
Tanpa mereka sadari, saat ini mobil mereka telah sampai di bandara.
"Turunlah!" ujar William ketus.
"Baik tu- eh kak William. Terimakasih banyak" jawab Olivia.
"Tuan sebaiknya anda mengantarkan nona masuk tuan, demi Tuan besar. Dia pasti akan marah kalau tahu anda hanya mengantarkannya sampai sini" Hendrik berkata seperti itu dengan maksud mendekatkan tuannya dan Olivia.
"ish kau ini, membuang waktu saja. Yasudah ayo!" Jawab William kesal. Sebenarnya ia enggan turun karena takut tak bisa menahan hatinya, dalam hati William sesungguhnya ia seperti tak rela Olivia akan pergi ke jerman.
" Nona mari kami antar nona sampai kedalam"
"Baiklah terimakasih e kak Hendrik" Ujar Olivia. William yang mendengar menjadi kesal karena Olivia tak mengucapkan terimakasih padanya.
"Sudah cepat jalan. Kau menghambat kegiatan ku saja" ujar William ketus.
"Emm kak William kalau kakak sibuk kakak tidak usah antar aku sampai di dalam" Olivia berkata dengan ragu. Sungguh dalam hatinya ia tak berniat untuk menganggu kegiatan William.
" Sudahlah cepat!"
Mereka pun masuk kedalam. Hingga sampai batasnya dan panggilan untuk pesawat yang akan ditumpangi Olivia sudah diumumkan.
"Terimakasih banyak kak William dan juga kak Hendrik" ujar Olivia sambil menunduk.
"Sama sama nona. Ingatlah semua pesan yang diberikan keluarga nona" Ujar Hendrik tulus.
"Kak Hendrik saja memberiku kata perpisahan,tapi dia yang katanya calon suamiku saja cuek bebek begitu" gumam Olivia dalam hati. Baru saja beberapa langkah Olivia berjalan. Tangan kekar milik William menahan tangan Olivia.
"Tunggu!" perintah William
"Eng- e ada apa kak?" tanya Olivia dengan gugup karena ia merasa takut kepada William yang tiba tiba berteriak kepadanya. William yang menyadari ketakutan Olivia langsung menarik Olivia ke pelukannya.
"Berhati-hatilah jaga dirimu disana dan jangan bermain-main dengan banyak pria. Ingat kamu itu calon istriku." Ujar William lembut setelah itu ia mencium kening Olivia.
"aduh jantung ini, kenapa bisa berdetak sekencang ini. lagian kak William tumben sekali bersikap seperti ini. Aku menjadi salah tingkah kan"
William yang merasa malu pun langsung meninggalkan Olivia dan juga Hendrik yang masih berdiri mematung karena terkejut dengan tingkah bos nya itu.
"Saya permisi nona" ujar Hendrik sebelum meninggalkan Olivia.
Tanpa mereka sadari ternyata ada seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"si cupu itu, siapa yang tadi bersamanya. Wajah pria itu seperti tidak asing. tapi si cupu mau kemana ya pake bawa koper segala" gumam wanita itu.
Tak lama terdengar lagi panggilan untuk seluruh penumpang pesawat yang akan segera berangkat ke Jerman .
"itu panggilan untuk penumpang pesawat yang akan terbang ke Jerman. apa itu artinya si cupu bakal ke Jerman ya?. Tapi dapat uang darimana dia. Apa mungkin beasiswa ya. akh sudahlah ngapain juga gue capek mikirin si culun. Mending gue siap siap mau liburan ke eropa" Gadis itu langsung membuyarkan pikirannya untuk menebak-nebak apa yang di lakukan Olivia.
6 bulan berlalu
"Hendrik, bagaimana dia disana?"
"Nona baik baik saja tuan. Terlihat beberapa pria berusaha mendekati nona, tapi nona selalu menghindar. Nona juga termasuk mahasiswi yang pintar." ujar Hendrik.
"Bukankah kau bilang bahwa aku akan ada pertemuan dengan klien di jerman?"
"Benar tuan, tuan akan berangkat 3 hari lagi ke Jerman. Mungkin dengan begitu tuan bisa menemui nona dan mengatasi rasa rindu tuan kepada nona"
"Hei aku tidak merindukannya. Aku hanya tidak sabar untuk bisa pergi ke Jerman. Kau sekarang sangat menyebalkan"
"bukan saya yang menyebalkan, tapi anda tuan, saya sangat lelah setiap waktu selalu ditanyai tentang keadaan nona. Anda selalu saja menanyakan nona. Bahkan dalam hari ini anda sudah 5x bertanya" gumam Hendrik dalam hati.
Selama 6 bulan William selalu menyuruh Hendrik untuk mengawasi apapun yang dilakukan olivia. Hendrik mengirim beberapa orang untuk menjadi teman Olivia sekaligus untuk tahu hal apa saja yang akan dilakukan olivia dan juga menjaga Olivia.
*semoga suka ya dengan novel ini*