The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Mencari Tahu



Sudah tengah malam , namun Brian belum bisa menutup matanya. Dia benar benar tak bisa menghilangkan Alodhya dari pikirannya. Rasa penasaran akan sosok Alodhya pun tak bisa ditahan lagi.Dia berjalan menuju meja di sudut ruangan.Di meja itu terdapat sebuah laptop.


Dia mengambil laptop itu, duduk bersandar diatas ranjangnya. Mengaktifkan laptop lalu membuka internet dan memasukkan kata kunci "Alodhya Shannon".


Tak banyak artikel yang memuat tentang wanita ini. Ia memilih artikel paling atas. Lalu pada bagian pertama muncullah biodata dari Alodhya. Dengan teliti Brian membaca satu persatu kata.Tibalah ia dibagian bawah yang menampilkan beberapa fakta mengenai Alodhya. Sebuah senyum kecil terukir diwajah tampannya.


"Sepertinya aku mulai menyukaimu, Nona Alodhya"gumam Brian.


Brian menonaktifkan laptopnya, lalu merebahkan diri. Menjadikan salah satu tangannya sebagai bantal. Menatap langit langit kamar membayangkan wajah cantik Alodhya. Perlahan matanya mulai tertutup, dan ia terlelap dibawah alam sadarnya.


Alodhya tengah duduk bersantai dipinggir kolam renang melepas penat setelah menyelesaikan olahraga paginya. Menikmati udara segar di pagi hari sambil menikmati buah apel yang telah ia potong menjadi beberapa bagian.


Kini dirinya bersiap menuju pusat perbelanjaan untuk membeli buku novel. Alodhya sangat suka membaca buku apalagi buku novel ber-genre romantis.


Alodhya memasuki toko buku yang lumayan ramai pengunjung. Melihat lihat novel yang ada disana. Setelah cukup lama, akhirnya pilihan Alodhya jatuh pada sebuah novel romantis tentang kisah cinta sepasang kekasih yang penuh lika liku dalam berjuang mempertahankan hubungan mereka yang dipisahkan oleh jarak dan waktu.


Setelah selesai membayar, Alodhya langsung kembali ke rumahnya. Dia sudah sangat tak sabar untuk membaca novel yang baru dibelinya itu.


Namun di tengah perjalanan, ia meminggirkan mobilnya.Dia merasa kalau ban mobilnya kempes. Alodhya turun memeriksa bannya itu. Ternyata ban mobilnya bocor karena tertusuk paku yang lumayan besar.


Huft, bagaimana ini?gumam Alodhya sambil melihat ban depan mobil yang bocor. Disaat yang bersamaan Brian sedang melintasi jalanan itu. Manik matanya menangkap sosok Alodhya yang tengah berdiri dipinggir jalan. Tanpa pikir panjang Brian langsung memerintahkan Alex untuk menghentikan mobilnya. Alex melakukan apa yang dikatakan oleh tuannya, ia menghentikan mobilnya tepat didepan mobil Alodhya.


Brian langsung turun dari mobil dan menghampiri Alodhya.


"Halo Nona Alodhya"sapa Brian.


"Eh?"Alodhya terkejut saat mendengar seseorang memanggil namanya.


"Kau..." Alodhya berpikir sejenak.


"Ya aku Brian. Apa kau lupa padaku?"tanya Brian."Sayang sekali, padahal kita baru bertemu kemarin" ucapnya sambil menyeringai.


"Tidak! Aku masih ingat padamu" Alodhya menyela cepat melihat Brian yang salah paham dengan dirinya.


"Baiklah" manggut manggut. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Brian.


"Oh, itu...aku ingin pulang kerumah, namun ban mobilku bocor"melirik kearah ban yang dimaksud.


"Aku akan membantu memperbaiki nya"ucap Briant, lalu memanggil Alex dan memerintahkannya untuk membawa seorang montir.


"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkanmu..."


"Aku tidak suka mendengar penolakan Nona Alodhya. Lagi pula ini sama sekali tak merepotkanku" ucap Brian. Alodhya langsung terdiam.


Alex datang dengan membawa seorang montir. Montir itu langsung memperbaiki ban mobil Alodhya.


"Sepertinya ini akan memakan waktu yang cukup lama. Apa kau mau aku antar pulang Nona Alodhya?" tanya Brian tiba tiba.


"Uhm, bagaimana ya..."Alodhya ragu ragu.


"Aku akan mengantarmu pulang, dan Alex yang akan menunggu mobilmu disini" Brian mencoba meyakinkan Alodhya.


"Baiklah, tapi..."


"Ini sama sekali tak merepotkanku Nona!" potong Brian yang sudah mengetahui apa yang akan diucapkan oleh Alodhya."Silahkan" Brian membuka pintu bagian depan. Alodhya masuk dan Brian yang menyetir mobil itu.


