The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
kejahilan William



"Bibi, apa minumannya sudah siap? oh ya bi tolong buatkan satu lemon tea spesial ya Bi. Ini khusus untuk seseorang" jelas William pada pelayannya itu.


"Baik den, tunggu sebentar"


"oh ya dimana letak bubuk cabainya bi? " tany William .


"Sebentar akan saya ambilkan den"


"Tidak usah bi. Beritahu saja aku dimana letaknya" ujar William.


"Di rak tepat di depan aden. Disana terdapat bubuk cabe dengan wadah warna merah den" jelas bi nonik


"Sudah ketemu bi"


"untuk apa ya den mencari bubuk cabe . Apa ada yang bisa bibi bantu?"


"oh tidak bi, ini seseorang sedang memerlukan bubuk ini untuk mulutnya yang busuk itu" ucap William sambil tersenyum devil.


"apa den?"


"ah tidak bi. Oh ya ini lemon tea nya jangan pake lemon bi, pake jeruk purut yang ada di belakang rumah aja bi ya"


"tapi den?"


"ini permintaannya bi. Dia alergi lemon. Jadi agar rasanya tetap sama dia selalu menggantinya dengan jeruk purut bi"


"Yasudah tunggu ya den" Bi nonik kemudian pergi meninggalkan William dan menuju halaman belakang untuk memetik jeruk purut.


Saat yang bersamaan William memasukan banyak bubuk cabai ke teh itu. Warna teh yang agak gelap sedikit menyamarkan bahwa minuman itu telah terisi banyak bubuk cabai.


"ini den sudah" ujar Bi nonik yang baru datang.


"Langsung buatkan bi. Dan ya ini lemon tea untuk Hendrik. Bibi tau kan Hendrik?"


"Tahu den"


"yasudah Bi aku pergi dulu. Ingat ini untuk Hendrik jangan sampai salah ya bi" ucap William dengan nada sedikit mengancam.


"Aden aneh. Biasanya dia jarang bicara. Tapi kali ini tingkahnya sangat aneh dan banyak bicara...... Kenapa saya merasa teh ini berubah warna ya. Dan baunya seperti agak gimana gitu ya.... ah sudahlah"


**


William yang baru datang dari 'permisi' nya itu datang dengan wajah yang berbeda.


Kali ini keluarga itu telah berkumpul di ruang keluarga. Mereka masih memancarkan aura kebahagiaan.


"Apa kau mandi Will?... kenapa lama sekali?" tanya Tomo.


"Sedikit urusan" jawab William santai.


Tak lama kemudian bibi datang dengan membawa banyak minuman. Yang paling awal bibi berikan adalah Hendrik karena takut salah.


"Wah bibi baik sekali. Hendrik first ya Bi" ujar Hendrik sok akrab.


"Minum saja kau cerewet sekali" ketus William.


"Tapi kenapa baunya aneh ya" ucap Hendrik sambil mengendus-endus aroma minuman itu.


Briana langsung menyikut lengan kekasihnya itu dan langsung menghujamnya dengan tatapan tajam.


"kalau bertamu yang sopan. Dasar tidak tahu diri" Ketus Briana.


"iya iya dasar macan" cicit Hendrik yang langsung mendapat pelototan dari Briana.


Sontak saja semua anggota keluarga itu menjadi ketawa dengan tingkah dua sejoli ini.


mbuuurrrr


Hendrik langsung menyemburkan jeruk purut tea nya.


"Hahahaha" tawa menggelegar dari mulut William.


"Will"


"Maaf papah"


"Cepat nak basuh dulu mulutmu di wastafel" usul Hartono.


"Rasakan itu karma mu" ujar Briana ketus.


"Aku setuju dengan mu" William langsung ber tos ria dengan Briana.


"Kamu memang jahil Will"


"Maaf papah. Mulutnya itu busuk jadi perlu ku berikan pelajaran sedikit" jelas William.


"oh ya aku ke atas sebentar ada hal yang harus aku ambil" ujar William.


"Awas saja kalau kau menjahili Hendrik lagi" pinta Tomo.


"Kenapa William nakal sekali Tom?. Dia sangat berbeda dengan William yang dulu" tanya Hartono.


"Sifat asli William memang seperti ini..... Dulu William adalah anak yang ceria,jahil dan sangat pintar bergaul. Dia juga anak yang sangat perhatian. Hingga suatu hal terjadi dan sedikit mengubahnya. Ditambah lagi , tak lama setelah itu Anna meninggal. Sikap William berubah drastis. William menjadi pendiam, dingin dan semakin sombong" Ucap Tomo dengan wajah serius menerawang ke depan.


prankkkkk


"Aaaaaaaa" teriak mereka bersamaan.


"bos tidak papa?" tanya Hendrik yang berhasil menyelamatkan Tomo.


"Kau tidak papakan?" tanya William serius kepada Olivia.


"Tidak kak huh...huh...huh.." Olivia masih takut akan hal tadi. Bayangan lampu jatuh tepat di depan nya.


" Adinda, kamu...." Hartono langsung menghampiri istrinya yang terluka paling parah disini.


"Tolong aku yah" ujar adinda.


"Cepat panggil ambulan..... astaga Meimei kau juga terluka....cepat panggil mereka..." Perintah Tomo tegas.


Dikala mereka sedang berbincang-bincang lampu besar di ruang keluarga itu jatuh. Untung saja Tomo cepat diselamatkan oleh Hendrik yang baru datang dari toilet dan dengan sigap menarik kursi Tomo ke belakang.


Sama hal nya dengan Hendrik. William juga baru turun dari tangga. Melihat istrinya dalam bahaya karena berada tepat dibawah lampu. William langsung menarik Olivia kedalam pelukannya.


Sementara adinda yang berada di samping Olivia terluka paling parah. Dengan luka di kepala yang terus mengeluarkan darah.


Meimei juga terluka namun tidak separah adinda. Namun tetap saja kejadian itu membuatnya pingsan. Sementara yang lain hanya syok.


Malam yang harmonis itu langsung berubah menjadi malam menegangkan karena Adinda pingsan.


"Apa ambulan itu berangkat dari turki hingga datang selama ini. Aku janji besok akan menutup rumah sakit itu" ucap William kesal.


Tak lama ambulan pun datang dan langsung mengangkat Adinda dan Meimei yang sedang pingsan


"Ibu..." teriak Olivia.


"Liv tenang dulu. Aku yakin Tante adinda pasti tidak kenapa kenapa. Berdoa lah yang terbaik untuknya" ujar Briana yang berusaha menenangkan.


"Tapi ibuku bri.... itu kepalanya yang terluka. Kepala adalah bagian paling sensitif bri..hiks..hiks...hiks" Olivia terus menangis.


"Sudah jangan menangis. Ayo cepat kita susul mereka. Pah Ayo ikut dengan ku" Ajak William.


"Hendrik jaga rumah ini. Aku percaya padamu" pinta Tomo kepada Hendrik.


"Baik tuan"