The Return Of The Artist

The Return Of The Artist
Bab 12



"Je..Jevano?"


Aku benar-benar gugup. Ada jarak Keheningan diantara kami bertiga. Aku sungguh tak sanggup untuk menatap matanya. Bagaimana ini?


Jevano melangkah dan melewati ku,dan.."Kau pembohong Riana." Ucapnya berbisik.


Saat itu aku tidak bisa tidur dan sering memikirkan perkataan Jevano. Aku memang berbohong tapi aku tidak menyangka akan separah ini.


"Seharusnya aku meminta maaf malam itu, tapi.." gumanku.


Drtt~


"Halo? Oh Sora."


"Riana! Cepat lihat berita hari ini!"


Awalnya aku tak mengerti ada apa. Apa berita seniman baru lagi? ternyata itu salah.


Aku melihat laptop ku. Dan ternyata berita itu tentang 'CEO TERKENAL JEVANO HURZY DATING DENGAN MODEL TERKENAL'


Aku syok tak bergerak. Berita macam apa ini?!


"Sora.."


"Riana..maaf seharusnya aku ingin tidak memberitahu ini tapi kau berhak tahu, Tuan Jevano..ia membatalkan kerjasama dengan kita."


Jleb!


"Membatalkan..?"


"Aku akan mencoba membujuk nya! Jangan sedih Riana!"


Tut~Tut~


Kenapa..kenapa bisa begini? Setelah kerja keras ku selama sebulan hancur begitu saja. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku Jevano! Demi kerjasama ini, aku menghabiskan waktuku hanya untuk melukis tapi kau malah..


Aku kesal dan membanting satu canvas yang hendak ku kirim. Aku terpuruk dan menangis. apa ini semacam karma padaku?


Sudah beberapa hari aku tidak keluar rumah sejak kejadian itu. Sulit bagiku untuk memaafkan begitu saja.Tapi aku tidak bisa begini terus.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar.


"Aku keluar dulu ya.."


Seperti biasa aku hanya jalan-jalan di sekitar. Terkadang ada para fans meminta tanda tangan dan foto dan juga mereka bertanya kenapa aku tidak mengeluarkan lukisan baru lagi. Entah kenapa ini membuatku hatiku senang.


Setelah melanjutkan perjalanan ku aku melewati galery gold. Aku mampir sebentar disana.


Lukisan-lukisan yang bikin aku kangen. Tapi diantara semuanya hanya lukisan Aria lah yang membuat hatiku sakit kembali.


Jika Jevano tahu aku adalah Aria, apa dia akan meminta maaf? lalu hubungan kami kembali seperti dulu?


"Dasar, Walaupun aku tahu kau adalah aku tapi rasanya tetap tidak adil. Kau dapat bergantung pada siapapun termasuk orang yang kau sayangi Aria. Sedangkan aku? orang yang ingin aku dekati kembali pergi begitu saja karna egois ku. Kembalikan diriku sebagai Aria dulu!"


Aku mengatakan itu sambil menangis dan menatap lukisan Aria. Sudah lama rasanya aku tidak menangis begini.


Semenjak aku memutuskan untuk memulai kehidupan sebagai Riana, aku hanya bersabar dan menanggung semuanya.


Kupikir aku sudah cukup baik untuk berakting seperti itu tapi, akting itu retak hanya karna ke egoisan ku saja.


"Riana?"


Deg! Siapa?


Aku melirik ke samping dan itu ya Erik. Sudah berapa lama dia disana? apa ia mendengarkan semuanya ?


Ia menatap Erik dengan air mata yang masih menetes. Sulit baginya untuk berbicara dalam keadaan menangis.


"Riana..? Tidak. Kau bukankah Riana. Tapi Aria kan."


"Erik..Bagaimana..?"


Erik hanya diam lalu ia memeluk ku.


"Tidak peduli mau tahu darimana. Kau tahu? Dari awal aku sudah menduga bahwa kau adalah Aria. Walaupun kau mengubahnya aku tetap tahu dari sifat mu. Kita sudah pernah bersama selama 3 tahun tidak mungkin aku tidak tahu. Jadi jangan disembunyikan lagi ,Aria."


lalu kenapa aku malah menangis? Apa itu perkataan yang ingin ku dengar jika ada orang yang mengetahui aku adalah Aria..


