The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Melupakan



Alvin terdiam, dia meneguk minuman yang ada di sampingnya yang telah dipesan Khalisha tadi. Mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Khalisha telah kembali dari kamar kecil.


"Maaf, aku sedikit lama," Khalisha duduk kembali di kursinya. "Oh ya Al, kami akan melaksanakan pernikahan tiga minggu lagi. Aku sangat berharap kau bisa datang."


"Tentu! aku pasti akan datang." ucap Alodhya tersenyum.


Mereka kini tengah makan malam bersama. Setelah selesai, mereka sèmua kembali kerumah masing masing. Khalisha diantar pulang oleh Alvin karena memang Khalisha tadi datang menggunakan taxi.


"Terimakasih untuk semuanya Khal." ucap Alvin mengawali pembicaraan.


"Ya, ini sudah seharusnya kulakukan," Khalisha melihat lurus kearah Alvin. "Sebenarnya aku tak banyak membantu, kalianlah yang menyelesaikannya dengan baik."


Alvin melirik Khalisha sekilas lalu berkata,"Ya, walaupun aku sudah mengetahui bahwa Alodhya tak mungkin membenciku, aku tetap ingin mendengar dia yang mengatakannya."


"Aku mengerti, Alodhya juga tak menyalahkanmu atas hal itu!" kini pandangan Khalisha menatap kearah depan.


Alvin terdiam, dia menarik napas dalam lalu berkata, "Namun tetap saja, aku menjadi peran jahat dalam hatinya. Aku menggoreskan sebuah luka yang dimana semenjak hari itu, tak lagi ada kita diantara aku dan dia."


"Kau masih mencintainya?" tanya Khalisha.


Alvin meminggirkan mobilnya, melihat kearah Khalisha, "Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku sudah tak lagi mencintainya!"


"Aku hanya bertanya, kau tak perlu bersikap berlebihan!" Khalisha menaikkan sedikit nada pembicaraannya.


"Aku tak bersikap berlebihan, aku hanya tidak suka kau membicarakan hal itu! Lagi pula aku akan menikahimu, jadi berhentilah membahas masalalu." ujar Alvin datar.


Alvin lalu melajukan kembali mobilnya. Suasana menjadi sedikit canggung karena mereka sama sama diam sampai mereka telah berada tepat didepan gerbang rumah Khalisha.


"Terimakasih Vin, hati hati dijalan" ucap Khalisha.Alvin mengangguk menunggu sampai Khalisha benar benar menghilang dari pandangannya.


"Bagaimana jika memang aku masih mencintainya Khal, apakah kau akan bisa menerimanya? Aku ingin sekali mengatakan padamu bahwa aku belum benar benar melupakan Alodhya, namun aku tak bisa.Tapi satu hal yang harus kau ketahui, bahwa saat bersamamu aku merasakan sesuatu yang sama seperti saat aku bersama Alodhya!. Mungkin aku bisa menyimpulkan bahwa perasaan cintaku sudah mulai tumbuh untuk dirimu, dan aku juga ingin membuat perasaan itu semakin dalam. Aku juga akan berusaha dengan keras menghapus Alodhya dari pikiran dan juga hatiku. Mungkin aku terlalu terburu buru mengatakan bahwa aku ingin menikahimu, namun aku berjanji akan melakukannya, jujur aku ingin sekali menghabiskan sisa hidupku bersama denganmu Khalisha!." batin Alvin.


Sementara itu Alodhya juga telah sampai dirumahnya. Dia berjalan menuju arah kolam renang yang juga disana terdapat sebuah taman.


Alodhya duduk dipinggiran kolam renang, udara malam yang sejuk membuatnya merasa tenang. Menatap bulan dan bintang yang menghiasi gelapnya malam.


Kepingan masa lalu yang tersimpan seketika menyeruak keatas kepala. Takdir memang selalu memberi kejutan, tak ada yang bisa menebak bagaimana takdir melakukan tugasnya. Dulu, dia bersama dengan Alvin merancang masa depan bersama, memimpikan kehidupan yang bahagia dalam ikatan pernikahan. Namun ternyata itu hanya sebuah angan angan semata yang terkubur dalam seiring dengan berjalannya waktu. Dan kenyataannya adalah bahwa Alvin kini tengah mempersiapkan pernikahannya dengan wanita lain, yang ternyata adalah sahabat dekatnya sendiri yaitu Khalisha.


