The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
pernikahan



Kejadian di butik tadi membuat mereka enggan melakukan foto prewedding.


"Kita tidak usah foto. Kita pulang saja!" ujar William ketus. Perempuan parubaya itu sukses membuat mood William hancur.


"Iya kak" Olivia juga merasa enggan untuk melakukan prewedding setelah apa yang terjadi di butik.


**


"kenapa kamu tidak jadi foto. Semua sudah menunggu disana William. Kenapa kamu mengacaukannya?" tanya Tomo kepada William yang baru datang.


"pah, aku lelah" William meninggalkan Tomo yang masih menunjukkan wajah kesalnya.


"Anak itu telah mengacaukan jadwal yang telah ku buat. Yasudah tidak usah isi foto. Foto tidak penting yang penting Olivia menantuku" ucap Tomo cengengesan.


Keadaan rumah Tomo saat itu benar benar ramai, banyak orang lalu lalang untuk menyiapkan pernikahan William.


**


Keesokan harinya


Saat ini Olivia telah siap dengan balutan gaun pengantin yang terlihat sangat indah di tubuhnya.


"Nona anda sangat cantik" ujar pelayan itu.


"Terimakasih mbak"


pelayan itu kemudian meninggalkan Olivia. Olivia berjalan ke arah cermin. Ia melihat dirinya di cermin.


"apa pantas aku bersanding dengannya?" ucap Olivia sambil memperhatikan dirinya.


"Kejadian di butik itu benar-benar membuat Olivia gelisah. ia merasa bahwa ia memang tidak pantas untuk seorang William. Oliva sejak kemarin mencari berita tentang William.Segala pesona William ada dalam berita itu. Hal itulah yang membuat nyali Olivia menciut jika disandingkan dengan William.


"Sayang, kamu cantik sekali. Luar biasa sayang" ujar adinda pada putrinya sambil berpelukan.


"Jemputan nya sudah datang nyonya" ucap seorang pelayan yang membuyarkan pelukan ibu dan anak itu.


"Baiklah kami akan segera turun" jawab adinda.


"saya permisi"


"sayang, kamu harus ingat pesan ibu ya. Nak William itu baik nak, jadi jangan kecewakan dia. dan jangan kecewakan kami. Terutama tuan Tomo. Dia sangat berharap besar padamu sayang" ucap adinda tulus.


"iya ibu. Olivia berjanji"


"Yasudah ayo"


**


Janji pernikahan telah terlaksana. Upacara pernikahan diadakan pagi dan hanya disaksikan keluarga terdekat saja. Acara yang penting adalah nanti, resepsi. Dimana resepsi ini dihadiri oleh banyak orang. Dan pastinya dengan pesta sangat meriah.


"Kalian berdua istirahatlah. Kalian harus bersiap dengan tamu tamu nantinya" ujar Tomo.


"Baiklah pah" William meninggalkan Olivia yang masih senang berbincang di ruang tamu itu.


"Will ajak juga istrimu" ujar Tomo yang sukses membuat langkah William terhenti.


William menghampiri Olivia "Ayo tidur" ujar William ketus.


"eh... i iya kak. Aku kesna dulu ya" Olivia dan William naik ke atas.


Sampai di kamar William. Olivia benar benar takjub dengan kamar William. Sangat rapi dengan warna biru kalem, dengan dipenuhi perabotan yang mewah dan mahal tentunya.


"Tidak usah bengong, ganti bajumu dan tidur" ucap William datar.


"Tapi kak, bajuku?" kali ini Olivia sudah bertekad untuk mengatasi segala kegugupan nya dengan William.


"Semua bajumu ada di lemari" William melepas setelan jas yang digunakan dan sekarang hanya menggunakan boxer dan kaos oblong nya.


Olivia yang melihat pemandangan seperti itu menjadi terkejut. Olivia menjadi malu karena ia bisa melihat tubuh seksi suaminya itu.


"tidak usah malu, kau kan sudah merasakannya" celetuk William sambil merebahkan dirinya di kasur king size itu.


"iya kak" Olivia kemudian bergegas mengganti bajunya dan membasuh wajahnya.


Hanya beberapa menit Oliva sudah selesai mengganti bajunya. Dia bingung dia harus dimana. Untuk tidur disamping William dia masih takut.


"Tidur saja di kasur" celetuk William masih dengan mata yang tertutup.


"Iya kak" Olivia terus bergulat dengan pikirannya. Ia memikirkan bagaimana hidupnya kedepannya. Hingga akhirnya ia pun terlelap.


William sebenarnya masih belum tidur. William membuka matanya setelah mendengar deru nafas tenang milik Olivia.


William terus memperhatikan Olivia hingga ia tak sadar ia juga ikut terlelap disamping istri cantiknya itu.


**


Jam menunjukkan pukul 4 sore. Sudah saatnya mereka berdua bersiap-siap.


tok tok tok tok


"Sepertinya mereka masih tidur, kita buka saja biar bangun" ujar Tomo.


ceklek


"Willie bangun" ujar Tomo membangunkan putranya..


"Jelena bangun sayang" ujar Hartono membangun kan putrinya.


"mmmh" William terbangun dengan suara kedua bapak bapak itu.


"Ayah" lenguh Olivia.


"kalian segeralah mandi, Olivia nanti MUA akan datang meriasmu saya. Dan kamu mandi sana dikamar bawah, segera bersiap-siap acara nya akan segera dimulai" ujar Tomo.


"Iya pah" jawab William


"iya om" Jawab Olivia.


"eitss jangan panggil om dong, panggil papa seperti William y sayang" ujar tomo lembut.


"iya o eh pah" kata Olivia.


"Yasudah kami tunggu dibawah..mari Tom" Mereka kemudian meninggalkan pasangan baru itu.


Tak lama setelah itu, William juga beranjak dan meninggalkan Olivia yang masih duduk di atas ranjang.


"permisi nona, kami diminta untuk merias anda" ucap perempuan yang kira kira masih berusia 20an.


"ah iya aku mandi dulu, kalian tunggu disini ya" ucap Olivia lembut.


Setelah 20 menit,Olivia selesai mandi dan menghampiri dua perempuan itu.


"nona, gunakan dulu baju yang biasanya, setelah selesai kami make up baru nona bisa menggunakan gaun yang telah disiapkan" ucap perempuan lainnya.


"Baiklah"


Sekitar 30menit Olivia di make up oleh kedua perempuan itu.


"Nona, silakan pakai gaun ini nona" ucap perempuan itu sambil memberikan sebuah gaun di dalam box.


Olivia Keluar setelah menggunakan gaun yang diberikan. Sungguh Olivia terlihat cantik menggunakan gaun itu.


Bersamaan dengan keluarnya Olivia. William juga masuk ke kamarnya untuk mengambil salah satu koleksi jam tangan nya.


William kembali tercengang melihat kecantikan Olivia. Dia sampai tak berkedip dibuatnya.


Olivia tidak menyadari kedatangan William.


"Sudah, sekarang apalagi?"


"Nona anda sangat cantik"


"ekhem" deheman itu mengalihkan perhatian mereka.


"permisi tuan saya keluar dulu"


"hm"


"Cepatlah bersiap, tamu sudah banyak yang datang" ujar William. William berusaha menenangkan jantunya yang saat ini berdetak sangat kencang.


"iya kak" jawab Olivia.


William kemudian mengambil jam nya dan memakainya.


"sudah? ayo kita kebawah?"


"eh iya kak" kali ini Olivia yang gugup karena William berkata dengan sangat lembut.