The Joke Of Destiny

The Joke Of Destiny
eps 9



malam ini langit tampak indah berhiaskan bintang - bintang , tak kalah dengan rembulan yang mengintip di celah - celah awan hitam yang berkubang kecil di langit .


...termenung dalam kesendirian hampir menjadi aktivitas rutin bagi syam , saat ini dia tengah terperangah keatas langit , menatap keindahan dari sang pencipta , duduk menyendiri di atas balkon sambil memandang bintang - bintang...


dia baru saja pulang dari rumah bian , sahabat di sekolah lama nya dulu , sebelum dia pindah ke sekolah barunya itu


dia duduk sambil menghilangkan penat


tak lama , pintu kamarnya tiba - tiba di ketuk , syam menyuruh nya untuk masuk sembari melangkahkan kaki untuk menyusuri pengetuk pintu


bi yuna masuk dengan membawa segelas susu hangat , dia tersenyum simpul ke arah syam lalu duduk si samping syam sambil menyerahkan segelas susu yang di buatnya


syam menerima nya dengan senang tak lupa mengucapkan terimakasih kepada bi yuna .


terus saja di letakkan nya di atas meja .


"makasih ya bi , udah buatin susu buat aku setiap hari "


sambil di balas anggukan oleh bi yuna , bi yuna adalah asisten rumah tangga di rumah syam , kedekatan mereka bagai perekat yang susah untuk di lepas .


" iya , bibi juga lihat den syam sering pulang malam , makanya bibi gak pernah lupa bikinin susu buat den syam " katanya lembut


kalimat - kalimat itu bagai lantunan kasih sayang di telinganya , membuatnya langsung memeluk wanita paruh baya yang ada di sampingnya .


pun baginya dia adalah sesosok ibu yang lain , ibu yang menggantikan ibunya di luar sana yang tengah lalai disibukkan dengan pekerjaan , ibu yang di jadikannya tumpuan kasih sayang .


tak lama setelahnya , rifa berteriak dari lantai bawah , suaranya meraung cukup keras , pekikan nya menghasilkan auman yang bergema .


" bi yuna , .....! bibi dimana bi ? ..."


dengan cepat bi yuna teriak dari lantai atas


" saya disini non , di kamarnya den syam "


mendengar hal itu rifa mendesah kesal sesaat , dia kemudian meraih anak tangga , menaikinya setapak demi setapak menuju kamar syam


" gini kan , kalo bibi udah di samping syam semua pekerjaan seketika lupa


dari tadi saya panggil gak di jawab "


seru rifa yang tak lain adalah mama kandung syam


" maaf non , tadi saya mampir ke kamarnya den syam buat ngasih susu hangat "


" bibi selalu aja manjain syam , makanya syam itu gak pernah bisa dewasa .....


dan kamu syam ! ... kamu udah cukup dewasa untuk bikin susu sendiri kan ?


jangan bikin repot bi yuna , kamu itu udah dewasa , syam ! "


kalimat itu sedikit memekakkan bagi siapa yang mendengar , syam yang sedari tadi menundukkan kepala kini menatap tajam kearah sang bunda


" mama bilang aku gak boleh manja lagi sama bi yuna , iya ?....


terus mama selama ini kemana , mama tu gak pernah ada buat syam , mama selalu datang dan kemudian pergi , terus syam itu harus dekat dengan siapa lagi untuk dapetin kasih sayang , kecuali bukan sama bi yuna .....?


mama sadar dong ma !.... mama dari dulu kemana aja ?.... "


" syam tutup mulut kamu !...


selama ini mama keluar itu juga untuk kamu , mama cari nafkah untuk kamu , biar kamu punya masa depan yang cerah .... kamu gak pernah sadar ya , syam ?"


kalimat itu mengais hati syam , tak terasa segerombolan air mulai membendung di pelupuk mata syam


kalimat itu bagai pedang baginya , yang tanpa hak menerobos dan kemudian menusuk hati kecilnya .


