The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Ke Indonesia



Siang itu sinar matahari masuk melalui celah kecil jendela kamar hotel mengenai wajah cantik Olivia.


"emhh aduh kenapa kepalaku pusing sekali" ujar Olivia yang baru membuka matanya.


"Aaaaaaa" teriak Olivia karena melihat laki laki disampingnya.


"kenapa kamu berteriak seperti itu, telingaku sangat sakit mendengarnya" ujar William yang terbangun karena teriakan Olivia.


"Ba bagaimana kamu bisa berada disini dan dimana ini..... aaaa" Olivia kembali berteriak.


"apa setelah berada di Jerman setelah beberapa bulan kamu berubah menjadi seseorang yang suka berteriak huh?" ujar William yang kemudian kembali mencoba terlelap.


"kenapa aku tidak menggunakan pakaian, apa jangan-jangan kamu sudah melecehkan ku ya hiks" ujar Olivia sambil menangis.


"Aku tidak pernah melecehkanmu. Justru aku menyelamatkan mu. Kamu sangat ceroboh. bagaimana mungkin kamu bisa meminum obat panas untuk yang kedua kalinya. Lain kali pilihlah teman yang tepat untukmu"


"Apa maksudmu? lalu aku sudah tidak suci lagi Hiks hiks. Siapa yang mau dengan wanita seperti ku hiks. Orang tuaku pasti akan malu. Ayah ibu maafkan Olivia hiks hiks hiks"


"Hey jangan menganggu pagiku dengan tangisanmu itu. Aku akan menikahimu lagipula aku calon suamimu. Kita akan ke Indonesia dan menikah disana. Orang tuamu sudah tau, kamu tidak perlu khawatir. Sekarang lebih baik kamu mandi karena kita akan bersiap-siap untuk segera ke Indonesia" jelas William panjang lebar.


"Hiks baiklah..... aww" jerit Olivia.


"Apalagi sih" kesal William


"bagaimana mungkin aku menikah dengan seseorang yang sombong seperti dia... huh" batin Olivia .


Tanpa aba-aba William langsung mengangkat tubuh Olivia menuju kamar mandi.


" apa yang kamu lakukan hey hey" Olivia berusaha memberontak.


"diam saja. Pahamu itu pasti sakit. aku sedang membantumu lebih baik kau diam dan nikmati saja perlakuan ku. Seharusnya kamu bersyukur karena kamu adalah wanita pertama yang bisa dimandikan oleh William Wardana. Jangankan dimandikan bahkan aku tak membiarkan seorangpun wanita untuk bisa menyentuh tubuh sempurna ku ini. Namun karena kamu adalah calon istriku aku mengijinkan nya" ucap William sombong.


"Baiklah terimakasih" ujar olivia sambil memutar bola matanya jengah.


"benar benar sombong" batin Olivia.


*


Setelah selesai mandi dengan berendam di bathtub dengan air panas, kini Olivia sudah merasa lebih baik.


"Aku tunggu dibawah" ujar William yang baru selesai memasang dasinya.


"baiklah. Terimakasih kak" ujar Olivia menunduk, ia masih malu dengan kejadian kemarin.


Di depan kamar hotel, William sudah ditunggu oleh Hendrik.


"Kau sudah selidiki dia?" tanya William to the point.


"lalu James?"


"Namanya James Alvarin dia....." belum selesai Hendrik berbicara, William sudah memotong ucapannya


"Apa jangan jangan dia...."


"Benar tuan, dia adalah adik tuan David. Dia salah satu pewaris dari Alva's Corp tuan. Dia dan tuan david sangat berbeda. James ini adalah pembuat onar sedangkan tuan David adalah sosok yang dewasa dan dermawan. Aku rasa tidak mudah mengalahkan James tuan" jelas Hendrik.


"Sungguh aku bingung, untuk saat ini biarkan saja dulu. Dan Hendrik pastikan dia tidak menggangu pernikahan ku" ujar William sambil memijat pelipisnya.


"kau sudah jatuh cinta, ya tuan William jatuh cinta. Huh akhirnya aku juga akan segera menikah" senang Hendrik dalam hati.


"kak" panggilan Olivia menghentikan pembicaraan dua laki laki tampan itu.


"kenapa kamu lama sekali" ujar William ketus.


"maafkan aku kak" jawab Olivia menunduk.


"sudahlah ayo jalan"


**


Dalam perjalanan tak ada percakapan antara William maupun Olivia.


"Aku tidak tau bagaimana hidupku nanti setelah menikah dengan dia. Dia sangat sombong dan dingin. Aku benci dia ahhh" batin Olivia.


William yang menyadari raut wajah Olivia pun berdekhem


"ekheemm" tak ada respon apapun


"ekhem" William lagi lagi berdehem dan tidak ada respon dari Olivia.


"Tuan apa tenggorokan mu sakit. Saya selalu membawa minum tuan. Ini saya berikan untuk anda" ujar Hendrik sambil memberikan botol berisi air minum dari kursi pengemudi.


"aku tidak butuh air minum. Lagipula kau tidak sopan sekali memberiku dengan tangan kirimu" ujar William ketus.


"Maafkan saya tuan. Tapi saya sedang menyetir. Kalau tuan mau kita segera bertemu tuhan. Saya pasti akan memberikan air ini dengan bersimpuh kepada tuan" kali ini Hendrik merasa kesal dengan William.


"Antara bodoh dan sombong memang sama saja. Dasar William sombong" gumam Olivia dalam hati.


"Tidak usah memakiku begitu" ujar William yang mulai aktif dengan tabletnya.


"maaf kak"....."bagaimana mungkin dia tahu apa yang aku pikirkan. Menyebalkan!"