Ditengah lamunannya, terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponsel pintarnya. Alodhya memeriksa, ternyata pesan itu dari Viro yang tak lain adalah sahabatnya. Alodhya membaca pesan yang dikirim oleh Viro dan membalasnya.


Dalam sebuah ikatan persahabatan antara laki laki dan perempuan, tidak mungkin jika salah satu diantara mereka tak menyimpan sebuah perasaan cinta. Ya, itu yang terjadi dalam persahabatan antara Viro dan juga Alodhya. Dimana Viro menyimpan sebuah rasa untuk Alodhya.


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa bahwa hari telah berganti. Alodhya tengah bersiap untuk pergi ke kantor. Dia mengendarai mobilnya, menebus hiruk pikuk jalanan di pagi hari.


Dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, jadi dia hanya berkerja sampai siang, setelah itu ia memutuskan untuk pergi berbelanja ke pusat perbelanjaan.


Setelah dua puluh menit berkendara, akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Alodhya memarkirkan mobilnya ditempat yang kosong dan langsung masuk kedalam pusat perbelanjaan tersebut.


Alodhya masuk ke sebuah toko pakaian khusus wanita, memilih pakaian yang cocok untuk dirinya. Setelah lama memilih akhirnya pilihan Alodhya jatuh kepada sebuah gaun midi berwarna biru muda lengan panjang.


Alodhya telah selesai dan dia memutuskan untuk langsung pulang kerumah. Alodhya keluar dari toko pakaian tersebut seraya melihat jam yang berada ditangan kirinya. Namun karena tak melihat jalan dengan benar, Alodhya malah menabrak seseorang yang badannya lebih besar dibandingkan dirinya. Alhasil, barang belanjaan-nya terjatuh ke lantai.


"Apa kau tak bisa berjalan dengan baik!" tegas pria itu.


"Maaf...aku tidak sengaja" ucap Alodhya seraya mengambil barangnya yang terjatuh. Ia lalu menatap pria yang di tabraknya tadi.


"Alodhya," gumam pria itu yang tak lain adalah Brian. "Apa kau baik baik saja?" tanya Brian.


"Ya, aku baik baik saja tuan. Maaf telah menabrak mu."ujar Alodhya.


"Ya, tidak apa Alodhya," Brian tersenyum.


"Kalau begitu aku permisi dulu tuan Brian." Alodhya pamit, dan melangkah pergi meninggalkan Brian.


Kini Alodhya telah di tempat ia memarkirkan mobilnya. Memasukkan barang yang ia beli tadi kedalam mobil. Tiba tiba seseorang memanggilnya, membuat Alodhya menoleh kesumber suara.


"Alvin'' gumam Alodhya.


"Hei Al, kebetulan sekali kita bertemu disini." ucap Alvin.


"Ya, apa yang kau lakukan disini?" tanya Alodhya sedikit canggung.


"Aku mau menemui sahabat lamaku Al, sudah lama kami tak pernah bertemu."ujar Alvin.


"Oh baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."Alodhya berucap lalu masuk kedalam mobil, dibalas senyuman oleh Alvin.


Alvin menunggu sampai mobil yang dikendarai Alodhya menghilang dari pandangannya.


"Al, kenapa pada saat aku semakin berusaha untuk melupakanmu kau malah selalu ada di hadapanku. Ini sangat sulit bagiku Al." gumam Alvin.


Alvin masuk kedalam pusat perbelanjaan, mencari dimana letak cafe tempat ia akan bertemu dengan sahabatnya itu. Dia melangkah masuk kedalam sebuah cafe, mengedarkan pandangan mencari dimana sahabatnya duduk.


Dia menemukan sahabatnya duduk dikursi paling ujung disebelah kanan, dan langsung menghampirinya.


"Hi bro!" sapa Alvin. "Oh hi bro!" sahabatnya langsung berdiri dan mereka melakukan tos fist bump (adu kepalan tangan) lalu berpelukan.


Alvin memukul pundak sahabatnya itu lalu berkata, " Lama tak berjumpa, bagaimana kabarmu?" mereka berdua duduk dikursi.


"Baik, semuanya baik." ucap pria itu.


Mereka berbincang asik lumayan lama. Alvin mengatakan bahwa ia akan menikah dalam waktu dekat. Dia juga mengundang sahabat lamanya itu agar bisa datang ke pernikahannya nanti dengan Khalisha.


.


.


.


bersambung...