
|• Ingin rasanya aku berhenti mencintaimu karena itu adalah siksaan bagiku,namun apakah aku mampu?
_Tiara Ningsih
•
•
•
***
"Permaisuri yang sangat tidak bertanggungjawab! disaat-saat yang mulia sakit malah bersenang-senang dia pantas dihukum mati!"
Teriakan lantang itu membuat semua orang mengalihkan pandangannya kearah suara. Suara itu ternyata berasal dari nenek kekaisaran.
Amarah tidak dapat disembunyikan dari wajah tua nenek kekaisaran.
Semua orang bergidik ngeri dengan sikap lantang nenek kekaisaran tetapi jendral Chen malah terlihat santai tanpa rasa takut sedikitpun. Dia sudah biasa melihat reaksi seperti ini yang dikeluarkan oleh nenek kekaisaran dan menurutnya itu adalah hiburan,selagi tidak melukai putri kesayangannya.
"Kasim Wang!!"panggil nenek kekaisaran.
Orang yang dipanggil namanya lansung tergesa-gesa menghadap. Semua orang diruangan itu terdiam sembari menunggu pertunjukan selanjutnya dari keluarga kekaisaran ini.
Bukan menjadi rahasia lagi kalau nenek kekaisaran Xua tidak menyukai seorang Chen Yourong atau ibu dari negara ini. Meski tidak menyukai Chen Yourong,nenek kekaisaran juga tidak bisa melakukan tindakan ceroboh untuk menyingkirkan Chen Yourong.
"Kasim Wang menghadap nenek kekaisaran"hormat Kasim dengan kidmat.
"Bawa Permaisuri Chen Yourong kemari!!"perintah nenek kekaisaran tak terbantahkan.
Kasim Wang tidak bisa apa-apa selain memenuhi permintaan nenek kekaisaran tersebut.
Sementara itu…
Kaisar Xua Weilong hanya bisa terdiam sembari menunggu pertunjukan yang akan diberikan oleh nenek kekaisaran. Dia tidak berniat sedikitpun untuk menolong atau membela permaisurinya.
***
"Ini dimana?"lirih Weiwei saat membuka kelopak matanya.
Dekorasi ruangan ini sangat sederhana dan bau obat-obatan sangat menyengat disini. Awalnya Weiwei mengira ini adalah rumah sakit tetapi dekorasi tempat ini sangat kuno dan jauh berbeda dari rumah sakit.
"Mama..awei kangen"rengek Weiwei sambil memeluk kedua lututnya.
Tubuhnya bergetar hebat,air matanya perlahan-lahan turun dan mulai membasahi pipinya. Dia merasa sangat merindukan sosok ibu yang sangat dia sayangi. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibunya tersayang telah pergi meninggalkannya.
Api dendam kembali menyusup kedalam hatinya. Rasanya saat ini Weiwei sangat ingin untuk menghabisi nyawa seseorang untuk melampiaskan kekesalannya.
"Yang mulia permaisuri…"panggil Bai Liu semangat.
Bai Liu yang melihat junjungannya kini dalam kondisi sangat hancur,dia merasa kaget. Apa sebabnya? apakah ini karena yang mulia kaisar mengabaikan yang mulia Permaisuri?batin Bai Liu bertanya-tanya.
Hati Bai Liu lebih hancur lagi melihat beberapa luka kecil yang menghiasi tubuh majikannya itu.
"Hiks..yang mulia…"tangis Bai Liu lansung bersujud dihadapan Permaisuri Chen Yourong atau yang sekarang adalah Weiwei.
Weiwei yang sadar akan kedatangan pelayan pribadi Permaisuri Chen Yourong dahulu lansung menghapus air matanya.
"Bai Liu pantas dihukum mati karena tidak bisa melindungi yang mulia,mohon yang mulia menghukum hamba"tangis Bai Liu sambil membentur-benturkan dahinya kelantai yang kasar.
Weiwei kaget dengan perlakuan Bai Liu terhadap dirinya. Dengan tergesa-gesa dia bangkit dan menghentikan kegiatan Bai Liu menyiksa dirinya sendiri. Bukannya bahagia,hal itu justru membuat Bai Liu menjadi semakin merasa bersalah karena merasa tidak bisa melindungi majikannya yang sangat baik ini.
"Apa yang kau lakukan?!"bentak Weiwei namun lebih terdengar seperti rintihan karena suaranya yang parau akibat menangis.
"Hiks..yang mulia Bai Liu.."
"Maaf hamba menyela, yang mulia Permaisuri Chen Yourong dipanggil oleh nenek kekaisaran ke aula"Potong Kasim Wang.
Weiwei menatap Kasim Wang datar lalu lekas menghapus air mata Bai Liu. Sejenak dia terdiam dan berfikir.
"Untuk apa nenek kekaisaran memanggil ku?"batin Weiwei bingung.
Weiwei rasanya masih sangat malas untuk berdebat dengan orang-orang itu makanya dia langsung memenuhi panggilan nenek kekaisaran tanpa protes sedikitpun.
"Yang mulia Permaisuri Chen Yourong memasuki ruangan…"teriak Kasim Wang.
Semua orang yang tadinya menikmati makanannya sekarang terhenti dan menatap kearah pintu masuk.
***