
aku membuka gerbang , sungguh sunyi rumah yang cukup besar ini , ku langkahkan kaki ku untuk masuk , tercekat kaki ku , tiba - tiba mobil datang memasuki pekarangan rumah
ya , itu ayah dan bunda mungkin baru pulang setelah mencuci mata di mall
wanita itu melirik sekilas ke arahku , sambil tersenyum kecut dengan mesra nya dia melingkarkan tangan ke lengan tegap ayah , aku hampir panas di buatnya , ayah tanpa menoleh terus saja berjalan tanpa melirik ke arahku
ya pasangan yang cukup serasi boleh di katakan , mungkin sangatlah cinta ayah dengan wanita itu sehingga cintanya pun tak pernah di suguhkan kepada ku
dari kecil hingga sekarang aku tak pernah di anggap oleh mereka ada , bahkan dahulu aku tinggal bersama nenek dan selalu di buai olehnya tak pernah diriku di buai oleh tangan lembut itu , sangat berbeda nasibku dengan kakak laki - laki ku , dia sangat dia sayangi , di sanjung , bahkan cinta yang tak pernah kudapat itu hanya dia yang selalu mendapatkannya
aku merenungi , langkah kaki sepasang insan itu telah melewati pintu , saat nya bagi ku untuk masuk
" irfan , .. irfan "
panggilnya menggema ke seluruh seisi ruangan
aku menutup pintu dan ku dapati di sana gambaran hangat sepasang keluarga tanpa aku di sana
" irfan lihat nih kamu suka ? , mama beliin baju buat kamu ! " serunya dengan tulus , aku memandangi perlakuan itu , mungkin kak irfan adalah anak laki satu - satunya bagi ayah dan bunda makanya perhatian keduanya lebih tercurahkan untuknya
aku berjalan pilu menaiki tangga , tentu tiada apa - apa untukku dan hal itu tidak perlu di pertanyakan
" olive ...."
panggilan itu mencegat ku , benarkah ayah memanggilku , tapi untuk apa ? , batinku penuh ucap
"..... kemari sebentar ayah belikan mu sepasang sepatu , mungkin kau akan suka ... kemari lah " titahnya dengan hangat , ah ayah aku ingin kau selalu begitu
aku segera turun dari 4 anak tangga yang baru saja kunaiki , tersenyum kearah mereka terlebih kepada ayah
" ini bunda yang belikan untuk mu , ucapkan terimakasih padanya "
jawab ayah lembut , di belainya rambutku sesaat langsung ku pandangi bunda tak percaya
bunda menatap tajam kearah ayah , dia berbalik pandang saat wajahku tertuju padanya
ya aku tau ayah berbohong
aku melihat sepatu itu dengan girangnya , warna pink di padu dengan stroberi di bagian depannya begitu menggiur ku , warna kesukaan plus buah kesukaan ku , dan sangat pas dengan ukuran kaki ku
menambah daya tarik ku akan sepatu itu
" terimakasih ayah , bunda , telah membelikannya untukku "
jawabku dengan senyum merekah , ayah mengangguk tapi tidak untuk bunda dia masih sibuk dengan barang belanjaan nya
" bun , yah , irfan mau kembali ke kamar , terimakasih untuk bajunya , irfan sangat suka "
kata - kata itu di balas kecupan hangat oleh bunda , papa tersenyum lembut
" yah , bun , kalau begitu olive juga mau balik kamar , makasih untuk sepatunya olive suka "
aku kembali menaiki tangga , menuju kamar ku , meninggalkan sepasang insan yang tengah bersenda dengan indahnya
pintu tertutup , ku baringkan tubuh ku di sana , aku teringat dengan nenek sangat rindu dengan nya , setelah nenek meninggal 12 tahun lalu tinggallah aku di sini bersama ayah dan bunda
aku langsung menggantikan pakaian ku , dan menuju kamar mandi kebiasaan yang di ajarkan nenek tak pernah ku tinggalkan , selalu menggosok gigi sebelum tidur
setelah usai menggosok gigi , aku menatap diriku di dalam cermin yang ada di kamar mandi
benarkah aku anak mereka tapi kenapa aku bagai orang asing di mata mereka , bahkan tak ada sedikitpun ukiran dari wajahku seperti mata , alis atau apalah itu yang mirip dengan mereka , mungkinkah tebakanku benar
gumam ku lirih , aku mendesah pelan sebaiknya aku keluar tak bagus berdiam lama - lama di kamar mandi
******
" pa , papa kok bilang gitu sih , kan papa yang belikan sepatu itu untuknya , bukan aku ?
tanya sarah selaku bunda nya olive , faiz langsung mengalihkan pandang ke arah sarah
" apa salahnya kalau papa bilang itu kamu yang beli , biar ikatan kalian itu gak merenggang , olive juga senang kan ? "
sahutnya dan beralih kembali ke ponsel yang ada di tangannya
memang benar yang di katakan papa , tidak ada salahnya , tapi terselubung di hati kecilnya rasa bersalah takut olive menampung harap kepadanya
biarlah anggap saja seperti bukti cinta kami kepada mu , batinku
" pa , kita balik kamar yuk "
aku mengambil semua barang - barang itu dan di balas anggukan oleh faiz , dia segera membuntuti wanita itu dari belakang
*******
aku merebahkan tubuhku ke kasur , sedikit senyum tersungging kan di balik bibir tipis ku , setelah menerima baju dari bunda
aku mengamati atap kamar yang bewarna putih itu , terbayang di sana wajah adik perempuanku olive
kenapa ayah dan bunda memisahkan kami dulu dengan menitipkan olive pada nenek , rasanya melihat olive sudah remaja sekarang tak enak lagi apabila di ganggu , terlebih ketika mencubit pipinya itu
ku gambarkan lagi wajah adik ku di atas sana , raut wajah yang tadi ku lihat memang nampak pilu , sepertinya dia sedih dengan kurangnya perhatian bunda untuk nya
' ah olive , andaikan dia tau ayah dan bunda sangat mencintainya '
gumam ku , berharap adikku juga dapat mendengar gumam ku itu
aku bangun segera mengganti pakaian , membersihkan diri ke toilet , aku tak langsung merebahkan tubuhku di kasur , aku ingin melihat langit malam ini
* ( " takdir itu menuntun ke arah yang memilukan , di antara benar atau tidak aku hanyut ke dalamnya dan terus saja mengatakan iya untuk itu , bagai bebatuan di tengah deras nya air di sungai aku menahan diriku dengan diam , menahan arus sungai yang mengalir dengan deras " ) *
---- olive ----