"Kau baik-baik saja? Kau menangis tak henti henti tadi."


Sehabis menangis Erik membawaku ke taman untuk menenangkan diri. Entah kenapa hatiku terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya.


Ini semua berkat Erik.


"Ya, lebih tenang. Terimakasih Erik." Ucapku.


"Maaf, seharusnya aku tidak mengetahuinya."


Aku melihat Erik. Aku ingin mengatakan bahwa itu hal yang wajar jika ia mengetahui identitas asliku. Tapi entah kenapa kata itu tidak keluar dari mulutku.


"Tidak apa Erik. Tapi tolong jangan pernah memberitahu ataupun memanggilku dengan sebutan Aria kembali."


"Kenapa? Tanya Erik padaku.


Aku terdiam sejenak. Apa boleh aku menceritakan ini semuanya?


"Ada beberapa alasan nya. Yah, intinya aku hanya ingin kehidupan yang baru dan bisa melihat dirinya dari jauh."


"Apa maksud mu..Kenzo?"


Aku melirik ke samping lebih tepatnya ke arah Erik sambil tersenyum lalu mengangguk. Aku bercerita banyak tentang Kenzo dan aku. Walaupun aku tahu bahwa tak seharusnya aku menceritakan kisah seperti ini pada orang yang hampir ku benci tapi aku merasa tak apa.


Erik juga tak masalah aku bercerita tentang kisahku dan Kenzo. Bahkan ia malah menanggapi dan memberikan beberapa saran.


Malam hari telah tiba. Karena terlalu banyak pikiran aku jadi tidak bisa tidur dan memutuskan untuk pergi jalan-jalan.


Udara dingin dimalam hari membuat pikiran ku lebih sejuk.


Saat itu aku tidak sadar jika aku bertemu dengan Jevano.


"Kau?" Aku menatap tajam Jevano. Orang yang dulu ku sukai kini jadi orang yang ku benci.


"Lama tidak bertemu nona Riana." Ucap Jevano.


Aku mengepalkan tanganku. Rasanya aku ingin sekali memukulnya..


"Apa kabar-"


PLAK!


Tanpa ku sadari, aku memukul wajahnya saat itu juga.


"DASAR! APA MAKSUDMU TIBA-TIBA MEMUTUSKAN MEMBATALKAN KERJASAMA INI?! APA KAU TAK TAHU BETAPA KECEWA NYA AKU!" Teriakku padanya.


"Aku tahu aku berbohong padamu, tapi apa segitunya hingga kau ingin menghancurkan kehidupan ku! Kau orang terbodoh yang pernah aku percayai Jevano! Aku tak masalah jika kau ingin balas dendam denganku tapi tak begini juga caranya.."


Sakit! Dadaku terasa sakit. Padahal aku sudah biasa saja dan kupikir aku sudah memaafkan kejadian ini tapi..tapi- kau malah datang tanpa muka bersalah sama sekali.


"Aku tak akan melakukan hal sepele hanya karna kau berbohong sekali padaku. Tapi-" Jevano mendekati wajahnya ke wajahku dan mengatakan "Sejak kapan kau tahu akan kisahku dan Aria?"


Deg! Jantung ku seakan berdetak lebih kencang. Darimana ia mendengar nya? Apa akhirnya ia tahu bahwa aku Aria?


Aku tak berkutik sama sekali. Rasanya aku ingin pergi dari sini.


"Aku..mengetahuinya dari Erik." Ucapku dengan gugup. Aku benar-benar tak punya pilihan selain menggunakan nama Erik.


"Sejak kapan kau dan Erik menjadi dekat?"


"Aku dan dia sudah saling kenal semenjak aku pergi ke Inggris untuk competion melukis. Mungkin sejak itulah kita menjadi lebih dekat."


"hemm.."


Aku sedikit tenang melihat Jevano yang sepertinya sedikit mempercayai perkataan ku.


"Baiklah aku akan mempercayaimu. Kalau begitu sampai jumpa Riana."


Melihat Jevano pergi, Sontak aku memanggil nya


"Jevano tunggu-"