The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Permintaan William



"Panji bagaimana persiapan nya? Kau sudah menyebarkan undangan kan? Sudah sampai ke seluruh kolega ku kan? Oh ya yang diluar negeri jangan lupa. Bilaperlu, sampai diluar angkasa.


...... Hey hey hey. Perbanyak pesanan mawar putihnya" teriak Tomo keapada salah satu pelayan nya. Tomo begitu antusias untuk pernikahan William. Dia senang karena William akan menikah dengan orang yang dia pilihkan.


"Baik tuan, Saya sudah mengirim undangannya. Dan dekorasinya saya sudah memilih WO yang tepat tuan"


"Bagaimana dengan foto prewedding nya panj?" ujar Tomo tanpa memandang Panji karena ia sedang melihat-lihat.


"Foto prewedding akan dilaksanakan besok tuan... segala keperluan baju,MUA ,tempat dan lainnya sudah siap tuan" jelas Panji.


"Lalu kapan mereka pulang pan, sungguh aku tidak sabar melihat calon menantuku"


"Mereka sedang di pesawat tuan .Segera saya akan menunggu mereka di bandara"


"Baiklah jemput lah mereka...Aku akan memeriksa apalagi yang kurang."


"Baik tuan saya permisi" Panji pun undur diri dan segera melajukan mobilnya menuju bandara.


"Awasi dia dan lindungi mereka. Aku percaya padamu" ujar Tomo yang sedang menelpon seseorang.


"Hey kau coba cari bunga baby breath bunga itu sepertinya bagus..." ujar Tomo kepada salah satu pelayan.


**


Saat ini William dan Olivia telah sampai dirumah besar milik Tomo.


"Papa!" Teriak William.


"Ah sayangku pulang juga. Kemarilah" panggil Tomo pada William


"Sedang ada apa ini, kenapa banyak sekali ada orang berkeliaran disini" tanya William.


"Menantuku eh ,calon menantuku kemarilah sayang" panggil Tomo pada Olivia. William merasa kesal karena tidak dihiraukan oleh ayahnya.


"Paman" jawab Olivia sambil mencium punggung tangan Tomo.


"Bagaimana rasanya Olivia, kau sudah lebih dulu merasakan mal"


"Olivia!" Teriak dua orang di depan pintu.


"Ayah ibu....." ujar Olivia sambil memeluk orang tuanya.


"Bagaimana kabarmu sayang. Ibu sungguh merindukanmu. " ujar adinda pada anak semata wayangnya.


"Maafkan Olivia ayah ibu. Olivia sudah pulang sebelum Olivia bisa membanggakan kalian hiks" ujar Olivia menangis karena merasa bersalah.


"Sudahlah nak, kami melihatmu pulang kami sudah sangat bahagia. Dan lagian kamu akan menikah dengan nak William. Itu sudah sangat membuat ayah bahagia. Karena putriku Jelena ini akan menikahi orang yang tepat" ujar Hartono sambil mencubit gemas hidung mancung Olivia.


William yang mendengar itu menjadi terenyuh. Ternyata orang tua Olivia memiliki harapan besar untuknya.


"Ekhem" dehem Tomo membuyarkan kegiatan mereka.


"Maafkan aku tom, aku sungguh sangat merindukan putriku"


"hahaha..... tidak apa apa ton. Hanya saja aku ingin membicarakan masalah pernikahan mereka. Sungguh aku tidak sabar membuat putrimu menjadi menantuku.... Mari kita duduk dulu..... Em pelayan buatkan minuman untuk kami"


"Baik tuan"


**


"pernikahan kalian akan dilaksanakan lusa dirumah ini. Ayah sudah menyebarkan semua undangan dan mempersiapkan beberapa hal untuk pernikahan kalian . Huh ayah sungguh tidak sabar untuk itu" ujar Tomo berseri-seri. Terlihat sekali kebahagiaan di wajah Tomo.


William dan Olivia yang menyaksikan itu menjadi tak tega untuk protes karena waktunya terlalu cepat. Mereka bahkan tidak pernah berbicara serius. Olivia bahkan tidak tau tentang William. Berbeda dengan Olivia, William tentunya sudah tau segala hal tentang Olivia karena rasa penasarannya.


"Tapi apakah ini tidak terlalu cepat tom?" tanya Hartono.


"Kamu tau kan apa yang terjadi antara mereka di Munchen..... jika kita membiarkan itu dan kalau sampai Olivia hamil lebih dulu bagaimana? aku tidak ingin ada gosip miring tentang menantuku" ujar Tomo yang sukses membuat Olivia malu. Tapi apa yang dikatakan Tomo memang masuk akal.


"Tapi..."


"Sudahlah ton, aku sudah menyiapkan semuanya. Pernikahan putra dan putri semata wayangku akan menjadi pernikahan termegah tahun ini. Setelah ini aku akan melimpahkan semua Bisnisku pada putraku. Dan aku tinggal menunggu cucu saja..Wah sungguh seru sekali" Kebahagiaan terus terpancar di wajah Tomo. Bagi laki laki parubaya itu, memikirkannya saja sudah membuat senang.


"Papa.... aku ada permintaan" suara dingin William yang sejak tadi membisu sukses membuat semua menjadi tegang dan fokus padanya.


"apa permintaannya, apa dia akan meminta untuk mengajukan kontrak dan kita akan menikah selama setahun seperti di film film?" batin Olivia.


"Apa permintaan mu Will?" tanya Tomo. Seketika ekspresi bahagia yang tadi ditampilkan berubah menjadi penuh tanya.


"Aku ingin tinggal terpisah dengan ayah. Aku sudah membeli rumah yang dekat dengan rumah kalian..Rumah itu akan aku tempati dengan Olivia. Bagaimanapun kami sebagai pasangan suami istri butuh privasi. Sehingga kita sepakat ingin tinggal terpisah dengan para orang tua" jelas William panjang lebar .


"kita? dia bahkan tidak pernah berbicara ataupun menyapaku. Bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa kita. Itukan cuma keinginannya saja. Aku yakin sampai disana aku pasti akan dijadikan babu olehnya" batin Olivia.


Olivia hanyalah gadis lugu. Dia jarang sekali berbicara, apapun yang aneh menurutnya hanya akan menjadi di pikirannya. Dia tak pernah menyampaikan apapun masalahnya kepada siapapun termasuk orangtuanya. Sehingga ia terbiasa memendam nya sendirian.


Sejak ia pindah ke Jerman. Olivia memang telah banyak berubah. Atas saran dari Briana dia mulai merawat diri. Dia juga berusaha untuk menghias diri dan tidak menjadi wanita yang terlalu pendiam dan tidak terlalu baik. Tapi bagaimanapun Olivia di hasut. Olivia tetaplah gadis lugu dan pendiam.