" udah non cukup , tadi bibi sendiri yang mau bikin susu buat den syam , karena bibi pikir den syam kelelahan selalu pulang malam "


ucap bi yuna , menengahi keributan di antara mereka berdua


" lihat bi , karena bibi selalu manjain dia , syam jadi berani melawan dan membentak saya , dia tu seakan - akan menganggap saya itu bukan lagi ibu kandung nya ..... ! lihat kan bi ! "


syam tak tahan lagi dengan seuntai kalimat yang di ucap sang bunda , bagi nya perkataan itu bagai petir yang menyambar telinganya


" kalo gitu , mama jangan marah dong ma , kalo bi yuna berusaha menumpahkan perhatiannya untuk aku ....


jangan marah juga kalau sewaktu - waktu aku udah gak anggap mama siapa - siapa lagi ! "


pekikan keras terdengar kembali , namun saat ini semuanya lebih keras mengalahkan petir yang baru saja menyambar


" syam !!!! , ini hah ? ini hasil didikan bi yuna ke kamu ?


sampe kamu berani membantah mama , seharusnya mama tu gak pernah percaya-in kamu sama pembantu , gini kan jadinya , sifat kamu tu sama aja kayak pembantu ! "


setumpuk air mata yang sedari tadi di tahan syam kini tak dapat di tahan nya lagi , perkumpulan itu kini menjadi linangan air mata yang sebentar lagi akan mengalir


bi yuna menangis , berteriak memberhentikan semua perdebatan mereka , lagi pula semua terjadi karena ulahnya


bi yuna hanya ingin melihat syam selalu tersenyum dan tak mau melihatnya sendiri kesepian


melihat rifa yang selalu keluar dan tak sempat mengayomi syam , tergerak hatinya untuk membelai dan mencurahkan kasih sayang kepadanya


dia menganggap syam seperti anak kandungnya yang telah lama meninggal akibat kecelakaan disertai sang bapak


dia tidak menyangka ternyata dengan kedekatan itu , malah membuat hubungan syam dengan ibu nya merenggang


karena hal itu dia benar - benar bersalah , seharusnya dia tau diri untuk apa seorang pembantu seperti dirinya mengasuh anak majikannya


malah yang ada dia membuat anak itu sendiri seperti dirinya , mencerminkan sikap pembantu seperti dirinya


" cukup non ....."


tangisan itu mengais hati syam kembali , dadanya penuh sesak malam ini , tak tahan dengan segala bentakan ibundanya


" dengan ucapan tadi setidaknya mama sadar , begitu gak berguna nya mama menjadi seorang ibu , .... yang menitipkan anaknya dengan pembantu "


ucap syam dengan nada serak , sangat berat suara itu keluar dari celah mulutnya


rifa berjalan perlahan agak menekan langkahnya karena di campur dengan kesal , tak terima dengan apa yang dikatakan oleh


anak semata wayangnya


dengan cepat dia mengangkat tangannya untuk menampar syam atas ucapan nya tadi


syam hanya membiarkan , terserah apa yang akan di lakukan oleh rifa , saat ini seluruh badannya sudah kebas sehingga pukulan apa pun yang meninju nya hanya bagai biasan angin yang berlalu tanpa adanya wujud


dengan cepat bi yuna menghalangi , sungguh dia tidak terima dengan perlakuan rifa terhadap syam


dia tau dia bukan siapa - siapa bagi syam


rifa lebih berhak kepadanya


tapi di saat seperti ini dia merasa punya hak untuk menghalangi perbuatan rifa yang sudah kelewat batas


" lepasin bi ! , ini bukan urusan bibi , biar saya yang kasih pelajaran ke dia , biar dia tau diri "


bentak rifa tak terima dengan ucapan syam tadi nya , dia sangat geram dengan tingkah syam yang terus melawan nya


" saya tau , saya tidak ada hak untuk menghalangi ibu , tapi ..."


kalimat itu terpotong karena melihat syam beranjak pergi meninggalkan ranjangnya , dia kemudian mengambil jaket yang tersangkut di sangkutan


segera meraih kunci motornya , dan meninggalkan ruangan menyesakkan itu


" den syam ..."


teriak bi yuna sambil tak kuasa menahan tangis


dan melepaskan tangan rifa yang sedari tadi dia tahan untuk menghalangi tamparan nya


rifa menderu nafasnya berat rasa kesal dan lelah bercampur di tubuhnya , kini dia memijat kepalanya karena pusing


kemudian pergi meninggalkan ruangan itu , terpaku di sana bi yuna sambil di iringi sesak tangis .


melihat semua adegan itu berlangsung .