The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Pesta



Ruangan utama rumah Hartono kali ini terlihat sangat ramai. Banyak sekali pebisnis,artis bahkan pejabat yang hadir di acara itu.


Nyali Olivia semakin menciut saat melihat begitu banyak wanita cantik dan berkelas dalam pestanya itu. Bisa dikatakan saat ini Olivia merasa insecure.


Olivia Dan William pun mulai menuruni tangga. Olivia masih menunduk sesuai dengan kebiasaannya. William yang menyaksikan itu menjadi geram.


"Jangan tundukan wajahmu. Malam ini kau adalah ratu dalam pesta ini. Tidak ada dalam sejarah seorang ratu menunduk kepada pelayan bahkan kepada tamu. Secepatnya naikkan kepalamu. Kau adalah istri dari William Wardana tidak sepantasnya begitu. " Ujar William penuh penekanan.


Olivia tersentak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh William.


"I-iya kak. Maafkan aku" Olivia berkata dengan ekspresi takutnya.


"Dan jangan tunjukkan wajah seperti itu. Tunjukkan wajah bahagia mu. Banyak wartawan disini. aku tidak mau disangka aku memaksmu" Jelas William.


Begitu banyak mata memandang ke arah mereka yang baru saja turun dari tangga. Kilatan lampu kamera juga terus terlihat. Bagaimana tidak, beberapa wartawan ada diruangan itu sengaja untuk menyorot William dan gadis yang sudah berhasil memikat nya.


"*cantik ya istrinya"


"cantik sekali, masih muda lagi"


"ih kenapa harus dia yang disana, padahal aku lebih cantik"


"aku benar benar iri padanya"


"walaupun tuan William menikahi orang lain. tapi tidak apa kalau istrinya secantik itu*"


Banyak sekali bisik bisik yang terdengar dari para tamu. Beberapa menunjukkan tatapan kagum, namun tak jarang juga yang menunjukkan tatapan sinis.


"Para hadirin, merekalah raja dan ratu hari ini" ucap host


"Silakan tuan William Wardana dan disampingnya istrinya yang sangat cantik pada malam ini yaitu Olivia Jelena Chorel. Yang sekarang bisa dipanggil Nyonya Wardana. Untuk Raja dan ratu silakan menuju singgasana" ucap host dengan lebaynya.


Tomo yang mendengar itu hanya tertawa, karena apa yang disebutkan oleh host adalah atas kemauannya.


**


Begitu banyak tamu yang ingin menyalami raja dan ratu itu.


"Selamat ya William" ujar laki laki itu.


"Kau" ujar William.


"Maaf ya Willie, hari ini aku datang sebagai tamu, jadi kau tak berhak menyuruh ataupun memarahiku"


"awas saja kau Hendrik"


"Olivia selamat ya, semoga kau bisa menghadapi bebek ini" jelas Hendrik


William sudah sangat geram mendengar celotehan Hendrik yang menyebutnya bebek.


"Hehe iya kakak terimakasih" ucap Olivia


"Olivia selamat yaa" ucap perempuan itu


"Briana, bagaimana mungkin??" tanya Olivia yang terkejut.


"Mungkin saja Olivia, karena Briana adalah kekasihku dan kami akan segera menyusul kalian" ucap Hendrik dengan santainya.


"Sekali lagi selamat ya tuan William dan Olivia" ucap Briana.


"Terimakasih kak hendri dan Briana" ucap Olivia. Dia merasa senang setidaknya ia masih bisa bertemu sahabatnya saat di Jerman.


"Liam, sungguh kenapa kamu meninggalkan ku menikah dengan gadis mini seperti dia" ucap tamu selanjutnya.


"Bukan urusanmu" ucap William datar.


"Kamu jahat Liam" gadis itu kemudia menghentak hentakan kakinya sambil pergi meninggalkan panggung.


"Dasar perempuan gila"


Olivia yang melihat itu kembali tenggelam dalam pikirannya.


"pasti perempuan tadi pacar kak William. Terlihat sekali perempuan itu sangat menyukai kak William. Jika dibandingkan dengan perempuan itu, tentu aku sangat kalah jauh darinya huh". batin Olivia sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa kau?" tanya William ketus.


"eh tidak kak hehe" Olivia terkejut karena ternyata William mendengar hempasan nafasnya itu.


**


"Banyak sekali tamu ini, apa papa mengundang semua penduduk bumi sampai sudah malam begini mereka masih terus saja berdatangan. Aku sudah sangat lelah" Keluh William


"Kakak, apa Kakak mau makan?" tanya Olivia yang melihat suaminya seperti kelelahan.


"Aku tidak lapar tapi aku lelah" ujar William ketus.


"owh begitu. maaf kak" Olivia langsung menunduk karena takut dengan William.


"Apa kau lelah Will?" tanya Hendrik sambil memberikan minuman.


"Tentu saja bodoh" jawab William


"Bukankah pernikahan ini adalah pernikahan yang sangat luar biasa,lihat dekorasinya bahkan sampai tamunya terlihat sangat amazing" jelas hendrik.


"Diam kau"


"Nak apa kamu lelah? Sebaiknya kalian ke kamar saja. Sisa tamunya akan kami atasi, kalian terlihat sangat kelelahan. Jadi lebih baik jika kalian beristirahat" Jelas adinda yang tak tega melihat wajah kedua mempelai.


"Ah iya ibu, kami keatas dulu" ujar William.


"kami keatas dulu ya Bu" ucap Olivia.


"pasti William mau belah duren lagi" ujar Hendrik yang langsung mendapat cubitan di pinggang dari Briana.


"kau jangan berpikiran mesum, atau akan ku cuci otakmu itu" ujar Briana ketus.


"Kau dan si bebek itu sama. Sama sama galak. dan aku sama seperti Olivia yang sama sama polos. Tuhan nasib kami sungguh malang" gumam Hendrik pelan yang masih bisa didengar oleh Briana.


"Kau bilang apa? Macam macam kau ya" Briana memelototkan matanya mendengar kata-kata Hendrik.


" Maaf sayang aku hanya bercanda hehe"