The Joke Of Destiny

The Joke Of Destiny
eps 3



(" bagaimana rasanya menjadi orang yang kau impikan di dalam sana , berlakon , mengikuti takdir yang begitu bahagia , yang tak semua orang dapat merasakannya ....")


*********


setelah semua pergi saatnya kerja bi minah untuk membersihkan rumah .


tidak begitu sulit untuk mengurus rumah ini tidak luas sebagaimana rumah-rumah yang ada di kota , juga tidak banyak perabotan rumah , mungkin hanya sebatas lemari besar diisi berbagai barang koleksi yang tak pernah di sentuh.


setelah beberapa waktu membersihkan rumah , mencuci pakaian , dan mencuci piring .


seperti biasa bi minah selalunya akan pergi berkeliling mengitari seisi rumah.


rumah ini sangat sepi seakan tak berpenghuni , sudah belasan tahun waktu berputar , semuanya berubah termakan oleh ganasnya waktu yang berputar cukup lama , rapuh dan akhirnya terkelupas .


menyisihkan sejuta kenangan yang hanya dapat disimpan dan terkunci rapat.....yang tak pernah dapat lagi di kenang .


langkahnya tertuju pada sebuah pintu , dimana semua canda tawa , riuh , kenangan dan banyak hal lagi berasal .


begitu banyak lantunan - lantunan keceriaan , begitu lembut melodi - melodi cinta bertaut dan banyak lagi sejarah yang kini bagai kaca pecah beling - beling nya memencar , bahkan hilang entah kemana .


dia mulai memasuki ruangan , dia duduk di atas kursi , menatap , mengitari seisi ruangan .


tampak rapi kamar ini walau banyak di penuhi barang-barang dan tersiram oleh terangnya matahari , tapi ruangan ini tampak hampa , sunyi dan gelap ...... hanya tersisa kekosongan .


tidak ada satupun foto yang terpajang dinding - dinding


yang dulunya berwarna pink cerah di goresi gambar beraneka ragam dan coretan tipis tapi menjalar ke seluruh ruangan , kini hanya tersisa warna putih polos , nampak hambar tanpa rasa sedikitpun.


dia berjalan kearah sebuah meja begitu rapi dipenuhi berlusin-lusin buku _ tapi bukan ini yang menjadi tujuannya saat ini _


dia membuka laci , sambil mengacak acak isinya , ditemukannya sebuah buku hitam , yang dahulu pernah dia berikan pada syakira .


sehelai mulai ku buka , huruf - huruf berbaris indah membentuk beberapa kata , dan kata mengandung begitu banyak makna .


tak terbayang luapan apa yang ia curahkan di dalamnya , bahkan sang pembaca tak mengerti irama apa yang dilantunkan hati kecilnya


dia hanya membuka sehelai demi sehelai , tak sanggup membacanya , takut pula dengan marah syakira nantinya .


dahulu bi minah selalu datang kemari meluangkan waktu bersama syakira , terlalu cepat waktu berlalu , dan sekarang semuanya hanya bagai puing - puing runtuh yang habis di terbang angin dan menghilang menjadi abu.


dia keluar dari tempat itu , meninggalkan sejuta kenangan yang kembali tertutup lewat ketupan pintu .


********


..." serasa menatap senja , dengan gelapnya warna oren itu , terlalu bosan menatapnya "...


begitulah pikirannya saat ini , begitu bosan menghadapi kehidupan ketika matahari terbenam dan senja kemudian datang


dia terduduk di depan televisi , menatap layar gelap itu .


bayangkan rasanya menjadi orang yang kau impikan di dalam sana , berlakon , mengikuti takdir yang begitu bahagia , yang tak semua orang dapat merasakannya .


prang


suara tadi menggema ke seisi ruangan , ada seseorang yang melempar sebuah batu , tepat mengenai jendela .


beling- beling berhamburan , bi minah nampak terkejut jantungnya memompa darah begitu cepat , hingga nafas tersengal - sengal di keluarkan


dia benar - benar takut , rasanya tak mungkin anak kecil yang melakukan ini , tubuhnya kaku , bagaimana jika ada penjahat di ambang pintu , kemudian memenggal leherku .


ada sebuah kertas di batu itu , apa yang di lakukan penjahat itu , sehingga memberi ancaman begitu keras .


beberapa lama kemudian keadaan kembali tenang , tetapi dia tetap waspada dengan sekitaran , takut - takut ia keluar bagai tikus di dalam sarang .


********


aku mendekati pecahan kaca itu , begitu banyak beling - beling berhamburan , dengan siaganya aku berjalan takut mengenai beling itu


benar yang dugaannya , selembar kertas tertempel di sana , penjahat itu memberi ancaman layaknya drama di televisi


dia tetap berhati - berhati dengan beling itu , mengambil batu pun tak sembarangan , aku meniup sisa beling yang menempel , kemudian beralih kesederet tulisan itu .


deg......deg......deg...


' lelucon apalagi ini ' rasanya mustahil