Selama diperjalanan Brian selalu mencuri pandangan kearah Alodhya. Namun Alodhya tak menyadari hal itu. Kini mereka sudah sampai di rumah.


"Terimakasih tuan Brian. Apa kau mau masuk terlebih dahulu?"tawar Alodhya.


"Ya, mungkin lain kali aku harus pergi dulu" ucap Brian.


"Baiklah, terimakasih sekali lagi"ucap Alodhya. Brian tersenyum ramah.


Alodhya telah masuk kerumah, sedangkan Brian sedang tersenyum bahagia didalam mobilnya. Ia sudah selangkah lebih dekat dengan wanita itu.


"Nona, mobilmu sudah selesai diperbaiki, ini kuncinya"ucap Alex seraya menyodorkan kunci mobil.


"Terimakasih tuan Alex" menerima kunci itu.


"Sama sama nona. Panggil Alex saja" pinta Alex sopan. "Kalau begitu saya permisi dulu nona"


"Baiklah, hati hati dijalan Alex"ucap Alodhya, Alex hanya tersenyum.


Alodhya kembali melanjutkan membaca novel. Tak terasa sudah berjam jam ia menghabiskan waktu untuk itu. Dia berhenti dipertengahan episode, karena ia sangat haus. Alodhya turun kebawah, mengambil minuman dingin dan meneguknya sampai tersisa setengah botol.


Sekilas matanya melirik jam yang lumayan besar di dinding ruang tamu. Dia terkejut ternyata hari sudah petang.Seketika ia teringat akan janji makan malam bersama dengan Khalisha. Ia langsung mempersiapkan diri.


Alodhya memakai sebuah gaun midi lengan panjang berwarna pink pastel. Dia juga memakai heels model pumps berwarna putih yang membuat penampilannya cantik dan elegan.


Alodhya berangkat menuju Aston's Restaurant dengan mobilnya. Jalanan malam ini cukup ramai namun lancar. Dia memarkirkan mobilnya diparkiran restoran itu.


Alodhya merapikan gaun dan juga rambut panjang indahnya yang ia gerai begitu saja. Alodhya masuk ke dalam, mencari dimana tempat duduk Khalisha. Dia menemukan wanita itu dimeja paling ujung sebelah kanan. Alodhya langsung menghampiri Khalisha.


"Al kau sudah sampai?" ucap Khalisha saat melihat Alodhya berjalan ke arahnya.


"Apakah kau sudah menunggu lama?" tanya Alodhya.


"Tidak Al, aku juga baru saja sampa."


"Jadi...kau mau memberi tahu apa?" tanya Alodhya to the poin.


"Tunggu sebentar lagi, dia akan sampai." ucap Khalisha.


Tak lama kemudian datang seorang pria tampan menggunakan tuxedo berwarna hitam menghampiri mereka.


"Maaf aku terlambat." ucap pria itu dan langsung duduk disamping Khalisha.


"Al, sebenarnya aku ingin memberitahu bahwa aku sebentar lagi akan menikah. Dan dia adalah calonku." jelas Khalisha kepada Alodhya seraya melirik pria di sebelahnya


Alodhya terkejut mendengar ucapan Khalisha. Namun yang lebih membuatnya terkejut adalah sosok calon suami dari Khalisha yang merupakan mantan kekasihnya.


"Benarkah? Aku turut senang mendengar hal ini, Khal." ucap Alodhya sambil tersenyum. Sementara didalam lubuk hatinya ada sebuah rasa sakit ketika mengetahui hal itu. Ya, Alodhya masih memiliki sedikit perasaan cinta untuk pria itu.Dia belum bisa melupakan pria itu sepenuhnya. Namun disatu sisi dia juga merasa bahagia ketika melihat sahabat dan juga pria yang ia cintai merasa bahagia.


"Terimakasih Al, aku permisi ke kamar kecil dulu." ucap Khalisha melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


Hening...


Suasana pun menjadi canggung diantara mereka.


"Al" panggil pria itu.


Alodhya menoleh, mereka kini saling bertatapan.


"Aku minta maaf atas waktu itu" berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari Alodhya.


"Aku..."


"Aku juga minta maaf," Alodhya memotong perkataan pria itu." Aku tahu ini juga kesalahanku Vin, aku terlalu berambisi untuk menjadi wanita karier sampai aku melupakan hubungan kita," menarik napas lalu melanjutkan perkataannya, "Aku tahu bahwa kau adalah pria yang baik. Aku juga tahu kalau kau hanya menjadikan saudariku sebagai tempat pelarianmu karena kau bosan dengan hubungan kita."


Alvin meneguk minuman yang ada di sampingnya, yang telah dipesan oleh Khalisha. Mereka berdua sama sama terdiam cukup lama. Sampai akhirnya Khalisha sudah kembali dari kamar kecil.


.


.


.


bersambung...