The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Nakalnya William



Saat ini Olivia dan William telah berada di kamarnya William. Mereka dilanda kecanggungan. Baik Olivia maupun William masih sama sama diam dan tidak mau membuka percakapan.


William duduk di sofa nya dengan memainkan handphone nya. Sementara Olivia hanya duduk termenung.


"Kau mandilah, setelah itu kau bisa tidur" ucap William memecah keheningan.


"Eh iya kak"


Olivia kemudian berjalan mengambil pakaian dan handuknya. Olivia mandi seperti biasa tanpa ada adegan susah membuka resleting.


Selang 20menit, Olivia kemudian keluar setelah upacara mandinya.


Melihat itu, William pun masuk ke kamar mandi.


"huh, semoga aku kuat dan semoga ini adalah pernikahan pertama dan terakhirku" ucap Olivia.


Kini Olivia telah menaiki ranjang dan berusaha untuk tidur. Baru beberapa saat Olivia menutup matanya. Suara pintu terbuka mengejutkannya.


ceklek.


William keluar dengan hanya menggunakan kaos oblong dan celana kolornya. Sungguh sangat tidak mencerminkan kewibawaan nya.


Menyaksikan itu, Olivia memilih untuk berpura-pura tidur daripada ia harus merasa malu.


"Ternyata dia sudah tidur" gumam William yang masih mampu didengar Olivia.


William kemudian menaiki ranjang dan berbaring disamping Olivia. William mendekati Olivia.


"apa yang dia lakukan" batin Olivia. Karena kini wajah mereka sangat dekat. Olivia benar benar merasa gugup. Namun ia berusaha menyembunyikan wajah gugup nya dengan berpura-pura tidur.


cupp


"Olivku" kata William lirih.


"jantungku, kenapa Kakak mencium keningku" Olivia bingung dengan sikap William yang tiba-tiba menciumnya..


William mencium olivia, karena William sadar bahwa ia telah menyukai gadis itu. Jauh sebelum hari pernikahannya William diam diam selalu mencari informasi seputar gadis sederhana itu. Bahkan saat kepergian Olivia ke Jerman,William juga ikut ke Jerman guna memantau gadis yang beberapa bulan ini berputar dalam pikiran dan mungkin hatinya.


"aku hanya bertemu denganmu beberapa kali, tapi aku sudah sangat menyayangimu. Mungkin kata ayah benar kalau kamu adalah cerminan ibuku. Sejak awal aku menabrakmu hati ku juga ikut tertabrak kala itu. Walau wajahmu saat itu masih pas pasan. Tapi aku tetap tertarik padamu" kata William lembut .


"dia memuji atau menghinaku. Dia bilang dia tertarik, tapi dia mengatakan wajahku pas pasan. Dasar tuan sombong" kata Olivia dalam hati. Perempuan itu tak henti-hentinya mengumpat tentang suaminya itu..


**


Pagi hari burung burung di sekitar rumah Tomo berkicau begitu ribut. Apalagi setelah hujan semalam burung burung seolah menyanyi menyambut hujan pertama malam kemarin.


Di suasana pagi yang sejuk itu, dua insan yang baru saja menjadi pasangan suami-istri itu kini sedang tertidur pulas dibawah nyamannya selimut.


Posisi tangan suaminya yang memeluk pinggang kecil istrinya. Sementara sang istri yang mulai terbangun itu menyadari ada hembusan nafas tenang di sekitar lehernya.


Olivia mulai membuka matanya secara perlahan. "mmmh sudah pagi...... apa yang" Olivia menoleh ke samping kanan mendapati seorang lelaki yang baru menjadi suaminya kemarin malam itu sedang memeluknya dengan kepala yang berada tepat dileher Olivia.


"kakak kalau saat tidur seperti ini, terlihat sangat manis. Keliatan tidak sombong dan galak. hihihi" ucap Olivia cengengesan.


Olivia langsung berlari ke kamar mandi. Dia begitu malu karena ia ketahuan memuji William. Dia langsung masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk ataupun pakaiannya.


"dasar gadis bodoh" gumam William yang kemudian mencoba kembali terlelap.


**


Setelah sekitar 30 menit Olivia melakukan ritual mandinya. Kini Olivia tengah bersiap akan keluar.


"ah sial. Aku lupa membawa handuk ataupun pakaian ku"


Lama sekali Olivia terdiam di kamar mandi, hingga beberapa kali Olivia membuka dan menutup pintu kamar mandi secara perlahan.


Menyadari seperti tak ada kehidupan di dalam kamarnya itu. Olivia mengira William telah tertidur.


"mungkin kakak sudah tidur, sebaiknya aku segera keluar" Olivia berkata sambil membuka pintu kamar mandi secara perlahan.


klekkk


"aduhhh. semoga dia tidak dengar" batin Olivia sambil mengernyitkan wajahnya. Kemudian ia terus berjalan dengan hati hati. Sesekali ia melirik ke arah William yang dikiranya masih tertidur.


"gadis bodoh, aku heran dia mengambil jurusan kedokteran dan itupun karena beasiswa atas kepintarannya. Tapi kenapa dia begitu bodoh" gumam William dalam hati.


Olivia berjalan dengan berhati-hati dan tentu saja tanpa sehelai benang dengan air yang masih terlihat di tubuhnya. Hal itu memancing gairah lelaki William.


grepp


"aaaaa" teriak Olivia.


"hei kenapa kau berteriak" William masih tetap di posisinya memeluk Olivia.


"kakak tiba-tiba memeluku" gugup Olivia


"bagaimana tidak , kau tidak menggunakan sehelai benang pun, dan berjalan di depan ku, kau ingin menggodaku ya" ucap William yang tangannya mulai nakal.


"kak kak ehehe tolong tangannya"


"Kau yang menggodaku"


"aku tidak bermaksud menggodamu kak, aku ingin memakai baju, tolong lepaskan kak" ujar Olivia sambil berusaha melepaskan tangan William.


"kau tahu, menolak suami itu dosa" ujar William ketus sambil masuk ke kamar mandi.


brakkk


Olivia bergetar kaget karena itu. Ia kemudian segera memakai bajunya.


"Apa kak William marah ya, tapi aku masih malu" ujar Olivia dengan wajah sedihnya


sementara di kamar mandi


"kenapa sih aku gabisa nahan. Bisa turun derajat ku karena dia sudah berani menolak seorang William Wardana" ujar William frustasi.