nanti adalah aku duduk sambil memegang bunga sedangkan Jevano berdiri disamping ku sambil tersenyum.


Hari demi hari, lukisan itu telah selesai. Aku tak akan bisa menyelesaikannya tanpa kerja sama dengan Jevano. Sesuai janji, aku memajangnya di Galery gold tepat di samping lukisan Aria Astrania.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Jevano adalah benar. Banyak orang terpesona dengan lukisan kami berdua, bahkan lebih terkenal dari lukisan Aria yang kubuat beberapa hari lalu.


"Lihat. Kau terlalu khawatir.. Apa yang ku ucapkan benar kan?" Jevano berbisik padaku. Aku tersenyum dan berterimakasih.


...****************...


Hari ini adalah hari selasa. Aku pulang dari luar kota. Aku memutuskan untuk pergi ke galery, karna sudah sebulan aku tak melihat lukisan ku yang dulu pernah ku banggakan.


Disaat aku ingin melihat lukisan ku dengan Jevano ada seorang laki-laki tampan berdiri dan melihat lukisan itu.


Apa itu Jevano? Tapi sepertinya lebih pendek dari Jevano deh, dan rambut Jevano kan bukan warna coklat. Siapa? sepertinya aku pernah melihatnya..


Aku mendekati nya. Dia menoleh. GILA! DIA LEBIH CAKEP DARI JEVANO! shut! kau tak boleh begitu Riana!


"Halo?" Aku menyapa nya terlebih dahulu. Sepertinya dia baru pertama kali kesini.


"Aku belum pernah melihat mu sebelumnya. Baru pertama kali ke sini?" Basa-basi dulu boleh lah ya..


"Oh hai. Ya, ini pertama kalinya. Ngomong-ngomong anda..?"


"Aku Riana. Kau?"


"Eh?! Anda seniman terkenal itu ya?!"


Kaget nya pun lucu ya.. Jarang sekali aku melihat orang seperti dia.


"Haha begitulah"


"Aku Erik."


Hah? Erik? Erik Zeriound ?


"Eh maaf..apa..apa nama panjang mu Erik Zeriound?"


"Iya, bagaimana anda bisa tahu?!"


Tidak mungkin! Yang benar saja, orang ini mantan ku saat aku masih menjadi Aria!


"Haha, Anda seorang model kan. Bukankah itu wajar jika anda terkenal..( sebenarnya aku tidak tahu, tapi sudahlah daripada di curigai)"


"Haha rupanya begitu.. Ngomong-ngomong lukisan ini anda yang buat kan?" Erik menunjuk pada lukisan Aria. Aha.. Sepertinya aku tahu apa maksudnya


"Iya! Dia gadis yang disukai oleh rekan saya. Bukankah gadis ini sangat cantik? Ku dengar dia ingin jadi seorang seniman, tapi sayang sekali dia sudah meninggal.."


Deg..


"Apa..Siapa namanya.." Tanya Erik


Loh? Kenapa kau terkejut seperti itu? Seharusnya semua orang yang mengenal ku sudah tahu bahwa aku telah meninggal kan..


"Itu.. namanya..Aria Astrania."


Tidak mungkin! Ku pikir Aria tak ada kabar karna dia sibuk dengan kehidupan nya, ternyata dia telah meninggal?! ( dalam hati Erik )


"Apa ada masalah? Sepertinya kau mengenalnya-"


"Riana?"


Eh? Jevano sedang apa disini? Oh iya Erik gak tahu kan kalau Jevano adalah Kenzo kan. Lagipula suasana apa ini..


"uh..itu..Jevano, sedang apa kau disini?" Orang ini bikin mood seseorang turun saja. Aku harus bikin Jevano pergi dulu..


"Ayo pergi saja" Aku berbisik pada Jevano dan menarik nya keluar. Tak lupa aku memberi isyarat untuk mengobrol di telepon saja dengan Erik.


"Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Jevano


"Mana ada aku menyembunyikan sesuatu!" Aku menjawabnya dengan tegas, walaupun sedikit gugup.


"Siapa orang itu?"


Sudah kuduga Jevano akan bertanya tentang Erik. Aku mengajak Jevano mengobrol di Cafe saja.


"Dia seorang model yang baru naik daun. Erik Zeriound. itu namanya.."


Aku melihat wajah Jevano. Sepertinya Jevano mengenal nya. Darimana? Aku kan dulu tak pernah mengenal kan nya? apa dia pernah bertemu saat kita bertiga masih satu sekolah?


"Sepertinya kalian berdua saling mengenal ya? Erik bahkan mengenal Aria.."


Aku terkejut melihat wajah terkejutnya Jevano. Mereka berdua benar-benar saling mengenal!


Aku berusaha untuk menanyakan nya, tapi Jevano selalu mengalihkan perhatian dan mengubah topik. Jika aku adalah Aria aku akan memaksa nya untuk mengatakannya.


...****************...


Malam hari tiba. Setelah selesai mandi, rencananya aku ingin menggambar sesuatu.


dret~dret!


Siapa malam-malam begini yang menelfon? Ternyata Erik.


"Oh Erik. Ada apa?


"Maaf menghubungi mu malam-malam begini. Apa besok kau ada waktu?"


Besok ya..Sepertinya besok aku ada janji dengan Jevano deh. Apa aku batalkan saja ya..? (dalam hati ku)


"Sepertinya tidak ada. Kenapa?"


"Aku ingin mengajak mu jalan. Apa kau mau?"


Waduh..apa nih! Erik tidak tahu kan kalau aku Aria?! Apa aku tolak saja, tapi itu bakal lebih di curigai! Baiklah terima saja.


Aku menerima ajakan Erik untuk bertemu. Erik bilang dia ingin aku bertemu di depan galery. Aku menolak. Besok akan banyak kunjungan orang ke galery, lebih baik di depan supermarket di dekat sana saja. Erik menyetujuinya.


...****************...


"Kemana kau akan pergi Riana?" Tanya Dayn padaku


"Ada kenalan ku yang ingin mengajak ku jalan. Dayn bagaimana penampilan ku? sudah pas belum?"


Yah walaupun aku dan Erik dulu sudah tidak punya hubungan apa-apa, tapi sekarang bisa kan menjadi teman..


Sesuai janji aku bertemu dengan Erik di depan supermarket. Erik memiliki oufit yang keren! ya kan dia model lah ya..


Aku dan Erik jalan-jalan. Kita pergi ke pantai dan bersenang senang. Terakhir kita mampir di sebuah restoran untuk makan. Entah kenapa rasanya jalan-jalan ini mengingatkan ku saat jalan-jalan bersama Jevano ..


Sekarang sudah jam 9 malam. Aku akan pulang karena besok aku harus bekerja kembali. Erik meminta ku agar dia mengantarkan ku pulang, karena terlalu berbahaya jika perempuan jalan sendiri malam larus begini.


Awalnya aku menolak karena takut Erik mengetahui apartemen ku, tapi karna dia memaksa jadi mau bagaimana lagi..


Di perjalanan aku dan Erik juga mengobrol.


"Terimakasih Erik. Sebenarnya aku bisa pulang sendiri."


Kalian tahu aku sangat terkejut jika ternyata ada Jevano disana! sepertinya dia marah karna aku tak menemui nya...


Bagaimana ini...?!