The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Keluarga harmonis



Pagi itu, Olivia turun sendirian menemui seluruh keluarga William yang sedang asik dengan kegiatannya masing masing.


"nak kamu sudah bangun?" tanya papa William.


"memangnya papa melihat dia berjalan sambil tidur?" jawab William ketus. William baru saja turun dan melewati Olivia. Membuat wanita itu menunjukkan wajah kecewanya.


"Aku bertanya pada siapa yang menjawab siapa" ujar Tomo tak kalah ketus.


"Sudah sudah, kalian ini ayah dan anak, usia kalian sudah dewasa tapi kenapa bersikap seperti anak kecil" Ujar Adik Tomo, Miarti.


"Dia duluan miarti. Suka sekali mencari masalah dengan papahnya ini. Padahal aku kan sudah tua. Yang ku butuhkan hanya seorang cucu"


"Aku akan membuatkan papa cucu yang banyak. Bahkan aku akan memberikan cucu sampai harta papah yang banyak itu habis" jelas William yang sukses membuat Olivia menjadi malu.


"Mana mungkin hartaku ini habis. Bahkan jika kamu sampai beranak 100" ledek Tomo.


" Papah kira aku ini meong"


"Mirip seperti itu"


"Sudah berhenti bertengkar. Nak,Apa kamu jadi pindah?" tanya Hartono yang baru datang bersama adinda.


"Jadi ayah. Besok atau dua hari lagi kami akan pindah kesana. Rumah kami Hanya selat beberapa blok dari sini. Bisa dibilang blok paling akhir." Jawab William santai.


"Kak, Berita pernikahan kalian menjadi trending di berbagai media sosial kak. Sejak kemarin sih, dan sampai sekarang masih begitu. Kak oliv, kamu terlihat sangat cantik disini" Ujar Adik sepupu William.


"Tentu saja Meimei, pilihanku tidak pernah salah. Kakak iparmu memang cantik. Bahkan karena cantiknya yang luar biasa, kakakmu sampai tidak sabar untuk meng-" belum selesai Tomo melanjutkan kalimatnya. William sudah lebih dulu menutup mulut papahnya itu. Sungguh bukan tindakan yang terpuji.


"pah, sepertinya ada lalat yang mau masuk ke mulutmu jadi aku menutup nya" ujar William tanpa tanda hormat.


"Will, kamu tidak boleh seperti itu nak pada papahmu. Bagaimanapun dia itu orang tua. Jadi nanti bersikaplah lebih sopan ya" Jelas Hartono.


"bagaimana mau sopan,kalau papahku menjengkelkan seperti ini rasanya ingin ku bunuh saja" batin William.


"hahaha tidak apa apa ton. Aku suka William seperti ini. Semenjak saat itu dia tidak pernah menanggapi kejahilan ku. Tapi sekarang dia sudah berubah, sudah kembali seperti dulu. Sekarang William ku kembali. Sini sayang mau papah gendong?" goda Tomo dengan nada seperti menggoda anak kecil.


"pah -_-"


Keluarga itu terlihat begitu harmonis. Suasana rumah yang biasanya sepi kini telah kembali ramai. Walaupun tak lama lagi akan kembali sepi karena beberapa kerabat pasti akan kembali dan William serta istrinya juga akan pindah. Namun kali ini berbeda karena semua tampak bahagia dan tentu saja mereka meninggalkan rumah mewah itu dengan rasa bahagia bukan rasa sepi seperti sebelumnya.


**


Malam harinya, keluarga itu bersiap untuk makan malam bersama. Kebahagiaan masih terpancar di wajah setiap anggota keluarga itu.


"Malam makan yang lengkap. Sungguh menyenangkan" ujar Tomo.


"Benar tom, aku tumben merasa sebahagia ini. Aku merasa punya keluarga yang utuh" sambung Hartono.


"Makanan sudah siap. Kami memasak berbagai menu untuk kalian" ucap Miarti yang baru datang.


"Mari segera nikmati masakan para ciwi ciwi" gurau Tomo.


"Darimana papah bisa tahu bahasa seperti itu?" tanya William. Ia sungguh terkejut ayahnya mengatakan ciwi-ciwi.


"tentu saja dari Meimei. iya kan Mei?"


"iya dong om" jawab Meimei.


"untuk apa kau kemari?" tanya William ketus.


"santai tuan. saya kemari karena dipanggil bos besar" ujar Hendrik santai.


"iya Will, papah yang mengundang Hendrik kemari. Papah ingin menyuruh dia mengurus keperluan papah selama di Norwegia" jelas Tomo.


"kamu akan tinggal di Norwegia tom?" tanya hartono serius.


"iya ton, aku hanya ingin tinggal tanpa beban disana. mungkin beberapa bulan lagi aku akan pindah kesana. William sudah menikah, perusahaan akan segera ku serahkan padanya" jawab Tomo santai..


"apa aku boleh ikut kak?" tanya miarti. Miarti adalah adik Tomo. Suami miarti meninggal sejak beberapa tahun lalu. Miarti tinggal di Bali bersama putrinya yaitu meimie. Sebenarnya miarti punya dua anak. Yang satunya laki-laki dan masih menempuh pendidikan di Australia.


"Tentu saja mir, ajaklah Meimei juga"


"Kamu meninggalkanku lagi tom" ujar Hartono sedih.


"Sudahlah jangan seperti orang miskin. Ada pesawat pribadi ku yang siap menjemput mu untuk mengunjungi ku" gurau Tomo.


"Kalian seperti ini dan melupakan tamunya" ujar adinda yang baru datang.


"eh iya maafkan kami, kemari nak Hendrik" ajak Hartono.


"Tante, dimana Olivia?" tanya Briana kepada adinda,ibu Olivia"


"Olivia masih didapur nak.... nah ini dia sudah datang" jawab Adinda yang kebetulan saat itu Olivia baru datang dari dapur.


"Briana.... Olivia" ucap keduanya bersamaan


"Bri aku sangat merindukanmu"


"aku juga Liv"


"Sebenarnya bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Olivia ragu-ragu.


"Kau tidak tahu ya nona. Briana itu adalah mata mata kiriman suamimu yang fungsinya untuk mengawasi dan menjagamu selama di Jerman. Mumpung Briana ini galak dan juga tegas. jadi aku menyuruhnya yang mengawasi mu. Suamimu benar benar posesif nona. Dia selalu menanyakan keadaan mu setiap saat. Dia bahkan selalu marah-marah tidak jelas ketika mendengar kau dekat dengan laki-laki" jelas Hendrik yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari William dan juga Briana.


"mulutnya seperti mulut wanita. Aku bersusah payah untuk tidak menjatuhkan harga diriku. Tapi dengan enteng mulutnya berkata dan menjatuhkannya" batin William geram.


Penjelasan Hendrik sukses membuat Olivia tersipu malu. Bagaimana mungkin suaminya yang dianggap sombong itu ternyata sangat perhatian padanya.


"ternyata yang ditelpon Briana secara sembunyi-sembunyi itu adalah Kakak" batin Olivia.


"Sudah mari kita makan dulu" Ajak Hartono.


Mereka makan dengan nikmat dan diselingi dengan candaan santai yang tentu tujuannya adalah menggoda pengantin baru.


"Bibi... tolong buatkan kami minuman spesial bi" pinta William pada salah satu pelayan disana.


"Baik den"


"aku permisi dulu" ucap William.


Maaf kalau masih banyak kesalahan ya.